Seperti neraka2kecil di dalam surga. Seperti simalakama, dimakan ibu mati, tdk dimakan bapak mati. Entah ini bencana atau sebuah keberuntungan. Mata ini tak lagi bisa melihat dg jernih. Membaca dg hati. Meraba dg halus. Mengamini segala yang baik. Sampai di titik mana kebaikan itu terhenti, seakan sedang tidak berpihak di sini. Semuanya jauh. Ketika nafas terengah-engah berjalan dan berpikir bahwa ujung jalan itu bukanlah tikungan. Ketika peluh hampir di tetes terakhir, tiba2 surga benar2 beranjak pergi. Apakah syukur ini harus tetap terucap?
Hidup ini menjadi aneh ketika kejutan yg datang tidak sempurna. Sempurna tak selalu bahagia, ia datang atas nama kebaikan dari Tuhan. Ia bukan keinginan manusia yg terdalam, bukan pula pencarian yg tiada henti, ia hanya sesuatu yg menamakan diri sebagai kebutuhan. Ah, biasanya Tuhan membisikkan sederet kata menjemput fajar, mengetuk pagi dg keajaiban, lalu menghembuskan badai di kala senja. Menghantarkan gemericik hujan dan sejumput petir. Lalu muncul pelangi. Untuk kebaikan manusia?
Sejenak terkesiap pesan Paulo Coelho, "If u only walk on sunny days, you'll never reach your destination." Hidup mjd sempurna ketika ada siang dan malam. Too much light burns us, while in the darkness we cannot see. But together we have shade. Hidup adalah tentang ketidakpastian. Kebaikan sejati tak pernah berpihak pada siapapun. Sebab ia bertindak atas nama kebaikan itu sendiri. Neraka malam dan surga pagi teach us that life always comes with complete surprise.
Saturday, June 7, 2014
Sunday, May 18, 2014
Manusi A
Mengapa Tuhan menciptakan manusia yg demikian jahat sepertimu
Manusia yg tak mengerti makna kebaikan
Manusia yg mnempatkan diri terlalu tinggi
yang selalu bercermin pada kaca usang yg retak
Melupa sejarah, bersama pikir yg kaku penuh dendam
Ah, apakah agar hidup ini menjadi lebih lengkap?
Jika 1000 manusia sepertimu bertebaran
Hei! Luka masa lalumu silahkan kau kubur sendiri
Getirmu cukuplah kau telan sendiri
Bersama dosa yg hendak kau putihkan
Silahkan kau cari Tuhan sesukamu
Mohonkan ampun di waktu-waktu senggangmu
Lantas tak perlu merasa paling suci hari ini
hanya karena orang tak tahu masa lalumu
Tahukah kau, tak ada sebait kata yg akan menguap
Waktu akan menjadi saksi
di mana kau menelan semua ucapanmu sendiri
Manusia yg tak mengerti makna kebaikan
Manusia yg mnempatkan diri terlalu tinggi
yang selalu bercermin pada kaca usang yg retak
Melupa sejarah, bersama pikir yg kaku penuh dendam
Ah, apakah agar hidup ini menjadi lebih lengkap?
Jika 1000 manusia sepertimu bertebaran
Hei! Luka masa lalumu silahkan kau kubur sendiri
Getirmu cukuplah kau telan sendiri
Bersama dosa yg hendak kau putihkan
Silahkan kau cari Tuhan sesukamu
Mohonkan ampun di waktu-waktu senggangmu
Lantas tak perlu merasa paling suci hari ini
hanya karena orang tak tahu masa lalumu
Tahukah kau, tak ada sebait kata yg akan menguap
Waktu akan menjadi saksi
di mana kau menelan semua ucapanmu sendiri
Saturday, March 22, 2014
Dermaga Baru
Tak ada yg akan berubah
Ketika hati sdh bulat berkata tidak
Sekarang dan selamanya
Kapal telah berganti haluan
Menuju dermaga
yang tak lagi sama
Dermaga lain
yang menanti kapal sandar
selama ini
"If we always see the sky when we walk,
we will never see the beauty of the flower on the grass"
Ketika hati sdh bulat berkata tidak
Sekarang dan selamanya
Kapal telah berganti haluan
Menuju dermaga
yang tak lagi sama
Dermaga lain
yang menanti kapal sandar
selama ini
"If we always see the sky when we walk,
we will never see the beauty of the flower on the grass"
Tuesday, March 18, 2014
Cirebon-Jerman
Percakapan dua orang pria paruh baya berikut membuat saya sungguh trenyuh. Bapak A punya 2 anak, yang satu telah bekerja dan menikah dg orang bule tinggal di Jerman dan satunya tinggal di lain kota. Bapak B punya 2 anak masih SD dan SMA.
