Sunday, May 18, 2014

Manusi A

Mengapa Tuhan menciptakan manusia yg demikian jahat sepertimu
Manusia yg tak mengerti makna kebaikan
Manusia yg mnempatkan diri terlalu tinggi
yang selalu bercermin pada kaca usang yg retak
Melupa sejarah, bersama pikir yg kaku penuh dendam

Ah, apakah agar hidup ini menjadi lebih lengkap?
Jika 1000 manusia sepertimu bertebaran

Hei! Luka masa lalumu silahkan kau kubur sendiri
Getirmu cukuplah kau telan sendiri
Bersama dosa yg hendak kau putihkan
Silahkan kau cari Tuhan sesukamu
Mohonkan ampun di waktu-waktu senggangmu
Lantas tak perlu merasa paling suci hari ini
hanya karena orang tak tahu masa lalumu

Tahukah kau, tak ada sebait kata yg akan menguap
Waktu akan menjadi saksi
di mana kau menelan semua ucapanmu sendiri

Saturday, March 22, 2014

Dermaga Baru

Tak ada yg akan berubah
Ketika hati sdh bulat berkata tidak
Sekarang dan selamanya
Kapal telah berganti haluan
Menuju dermaga
yang tak lagi sama
Dermaga lain
yang menanti kapal sandar
selama ini

"If we always see the sky when we walk,
we will never see the beauty of the flower on the grass"

Tuesday, March 18, 2014

Cirebon-Jerman

Percakapan dua orang pria paruh baya berikut membuat saya sungguh trenyuh. Bapak A punya 2 anak, yang satu telah bekerja dan menikah dg orang bule tinggal di Jerman dan satunya tinggal di lain kota. Bapak B punya 2 anak masih SD dan SMA.

A : Jangan bangga punya anak yg tinggal di luar negeri bergaji besar.
B : Kenapa pak? Anak dapat pekerjaan mapan kan harapan orangtua.
A : Kelihatannya begitu. Tapi jangan lupa, orangtua usianya semakin menua dan ia semakin kesepian. Di manapun orangtua berada, mereka ingin ketika sakit dan tutup usia didampingi anak2nya. Itu saja sudah bikin seneng.
B : Iya pak, tapi orangtua kan tidak bisa menentukan di mana dan sejauh mana rejeki anak2nya harus dikejar.
A : Contohnya saya pak, kemarin sakit sebulan di rumah sakit. Anak saya di Jerman hanya bisa nengok 4 hari. Dia libur seminggu buat perjalanan PP Jerman-Cirebon. Namanya kerja ikut orang di sana tidak bisa cuti lama. Memang gajinya lumayan, tapi saya malah sedih. Semakin jauh saya sama anak saya dan saya tdk bisa berbuat apa2.
B : Agak susah memang pak, di satu sisi orangtua jarang yg bisa ngasi pekerjaan layak buat anaknya kalau dia harus tinggal berdekatan. Kalau mau cari rejeki yang bagus tapi jauh, memang dilema.
A : Saya sudah sering sakit2an. Tapi hanya kemarin pas sakit parah baru ngabari. Kalo saya kangen bisanya juga cuma telpon. Ya memang ada kiriman uang setiap bulan, tapi ternyata rasanya beda kalo anak itu tinggalnya gampang dijangkau. Anak saya satunya, tinggal di Jakarta. Lumayan dekat daripada Jerman. Itu pun kalo ngabari sakit ngga bisa sewaktu-waktu. Saya sama istri kemana-mana. Untung ada tetangga dan teman buat ngusir sepi.

Cirebon, 27 Februari 2014

Kelas Reguler

Money can buy many things. Termasuk nilai. Jangankan di PTS, PTN pun iya. But they're smooth sailing. Begini ceritanya... "Nilai UAS kalian itu sudah saya tambah 10 semuanya," kata seorang profesor di tempat saya kuliah. Omaigat, itu pun nilai masih 59, ada lagi yang lebih parah 35. Lalu nilai sebenarnya berapa? Agak aneh model UAS-nya, pas ngerjain soal di kelas setelah 40 menit berlalu tiba-tiba petugas mengatakan bahwa UAS boleh take home. Loh? Boleh dikumpulkan seadanya, lalu selebihnya disempurnakan di rumah lalu jawaban diketik rapi dan dikumpulkan maxi minggu depannya lagi. Tapi ternyata ujung2nya yg dinilai adalah jawaban seadanya tsb. Mengapa? Sebab ancur semua tu nilai sekelas. Kok bisa ancur berjamaah? Ya, untung saja ada tambahan nilai UTS dan tugas jadi bisa mengatrol.

