Beberapa tahun silam, seorang teman wanita di kantor lama jaman magang kuliah pernah berujar, "Kamu itu jangan seperti katak dalam tempurung," ujar wanita yang saat itu berusia 35 tahun dan belum menikah. Mungkin, saat itu dia merasa pantas menasehati karyawan baru yg usianya jauh di bawah dia dg sepak terjang yg tak sebanding dgnya.
Saya yg bekerja di lantai 2 dan tdk banyak mengenal org2 yg ada di lantai 1. Jumlah karyawan yg bekerja di lantai 1 dan 2 saat itu mungkin tak sampai 100 org. Tapi entah mengapa saya enggan sksd. Kurang supel mungkin. Jadi setiap kali obrolan ttg si A si B si C ttg karyawan yg di luar lantai 2 ngga pernah "ngeh."
Bertahun2 berlalu, kabar terakhir yg saya terima dia masih bekerja di dalam perusahaan yg sama (cuma pindah anak perusahaan yg lebih kecil). Dia masih menekuni bidang yg sama, berpendidikan yg sama dan tdk ke mana-mana. Persis seperti katak dalam tempurung...
Terima kasih atas kalimat lecutannya si mbak, saya jd termotivasi berpindah2 kerja ke tempat yg lebih baik dan mau meneruskan pendidikan yg lebih tinggi.
Showing posts with label sarkastik. Show all posts
Showing posts with label sarkastik. Show all posts
Monday, October 2, 2017
Saturday, September 2, 2017
I'm Sorry Baby...
Wanita itu meregang nyawa. Sakit menahun dideritanya. Entah diagnosa apa.
Tetiba datang berkabar, ruhnya tak lagi bersatu dg raganya. Mimpi di malam itu.
Bukanlah doa siapa dalam tiupan takdir. Bukan!
Karena aku tak peduli masamu bersamanya.
Aku tak hendak bersorak jika dia tak lagi bersamamu.
Aku tak hendak berlari memelukmu jika dia pergi selamanya.
Aku hendak pergi meninggalkanmu.
Ke tempat di mana tak ada lagi jejak kita.
Di lorong waktu yg berputar seperti deret ukur.
Aku akan berlari kencang seperti kau merampas kemarinku.
Lalu berlagak tak tahu. Berdalih seperti sangkamu.
Aku akan terus pergi. Tanpa ingatan kemarin. Bersamamu.
Ya, kemarin. Ada tawa di awal jumpa. Menderu nafas yg terpagut.
Meluruh dinding yg beku. Memeluk senja berganti fajar.
Tanpa mengetuk tanpa sapa. Semua tiba-tiba. Semua apa-apa.
Semua... semua... dan semua.
Tetiba datang berkabar, ruhnya tak lagi bersatu dg raganya. Mimpi di malam itu.
Bukanlah doa siapa dalam tiupan takdir. Bukan!
Karena aku tak peduli masamu bersamanya.
Aku tak hendak bersorak jika dia tak lagi bersamamu.
Aku tak hendak berlari memelukmu jika dia pergi selamanya.
Aku hendak pergi meninggalkanmu.
Ke tempat di mana tak ada lagi jejak kita.
Di lorong waktu yg berputar seperti deret ukur.
Aku akan berlari kencang seperti kau merampas kemarinku.
Lalu berlagak tak tahu. Berdalih seperti sangkamu.
Aku akan terus pergi. Tanpa ingatan kemarin. Bersamamu.
Ya, kemarin. Ada tawa di awal jumpa. Menderu nafas yg terpagut.
Meluruh dinding yg beku. Memeluk senja berganti fajar.
Tanpa mengetuk tanpa sapa. Semua tiba-tiba. Semua apa-apa.
Semua... semua... dan semua.
Monday, May 2, 2016
Usia Produktif vs Nonproduktif Tenaga Kerja
Kadang, perusahaan yang dinamis tak punya tempat bagi tenaga kerja usia tua yang kurang produktif. Atau kalimat ini seharusnya dibalik? Tenaga kerja yang tak lagi muda dan yang kurang produktif sering tak punya tempat dalam perusahaan yang dinamis? Sejauh mana perusahaan bisa dikatakan dinamis?
Kategori tua itu seperti apa? Kategori produktif itu sendiri bagaimana? Jika mengacu pada BPS, usia produktif 15-64 tahun. Namun, berdasarkan pengalaman saya bekerja di beberapa perusahaan, usia tenaga kerja yang benar-benar produktif untuk ukuran perusahaan dinamis sesungguhnya adalah 25-50 tahun.
Kurang dari 25 tahun, kerap susah diajari materi dengan tingkat kesulitan yang agak tinggi. Lebih dari 50 tahun, mulai bermalas-malasan menjalankan pekerjaan. Apalagi dengan masa kerja yang belasan atau puluhan tahun telah bekerja di perusahaan yang sama. Namun, ini pengecualian bagi mereka yang sudah mencapai level manajerial ketika usianya 30-an (dan bekerja di perusahaan yang bukan milik pribadi/keluarga).
Pengamatan saya, mereka yang telah mencapai level manajer (rerata usia 30-50 th) kompetisi akan semakin ketat sehingga mereka lebih sigap membekali diri agar berdaya saing. Sementara yang nonmanajer pd usia tsb jauh lebih santai dan hanya segelintir yang mempersiapkan diri berkompetisi untuk naik ke level manajer.
No wonder, pertumbuhan jumlah manajer di sebuah departemen/divisi dalam sebuah perusahaan tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah staf/nonmanajer. Contoh sederhana, jumlah karyawan di cabang saya saat ini hampir menyentuh angka 5.000 org, dengan level manager cuma 25 org. Rasionya 1:200. Sejauh yang saya tau, belum ada studi yang menyebutkan rasio wajar manajer : nonmanajer dalam perusahaan sehingga bisa dikatakan sebagai perusahaan yang sehat.
Persaingan di level manajer selalu lebih ketat. Persoalan lain, tuntutan pasar yang sangat dinamis kadang tidak disertai dengan percepatan daya saing di lingkungan internal. Akibatnya, regenerasi pun jadi melambat. Pada perusahaan yang dinamis, hal ini tidak akan terjadi. Perubahan pasar terus berlangsung, selera konsumen bisa berubah setiap detik. Pada akhirnya, perusahaan yang bisa bertahan hanyalah mereka yang sigap menjawab perubahan melalui segudang inovasi.
Di level tenaga kerja, yang akan terus dipertahankan adalah mereka yang memberi konstribusi secara riil terhadap kemajuan perusahaan. Baik itu kontribusi tenaga/pemikiran yang ujung-ujungnya membawa pada pertumbuhan laba perusahaan. Merekalah tenaga kerja produktif.
Mereka yang low performance acapkali akan tersingkir. Namun, karena alasan manusiawi (misal, penghargaan terhadap masa kerja) kadang sebuah perusahaan masih memberi toleransi pd tenaga kerja golongan ini. Maka dicarikanlah posisi/jabatan yang lalu bikin orang mengernyitkan dahi. Artinya, tanpa ada jabatan tsb pun, sebetulnya perusahaan bisa jalan. Namun karena alasan tertentu, perusahaan mau bertindak tidak efisien.
Dalam buku "How Starbuck Save My Life" -- kasus yang dialami Michael Gates Gill mencerminkan permasalahan yang saya ulas ini. Saya pun yakin kasus yang dialaminya juga dialami ribuan orang di dunia termasuk dalam perusahaan tempat saya bekerja.
Gates Gill dianggap sebagai tenaga kerja yang low perfomance, ia telah mengabdi puluhan tahun dan telah mempromosikan ratusan karyawan ke jenjang manajer. Namun, pada akhirnya ia pun disingkirkan oleh mereka yang pernah dipromosikan ke level manajerial dengan diberikan golden shake yang tak terlalu besar. Pemilik perusahaan tempat dia bekerja, menjual perusahaan tsb sehingga terjadilah perombakan total di level manajerial di bawah pemilik saham yang baru.
Pemilik perusahaan yang baru, merekrut banyak tenaga kerja muda yang siap dididik dan dibayar murah, ketimbang harus mempertahankan para senior bergaji fantastis yang dianggap sudah tidak lagi memberi kontribusi riil terhadap perusahaan. Kasus ini pun seolah menyuguhkan kenyataan bahwa menjadi tua itu mencekam. Berpuluh tahun mengabdi pada sebuah perusahaan untuk membangun zona aman, pada akhirnya menjadi zona ancaman.
But Gill membuat pembaca "you don't have to be worry, because it's only the beginning." Karir Gill yang hancur berdarah-darah dengan kehidupan pribadi yang terseret berantakan, justru membawanya pada sebuah fase kehidupan baru. Sebab ia yakin, meski usianya memasuki 60 tahun namun dirinya masih sanggup belajar dan merasa masih punya potensi untuk membawa kemajuan sebuah perusahaan.
Berbulan-bulan dia hidup hanya dari golden shake dan menikmati fase post power syndrome. Stress yang menggila, ia harus mau bekerja apa saja. Dari semula dilayani, kini menjadi melayani. Bahkan ia harus rela menyikat WC sebuah restoran. That's life! Dengan kerja keras dan kesabaran, Gill pada akhirnya diterima bekerja di Starbuck yang baginya pekerjaan itu ia temui tanpa sengaja. Karir Gill pun mulai membaik, dan ia kembali meraih level manajerial dalam sekejap.
Buku ini menarik, membuat kita sadar bahwa usia boleh tua namun produktivitas tak boleh luntur. Loyalitas itu penting, namun jangan lalai untuk terus membekali diri agar terus siap bersaing. Kita tak pernah tahu bagaimana nasib perusahaan tempat kita bekerja esok. Banyak cara membekali diri agar menjadi tenaga kerja yang berdaya saing. Teruslah belajar dan jangan lupa melebarkan jaringan di lingkungan eksternal agar tak seperti katak dalam tempurung. Percaya diri dalam zona zaman itu boleh saja, namun jangan terlena. Sebab zona ini bisa membunuhmu sewaktu-waktu.
Salam.
Kategori tua itu seperti apa? Kategori produktif itu sendiri bagaimana? Jika mengacu pada BPS, usia produktif 15-64 tahun. Namun, berdasarkan pengalaman saya bekerja di beberapa perusahaan, usia tenaga kerja yang benar-benar produktif untuk ukuran perusahaan dinamis sesungguhnya adalah 25-50 tahun.
Kurang dari 25 tahun, kerap susah diajari materi dengan tingkat kesulitan yang agak tinggi. Lebih dari 50 tahun, mulai bermalas-malasan menjalankan pekerjaan. Apalagi dengan masa kerja yang belasan atau puluhan tahun telah bekerja di perusahaan yang sama. Namun, ini pengecualian bagi mereka yang sudah mencapai level manajerial ketika usianya 30-an (dan bekerja di perusahaan yang bukan milik pribadi/keluarga).
Pengamatan saya, mereka yang telah mencapai level manajer (rerata usia 30-50 th) kompetisi akan semakin ketat sehingga mereka lebih sigap membekali diri agar berdaya saing. Sementara yang nonmanajer pd usia tsb jauh lebih santai dan hanya segelintir yang mempersiapkan diri berkompetisi untuk naik ke level manajer.
No wonder, pertumbuhan jumlah manajer di sebuah departemen/divisi dalam sebuah perusahaan tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah staf/nonmanajer. Contoh sederhana, jumlah karyawan di cabang saya saat ini hampir menyentuh angka 5.000 org, dengan level manager cuma 25 org. Rasionya 1:200. Sejauh yang saya tau, belum ada studi yang menyebutkan rasio wajar manajer : nonmanajer dalam perusahaan sehingga bisa dikatakan sebagai perusahaan yang sehat.