A : Jangan bangga punya anak yg tinggal di luar negeri bergaji besar.
B : Kenapa pak? Anak dapat pekerjaan mapan kan harapan orangtua.
A : Kelihatannya begitu. Tapi jangan lupa, orangtua usianya semakin menua dan ia semakin kesepian. Di manapun orangtua berada, mereka ingin ketika sakit dan tutup usia didampingi anak2nya. Itu saja sudah bikin seneng.
B : Iya pak, tapi orangtua kan tidak bisa menentukan di mana dan sejauh mana rejeki anak2nya harus dikejar.
A : Contohnya saya pak, kemarin sakit sebulan di rumah sakit. Anak saya di Jerman hanya bisa nengok 4 hari. Dia libur seminggu buat perjalanan PP Jerman-Cirebon. Namanya kerja ikut orang di sana tidak bisa cuti lama. Memang gajinya lumayan, tapi saya malah sedih. Semakin jauh saya sama anak saya dan saya tdk bisa berbuat apa2.
B : Agak susah memang pak, di satu sisi orangtua jarang yg bisa ngasi pekerjaan layak buat anaknya kalau dia harus tinggal berdekatan. Kalau mau cari rejeki yang bagus tapi jauh, memang dilema.
A : Saya sudah sering sakit2an. Tapi hanya kemarin pas sakit parah baru ngabari. Kalo saya kangen bisanya juga cuma telpon. Ya memang ada kiriman uang setiap bulan, tapi ternyata rasanya beda kalo anak itu tinggalnya gampang dijangkau. Anak saya satunya, tinggal di Jakarta. Lumayan dekat daripada Jerman. Itu pun kalo ngabari sakit ngga bisa sewaktu-waktu. Saya sama istri kemana-mana. Untung ada tetangga dan teman buat ngusir sepi.
Cirebon, 27 Februari 2014
A : Jangan bangga punya anak yg tinggal di luar negeri bergaji besar.
B : Kenapa pak? Anak dapat pekerjaan mapan kan harapan orangtua.
A : Kelihatannya begitu. Tapi jangan lupa, orangtua usianya semakin menua dan ia semakin kesepian. Di manapun orangtua berada, mereka ingin ketika sakit dan tutup usia didampingi anak2nya. Itu saja sudah bikin seneng.
B : Iya pak, tapi orangtua kan tidak bisa menentukan di mana dan sejauh mana rejeki anak2nya harus dikejar.
A : Contohnya saya pak, kemarin sakit sebulan di rumah sakit. Anak saya di Jerman hanya bisa nengok 4 hari. Dia libur seminggu buat perjalanan PP Jerman-Cirebon. Namanya kerja ikut orang di sana tidak bisa cuti lama. Memang gajinya lumayan, tapi saya malah sedih. Semakin jauh saya sama anak saya dan saya tdk bisa berbuat apa2.
B : Agak susah memang pak, di satu sisi orangtua jarang yg bisa ngasi pekerjaan layak buat anaknya kalau dia harus tinggal berdekatan. Kalau mau cari rejeki yang bagus tapi jauh, memang dilema.