Pada jurusan yang sama, nilai di kelas reguler dg kelas beasiswa kominfo selalu lebih baik yg kelas reguler. Apa mahasiswa kls reguler lebih pintar dibandingkan mhs kelas kominfo? Saya ragu, sebab uanglah yg berbicara. Kami sebagai mahasiswa kelas reguler (yang membayar dg jalur uang pribadi alias nonbeasiswa) cenderung diperlakukan "istimewa". Terbukti nilai per mata kuliah juga lebih tinggi, hasilnya IPK kami pun lebih tinggi dibandingkan kelas sebelah di jurusan dan angkatan yang sama. Jangan2 memang karena kami brsedia bayar lebih? Ah, bapak.. Kata2 Anda menjadikan prestasi kami cacat akademik. Mengapa harus ada kata2 "sudah saya tambah 10" dan kalimat ini tdk dilobtarkan di kelas kominfo.

Tuesday, February 11, 2014

Sertifikasi Profesi

"Buat apa ada uji sertifikasi wartawan jika toh sertifikat itu tak bernilai secara materi? Kalo guru bolehlah ngotot memperjuangkan sertifikasi karena dampaknya signifikan terhadap kesejahteraan. Kalo wartawan dipaksa ikut uji sertifikasi atau uji kompetensi, urgensinya apa?" keluh seorang teman wartawan yang baru saja menjalani uji kompetensi wartawan Jawa Tengah dalam obrolan kami, Senin (10/2/2014).

Saya dulu belum sempat menjalani uji sertifikasi karena ide tentang pelaksanaan uji sertifikasi ini baru muncul 1-2 tahun belakangan dan saya keburu resign. Setiap media hanya bisa mengirimkan 3 org setiap gelombang ujian yang saat itu digelar oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Jadi ya, pastilah yang senior duluan yang bisa ikut. Ujian ini dijadwalkan berlangsung setiap tahun. Tdk ada penunjukkan langsung. Sifatnya volunteer.

Entah siapa penyandang dana di balik penyelenggaraan uji sertifikasi ini. Tapi saya percaya, ini adalah sebuah proyek yang nilainya tidak kecil. Sebab skalanya nasional. Tujuan awal sertifikasi ini mgkn positif, ini mengingat wartawan adalah sebuah profesi dan untuk meningkatkan daya saing maka uji kompetensi ini diharapkan menjadi salah satu mekanismenya.

Lalu, apakah wartawan yang belum menjalani uji kompetensi maka kemampuannya di lapangan akan diragukan? Sistem uji kompetensi ini baru muncul, maka ia justru belum bisa diakui sebagai instrumen yang bisa menguji kemampuan wartawan di lapangan secara valid.

Saya sempat berincang dg teman2 yg telah melakukan uji kompetensi ini. Soal ujiannya cukup banyak, termasuk pertanyaan mengenai kode etik dan bagaimana melobi narasumber2 top di hadapan para asesor. Semakin banyak narasumber top yang bisa dihubungi dg tingkat kedekatan komunikasi yang semakin lancar di hadapan para asesor, maka nilai ujian semakin bagus.

Ada benarnya keluhan teman saya itu. Di tingkat wartawan, sertifikat itu hanya akan menjadi piagam pajangan. Beda dengan uji sertifikasi guru atau tenaga asuransi atau bankir. Sertifikasi profesi tersebut benar2 bisa bernilai uang. Entah mengapa profesi wartawan sedikit unik. Setinggi dan sebanyak apapun gelar, tidak bisa menjadi uang. Sebanyak apapun sertifikat, juga tidak akan mendatangkan uang. Sebanyak apapun narasumber top bisa kepegang tangan, malah menjadi ancaman mutasi. Sebanyak apapun tulisan menjuarai kompetisi, dibilang wajar, siapapun bisa, maka perusahaan tak perlu memberi reward. Gemar ikut teriak naikkan UMK buruh, tapi UMK diri mereka sendiri malah jalan di tempat dan tak berani bersuara. Di kelas media cetak, posisi wartawan justru paling diincar ketimbang posisi redaktur. Idealnya, statusnya naik kelas. Tapi ironisnya, pangkat jendral gaji kopral. Sebaliknya di posisi wartawan, pangkat kopral gaji jendral. Lucu memang. Tapi ini fakta.