Persaingan di level manajer selalu lebih ketat. Persoalan lain, tuntutan pasar yang sangat dinamis kadang tidak disertai dengan percepatan daya saing di lingkungan internal. Akibatnya, regenerasi pun jadi melambat. Pada perusahaan yang dinamis, hal ini tidak akan terjadi. Perubahan pasar terus berlangsung, selera konsumen bisa berubah setiap detik. Pada akhirnya, perusahaan yang bisa bertahan hanyalah mereka yang sigap menjawab perubahan melalui segudang inovasi.
Di level tenaga kerja, yang akan terus dipertahankan adalah mereka yang memberi konstribusi secara riil terhadap kemajuan perusahaan. Baik itu kontribusi tenaga/pemikiran yang ujung-ujungnya membawa pada pertumbuhan laba perusahaan. Merekalah tenaga kerja produktif.
Mereka yang low performance acapkali akan tersingkir. Namun, karena alasan manusiawi (misal, penghargaan terhadap masa kerja) kadang sebuah perusahaan masih memberi toleransi pd tenaga kerja golongan ini. Maka dicarikanlah posisi/jabatan yang lalu bikin orang mengernyitkan dahi. Artinya, tanpa ada jabatan tsb pun, sebetulnya perusahaan bisa jalan. Namun karena alasan tertentu, perusahaan mau bertindak tidak efisien.
Dalam buku "How Starbuck Save My Life" -- kasus yang dialami Michael Gates Gill mencerminkan permasalahan yang saya ulas ini. Saya pun yakin kasus yang dialaminya juga dialami ribuan orang di dunia termasuk dalam perusahaan tempat saya bekerja.
Gates Gill dianggap sebagai tenaga kerja yang low perfomance, ia telah mengabdi puluhan tahun dan telah mempromosikan ratusan karyawan ke jenjang manajer. Namun, pada akhirnya ia pun disingkirkan oleh mereka yang pernah dipromosikan ke level manajerial dengan diberikan golden shake yang tak terlalu besar. Pemilik perusahaan tempat dia bekerja, menjual perusahaan tsb sehingga terjadilah perombakan total di level manajerial di bawah pemilik saham yang baru.
Pemilik perusahaan yang baru, merekrut banyak tenaga kerja muda yang siap dididik dan dibayar murah, ketimbang harus mempertahankan para senior bergaji fantastis yang dianggap sudah tidak lagi memberi kontribusi riil terhadap perusahaan. Kasus ini pun seolah menyuguhkan kenyataan bahwa menjadi tua itu mencekam. Berpuluh tahun mengabdi pada sebuah perusahaan untuk membangun zona aman, pada akhirnya menjadi zona ancaman.
But Gill membuat pembaca "you don't have to be worry, because it's only the beginning." Karir Gill yang hancur berdarah-darah dengan kehidupan pribadi yang terseret berantakan, justru membawanya pada sebuah fase kehidupan baru. Sebab ia yakin, meski usianya memasuki 60 tahun namun dirinya masih sanggup belajar dan merasa masih punya potensi untuk membawa kemajuan sebuah perusahaan.
Berbulan-bulan dia hidup hanya dari golden shake dan menikmati fase post power syndrome. Stress yang menggila, ia harus mau bekerja apa saja. Dari semula dilayani, kini menjadi melayani. Bahkan ia harus rela menyikat WC sebuah restoran. That's life! Dengan kerja keras dan kesabaran, Gill pada akhirnya diterima bekerja di Starbuck yang baginya pekerjaan itu ia temui tanpa sengaja. Karir Gill pun mulai membaik, dan ia kembali meraih level manajerial dalam sekejap.
Buku ini menarik, membuat kita sadar bahwa usia boleh tua namun produktivitas tak boleh luntur. Loyalitas itu penting, namun jangan lalai untuk terus membekali diri agar terus siap bersaing. Kita tak pernah tahu bagaimana nasib perusahaan tempat kita bekerja esok. Banyak cara membekali diri agar menjadi tenaga kerja yang berdaya saing. Teruslah belajar dan jangan lupa melebarkan jaringan di lingkungan eksternal agar tak seperti katak dalam tempurung. Percaya diri dalam zona zaman itu boleh saja, namun jangan terlena. Sebab zona ini bisa membunuhmu sewaktu-waktu.
Salam.
Monday, September 14, 2015
Drama
Meski tak ada data pasti sejak kapan industri hiburan (khususnya drama seri) di Korea Selatan dikemas secara serius, yang jelas jika melihat perkembangannya saat ini, lompatannya luar biasa. Tak hanya teknik penggarapannya, cerita yang disajikan, intrik di dalam alur cerita hingga pemilihan kata dalam kalimat yang dipakai untuk percakapan para pemainnya.
Data dari wikipedia menyebutkan drama televisi di negeri ginseng ini pertama mengudara sekitar 1960-an. Saat itu, serial drama di Indonesia belum lahir. Info wikipedia, baru sekitar pengujung 90-an muncul sinetron TVRI berjudul Jendela Rumah Kita, Losmen Srikandi, dst. Kita "hanya" tertinggal 3 dekade dengan Korsel. Kemunculan beberapa stasiun televisi swasta kemudian ikut menyemarakkan drama di layar kaca.
Saya bukan penikmat dunia akting dalam serial drama secara serius, biasanya judul saya pilih secara random sesuai dg rekomendasi teman. Drama dari negara manapun saya suka, kecuali yang bernuansa Bollywood :D (maaf klo yang ini agak alergi).
Serial drama televisi dari daratan Eropa dan Amerika mungkin sudah biasa. Nuansa baru masuk ketika orang2 di Indonesia mulai ramai membicarakan k-drama sebagai bagian dari Korean Wave, sayapun membabat habis ratusan judul serial dramanya. Pun ketika Thailand Wave dan Turkish Wave mulai merasuk, saya tak kalah kepo buru2 streaming heheh...
Akhirnya, sejak 3 tahun lalu saya jatuh hati pada k-drama. Memang ngga semua k-drama dikemas secara keren, tapi ada puluhan judul yang ceritanya masih membekas. Para pelaku dalam industri k-drama tentu bukan orang2 kemarin sore sehingga mereka mampu menyajikan mutu yang bagus. Bandingkan saja dg drama asal Indonesia atau drama Turki. Jauh.
Salah satu k-drama yang menurut saya super (karena ada beberapa kutipan menarik) yakni Yong Pal, dibintangi si ganteng dan cute Joo Won dan si cantik Kim Tae Hee (Yong Ae) yang kini sedang tayang di Korea seri ke-12. Di seri ke-9, seorang pendeta menerima pengakuan dosa dari Yong Ae - pewaris perusahaan yang berusaha dibunuh pelan2 oleh kakak angkatnya dg cara dibuat koma selama 3 tahun.
Ketika ia sadar, ia ingin membalas dendam perlakuan org2 tsb terhadapnya. Simak berikut percakapan menarik ttg pengakuan dosanya terhadap si pendeta :
Yong Ae - Jika saya diberi kekuatan, saya ingin membunuh musuh-musuh saya
Pendeta - Sesungguhnya, cintailah musuh-musuhmu, maka Tuhan akan menyelamatkan jiwamu.
Yong Ae - Saya tahu kali ini Tuhan tidak akan mengabulkan permintaan saya lagi
Pendeta - Tuhan selalu menjawab doa umat-Nya dengan cara yang bahkan tidak diinginkan oleh umat-Nya. Ini karena manusia memintanya dg amarah, dan Tuhan menjawabnya dengan cinta.
*speechless
I def agree with you father! The right words from unforeseen situation :)
Data dari wikipedia menyebutkan drama televisi di negeri ginseng ini pertama mengudara sekitar 1960-an. Saat itu, serial drama di Indonesia belum lahir. Info wikipedia, baru sekitar pengujung 90-an muncul sinetron TVRI berjudul Jendela Rumah Kita, Losmen Srikandi, dst. Kita "hanya" tertinggal 3 dekade dengan Korsel. Kemunculan beberapa stasiun televisi swasta kemudian ikut menyemarakkan drama di layar kaca.
Saya bukan penikmat dunia akting dalam serial drama secara serius, biasanya judul saya pilih secara random sesuai dg rekomendasi teman. Drama dari negara manapun saya suka, kecuali yang bernuansa Bollywood :D (maaf klo yang ini agak alergi).
Serial drama televisi dari daratan Eropa dan Amerika mungkin sudah biasa. Nuansa baru masuk ketika orang2 di Indonesia mulai ramai membicarakan k-drama sebagai bagian dari Korean Wave, sayapun membabat habis ratusan judul serial dramanya. Pun ketika Thailand Wave dan Turkish Wave mulai merasuk, saya tak kalah kepo buru2 streaming heheh...
Akhirnya, sejak 3 tahun lalu saya jatuh hati pada k-drama. Memang ngga semua k-drama dikemas secara keren, tapi ada puluhan judul yang ceritanya masih membekas. Para pelaku dalam industri k-drama tentu bukan orang2 kemarin sore sehingga mereka mampu menyajikan mutu yang bagus. Bandingkan saja dg drama asal Indonesia atau drama Turki. Jauh.
Salah satu k-drama yang menurut saya super (karena ada beberapa kutipan menarik) yakni Yong Pal, dibintangi si ganteng dan cute Joo Won dan si cantik Kim Tae Hee (Yong Ae) yang kini sedang tayang di Korea seri ke-12. Di seri ke-9, seorang pendeta menerima pengakuan dosa dari Yong Ae - pewaris perusahaan yang berusaha dibunuh pelan2 oleh kakak angkatnya dg cara dibuat koma selama 3 tahun.
Ketika ia sadar, ia ingin membalas dendam perlakuan org2 tsb terhadapnya. Simak berikut percakapan menarik ttg pengakuan dosanya terhadap si pendeta :
Yong Ae - Jika saya diberi kekuatan, saya ingin membunuh musuh-musuh saya
Pendeta - Sesungguhnya, cintailah musuh-musuhmu, maka Tuhan akan menyelamatkan jiwamu.
Yong Ae - Saya tahu kali ini Tuhan tidak akan mengabulkan permintaan saya lagi
Pendeta - Tuhan selalu menjawab doa umat-Nya dengan cara yang bahkan tidak diinginkan oleh umat-Nya. Ini karena manusia memintanya dg amarah, dan Tuhan menjawabnya dengan cinta.
*speechless
I def agree with you father! The right words from unforeseen situation :)
Wednesday, August 26, 2015
Proyek Kasur DPR dan 7 Mega Proyek Lainnya
Selalu ada saja cara menggarong duit negara. Setelah pengajuan 7 megaproyek senilai Rp 1,6 triliun terancam ditolak Jokowi, sekarang giliran anggaran spring bed alias kasur yang diajukan (Rp 12,5 miliar). Per anggota dapat jatah Rp 19 juta. Sebetulnya bukan masalah Rp 19 jutanya, tapi kinerjanya tunjukin dulu. Ini mah yang terekspos, yang kagak malah jauh lebih gd nilainya.
Betul kan kata Fadli Zon klo proyek itu nilainya kecil, bukan megaproyek. Sebab, mereka mainnya duit gd selama ini. Sebetulnya, klo qt liat usulan 7 proyek itu uda lama. Banyak keluhan muncul dari anggota DPR dan para tenaga ahlinya. Orang awam melihat kondisi gedung DPR RI di Senayan masih sangat mewah, arsitekturnya oke, tamannya terawat, kemanan terjamin.
Cobalah tengok masuk, ruang seorang Kepala DPR, Ketua Komisi, dan anggota DPR jauh lebih memprihatinkan dibandingkan ruangan seorang manajer cabang bank swasta ternama. Pun lobby gedungnya, terkesan seadanya. Apalagi musholla di tiap gedung benar2 seadanya. Hampir semua benda adalah peninggalan para terdahulunya secara turun-temurun.