A : Saya sudah sering sakit2an. Tapi hanya kemarin pas sakit parah baru ngabari. Kalo saya kangen bisanya juga cuma telpon. Ya memang ada kiriman uang setiap bulan, tapi ternyata rasanya beda kalo anak itu tinggalnya gampang dijangkau. Anak saya satunya, tinggal di Jakarta. Lumayan dekat daripada Jerman. Itu pun kalo ngabari sakit ngga bisa sewaktu-waktu. Saya sama istri kemana-mana. Untung ada tetangga dan teman buat ngusir sepi.
Cirebon, 27 Februari 2014
Kelas Reguler
Money can buy many things. Termasuk nilai. Jangankan di PTS, PTN pun iya. But they're smooth sailing. Begini ceritanya... "Nilai UAS kalian itu sudah saya tambah 10 semuanya," kata seorang profesor di tempat saya kuliah. Omaigat, itu pun nilai masih 59, ada lagi yang lebih parah 35. Lalu nilai sebenarnya berapa? Agak aneh model UAS-nya, pas ngerjain soal di kelas setelah 40 menit berlalu tiba-tiba petugas mengatakan bahwa UAS boleh take home. Loh? Boleh dikumpulkan seadanya, lalu selebihnya disempurnakan di rumah lalu jawaban diketik rapi dan dikumpulkan maxi minggu depannya lagi. Tapi ternyata ujung2nya yg dinilai adalah jawaban seadanya tsb. Mengapa? Sebab ancur semua tu nilai sekelas. Kok bisa ancur berjamaah? Ya, untung saja ada tambahan nilai UTS dan tugas jadi bisa mengatrol.
Pada jurusan yang sama, nilai di kelas reguler dg kelas beasiswa kominfo selalu lebih baik yg kelas reguler. Apa mahasiswa kls reguler lebih pintar dibandingkan mhs kelas kominfo? Saya ragu, sebab uanglah yg berbicara. Kami sebagai mahasiswa kelas reguler (yang membayar dg jalur uang pribadi alias nonbeasiswa) cenderung diperlakukan "istimewa". Terbukti nilai per mata kuliah juga lebih tinggi, hasilnya IPK kami pun lebih tinggi dibandingkan kelas sebelah di jurusan dan angkatan yang sama. Jangan2 memang karena kami brsedia bayar lebih? Ah, bapak.. Kata2 Anda menjadikan prestasi kami cacat akademik. Mengapa harus ada kata2 "sudah saya tambah 10" dan kalimat ini tdk dilobtarkan di kelas kominfo.
Pada jurusan yang sama, nilai di kelas reguler dg kelas beasiswa kominfo selalu lebih baik yg kelas reguler. Apa mahasiswa kls reguler lebih pintar dibandingkan mhs kelas kominfo? Saya ragu, sebab uanglah yg berbicara. Kami sebagai mahasiswa kelas reguler (yang membayar dg jalur uang pribadi alias nonbeasiswa) cenderung diperlakukan "istimewa". Terbukti nilai per mata kuliah juga lebih tinggi, hasilnya IPK kami pun lebih tinggi dibandingkan kelas sebelah di jurusan dan angkatan yang sama. Jangan2 memang karena kami brsedia bayar lebih? Ah, bapak.. Kata2 Anda menjadikan prestasi kami cacat akademik. Mengapa harus ada kata2 "sudah saya tambah 10" dan kalimat ini tdk dilobtarkan di kelas kominfo.
Tuesday, February 11, 2014
Sertifikasi Profesi
"Buat apa ada uji sertifikasi wartawan jika toh sertifikat itu tak bernilai secara materi? Kalo guru bolehlah ngotot memperjuangkan sertifikasi karena dampaknya signifikan terhadap kesejahteraan. Kalo wartawan dipaksa ikut uji sertifikasi atau uji kompetensi, urgensinya apa?" keluh seorang teman wartawan yang baru saja menjalani uji kompetensi wartawan Jawa Tengah dalam obrolan kami, Senin (10/2/2014).