Saya dulu tak berambisi ikut uji sertifikasi duluan, karena saya menduga bahwa sertifikat itu tidak akan berdampak apa2 terhadap tunjangan. Lha, orang kerja apa yang dicari kalo bukan uang? Cuma dapat pengalaman dan malah mengorbankan waktu kerja yang seharusnya bisa dipakai cari uang. Saya memilih bersikap rasional. Biar saja itu bagian dari proyek PWI, seperti halnya AJI (Aliansi Jurnalis Independen) ketika menggelar survey besar2an tentang kesejahteraan wartawan. Nilai proyek ini saya yakin juga tidak kecil, karena skalanya nasional. Pertanyaan dalam lembaran setebal itu buat apa? Ditanya berjam-jam, hasilnya juga tidak signifikan. Tidak sebanding dg waktu yang disita. Kalau saja survey AJI itu bisa mendorong perubahan kesejahteraan wartawan, ya saya mau jadi respondennya. Tapi saat itu saya tolak ketika tahu bahwa survey itu terlalu banyak tanya tapi tidak memberikan umpan balik apa-apa kecuali pemberitaan. That's it.

Jadi, saya tidak merasa rugi apapun tidak pernah mengikuti uji kompetensi wartawan. Kompetensi tidak bisa dinilai dari selembar sertifikat. Kemampuan seorang wartawan dalam menggali isu, memantau dan mengembangkan isu, memilih dan melobi narasumber yang kompeten, menuangkannya dalam tulisan yang terstruktur dan logis, ditentukan dari bagaimana ia berproses selama di lapangan. Publiklah yang akan menilai kemampuannya.

Monday, February 10, 2014

You

I like you
Doesn't mean I want to marry you
for now..
You conquered my heart
Doesn't mean I will surrender my life for you
It's just a feeling
I try to understand
It's just a feeling
That I take to make me happy
It came and then go
as soon as they sometimes will

Kamu dan ia

Jika kelak
Kamu dan ia
Hanya terselip di selintas waktu
bukan di akhir perjalanan
Ijinkan qt nikmati detik2 ini
Detik qt tertawa
menyunggi romansa
dalam sipu dan hening
Ijinkan waktu berhenti
hanya di saat2 itu
Ijinkan waktu
memberikan yg terbaik
Aku, kamu dan ia

Sunday, February 2, 2014

Pagiku

Selamat malam, pagiku
Mentari hariku

Kamu adalah pagi
yang tak pernah gelap

Kamu adalah semangat
yang tak pernah surut

Kamu yang selalu renyah
Menggiring tawa
Bersama detik2 waktu

Kamu yang santun
Mengetuk pesan sederhana

Seperti sudah ribuan pesan
Kau kirim dalam bisik2 kecil
Ah, aku lupa
Rupanya kita baru kemarin sore

Selamat tidur

Saturday, February 1, 2014

Polisi dan Mahasiswa Asing

Polisi Indo emang gila korupnya. Seorang teman dari Madagaskar yg nyasar salah jalan pun kena palak juga. Gara2 pajak STNK nya mati sejak dua tahun lalu, kena deh dia.

"Priiittt! Suddenly he stopped me and asked me to show the KTP motor and driving license," Gio said to us.

Temanku ini emang kocak banget, nyebut STNK selalu aja KTP motor. Bisa siy bahasa Indo tapi masih setengah2 meski dia sudah setahun belajar di Sby.

"Jalanan macet dan saya drive my motorcycle to flyover. I just knew that the flyover only for car," he said.

Yg dia maksud adalah jembatan Mayangkara. Dia berasal dari arah terminal Bungurasih hendak pulang menuju kos di daerah Gubeng Kertajaya. Motor yg ia pakai sebetulnya ia beli second Rp 7 juta dari temannya teman staf pengajar bahasa di Lab Bahasa Unair. Agak rumit, ngga heran Gio lalu hrs menanggung pajaknya yg tdk dibayarkan selama dua tahun. Pemilik yang sesuai dg alamat STNK ternyata sudah meninggal dan Gio bingung harus pakai KTP siapa ketika bayar pajak dan balik nama BPKB. Di situlah polisi memanfaatkan celah.