Coba tengok juga perangkat komputer yang digunakan para sekpri dan tenaga ahli mereka di ruangan. Jujur, waktu saya jadi staf ahli tante sblm akhirnya ditempatkan jd TA Dapil, kondisi gedung DPR RI Senayan dalemnya sedih banget. Klo kerja malah enak pakai laptop pribadi ketimbang PC itu. Komputer Intel jadul, entah Pentium berapa, keyboard keras berbunyi cetak-cetok, layar monitor model tabung, cembung berukuran 10", dan server diletakkan di bawah desktop. Ini membuat saya teringat ke jaman SD. Kali pertama punya komputer di rumah.
Perusahaan swasta pun sudah meninggalkan model yang beginian ini. Yah, minimal layar monitornya pakai yang flat, agak gedean dikit 14" dengan internet berkecepatan tinggi. Di beberapa bagian, malah uda pake PC MAC. Ruangannya (tentu saja) lebih nyaman meskipun hanya staf. Itu kelas perusahaan swasta nasional dan bukan manajer.
Sementara tengoklah PC milik anggota DPR. Merk Dell, warna putih, layar monitor kira-kira 18". Di hadapannya ada TV 32" yang setiap saat menayangkan siaran TV Parlemen yang dinikmati melalui jaringan TV Plasma.
Perangkat meja kursinya berdebu (maaf tidak ada OB khusus). Mejanya dipenuhi tumpukan berkas yang entah harus diletakkan di mana lagi sebab space ruangan tidak cukup. Di depan ruang anggota dewan, ada ruang kecil berisi 1 unit komputer, lemari, dan meja kursi yang hanya cukup utk 1 org sekpri. Sementara, seorang anggota dewan memiliki 2 orang sekpri dan 1 TA. Semuanya berjejal.
Tak heran, usulan renovasi ruang itu kemudian muncul dalam 7 megaproyek tsb. Namun, sekali lagi ketika tuntutan tidak diimbangi dengan capaian kinerja yang memuaskan maka tak berlebihan jika wacana ini menuai banyak protes.
Direnovasi segede apapun, anggota dewan itu jarang nyamperin kantornya di Senayan. Paling2 klo ada hearing atau rapat mini fraksi atau sidang paripurna, setor muka dan tandatangan buat ambil duit.
Apalagi ngajuin kasur, jadi geli sendiri. Emangnya situ ngga mampu beli kasur Rp 19 juta? Okelah jika itu fasilitas, tapi please deh punya empati dikit. Nyadar ngga siy klo kondisi perekonomian kita lagi decline?
A note to my president : please reconsider the 7 mega projects proposed of parliament.
Betul kan kata Fadli Zon klo proyek itu nilainya kecil, bukan megaproyek. Sebab, mereka mainnya duit gd selama ini. Sebetulnya, klo qt liat usulan 7 proyek itu uda lama. Banyak keluhan muncul dari anggota DPR dan para tenaga ahlinya. Orang awam melihat kondisi gedung DPR RI di Senayan masih sangat mewah, arsitekturnya oke, tamannya terawat, kemanan terjamin.
Cobalah tengok masuk, ruang seorang Kepala DPR, Ketua Komisi, dan anggota DPR jauh lebih memprihatinkan dibandingkan ruangan seorang manajer cabang bank swasta ternama. Pun lobby gedungnya, terkesan seadanya. Apalagi musholla di tiap gedung benar2 seadanya. Hampir semua benda adalah peninggalan para terdahulunya secara turun-temurun.
Coba tengok juga perangkat komputer yang digunakan para sekpri dan tenaga ahli mereka di ruangan. Jujur, waktu saya jadi staf ahli tante sblm akhirnya ditempatkan jd TA Dapil, kondisi gedung DPR RI Senayan dalemnya sedih banget. Klo kerja malah enak pakai laptop pribadi ketimbang PC itu. Komputer Intel jadul, entah Pentium berapa, keyboard keras berbunyi cetak-cetok, layar monitor model tabung, cembung berukuran 10", dan server diletakkan di bawah desktop. Ini membuat saya teringat ke jaman SD. Kali pertama punya komputer di rumah.
Perusahaan swasta pun sudah meninggalkan model yang beginian ini. Yah, minimal layar monitornya pakai yang flat, agak gedean dikit 14" dengan internet berkecepatan tinggi. Di beberapa bagian, malah uda pake PC MAC. Ruangannya (tentu saja) lebih nyaman meskipun hanya staf. Itu kelas perusahaan swasta nasional dan bukan manajer.
Sementara tengoklah PC milik anggota DPR. Merk Dell, warna putih, layar monitor kira-kira 18". Di hadapannya ada TV 32" yang setiap saat menayangkan siaran TV Parlemen yang dinikmati melalui jaringan TV Plasma.
Perangkat meja kursinya berdebu (maaf tidak ada OB khusus). Mejanya dipenuhi tumpukan berkas yang entah harus diletakkan di mana lagi sebab space ruangan tidak cukup. Di depan ruang anggota dewan, ada ruang kecil berisi 1 unit komputer, lemari, dan meja kursi yang hanya cukup utk 1 org sekpri. Sementara, seorang anggota dewan memiliki 2 orang sekpri dan 1 TA. Semuanya berjejal.
Tak heran, usulan renovasi ruang itu kemudian muncul dalam 7 megaproyek tsb. Namun, sekali lagi ketika tuntutan tidak diimbangi dengan capaian kinerja yang memuaskan maka tak berlebihan jika wacana ini menuai banyak protes.
Direnovasi segede apapun, anggota dewan itu jarang nyamperin kantornya di Senayan. Paling2 klo ada hearing atau rapat mini fraksi atau sidang paripurna, setor muka dan tandatangan buat ambil duit.
Apalagi ngajuin kasur, jadi geli sendiri. Emangnya situ ngga mampu beli kasur Rp 19 juta? Okelah jika itu fasilitas, tapi please deh punya empati dikit. Nyadar ngga siy klo kondisi perekonomian kita lagi decline?
A note to my president : please reconsider the 7 mega projects proposed of parliament.
Thursday, August 20, 2015
Iklan di Media Massa
Jadi, media massa harus membanding2kan jejak kompetitor sebuah produk/usaha untuk mendapatkan pemasukkan iklan yang lebih gd? #TrikDoank
"Eh, perusahaan A kemarin berani pasang adv Rp 30 juta sekali tayang utk ukuran 400x600 mmk. Masa perusahaanmu ngga mau?"
"Event gowes kemarin, perusahaan A support Rp 40 juta loh, belum termasuk kaos dan goody bag peserta. Support donk minimal samaan gitu"
(perusahaan A dan B bergerak di bidang yg sama, namun A adalah market leader di pasar domestik, sementara B di urutan ke-2)
Yakeles, dibanding2in. Secara, market share aja uda beda. Revenue beda. Visi beda. Jelas orientasi pemilihan media massanya juga beda. Lagian, oplah koran lu tu berapa? Distribusinya nyampe ke mana aja?
Mmm... Duit segitu sayang klo dipake iklan di satu media untuk satu acara doank, dg level media seperti punya lu. Kita bisa masukin iklan segitu ke media yang lebih gd dari oplah media lu. Lagipula, qt dpt gratisan ke media onlinenya sekalian.
Plus qt bisa anggarin buat media online yg market sharenya #1. Bukan iklan siy yg ini, tapi macem fee doank bwt redakturnya. Yg penting berita positifnya naik. Low cost high impact.
"Eh, perusahaan A kemarin berani pasang adv Rp 30 juta sekali tayang utk ukuran 400x600 mmk. Masa perusahaanmu ngga mau?"
"Event gowes kemarin, perusahaan A support Rp 40 juta loh, belum termasuk kaos dan goody bag peserta. Support donk minimal samaan gitu"
(perusahaan A dan B bergerak di bidang yg sama, namun A adalah market leader di pasar domestik, sementara B di urutan ke-2)
Yakeles, dibanding2in. Secara, market share aja uda beda. Revenue beda. Visi beda. Jelas orientasi pemilihan media massanya juga beda. Lagian, oplah koran lu tu berapa? Distribusinya nyampe ke mana aja?
Mmm... Duit segitu sayang klo dipake iklan di satu media untuk satu acara doank, dg level media seperti punya lu. Kita bisa masukin iklan segitu ke media yang lebih gd dari oplah media lu. Lagipula, qt dpt gratisan ke media onlinenya sekalian.
Plus qt bisa anggarin buat media online yg market sharenya #1. Bukan iklan siy yg ini, tapi macem fee doank bwt redakturnya. Yg penting berita positifnya naik. Low cost high impact.
Thursday, July 23, 2015
Haters Gonna Hate
W : "Gw follow akun hatersnya BS ama MJ donk, seru aja nyela mereka di IG. Salah sendiri heboh banget. Lagian comment2 haters itu juga pada bikin ngakak," ujar seorang teman yg jujur bikin gw kaget. Dulu gw kenal dia sebagai anak baik, pendiam, ringan tangan, ngga banyak tingkah, royal ama temen. But suddenly she became a hater? Hmm... I think that it's not all of a sudden.
Gw : "Emang lu kenal BS ama MJ?"
W : "Kenal lewat media doank"
Gw : "Pernah ikut comment?"
W : "Mayan sering"
Gw : "Trus, lu segitu bencinya meski ngga kenal deket?"
W : "Ngga siy, buat seru2an doank. Habis mereka norak"
Jadi geli sndiri. Sori, gw juga ngga ngefans ko ama mereka bedua. Tapi ngga benci juga. Haters seharusnya terjadi pada para ababil, ABG labil alias ABG alay yang tekunnya cuma belajar socmed. ABG sinting yang memuja sekolah Facebook, Twitter, Path, Instagram, etc. Jujur, fenomena haters emang unik. Mencuat seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi. Pionirnya mungkin saja generasi Z ato anak2 yg addicted to gadget. Tapi diamini oleh generasi terdahulunya, termasuk generasi X dan Y ato bahkan generasi baby boomers, hahah.. (tentu dg sasaran yg beda).
Bagi gw, haters itu luar biasa. Mereka rela buang2 waktu dan pikiran untuk hal yang ngga penting : Ngurusin masalah orang lain. Well, became a negative people sometimes really pathetic for someone else. Yakeles klo otaknya diisi hal2 penting doank, pasti ngga bakal ada waktu ngepoin dan comment jahat soal aktivitas orang dari akun media sosialnya. Sebab ngasi comment pasti perlu mikir. Jujur, gw juga banyak follow akun public figure baik di IG maupun Twitter. Tapi klo postingannya ngga banyak ngasi inspirasi ya tinggal unfollow doank.
Hidup ini uda terlalu capek mikirin masalah sendiri, apalagi masalah orang lain. Ngga sanggup. Klo ngga bisa bantu, minimal jangan mencela. Klo ngga bisa bikin orang senyum, minimal jangan bikin dia bete. Bolehlah comment klo kegiatan si public figure itu pake duit rakyat tapi impact nya ngga ada. Bisanya omdo tapi otak kosong. Silahkan mengkritisi dan kasi solusi. Sebab cuma org bego yg bisa ngritik tanpa solusi. Bisanya nyampah doank di socmed. Sayang banget kan.
Suka-suka dia, hidup dia, duit dia, makan juga ngga minta ama lu. See? Toh ketika lu jd haters, lu ngga bakal lebih baik dari orang yang lu benci. Percaya deh. Sebab orang yang hidupnya uda lebih baik, dia ngliatnya juga posthink ke depan. Kata orang Buddha/Hindu, awas karma. Kata ajaran Islam, istilah karma ngga ada tapi makna yang seperti karma ada. Sebab Tuhan dan semesta menghitung setiap inci perbuatan kita dimulai dari hati.