Saya dulu belum sempat menjalani uji sertifikasi karena ide tentang pelaksanaan uji sertifikasi ini baru muncul 1-2 tahun belakangan dan saya keburu resign. Setiap media hanya bisa mengirimkan 3 org setiap gelombang ujian yang saat itu digelar oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Jadi ya, pastilah yang senior duluan yang bisa ikut. Ujian ini dijadwalkan berlangsung setiap tahun. Tdk ada penunjukkan langsung. Sifatnya volunteer.
Entah siapa penyandang dana di balik penyelenggaraan uji sertifikasi ini. Tapi saya percaya, ini adalah sebuah proyek yang nilainya tidak kecil. Sebab skalanya nasional. Tujuan awal sertifikasi ini mgkn positif, ini mengingat wartawan adalah sebuah profesi dan untuk meningkatkan daya saing maka uji kompetensi ini diharapkan menjadi salah satu mekanismenya.
Lalu, apakah wartawan yang belum menjalani uji kompetensi maka kemampuannya di lapangan akan diragukan? Sistem uji kompetensi ini baru muncul, maka ia justru belum bisa diakui sebagai instrumen yang bisa menguji kemampuan wartawan di lapangan secara valid.
Saya sempat berincang dg teman2 yg telah melakukan uji kompetensi ini. Soal ujiannya cukup banyak, termasuk pertanyaan mengenai kode etik dan bagaimana melobi narasumber2 top di hadapan para asesor. Semakin banyak narasumber top yang bisa dihubungi dg tingkat kedekatan komunikasi yang semakin lancar di hadapan para asesor, maka nilai ujian semakin bagus.
Ada benarnya keluhan teman saya itu. Di tingkat wartawan, sertifikat itu hanya akan menjadi piagam pajangan. Beda dengan uji sertifikasi guru atau tenaga asuransi atau bankir. Sertifikasi profesi tersebut benar2 bisa bernilai uang. Entah mengapa profesi wartawan sedikit unik. Setinggi dan sebanyak apapun gelar, tidak bisa menjadi uang. Sebanyak apapun sertifikat, juga tidak akan mendatangkan uang. Sebanyak apapun narasumber top bisa kepegang tangan, malah menjadi ancaman mutasi. Sebanyak apapun tulisan menjuarai kompetisi, dibilang wajar, siapapun bisa, maka perusahaan tak perlu memberi reward. Gemar ikut teriak naikkan UMK buruh, tapi UMK diri mereka sendiri malah jalan di tempat dan tak berani bersuara. Di kelas media cetak, posisi wartawan justru paling diincar ketimbang posisi redaktur. Idealnya, statusnya naik kelas. Tapi ironisnya, pangkat jendral gaji kopral. Sebaliknya di posisi wartawan, pangkat kopral gaji jendral. Lucu memang. Tapi ini fakta.
Saya dulu tak berambisi ikut uji sertifikasi duluan, karena saya menduga bahwa sertifikat itu tidak akan berdampak apa2 terhadap tunjangan. Lha, orang kerja apa yang dicari kalo bukan uang? Cuma dapat pengalaman dan malah mengorbankan waktu kerja yang seharusnya bisa dipakai cari uang. Saya memilih bersikap rasional. Biar saja itu bagian dari proyek PWI, seperti halnya AJI (Aliansi Jurnalis Independen) ketika menggelar survey besar2an tentang kesejahteraan wartawan. Nilai proyek ini saya yakin juga tidak kecil, karena skalanya nasional. Pertanyaan dalam lembaran setebal itu buat apa? Ditanya berjam-jam, hasilnya juga tidak signifikan. Tidak sebanding dg waktu yang disita. Kalau saja survey AJI itu bisa mendorong perubahan kesejahteraan wartawan, ya saya mau jadi respondennya. Tapi saat itu saya tolak ketika tahu bahwa survey itu terlalu banyak tanya tapi tidak memberikan umpan balik apa-apa kecuali pemberitaan. That's it.