"Actually I have my driving license from Madagascar but for car, not motorcycle. And I don't think I can use it in Indo because the position of steering wheel on right-hand side, Madagascar on left-hand side," he added.

"The police asked me fifty thousands rupiahs, but I said I don't have money pak. I'm a college student, and here is my identity. Then I show him my wallet there are only fifty thousands left. So he asked me thirty five thousands," he said.

"Seriously? Dia mau kau kasi cuma 35.000 aja?" we asked.

"Ya, he counted my cash on my wallet. After that, he asked me why I didn't have driving license? He offered me to get driving license and gave me his phone number. He said that I can get it instantly only eight hundred thousands rupiahs, just call his number. " Gio said.

"Gosh! And you say yes?"

"No. I only nodded and then discard his number. No way, I don't have that much money from my scholarship. I don't even have my KTP motor yet," he said.

Poor you are.. Polisi Indo emang resek betul. Tau ada orang asing langsung jd sasaran empuk buat dipalak.

"You know the real cost to get driving licence for motorcycle in Indo? Only Rp 100.000, but you have to make it on three days. If we (local people) want to get instantly from calo only Rp 400.000," I said.

"Wow, twice for me? Great pak police!" Gio added.

Tuesday, January 21, 2014

The power of credit

Minggu lalu saya dan kawan2 sengaja melewatkan liburan ke rumah salah seorang kawan di Tulungagung. Kota yang sama sekali tdk pernah terlintas dalam benak saya sebagai kota jujugan liburan. Pagi itu saya berbincang dg ibu kawan saya usai jalan2 habis sholat Shubuh. Ditemani sebungkus nasi pecel khas Tulungagung, dia bercerita tentang anaknya (yaitu kawan saya yang pagi itu masih tertidur).

"Saya sampe sekarang ngga pernah tau berapa IPK si A. Kenapa dia ambil jurusan ini itu juga, dia ngga pernah cerita. Anaknya agak tertutup, beda dengan adiknya yang selalu cerita," kata si ibu.

"Iya sih bu, ngga linier jurusannya. Tapi sama juga kek saya. Ngga masalah kan. Apapun ilmunya yang penting kemauan belajarnya," sahutku.

"Ada sih, tantenya (adik saya) di Jakarta yang kerja di Departemen Kelautan dan Perikanan ambil S2nya Komunikasi juga tapi di UI. Semua bukunya juga sudah diberikan ke si A tapi kok ngga pernah dibaca dan ngga ikut dibawa ke Surabaya. Makanya tantenya pas kesini bilang, kok kamu kuliah S2 nyantei sekali? Apa ngga baca-baca buku gitu ya? Kata tantenya sih, S2 itu berat kalo ngga banyak baca sendiri," ujar si ibu.

Saya tiba2 terdiam. Kata2 itu seperti terrus mendengung.

Ya, emang harus banyak baca siy. Tapi apa qt harus menampilkan diri sbg org yang sibuk membaca agar terlihat wajar dengan tidak nyantai? Begitu? Lalu, menjadi santai di luar waktu liburan adalah gambaran menabung beban akademis seorang mahasiswa S2? Bisa jadi iya, tapi bisa juga engga.

Menurut saya, S2 menjadi tidak santai bagi si tante karena dia juga bekerja. Lagipula usia si tante yg sudah 40-an mungkin membuat dia memahami buku sbg sesuatu yang fisik atau hard cover. Jadi, ketika tau keponakannya ngga baca buku secara fisik ya namanya ngga belajar. Padahal, bisa aja baca lewat eBook atau jurnal-jurnal versi pdf.

Kuliah S2 yg pendek membuatnya tampak lebih serius dan mendebarkan bagi mahasiswa. Baru saja membuka mata dan memahami teori, tiba-tiba sudah harus mengerjakan penelitian buat thesis. Ini siksaan bagi mereka yg ngambil jurusannya ngga linier. Harus ekstra belajarnya. Itu sebabnya, klo ngerjain tugas usahakan referensinya maksimal. Biar skalian nyicil belajarnya. Skalian nyicil ingatan juga. Daripada hrs mengkhususkan hari buat memahami buku babon tentang teori dll apa ngga lebih memusingkan? Ya bisa aja, itu kan pilihan. Tapi klo bisa nyicil alias kredit, knapa harus lunas? Berat.