Wait, I'm not going to preach yo anyway. Tapi percayalah, bikin orang sakit hati dan sedih itu karmanya juga luar biasa. Seperti yg gw kasi contoh soal temen gw itu, dia pernah ngalamin diteror mati2an lewat SMS dan telp ama mantan istri pacarnya dan org2 suruhannya. Sedih banget donk, secara bertahun2 sampe2 temen gw itu hrs resign dari pekerjaannya. Gw yang denger malah ikutan sedih. Lama ngga ketemu, tapi sekalinya denger kabar kek gitu.
Sometimes, we're hard to remember what we have been doing. We're hard to understand how pain people feel because of our acts until we feel the same pain. Kata Tuhan, sebaik2 manusia adalah ia yang selalu melakukan introspeksi diri dari setiap kejadian yang menimpanya. Not to blame others.
Gw : "Emang lu kenal BS ama MJ?"
W : "Kenal lewat media doank"
Gw : "Pernah ikut comment?"
W : "Mayan sering"
Gw : "Trus, lu segitu bencinya meski ngga kenal deket?"
W : "Ngga siy, buat seru2an doank. Habis mereka norak"
Jadi geli sndiri. Sori, gw juga ngga ngefans ko ama mereka bedua. Tapi ngga benci juga. Haters seharusnya terjadi pada para ababil, ABG labil alias ABG alay yang tekunnya cuma belajar socmed. ABG sinting yang memuja sekolah Facebook, Twitter, Path, Instagram, etc. Jujur, fenomena haters emang unik. Mencuat seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi. Pionirnya mungkin saja generasi Z ato anak2 yg addicted to gadget. Tapi diamini oleh generasi terdahulunya, termasuk generasi X dan Y ato bahkan generasi baby boomers, hahah.. (tentu dg sasaran yg beda).
Bagi gw, haters itu luar biasa. Mereka rela buang2 waktu dan pikiran untuk hal yang ngga penting : Ngurusin masalah orang lain. Well, became a negative people sometimes really pathetic for someone else. Yakeles klo otaknya diisi hal2 penting doank, pasti ngga bakal ada waktu ngepoin dan comment jahat soal aktivitas orang dari akun media sosialnya. Sebab ngasi comment pasti perlu mikir. Jujur, gw juga banyak follow akun public figure baik di IG maupun Twitter. Tapi klo postingannya ngga banyak ngasi inspirasi ya tinggal unfollow doank.
Hidup ini uda terlalu capek mikirin masalah sendiri, apalagi masalah orang lain. Ngga sanggup. Klo ngga bisa bantu, minimal jangan mencela. Klo ngga bisa bikin orang senyum, minimal jangan bikin dia bete. Bolehlah comment klo kegiatan si public figure itu pake duit rakyat tapi impact nya ngga ada. Bisanya omdo tapi otak kosong. Silahkan mengkritisi dan kasi solusi. Sebab cuma org bego yg bisa ngritik tanpa solusi. Bisanya nyampah doank di socmed. Sayang banget kan.
Suka-suka dia, hidup dia, duit dia, makan juga ngga minta ama lu. See? Toh ketika lu jd haters, lu ngga bakal lebih baik dari orang yang lu benci. Percaya deh. Sebab orang yang hidupnya uda lebih baik, dia ngliatnya juga posthink ke depan. Kata orang Buddha/Hindu, awas karma. Kata ajaran Islam, istilah karma ngga ada tapi makna yang seperti karma ada. Sebab Tuhan dan semesta menghitung setiap inci perbuatan kita dimulai dari hati.
Wait, I'm not going to preach yo anyway. Tapi percayalah, bikin orang sakit hati dan sedih itu karmanya juga luar biasa. Seperti yg gw kasi contoh soal temen gw itu, dia pernah ngalamin diteror mati2an lewat SMS dan telp ama mantan istri pacarnya dan org2 suruhannya. Sedih banget donk, secara bertahun2 sampe2 temen gw itu hrs resign dari pekerjaannya. Gw yang denger malah ikutan sedih. Lama ngga ketemu, tapi sekalinya denger kabar kek gitu.
Sometimes, we're hard to remember what we have been doing. We're hard to understand how pain people feel because of our acts until we feel the same pain. Kata Tuhan, sebaik2 manusia adalah ia yang selalu melakukan introspeksi diri dari setiap kejadian yang menimpanya. Not to blame others.
Monday, July 20, 2015
Lebaran
Nothing's horrible than thef and robbery involving violence during Lebaran. Over and over again in every year holy month Ramadhan. Welcome to my country. Kejadian ini selalu menakutkan bagi banyak pihak, termasuk saya yg feeling insecure klo bepergian jelang Lebaran. Orang nekat melakukan tindak kriminal demi sejumlah uang untuk Lebaran.
Lalu kenapa Lebaran jadi alasan? Memang ada yang bisa nolak tradisi? Tradisi pulang kampung, beli baju baru, motor baru, mobil baru, gadget baru, perhiasan baru, ngasi THR buat ponakan dan anak-anak kecil di sekitar rumah yang biasanya "unjung-unjung."
Bagi banyak orang muslim, Lebaran selalu extra cost. Cost to celebrate the Ied. Merayakan kemenangan setelah sebulan menahan hawa nafsu. Berangkat dari esensi ini, setiap org bebas memaknainya. Tapi entah kapan tradisi "extra cost" ini bermula, yang pasti smpe detik ini banyak orang masih mengamininya.
Religion and tradition. Tradisi serba baru yang disimbolkan dari apa yang nampak, ngga pernah saya ikutin. Cuma tradisi berbagi THR dan pulang kampung masihlah gw aminin. Sejak dilahirkan dari kedua orangtua yang nonmuslim, tradisi semacam ini saya maknai sendiri.
Lantaran ada extra cost ini, lantas perusahaan memutuskan memberi THR 1x gaji terhadap karyawannya alias gaji ke-13 bagi PNS. Sometimes, Eid is just an annual celebration. Family gathering, eat local food called "ketupat opor ayam," ask for forgiveness, and gift of money for children.
Namun, menolak tradisi semacam ini agak susah terurama bagi mereka yang ngga punya kerjaan tetap ato bahkan pengangguran. Maka extra cost didapat dg cara2 yang menyedihkan. Hitung ada berapa banyak motor hilang di deretan kompleks kos2anku jelang Lebaran kemarin.
Laptop, HP, kamera, duit, raib semua di dalam kamar karena kemasukan maling. Jambret merajalela di jalanan ngga kenal waktu. Perampokan toko emas terus aja bergulir. Di waktu yang sama, polisi dg seenaknya mengumumkan angka kriminalitas dari tahun ke tahun turun. Turun dari Hongkong? Yakeles ngga ada laporan diartiin ngga ada kriminalitas. Lu aja yg kurang patroli bos. Tuh orang teriak2 kejambretan di jalan sering pada ngga lapor. Lapor juga percuma kali ya, buat statistik doank.
Jadi Lebaran ngga cuma extra cost tapi juga ekstra waspada. People sometimes, will do everything to celebrate tradition just because they want to be considered as normal people. Bagi muslim newbie seperti saya, klo ngga salah memaknai esensi perayaan Idul Fitri : Merayakan kemenangan atas kehidupan dan pribadi baru yang lebih baik. Lahir menjadi manusia baru yang lebih suci.
- Happy Eid Mubarak 1436 H -
Lalu kenapa Lebaran jadi alasan? Memang ada yang bisa nolak tradisi? Tradisi pulang kampung, beli baju baru, motor baru, mobil baru, gadget baru, perhiasan baru, ngasi THR buat ponakan dan anak-anak kecil di sekitar rumah yang biasanya "unjung-unjung."
Bagi banyak orang muslim, Lebaran selalu extra cost. Cost to celebrate the Ied. Merayakan kemenangan setelah sebulan menahan hawa nafsu. Berangkat dari esensi ini, setiap org bebas memaknainya. Tapi entah kapan tradisi "extra cost" ini bermula, yang pasti smpe detik ini banyak orang masih mengamininya.
Religion and tradition. Tradisi serba baru yang disimbolkan dari apa yang nampak, ngga pernah saya ikutin. Cuma tradisi berbagi THR dan pulang kampung masihlah gw aminin. Sejak dilahirkan dari kedua orangtua yang nonmuslim, tradisi semacam ini saya maknai sendiri.
Lantaran ada extra cost ini, lantas perusahaan memutuskan memberi THR 1x gaji terhadap karyawannya alias gaji ke-13 bagi PNS. Sometimes, Eid is just an annual celebration. Family gathering, eat local food called "ketupat opor ayam," ask for forgiveness, and gift of money for children.
Namun, menolak tradisi semacam ini agak susah terurama bagi mereka yang ngga punya kerjaan tetap ato bahkan pengangguran. Maka extra cost didapat dg cara2 yang menyedihkan. Hitung ada berapa banyak motor hilang di deretan kompleks kos2anku jelang Lebaran kemarin.
Laptop, HP, kamera, duit, raib semua di dalam kamar karena kemasukan maling. Jambret merajalela di jalanan ngga kenal waktu. Perampokan toko emas terus aja bergulir. Di waktu yang sama, polisi dg seenaknya mengumumkan angka kriminalitas dari tahun ke tahun turun. Turun dari Hongkong? Yakeles ngga ada laporan diartiin ngga ada kriminalitas. Lu aja yg kurang patroli bos. Tuh orang teriak2 kejambretan di jalan sering pada ngga lapor. Lapor juga percuma kali ya, buat statistik doank.
Jadi Lebaran ngga cuma extra cost tapi juga ekstra waspada. People sometimes, will do everything to celebrate tradition just because they want to be considered as normal people. Bagi muslim newbie seperti saya, klo ngga salah memaknai esensi perayaan Idul Fitri : Merayakan kemenangan atas kehidupan dan pribadi baru yang lebih baik. Lahir menjadi manusia baru yang lebih suci.
- Happy Eid Mubarak 1436 H -
Saturday, July 18, 2015
Subway. KRL. Commuter
Mimpi punya subway seperti di Korea boleh donk. Ngga perlu yg hrs underground, stasiun ngga kumuh, keretanya bersih, wangi, penumpangnya tertib dan kece2. Mimpi banget tuh. Tapi minimal, di area stasiun dilengkapi subway refund machine alias deposit refund machine gitu. Lebay ngga? Investasinya gd sih, tapi menurutku itu bakal sangat membantu. Kadang suka kesian aja ngliat penumpang KRL antre panjang cuma mau refund tiket. Iya. Demi duit Rp 11.000 rela antre setiap kali pake KRL.
Beli donk ya tiket yg gocap-an itu. No expired date, tinggal top-up berapapun, cuma ninggal saldo Rp 20.000 yg ngga bisa di-refund. Tapi ternyata, masih banyak org qt yg ngga berpikir praktis. Apa ngga pusing tiap kali perjalanan harus antre buat refund doank? Berapa banyak waktu kebuang? Capeknya antre berdiri juga ngga ketulungan. Belum lagi klo pas panas terik. Klo loketnya di dalem stasiun masih oke. Adem. Klo yg nempel doank di pinggiran bagian luar stasiun, itu yg susah.
Pernah juga ngalamin yang beginian. Tapi ngga tahan juga akhirnya beli yg gocap. Praktis. Daripada tiap perjalanan beli tiket (dalam bentuk commuter electronic card berisi saldo tertentu) lalu pulangnya harus refund secara manual. Antre. Capek. Yah, moga2 aja someday pemerintah bisa beli deposit refund machine buat ngurangin antrean. Kesian masyarakat yg ngga punya duit. Mereka cuma bisa ngandelin moda transportasi massal yg pelayanannya belum bisa maxi.