Jadi, saya tidak merasa rugi apapun tidak pernah mengikuti uji kompetensi wartawan. Kompetensi tidak bisa dinilai dari selembar sertifikat. Kemampuan seorang wartawan dalam menggali isu, memantau dan mengembangkan isu, memilih dan melobi narasumber yang kompeten, menuangkannya dalam tulisan yang terstruktur dan logis, ditentukan dari bagaimana ia berproses selama di lapangan. Publiklah yang akan menilai kemampuannya.
Saya dulu belum sempat menjalani uji sertifikasi karena ide tentang pelaksanaan uji sertifikasi ini baru muncul 1-2 tahun belakangan dan saya keburu resign. Setiap media hanya bisa mengirimkan 3 org setiap gelombang ujian yang saat itu digelar oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Jadi ya, pastilah yang senior duluan yang bisa ikut. Ujian ini dijadwalkan berlangsung setiap tahun. Tdk ada penunjukkan langsung. Sifatnya volunteer.
Entah siapa penyandang dana di balik penyelenggaraan uji sertifikasi ini. Tapi saya percaya, ini adalah sebuah proyek yang nilainya tidak kecil. Sebab skalanya nasional. Tujuan awal sertifikasi ini mgkn positif, ini mengingat wartawan adalah sebuah profesi dan untuk meningkatkan daya saing maka uji kompetensi ini diharapkan menjadi salah satu mekanismenya.
Lalu, apakah wartawan yang belum menjalani uji kompetensi maka kemampuannya di lapangan akan diragukan? Sistem uji kompetensi ini baru muncul, maka ia justru belum bisa diakui sebagai instrumen yang bisa menguji kemampuan wartawan di lapangan secara valid.
Saya sempat berincang dg teman2 yg telah melakukan uji kompetensi ini. Soal ujiannya cukup banyak, termasuk pertanyaan mengenai kode etik dan bagaimana melobi narasumber2 top di hadapan para asesor. Semakin banyak narasumber top yang bisa dihubungi dg tingkat kedekatan komunikasi yang semakin lancar di hadapan para asesor, maka nilai ujian semakin bagus.
Ada benarnya keluhan teman saya itu. Di tingkat wartawan, sertifikat itu hanya akan menjadi piagam pajangan. Beda dengan uji sertifikasi guru atau tenaga asuransi atau bankir. Sertifikasi profesi tersebut benar2 bisa bernilai uang. Entah mengapa profesi wartawan sedikit unik. Setinggi dan sebanyak apapun gelar, tidak bisa menjadi uang. Sebanyak apapun sertifikat, juga tidak akan mendatangkan uang. Sebanyak apapun narasumber top bisa kepegang tangan, malah menjadi ancaman mutasi. Sebanyak apapun tulisan menjuarai kompetisi, dibilang wajar, siapapun bisa, maka perusahaan tak perlu memberi reward. Gemar ikut teriak naikkan UMK buruh, tapi UMK diri mereka sendiri malah jalan di tempat dan tak berani bersuara. Di kelas media cetak, posisi wartawan justru paling diincar ketimbang posisi redaktur. Idealnya, statusnya naik kelas. Tapi ironisnya, pangkat jendral gaji kopral. Sebaliknya di posisi wartawan, pangkat kopral gaji jendral. Lucu memang. Tapi ini fakta.
Saya dulu tak berambisi ikut uji sertifikasi duluan, karena saya menduga bahwa sertifikat itu tidak akan berdampak apa2 terhadap tunjangan. Lha, orang kerja apa yang dicari kalo bukan uang? Cuma dapat pengalaman dan malah mengorbankan waktu kerja yang seharusnya bisa dipakai cari uang. Saya memilih bersikap rasional. Biar saja itu bagian dari proyek PWI, seperti halnya AJI (Aliansi Jurnalis Independen) ketika menggelar survey besar2an tentang kesejahteraan wartawan. Nilai proyek ini saya yakin juga tidak kecil, karena skalanya nasional. Pertanyaan dalam lembaran setebal itu buat apa? Ditanya berjam-jam, hasilnya juga tidak signifikan. Tidak sebanding dg waktu yang disita. Kalau saja survey AJI itu bisa mendorong perubahan kesejahteraan wartawan, ya saya mau jadi respondennya. Tapi saat itu saya tolak ketika tahu bahwa survey itu terlalu banyak tanya tapi tidak memberikan umpan balik apa-apa kecuali pemberitaan. That's it.
Jadi, saya tidak merasa rugi apapun tidak pernah mengikuti uji kompetensi wartawan. Kompetensi tidak bisa dinilai dari selembar sertifikat. Kemampuan seorang wartawan dalam menggali isu, memantau dan mengembangkan isu, memilih dan melobi narasumber yang kompeten, menuangkannya dalam tulisan yang terstruktur dan logis, ditentukan dari bagaimana ia berproses selama di lapangan. Publiklah yang akan menilai kemampuannya.
Monday, February 10, 2014
You
I like you
Doesn't mean I want to marry you
for now..
You conquered my heart
Doesn't mean I will surrender my life for you
It's just a feeling
I try to understand
It's just a feeling
That I take to make me happy
It came and then go
as soon as they sometimes will
Doesn't mean I want to marry you
for now..
You conquered my heart
Doesn't mean I will surrender my life for you
It's just a feeling
I try to understand
It's just a feeling
That I take to make me happy
It came and then go
as soon as they sometimes will
Kamu dan ia
Jika kelak
Kamu dan ia
Hanya terselip di selintas waktu
bukan di akhir perjalanan
Ijinkan qt nikmati detik2 ini
Detik qt tertawa
menyunggi romansa
dalam sipu dan hening
Ijinkan waktu berhenti
hanya di saat2 itu
Ijinkan waktu
memberikan yg terbaik
Aku, kamu dan ia
Kamu dan ia
Hanya terselip di selintas waktu
bukan di akhir perjalanan
Ijinkan qt nikmati detik2 ini
Detik qt tertawa
menyunggi romansa
dalam sipu dan hening
Ijinkan waktu berhenti
hanya di saat2 itu
Ijinkan waktu
memberikan yg terbaik
Aku, kamu dan ia
Sunday, February 2, 2014
Pagiku
Selamat malam, pagiku
Mentari hariku
Kamu adalah pagi
yang tak pernah gelap
Kamu adalah semangat
yang tak pernah surut
Kamu yang selalu renyah
Menggiring tawa
Bersama detik2 waktu
Kamu yang santun
Mengetuk pesan sederhana
Seperti sudah ribuan pesan
Kau kirim dalam bisik2 kecil
Ah, aku lupa
Rupanya kita baru kemarin sore
Selamat tidur
Mentari hariku
Kamu adalah pagi
yang tak pernah gelap
Kamu adalah semangat
yang tak pernah surut
Kamu yang selalu renyah
Menggiring tawa
Bersama detik2 waktu
Kamu yang santun
Mengetuk pesan sederhana
Seperti sudah ribuan pesan
Kau kirim dalam bisik2 kecil
Ah, aku lupa
Rupanya kita baru kemarin sore
Selamat tidur
Saturday, February 1, 2014
Polisi dan Mahasiswa Asing
Polisi Indo emang gila korupnya. Seorang teman dari Madagaskar yg nyasar salah jalan pun kena palak juga. Gara2 pajak STNK nya mati sejak dua tahun lalu, kena deh dia.
"Priiittt! Suddenly he stopped me and asked me to show the KTP motor and driving license," Gio said to us.
Temanku ini emang kocak banget, nyebut STNK selalu aja KTP motor. Bisa siy bahasa Indo tapi masih setengah2 meski dia sudah setahun belajar di Sby.
"Jalanan macet dan saya drive my motorcycle to flyover. I just knew that the flyover only for car," he said.