Klo di Korea punya subway, qt punya KRL. Kereta Rel Listrik (Commuter Line). Uda byk kemajuan juga si, sejak KRL berperasi. Sekarang lebih bersih, lebih aman, meski penumpangnya msh pada norak, meski suplai listrik kadang terkendala jadinya macet. Iya, penumpangnya emang norak. Ngawur juga. Suka dorong2an, desek2an kuatir ngga kebagian seat. Mana barang bawaanya segeda gaban ditaro di lantai kereta donk, bukannya di bagasi kabin kereta. Ditegur petugas malah protes bawaan berat ngga bisa naikin. Hiks.. Apalagi klo brenti di St. Tanah Abang. Alamaak kedesek ama emak-emak yg abis borong dagangan di pasar. Siap-siap aja deh hehehe...
Sampe kapan transportasi massal di negeri ini bener2 nyaman? Butuh waktu puluhan tahun, mungkin. Ngga cuma komitmen pejabat elite. Kata mereka, uda bagus qt punya KRL yang melintas di 72 stasiun (8 stasiun transit) meski baru di wilayah Jabodetabek. Uda bagus qt punya busway, meski baru brenti di 29 halte. Jakarta doank. Nasib kota lain? Coba situ tanya ke pemkot/pemkab setempat ^_^
Beli donk ya tiket yg gocap-an itu. No expired date, tinggal top-up berapapun, cuma ninggal saldo Rp 20.000 yg ngga bisa di-refund. Tapi ternyata, masih banyak org qt yg ngga berpikir praktis. Apa ngga pusing tiap kali perjalanan harus antre buat refund doank? Berapa banyak waktu kebuang? Capeknya antre berdiri juga ngga ketulungan. Belum lagi klo pas panas terik. Klo loketnya di dalem stasiun masih oke. Adem. Klo yg nempel doank di pinggiran bagian luar stasiun, itu yg susah.
Pernah juga ngalamin yang beginian. Tapi ngga tahan juga akhirnya beli yg gocap. Praktis. Daripada tiap perjalanan beli tiket (dalam bentuk commuter electronic card berisi saldo tertentu) lalu pulangnya harus refund secara manual. Antre. Capek. Yah, moga2 aja someday pemerintah bisa beli deposit refund machine buat ngurangin antrean. Kesian masyarakat yg ngga punya duit. Mereka cuma bisa ngandelin moda transportasi massal yg pelayanannya belum bisa maxi.
Klo di Korea punya subway, qt punya KRL. Kereta Rel Listrik (Commuter Line). Uda byk kemajuan juga si, sejak KRL berperasi. Sekarang lebih bersih, lebih aman, meski penumpangnya msh pada norak, meski suplai listrik kadang terkendala jadinya macet. Iya, penumpangnya emang norak. Ngawur juga. Suka dorong2an, desek2an kuatir ngga kebagian seat. Mana barang bawaanya segeda gaban ditaro di lantai kereta donk, bukannya di bagasi kabin kereta. Ditegur petugas malah protes bawaan berat ngga bisa naikin. Hiks.. Apalagi klo brenti di St. Tanah Abang. Alamaak kedesek ama emak-emak yg abis borong dagangan di pasar. Siap-siap aja deh hehehe...
Sampe kapan transportasi massal di negeri ini bener2 nyaman? Butuh waktu puluhan tahun, mungkin. Ngga cuma komitmen pejabat elite. Kata mereka, uda bagus qt punya KRL yang melintas di 72 stasiun (8 stasiun transit) meski baru di wilayah Jabodetabek. Uda bagus qt punya busway, meski baru brenti di 29 halte. Jakarta doank. Nasib kota lain? Coba situ tanya ke pemkot/pemkab setempat ^_^
Thursday, June 25, 2015
Life
Sebenarnya, apa yang kamu cari? Apakah dengan menjegal kaki orang lain maka kamu akan lebih dulu sampai di garis finish? Apakah dengan menebar gosip murahan kamu akan terlihat lebih baik sebagai pembanding antara hitam putih yang kamu ciptakan? Apakah dengan melontarkan kalimat2 satir setiap kali obrolan, maka kamu akan terlihat lebih cerdas? Cerdas mencari celah orang lain. Mirip kata pepatah, gajah di pelupuk mata tak nampak, kuman di seberang lautan tampak.
Saya jadi ingat kalimat seorang kawan. Ketika kamu tak bisa membuat orang lain tertawa, minimal jangan membuatnya menangis. Ketika kamu tak bisa menghibur, minimal jangan menyakiti. Ketika kamu tak bisa memberi, minimal jangan mencela.
Dalam kamus saya, perilaku orang2 semacam itu lebih mirip dg orang sakit jiwa terselubung. Gangguan kepribadian, sebuah kondisi yang tak lazim yang lama2 mendorong orang lain utk membentuk kepribadian serupa. Sebuah perilaku berulang yang menjadi kebiasaan. Itulah kepribadian. Kepribadian sakit jiwa yang menjadi jamak.
Ketika materi candaan tiap hari mengarah pada fisik, harta, dan intelektual seseorang. Ketika celaan sudah menjadi kebiasaan alias hobi. Then, welcome to the jungle.
Lagi2 ingat nasehat teman, hidup ini menjadi begitu banyak masalah kalau kita memasukkan semua permasalahan itu ke dalam kepala dan hati. Yang ada, kita bakal ikutan gila. Sebab tak setiap masalah perlu dipikir. Butuh kebiasaan saja utk bisa membedakan mana masalah sepele dan mana masalah berat.
Kapasitas otak manusia terbatas. Ada hal2 yang tak perlu masuk ke dalam otak, apalagi turun ke hati. Ketika semua hal dijejalkan masuk, maka isi kepala akan tumpah. Sering kita tak sadar bagian mana yang tumpah akibat salah menyusun prioritas.
Manusia punya dua telinga dan satu mulut. Idealnya, mereka lebih banyak mendengar ketimbang bacotnya. Tapi banyak juga yang ngga nyadar.
Semoga hal2 semacam ini mampu menjadi ladang amal untuk membangun kesabaran dan senantiasa memohon ampun pada-Nya.
Friday, June 5, 2015
Dailan Isekak
Saya bukan simpatisan DI, tapi ketika melihatnya dihujat rame2 lewat tulisan "Dahlan Iskan Kesetrum Gardu Listrik" hati saya miris. Era pendzaliman sdg dimulai? Orang2 yg tak paham benar kasusnya mendadak sotoy dan girang.
Apa benar proyek senilai lebih dari Rp 1 triliun itu memperkaya dirinya? Musuh seringkali sukses mencari celah lawan meskipun kasus yg sebenarnya tdk segamblang definisi korupsi itu sendiri.
Pembaca yg cerdas tdk seenaknya latah menghujat. DI mungkin bukan orang bersih, tapi mungkin juga tidak senggarong yang dibayangkan org lewat berita2 di media massa yg kdg ditulis oleh wartawan kemarin sore yg cuma paham sepenggal kasusnya.
Agak susah ketika informasi telah menjadi bagian dari komoditas. Demi rating. Demi iklan. Akibatnya, banyak media yg mendadak ikut2an menyorot hanya karena tak ingin ditinggal permirsa/pembacanya (kecuali Jawa Pos Grup sudah pasti akan mengabaikan isu ini).
DI memang sudah lama menjadi TO untuk dijebloskan dalam jeruji besi, sebab posisinya sangat strategis menangani proyek2 "raksasa" di mana ada banyak orang yang berpotensi tidak kebagian pelicin. Orang2 tersebut (mungkin) berpotensi menjelma sbg malaikat suci yg merasa berhak memutuskan siapa yg salah dan siapa yg benar. Tinggal tunggu waktu.
Saya tak hendak membela DI, tak ada untungnya juga bagi saya. Namun saya lebih miris menghadapi kenyataan bahwa negeri ini sampai kapanpun tak akan siap dipimpin oleh sebaik2 apapun sosok pemimpinnya. Selalu mencari celah, gampang menghujat, enggan belajar dari kesalahan, sulit memberi kesempatan pada sosok pemimpin yang sedang ingin berbenah. Lalu, lebih tepatnya carilah pemimpin dari bangsa malaikat.
*Saya, yang selalu berdoa agar pemimpin2 negeri ini amanah*
Apa benar proyek senilai lebih dari Rp 1 triliun itu memperkaya dirinya? Musuh seringkali sukses mencari celah lawan meskipun kasus yg sebenarnya tdk segamblang definisi korupsi itu sendiri.
Pembaca yg cerdas tdk seenaknya latah menghujat. DI mungkin bukan orang bersih, tapi mungkin juga tidak senggarong yang dibayangkan org lewat berita2 di media massa yg kdg ditulis oleh wartawan kemarin sore yg cuma paham sepenggal kasusnya.
Agak susah ketika informasi telah menjadi bagian dari komoditas. Demi rating. Demi iklan. Akibatnya, banyak media yg mendadak ikut2an menyorot hanya karena tak ingin ditinggal permirsa/pembacanya (kecuali Jawa Pos Grup sudah pasti akan mengabaikan isu ini).
DI memang sudah lama menjadi TO untuk dijebloskan dalam jeruji besi, sebab posisinya sangat strategis menangani proyek2 "raksasa" di mana ada banyak orang yang berpotensi tidak kebagian pelicin. Orang2 tersebut (mungkin) berpotensi menjelma sbg malaikat suci yg merasa berhak memutuskan siapa yg salah dan siapa yg benar. Tinggal tunggu waktu.
Saya tak hendak membela DI, tak ada untungnya juga bagi saya. Namun saya lebih miris menghadapi kenyataan bahwa negeri ini sampai kapanpun tak akan siap dipimpin oleh sebaik2 apapun sosok pemimpinnya. Selalu mencari celah, gampang menghujat, enggan belajar dari kesalahan, sulit memberi kesempatan pada sosok pemimpin yang sedang ingin berbenah. Lalu, lebih tepatnya carilah pemimpin dari bangsa malaikat.
*Saya, yang selalu berdoa agar pemimpin2 negeri ini amanah*
Hemat
Budaya hemat itu berawal dari gaji. Suatu siang, mungkin setiap hari siang menghadapi teman-teman yang ketika makan siang harus membawa air mineral sendiri. Menyisir depot-depot murah alias food court pinggir jalan yang setiap kali makan tidak lebih dari Rp 20.000. Pemandangan ini terjadi pula di cabang lain, masih di kantor yg sama.
Pernah saya iseng mengkalkulasi dan membandingkan, sebesar besar nilai penghematan jika membeli minum di depot dg membawa air mineral sendiri. Jika asumsinya es teh Rp 3.000 x 22 = Rp 66.000 maka spend money untuk minuman ketika makan siang dlm sebulan tak sampai Rp 100.000. Bukan angka yang fantastis. Namun sedikit aneh ketika mereka mampu menenteng gadget2 update yang bahkan tak bisa mereka makan.
Jujur, budaya seperti ini baru bagi saya. Di perusahaan sebelumnya, makan siangpun bahkan hampir setiap hari di mal. Mau nongkrong di cafe manapun tak jadi soal. Karaoke kapanpun tak pernah mengeluh. Semua tinggal bilang. Tak tau berapa besar gaji sebulan, ATM juga nyaris tak pernah digunakan. Biaya operasional utk hidup sehari2 selama bertahun2 sdh "terjamin." Jangan kaget, itulah bedanya profesi dulu dengan sekarang.
Bagi teman2 yg "terperangkap" dlm zona nyaman, meninggalkan profesi yg lama adalah hal yg sangat bodoh. Namun bagi saya, bekerja itu juga soal nurani. Saya tak ingin menjadi katak dlm tempurung yang hanya memahami hidup melalui teropong kacamata kuda. Saya melompat. Kenyataan yg saya dapati tidak sesuai ekspektasi. Lupakan salary 2 digit. Apakah saya kecewa? Kadang. Namun, sampai detik ini saya percaya jika saya sebetulnya layak digaji 3x lipat dr saat ini dan itu tidak terjadi, maka selebihnya Tuhan akan memberikan yang 2x itu dalam bentuk lain. Biarlah Tuhan yang menilai kerja keras saya.
Saya masuk ke dalam sebuan perusahaan yg menerapkan efisiensi gila2an. Termasuk gerakan mematikan lampu 1 jam ketika jam makan siang (padahal tdk sebanding dg ongkos mengganti peralatan listrik yg cepat rusak ketika sering2 ON-OFF). Efisiensi ini dilihat dari sisi yg mana?
Sebuah perusahaan yang bahkan entah sengaja atau tidak, mempekerjakan lebih banyak lulusan SMA dg harapan boleh menggaji mrk sebatas UMR. Banyak karyawan yang berusia muda sekitar 23-26 tahun tapi sudah punya anak 2-3. Awalnya saya bengong, ke mana masa mudanya? Pada usia tsb (usia di mana saya ribut bekerja dan membiaya kuliah) mereka sudah ribut perkara susu bayi dan menyekolahkan anak. Mereka mengawali karirnya sejak lulus SMA, lalu menikah. Lalu, apakah gelar setinggi apapun punya kecenderungan tdk berlaku karena keengganan membayar gaji yang lebih tinggi? Bisa jadi. Apakah dg bekal S2 lantas gampang menjadi GM dalam tempo 1-2 tahun? Agaknya terlalu bermimpi.
Gaji boleh pas2an, asal jangan terlalu menekan gaya hidup. Hiduplah sewajarnya, itu lebih baik. Kebiasaan lama yang cenderung foya2 boleh ditinggalkan, sebab ritme dan beban pekerjaan dulu dan sekarangpun sudah beda. Banyak hal yg sebetulnya bisa diadaptasi pelan2.
But eniwe, the miracles come to those who believe in them. Tuhan memberikan kejutan2 kecil yang menjawab doa saya tsb. Tanpa harus melompat lagi, ada banyak hal yang menghampiri saya dan itu pula mendatangkan banyak hal. Saya semakin yakin, jika hidup bukanlah soal menemukan di mana ujung jalan, sebab jalan yang kita sangka ujung ternyata hanyalah sebuah tikungan, maka sepeda harus tetap dikayuh. Prosesnya harus benar2 dinikmati. Kadang kita jatuh, lalu ditertawakan, diremehkan, dan dilupakan. Tapi kita tetap punya kesempatan untuk bangkit asal kita mau. Tak perlu cemas dg ketidakjelasan hari esok. Gus Solah bilang, esok itu gaib. Bekerjalah bersungguh2 tanpa semata2 menuntut materi. Yakinlah, sebuah jalan yang luas membentang akan ditemui oleh mereka yang bekerja keras dan memiliki niat untuk memuliakan banyak orang.
Salam.
Pernah saya iseng mengkalkulasi dan membandingkan, sebesar besar nilai penghematan jika membeli minum di depot dg membawa air mineral sendiri. Jika asumsinya es teh Rp 3.000 x 22 = Rp 66.000 maka spend money untuk minuman ketika makan siang dlm sebulan tak sampai Rp 100.000. Bukan angka yang fantastis. Namun sedikit aneh ketika mereka mampu menenteng gadget2 update yang bahkan tak bisa mereka makan.
Jujur, budaya seperti ini baru bagi saya. Di perusahaan sebelumnya, makan siangpun bahkan hampir setiap hari di mal. Mau nongkrong di cafe manapun tak jadi soal. Karaoke kapanpun tak pernah mengeluh. Semua tinggal bilang. Tak tau berapa besar gaji sebulan, ATM juga nyaris tak pernah digunakan. Biaya operasional utk hidup sehari2 selama bertahun2 sdh "terjamin." Jangan kaget, itulah bedanya profesi dulu dengan sekarang.
Bagi teman2 yg "terperangkap" dlm zona nyaman, meninggalkan profesi yg lama adalah hal yg sangat bodoh. Namun bagi saya, bekerja itu juga soal nurani. Saya tak ingin menjadi katak dlm tempurung yang hanya memahami hidup melalui teropong kacamata kuda. Saya melompat. Kenyataan yg saya dapati tidak sesuai ekspektasi. Lupakan salary 2 digit. Apakah saya kecewa? Kadang. Namun, sampai detik ini saya percaya jika saya sebetulnya layak digaji 3x lipat dr saat ini dan itu tidak terjadi, maka selebihnya Tuhan akan memberikan yang 2x itu dalam bentuk lain. Biarlah Tuhan yang menilai kerja keras saya.
Saya masuk ke dalam sebuan perusahaan yg menerapkan efisiensi gila2an. Termasuk gerakan mematikan lampu 1 jam ketika jam makan siang (padahal tdk sebanding dg ongkos mengganti peralatan listrik yg cepat rusak ketika sering2 ON-OFF). Efisiensi ini dilihat dari sisi yg mana?
Sebuah perusahaan yang bahkan entah sengaja atau tidak, mempekerjakan lebih banyak lulusan SMA dg harapan boleh menggaji mrk sebatas UMR. Banyak karyawan yang berusia muda sekitar 23-26 tahun tapi sudah punya anak 2-3. Awalnya saya bengong, ke mana masa mudanya? Pada usia tsb (usia di mana saya ribut bekerja dan membiaya kuliah) mereka sudah ribut perkara susu bayi dan menyekolahkan anak. Mereka mengawali karirnya sejak lulus SMA, lalu menikah. Lalu, apakah gelar setinggi apapun punya kecenderungan tdk berlaku karena keengganan membayar gaji yang lebih tinggi? Bisa jadi. Apakah dg bekal S2 lantas gampang menjadi GM dalam tempo 1-2 tahun? Agaknya terlalu bermimpi.
Gaji boleh pas2an, asal jangan terlalu menekan gaya hidup. Hiduplah sewajarnya, itu lebih baik. Kebiasaan lama yang cenderung foya2 boleh ditinggalkan, sebab ritme dan beban pekerjaan dulu dan sekarangpun sudah beda. Banyak hal yg sebetulnya bisa diadaptasi pelan2.
But eniwe, the miracles come to those who believe in them. Tuhan memberikan kejutan2 kecil yang menjawab doa saya tsb. Tanpa harus melompat lagi, ada banyak hal yang menghampiri saya dan itu pula mendatangkan banyak hal. Saya semakin yakin, jika hidup bukanlah soal menemukan di mana ujung jalan, sebab jalan yang kita sangka ujung ternyata hanyalah sebuah tikungan, maka sepeda harus tetap dikayuh. Prosesnya harus benar2 dinikmati. Kadang kita jatuh, lalu ditertawakan, diremehkan, dan dilupakan. Tapi kita tetap punya kesempatan untuk bangkit asal kita mau. Tak perlu cemas dg ketidakjelasan hari esok. Gus Solah bilang, esok itu gaib. Bekerjalah bersungguh2 tanpa semata2 menuntut materi. Yakinlah, sebuah jalan yang luas membentang akan ditemui oleh mereka yang bekerja keras dan memiliki niat untuk memuliakan banyak orang.
Salam.
Sunday, December 28, 2014
dungu
kamu tak ubahnya dia dan dia
pengkhianat sepi
yang menjanjikan riuh
tak sederhana
lalu tertawa berlalu
sambil mengemis maaf
entah bagaimana
Tuhan sanggup menciptakan manusia keji
sepertimu
hanya kini tersisa
seribu tanya mengapa saya
yang tak secuil punya hati
menikam karib tanpa jerit
dungu menengadah
Tuesday, September 2, 2014
Takdir yang sempurna
Wahai zat pembolak-hati, teguhkanlah jalan yg kupilih
Jagalah prasangka ini
Tunjukkan kami yg hitam agar terlihat hitam, yg putih terlihat putih
Jauhkan kami dari serigala berbulu domba
yg membalas ketulusan dg menghujam belati
yg tersenyum sambil menghunus pedang
Sesungguhnya, kami hanya ingin menjadi orang baik dg cara kami
Ketika tak ada lagi yg bisa kami harapkan
selain takdirMu yg sempurna
Jagalah prasangka ini
Tunjukkan kami yg hitam agar terlihat hitam, yg putih terlihat putih
Jauhkan kami dari serigala berbulu domba
yg membalas ketulusan dg menghujam belati
yg tersenyum sambil menghunus pedang
Sesungguhnya, kami hanya ingin menjadi orang baik dg cara kami
Ketika tak ada lagi yg bisa kami harapkan
selain takdirMu yg sempurna
Sunday, August 31, 2014
IQ dan EQ
Banyak pria beranggapan jika semakin tinggi pendidikan wanita, semakin matang usianya, semakin ia susah diatur sebab ia cenderung keras kepala dan merasa lebih tahu. Artinya, jika kalimat ini dinegasikan maka wanita yg berpendidikan tidak terlalu tinggi dan masih berusia muda maka ia cenderung lebih bisa diatur? Apa memang begitu? Bagaimana dg pria? Subyektivitas saya mengatakan, anggapan itu tak sepenuhnya benar, baik terhadap wanita maupun pria. Sebab ada banyak faktor yg mendasari sifat seseorang.
Faktor keras kepala seseorang sering ada tak ada hubungannya dg faktor pendidikan dan usia. Wanita/pria berpendidikan rendah kebanyakan memang keras kepala (benar atau salah ini subyektivitas saya) tapi wanita/pria dg pendidikan tinggi juga tak sedikit yg berbuat semaunya sendiri. Soal hubungannya faktor usia? Saya punya dua ilustrasi menarik. Yang satu, seorang wanita yg kini berusia 50 tahun dan berpendidikan tinggi (S2) satunya lagi seorang pria berusia 25 tahun juga berpendidikan tinggi (S2). Keduanya sama2 susah diatur.
Di kantor lama saya, ada seorang wanita yg pernah menjadi atasan (bos) saya selama 2 tahun. Yang unik, sebelum kami akhirnya "berjalan" di rel yang sama (baca : bekerja di bidang yg sama) hubungan kami sangat baik. Namun ketika kami "berjalan" di rel yg sama, kerikil2 dlm perjalanan hubungan kami acapkali sering menjadi batu besar sehingga agak berat ketika disapu. Puncaknya, saya dan dia pernah berbulan2 tdk saling bicara. Yang saya lakukan hanya setor kewajiban lalu pulang, dan merancang tugas semau sendiri. Dia pun seringkali tdk memakai hasil garapan saya dan memilih memajang garapannya sendiri. Bagi saya, tdk masalah yang penting saya sudah gugur kewajiban. Bukan salah saya ketika nanti ditanya bos besar, saya bisa berkelit, selama ini saya sudah menyelesaikan tanggungjawab saya namun tidak dipakai. Hubungan kami up and down, dan ketika kami tak lagi "berjalan" di rel yg sama justru hubungan kembali membaik bahkan sampai saat ini.
Pernah suatu ketika, bos besar kami memanggilnya ke ruangan dan berkata padanya bahwa ia ibarat pasukan dalam barisan yg derap langkahnya tak pernah seirama. Memang tetap berada di dalam barisan, namun jalannya melenceng tak beraturan. Kadang tertinggal, kadang lebih cepat, kadang lebih ke kiri atau terlalu ke kanan. Irama itu ia ciptakan sendiri. Tak ada yang bisa mengatur agar derap langkahnya jangan terlalu ke kiri atau ke kanan atau jangan terlalu cepat. Kebenaran diri sendiri adalah harga mati. Mungkin itu prinsipnya. Sedangkan kami sebagai perusahaan besar memerlukan tim yang bekerja secara solid (team work). Tak perlu orang cerdas, tak perlu orang kaya, yang diperlukan adalah orang-orang yang mau diatur dan mau bekerjasama, orang-orang yang memiliki loyalitas tinggi.