Yg dia maksud adalah jembatan Mayangkara. Dia berasal dari arah terminal Bungurasih hendak pulang menuju kos di daerah Gubeng Kertajaya. Motor yg ia pakai sebetulnya ia beli second Rp 7 juta dari temannya teman staf pengajar bahasa di Lab Bahasa Unair. Agak rumit, ngga heran Gio lalu hrs menanggung pajaknya yg tdk dibayarkan selama dua tahun. Pemilik yang sesuai dg alamat STNK ternyata sudah meninggal dan Gio bingung harus pakai KTP siapa ketika bayar pajak dan balik nama BPKB. Di situlah polisi memanfaatkan celah.
"Actually I have my driving license from Madagascar but for car, not motorcycle. And I don't think I can use it in Indo because the position of steering wheel on right-hand side, Madagascar on left-hand side," he added.
"The police asked me fifty thousands rupiahs, but I said I don't have money pak. I'm a college student, and here is my identity. Then I show him my wallet there are only fifty thousands left. So he asked me thirty five thousands," he said.
"Seriously? Dia mau kau kasi cuma 35.000 aja?" we asked.
"Ya, he counted my cash on my wallet. After that, he asked me why I didn't have driving license? He offered me to get driving license and gave me his phone number. He said that I can get it instantly only eight hundred thousands rupiahs, just call his number. " Gio said.
"Gosh! And you say yes?"
"No. I only nodded and then discard his number. No way, I don't have that much money from my scholarship. I don't even have my KTP motor yet," he said.
Poor you are.. Polisi Indo emang resek betul. Tau ada orang asing langsung jd sasaran empuk buat dipalak.
"You know the real cost to get driving licence for motorcycle in Indo? Only Rp 100.000, but you have to make it on three days. If we (local people) want to get instantly from calo only Rp 400.000," I said.
"Wow, twice for me? Great pak police!" Gio added.
"Priiittt! Suddenly he stopped me and asked me to show the KTP motor and driving license," Gio said to us.
Temanku ini emang kocak banget, nyebut STNK selalu aja KTP motor. Bisa siy bahasa Indo tapi masih setengah2 meski dia sudah setahun belajar di Sby.
"Jalanan macet dan saya drive my motorcycle to flyover. I just knew that the flyover only for car," he said.
Yg dia maksud adalah jembatan Mayangkara. Dia berasal dari arah terminal Bungurasih hendak pulang menuju kos di daerah Gubeng Kertajaya. Motor yg ia pakai sebetulnya ia beli second Rp 7 juta dari temannya teman staf pengajar bahasa di Lab Bahasa Unair. Agak rumit, ngga heran Gio lalu hrs menanggung pajaknya yg tdk dibayarkan selama dua tahun. Pemilik yang sesuai dg alamat STNK ternyata sudah meninggal dan Gio bingung harus pakai KTP siapa ketika bayar pajak dan balik nama BPKB. Di situlah polisi memanfaatkan celah.
"Actually I have my driving license from Madagascar but for car, not motorcycle. And I don't think I can use it in Indo because the position of steering wheel on right-hand side, Madagascar on left-hand side," he added.
"The police asked me fifty thousands rupiahs, but I said I don't have money pak. I'm a college student, and here is my identity. Then I show him my wallet there are only fifty thousands left. So he asked me thirty five thousands," he said.
"Seriously? Dia mau kau kasi cuma 35.000 aja?" we asked.
"Ya, he counted my cash on my wallet. After that, he asked me why I didn't have driving license? He offered me to get driving license and gave me his phone number. He said that I can get it instantly only eight hundred thousands rupiahs, just call his number. " Gio said.
"Gosh! And you say yes?"
"No. I only nodded and then discard his number. No way, I don't have that much money from my scholarship. I don't even have my KTP motor yet," he said.
Poor you are.. Polisi Indo emang resek betul. Tau ada orang asing langsung jd sasaran empuk buat dipalak.
"You know the real cost to get driving licence for motorcycle in Indo? Only Rp 100.000, but you have to make it on three days. If we (local people) want to get instantly from calo only Rp 400.000," I said.
"Wow, twice for me? Great pak police!" Gio added.
Subscribe to:
Posts (Atom)