Salah seorang pria teman kuliah saya menggambarkan, bahwa menjadi keras kepala tak harus berpendidikan tinggi dan berusia matang. Jiwanya yang keras terbentuk sejak kecil. Sebagai sulung dua bersaudara, ia sosok pekerja keras dan kerap memimpin organisasi. Ia pun tampil sebagai pribadi yang sangat percaya diri. Sering merasa benar dan kepentingannya adalah yg utama, jadi tak jarang ia berbuat semaunya. Jadi, semua org harus memakluminya? Ketika dia dilanda bad mood, tiba2 saja semua org kena imbasnya. Namun ketika org lain yg giliran bad mood lalu diolok2 tdk semestinya bad mood tanpa memberikan solusi atau sudi mendengarkan masalah org lain yg mjd penyebab bad mood. Agak payah memang, sama seperti bos wanita saya itu. Mood-nya up and down dlm waktu yg tak terduga. Emosinya dlm berkomunikasi juga sering tidak stabil. Ini acapkali ikut menyeret org lain mjd tidak stabil juga apabila orang itu tdk segera sadar bahwa sebetulnya auranya sedang diseret menjadi negatif oleh teman saya ini.
IQ dan EQ lebih sering tidak berbanding lurus. Orang yg cerdas secara IQ tak selalu cerdas mengendalikan emosi dalam berkomunikasi. Tulisan saya ini tak hendak menunjukkan jika saya telah berada pada tingkat kematangan IQ dan EQ tertinggi, namun untuk membuka pikiran saya sendiri bahwa listening skill itu perlu dipertajam. Saya perlu menata hati secara terus-menerus. Mendengar orang lain jauh lebih penting sebelum kita benar-benar ingin didengar dan dimengerti. Salam.
Faktor keras kepala seseorang sering ada tak ada hubungannya dg faktor pendidikan dan usia. Wanita/pria berpendidikan rendah kebanyakan memang keras kepala (benar atau salah ini subyektivitas saya) tapi wanita/pria dg pendidikan tinggi juga tak sedikit yg berbuat semaunya sendiri. Soal hubungannya faktor usia? Saya punya dua ilustrasi menarik. Yang satu, seorang wanita yg kini berusia 50 tahun dan berpendidikan tinggi (S2) satunya lagi seorang pria berusia 25 tahun juga berpendidikan tinggi (S2). Keduanya sama2 susah diatur.
Di kantor lama saya, ada seorang wanita yg pernah menjadi atasan (bos) saya selama 2 tahun. Yang unik, sebelum kami akhirnya "berjalan" di rel yang sama (baca : bekerja di bidang yg sama) hubungan kami sangat baik. Namun ketika kami "berjalan" di rel yg sama, kerikil2 dlm perjalanan hubungan kami acapkali sering menjadi batu besar sehingga agak berat ketika disapu. Puncaknya, saya dan dia pernah berbulan2 tdk saling bicara. Yang saya lakukan hanya setor kewajiban lalu pulang, dan merancang tugas semau sendiri. Dia pun seringkali tdk memakai hasil garapan saya dan memilih memajang garapannya sendiri. Bagi saya, tdk masalah yang penting saya sudah gugur kewajiban. Bukan salah saya ketika nanti ditanya bos besar, saya bisa berkelit, selama ini saya sudah menyelesaikan tanggungjawab saya namun tidak dipakai. Hubungan kami up and down, dan ketika kami tak lagi "berjalan" di rel yg sama justru hubungan kembali membaik bahkan sampai saat ini.
Pernah suatu ketika, bos besar kami memanggilnya ke ruangan dan berkata padanya bahwa ia ibarat pasukan dalam barisan yg derap langkahnya tak pernah seirama. Memang tetap berada di dalam barisan, namun jalannya melenceng tak beraturan. Kadang tertinggal, kadang lebih cepat, kadang lebih ke kiri atau terlalu ke kanan. Irama itu ia ciptakan sendiri. Tak ada yang bisa mengatur agar derap langkahnya jangan terlalu ke kiri atau ke kanan atau jangan terlalu cepat. Kebenaran diri sendiri adalah harga mati. Mungkin itu prinsipnya. Sedangkan kami sebagai perusahaan besar memerlukan tim yang bekerja secara solid (team work). Tak perlu orang cerdas, tak perlu orang kaya, yang diperlukan adalah orang-orang yang mau diatur dan mau bekerjasama, orang-orang yang memiliki loyalitas tinggi.
Salah seorang pria teman kuliah saya menggambarkan, bahwa menjadi keras kepala tak harus berpendidikan tinggi dan berusia matang. Jiwanya yang keras terbentuk sejak kecil. Sebagai sulung dua bersaudara, ia sosok pekerja keras dan kerap memimpin organisasi. Ia pun tampil sebagai pribadi yang sangat percaya diri. Sering merasa benar dan kepentingannya adalah yg utama, jadi tak jarang ia berbuat semaunya. Jadi, semua org harus memakluminya? Ketika dia dilanda bad mood, tiba2 saja semua org kena imbasnya. Namun ketika org lain yg giliran bad mood lalu diolok2 tdk semestinya bad mood tanpa memberikan solusi atau sudi mendengarkan masalah org lain yg mjd penyebab bad mood. Agak payah memang, sama seperti bos wanita saya itu. Mood-nya up and down dlm waktu yg tak terduga. Emosinya dlm berkomunikasi juga sering tidak stabil. Ini acapkali ikut menyeret org lain mjd tidak stabil juga apabila orang itu tdk segera sadar bahwa sebetulnya auranya sedang diseret menjadi negatif oleh teman saya ini.
IQ dan EQ lebih sering tidak berbanding lurus. Orang yg cerdas secara IQ tak selalu cerdas mengendalikan emosi dalam berkomunikasi. Tulisan saya ini tak hendak menunjukkan jika saya telah berada pada tingkat kematangan IQ dan EQ tertinggi, namun untuk membuka pikiran saya sendiri bahwa listening skill itu perlu dipertajam. Saya perlu menata hati secara terus-menerus. Mendengar orang lain jauh lebih penting sebelum kita benar-benar ingin didengar dan dimengerti. Salam.
Saturday, August 30, 2014
Rival?
Dear you!
Sebenarnya dia tak cukup pantas kau sebut rival. She thinks that she's nobody. Dia hanyalah sosok wanita yg memiliki sedikit ambisi terhadap hal2 kecil dalam hidup (tidak termasuk hal yang kau sangkakan itu). Wanita itu hanya ingin lulus tepat waktu, bukan berlama-lama di bangku kuliah sepertimu yang sengaja menunda tesis hanya karena "belum siap." Tak ada yang perlu ditunda, sebab ia tak punya cukup banyak uang untuk membiayai kuliahnya. Menjadi org tak berduit, minimal harus rajin dan pandai agar tak menyusahkan diri sendiri. Sebab dunia pendidikan tak begitu ramah terhadap org2 yang tak berduit dan tak pandai. Begitu kata dia untuk memotivasi diri. Dia bukan tipe wanita yang menyusu di ketiak orangtuanya seperti halnya kamu. Dia sangat mandiri, bahkan sejak lulus SMA. Membiayai hidupnya sendiri dari hal terkecil sampai terbesar. Dia malu menodong SPP pada orangtuanya meski lebih dari mampu. Tahukah kau jika dia sangat mandiri, bahkan untuk urusan pergi ke toilet atau perpus, dia tidak memerlukan banyak pasukan sepertimu yang selalu merengek minta ditemani. Dia sangat percaya diri! Apapun yang terjadi meski pada akhirnya ada yg menilai salah, yang terpenting berani membawa diri dg cara yg wajar.
Setelah lulus, yang ia inginkan mendapat pekerjaan yang lebih mapan dari kemarin. Semacam pekerjaan yang boleh disebut pengabdian utk masyarakat luas, utk bangsa dan negara ini. Dulu, kata "pengabdian" terdengar lucu dan aneh bagi wanita ini. Tapi kini, itu menjadi salah satu tujuan besar dalam hidupnya. Sebab yang terpenting dari apa yang telah ia dapat selama ini adalah bagaimana ia harus memberi dg cara yang tepat pada orang2 yang tepat secara masif. Bukan perkara bagaimana menjadi mapan untuk diri sendiri. Ia berpikir jauh ke depan, bahwa belajar dan bekerja tak sekadar untuk diri sendiri, namun bagaimana ia harus memberi, memberi, dan memberi, dengan segenap apa yang ia miliki. Ia bisa tersenyum jika melihat orang lain tersenyum karenanya. Keinginan yang sederhana.
Bukan menjadi rival dalam percintaan dan studimu, yang tiba2 keesokannya kamu giat belajar demi memperoleh IPK yg sama utk merebut hati lelakimu. Sebab seperti itu juga yang dilakukan wanita itu terhadap lelakimu? Itu semua hanya prasangkamu. Demi Tuhan, wanita itu tak sehina apa yang ada di benakmu. Mungkin kamu salah orang dalam mencari rival. Apakah wanita itu sosok yang demikian hebat sehingga kau anggap sebagai ancaman bagi hidupmu? Apakah wanita itu sosok yang demikian bengis yang akan tega menikammu secara keji saat kau lengah? Sebaiknya cabut kembali kata2mu sebelum benar2 melukainya. Wanita itu selalu berpikir bahwa kau adalah teman baiknya (meski bukan sahabat), wanita itu selalu berpikir bahwa kata2mu manis dan masih lugu, wanita itu selalu merasa bersalah setiap kali ia bercanda dengan lelaki yang ternyata kau cintai dg sangat. Tak ada yang perlu diperebutkan. Tak ada yg perlu dipersaingkan. Biarkan semua mengalir seperti apa adanya saat ini. Kalau kau memang berpikir wanita itu layak jadi rivalmu, maka dia tak ingin bersaing denganmu, sebab dia berpikir tak ada istilah rival dalam percintaan dan studi, atau mungkin kamu bukan dianggap rival yang sebanding dengannya?
Sebenarnya dia tak cukup pantas kau sebut rival. She thinks that she's nobody. Dia hanyalah sosok wanita yg memiliki sedikit ambisi terhadap hal2 kecil dalam hidup (tidak termasuk hal yang kau sangkakan itu). Wanita itu hanya ingin lulus tepat waktu, bukan berlama-lama di bangku kuliah sepertimu yang sengaja menunda tesis hanya karena "belum siap." Tak ada yang perlu ditunda, sebab ia tak punya cukup banyak uang untuk membiayai kuliahnya. Menjadi org tak berduit, minimal harus rajin dan pandai agar tak menyusahkan diri sendiri. Sebab dunia pendidikan tak begitu ramah terhadap org2 yang tak berduit dan tak pandai. Begitu kata dia untuk memotivasi diri. Dia bukan tipe wanita yang menyusu di ketiak orangtuanya seperti halnya kamu. Dia sangat mandiri, bahkan sejak lulus SMA. Membiayai hidupnya sendiri dari hal terkecil sampai terbesar. Dia malu menodong SPP pada orangtuanya meski lebih dari mampu. Tahukah kau jika dia sangat mandiri, bahkan untuk urusan pergi ke toilet atau perpus, dia tidak memerlukan banyak pasukan sepertimu yang selalu merengek minta ditemani. Dia sangat percaya diri! Apapun yang terjadi meski pada akhirnya ada yg menilai salah, yang terpenting berani membawa diri dg cara yg wajar.
Setelah lulus, yang ia inginkan mendapat pekerjaan yang lebih mapan dari kemarin. Semacam pekerjaan yang boleh disebut pengabdian utk masyarakat luas, utk bangsa dan negara ini. Dulu, kata "pengabdian" terdengar lucu dan aneh bagi wanita ini. Tapi kini, itu menjadi salah satu tujuan besar dalam hidupnya. Sebab yang terpenting dari apa yang telah ia dapat selama ini adalah bagaimana ia harus memberi dg cara yang tepat pada orang2 yang tepat secara masif. Bukan perkara bagaimana menjadi mapan untuk diri sendiri. Ia berpikir jauh ke depan, bahwa belajar dan bekerja tak sekadar untuk diri sendiri, namun bagaimana ia harus memberi, memberi, dan memberi, dengan segenap apa yang ia miliki. Ia bisa tersenyum jika melihat orang lain tersenyum karenanya. Keinginan yang sederhana.
Bukan menjadi rival dalam percintaan dan studimu, yang tiba2 keesokannya kamu giat belajar demi memperoleh IPK yg sama utk merebut hati lelakimu. Sebab seperti itu juga yang dilakukan wanita itu terhadap lelakimu? Itu semua hanya prasangkamu. Demi Tuhan, wanita itu tak sehina apa yang ada di benakmu. Mungkin kamu salah orang dalam mencari rival. Apakah wanita itu sosok yang demikian hebat sehingga kau anggap sebagai ancaman bagi hidupmu? Apakah wanita itu sosok yang demikian bengis yang akan tega menikammu secara keji saat kau lengah? Sebaiknya cabut kembali kata2mu sebelum benar2 melukainya. Wanita itu selalu berpikir bahwa kau adalah teman baiknya (meski bukan sahabat), wanita itu selalu berpikir bahwa kata2mu manis dan masih lugu, wanita itu selalu merasa bersalah setiap kali ia bercanda dengan lelaki yang ternyata kau cintai dg sangat. Tak ada yang perlu diperebutkan. Tak ada yg perlu dipersaingkan. Biarkan semua mengalir seperti apa adanya saat ini. Kalau kau memang berpikir wanita itu layak jadi rivalmu, maka dia tak ingin bersaing denganmu, sebab dia berpikir tak ada istilah rival dalam percintaan dan studi, atau mungkin kamu bukan dianggap rival yang sebanding dengannya?
Saturday, June 7, 2014
Tuhan tidak sedang bercanda
Seperti neraka2kecil di dalam surga. Seperti simalakama, dimakan ibu mati, tdk dimakan bapak mati. Entah ini bencana atau sebuah keberuntungan. Mata ini tak lagi bisa melihat dg jernih. Membaca dg hati. Meraba dg halus. Mengamini segala yang baik. Sampai di titik mana kebaikan itu terhenti, seakan sedang tidak berpihak di sini. Semuanya jauh. Ketika nafas terengah-engah berjalan dan berpikir bahwa ujung jalan itu bukanlah tikungan. Ketika peluh hampir di tetes terakhir, tiba2 surga benar2 beranjak pergi. Apakah syukur ini harus tetap terucap?
Hidup ini menjadi aneh ketika kejutan yg datang tidak sempurna. Sempurna tak selalu bahagia, ia datang atas nama kebaikan dari Tuhan. Ia bukan keinginan manusia yg terdalam, bukan pula pencarian yg tiada henti, ia hanya sesuatu yg menamakan diri sebagai kebutuhan. Ah, biasanya Tuhan membisikkan sederet kata menjemput fajar, mengetuk pagi dg keajaiban, lalu menghembuskan badai di kala senja. Menghantarkan gemericik hujan dan sejumput petir. Lalu muncul pelangi. Untuk kebaikan manusia?
Sejenak terkesiap pesan Paulo Coelho, "If u only walk on sunny days, you'll never reach your destination." Hidup mjd sempurna ketika ada siang dan malam. Too much light burns us, while in the darkness we cannot see. But together we have shade. Hidup adalah tentang ketidakpastian. Kebaikan sejati tak pernah berpihak pada siapapun. Sebab ia bertindak atas nama kebaikan itu sendiri. Neraka malam dan surga pagi teach us that life always comes with complete surprise.
Hidup ini menjadi aneh ketika kejutan yg datang tidak sempurna. Sempurna tak selalu bahagia, ia datang atas nama kebaikan dari Tuhan. Ia bukan keinginan manusia yg terdalam, bukan pula pencarian yg tiada henti, ia hanya sesuatu yg menamakan diri sebagai kebutuhan. Ah, biasanya Tuhan membisikkan sederet kata menjemput fajar, mengetuk pagi dg keajaiban, lalu menghembuskan badai di kala senja. Menghantarkan gemericik hujan dan sejumput petir. Lalu muncul pelangi. Untuk kebaikan manusia?
Sejenak terkesiap pesan Paulo Coelho, "If u only walk on sunny days, you'll never reach your destination." Hidup mjd sempurna ketika ada siang dan malam. Too much light burns us, while in the darkness we cannot see. But together we have shade. Hidup adalah tentang ketidakpastian. Kebaikan sejati tak pernah berpihak pada siapapun. Sebab ia bertindak atas nama kebaikan itu sendiri. Neraka malam dan surga pagi teach us that life always comes with complete surprise.
Sunday, May 18, 2014
Manusi A
Mengapa Tuhan menciptakan manusia yg demikian jahat sepertimu
Manusia yg tak mengerti makna kebaikan
Manusia yg mnempatkan diri terlalu tinggi
yang selalu bercermin pada kaca usang yg retak
Melupa sejarah, bersama pikir yg kaku penuh dendam
Ah, apakah agar hidup ini menjadi lebih lengkap?
Jika 1000 manusia sepertimu bertebaran
Hei! Luka masa lalumu silahkan kau kubur sendiri
Getirmu cukuplah kau telan sendiri
Bersama dosa yg hendak kau putihkan
Silahkan kau cari Tuhan sesukamu
Mohonkan ampun di waktu-waktu senggangmu
Lantas tak perlu merasa paling suci hari ini
hanya karena orang tak tahu masa lalumu
Tahukah kau, tak ada sebait kata yg akan menguap
Waktu akan menjadi saksi
di mana kau menelan semua ucapanmu sendiri
Manusia yg tak mengerti makna kebaikan
Manusia yg mnempatkan diri terlalu tinggi
yang selalu bercermin pada kaca usang yg retak
Melupa sejarah, bersama pikir yg kaku penuh dendam
Ah, apakah agar hidup ini menjadi lebih lengkap?
Jika 1000 manusia sepertimu bertebaran
Hei! Luka masa lalumu silahkan kau kubur sendiri
Getirmu cukuplah kau telan sendiri
Bersama dosa yg hendak kau putihkan
Silahkan kau cari Tuhan sesukamu
Mohonkan ampun di waktu-waktu senggangmu
Lantas tak perlu merasa paling suci hari ini
hanya karena orang tak tahu masa lalumu
Tahukah kau, tak ada sebait kata yg akan menguap
Waktu akan menjadi saksi
di mana kau menelan semua ucapanmu sendiri
Tuesday, March 18, 2014
Kelas Reguler
Money can buy many things. Termasuk nilai. Jangankan di PTS, PTN pun iya. But they're smooth sailing. Begini ceritanya... "Nilai UAS kalian itu sudah saya tambah 10 semuanya," kata seorang profesor di tempat saya kuliah. Omaigat, itu pun nilai masih 59, ada lagi yang lebih parah 35. Lalu nilai sebenarnya berapa? Agak aneh model UAS-nya, pas ngerjain soal di kelas setelah 40 menit berlalu tiba-tiba petugas mengatakan bahwa UAS boleh take home. Loh? Boleh dikumpulkan seadanya, lalu selebihnya disempurnakan di rumah lalu jawaban diketik rapi dan dikumpulkan maxi minggu depannya lagi. Tapi ternyata ujung2nya yg dinilai adalah jawaban seadanya tsb. Mengapa? Sebab ancur semua tu nilai sekelas. Kok bisa ancur berjamaah? Ya, untung saja ada tambahan nilai UTS dan tugas jadi bisa mengatrol.
Pada jurusan yang sama, nilai di kelas reguler dg kelas beasiswa kominfo selalu lebih baik yg kelas reguler. Apa mahasiswa kls reguler lebih pintar dibandingkan mhs kelas kominfo? Saya ragu, sebab uanglah yg berbicara. Kami sebagai mahasiswa kelas reguler (yang membayar dg jalur uang pribadi alias nonbeasiswa) cenderung diperlakukan "istimewa". Terbukti nilai per mata kuliah juga lebih tinggi, hasilnya IPK kami pun lebih tinggi dibandingkan kelas sebelah di jurusan dan angkatan yang sama. Jangan2 memang karena kami brsedia bayar lebih? Ah, bapak.. Kata2 Anda menjadikan prestasi kami cacat akademik. Mengapa harus ada kata2 "sudah saya tambah 10" dan kalimat ini tdk dilobtarkan di kelas kominfo.
Pada jurusan yang sama, nilai di kelas reguler dg kelas beasiswa kominfo selalu lebih baik yg kelas reguler. Apa mahasiswa kls reguler lebih pintar dibandingkan mhs kelas kominfo? Saya ragu, sebab uanglah yg berbicara. Kami sebagai mahasiswa kelas reguler (yang membayar dg jalur uang pribadi alias nonbeasiswa) cenderung diperlakukan "istimewa". Terbukti nilai per mata kuliah juga lebih tinggi, hasilnya IPK kami pun lebih tinggi dibandingkan kelas sebelah di jurusan dan angkatan yang sama. Jangan2 memang karena kami brsedia bayar lebih? Ah, bapak.. Kata2 Anda menjadikan prestasi kami cacat akademik. Mengapa harus ada kata2 "sudah saya tambah 10" dan kalimat ini tdk dilobtarkan di kelas kominfo.
Wednesday, October 23, 2013
Vicky Tukul Cesar
Bahasa yg salah kaprah emang selalu gampang diinget. Siapapun pencetusnya. Vicky, Tukul, bahkan Cesar si Goyang Cesar.
Pengen jadi tren emang hrs beda. Unik. Punya kekhasan. Ntah khasnya itu sesuai kaidah ato khas yg ekstrim yakni khas(po). Kaspo (baca: mbujuk ato bo'ong dlm bhs Jawa). Lha yang es-te-de dimana2 sulit diinget sih.
Klo Vicky beken dg kamus "intelektualnya" (statusisasi, labil ekonomi, kemakmuran hati, dll) lalu Tukul beken dg bhs prokem Inggris-Jowo (underestimate jadi anderstimit) maka Cesar beken dg Keep Smile-nya (yg seharusnya Keep Smiling - keep adalah sesuatu yg continue doing something, maka keep+verb+ing).
Awalnya gatel juga denger bahasa pengawuran. Mikirnya msti dua kali. Mengernyitkan dahi. Tapi ktika hal itu mjd lelucon massal, konteksnya jd beda. Eniwe, apapun celah dlm "kosakata gaul" tsb patut diapresiasi tokoh yg ada di baliknya. Memberi warna di ranah hiburan. Sebab, pengawuran kadang bisa bikin ketawa kita konsisten.
Ya kan ngga pernah ada kata "dosa" atas sebuah ketidaktahuan. Everything in between lah brow!
Pengen jadi tren emang hrs beda. Unik. Punya kekhasan. Ntah khasnya itu sesuai kaidah ato khas yg ekstrim yakni khas(po). Kaspo (baca: mbujuk ato bo'ong dlm bhs Jawa). Lha yang es-te-de dimana2 sulit diinget sih.
Klo Vicky beken dg kamus "intelektualnya" (statusisasi, labil ekonomi, kemakmuran hati, dll) lalu Tukul beken dg bhs prokem Inggris-Jowo (underestimate jadi anderstimit) maka Cesar beken dg Keep Smile-nya (yg seharusnya Keep Smiling - keep adalah sesuatu yg continue doing something, maka keep+verb+ing).
Awalnya gatel juga denger bahasa pengawuran. Mikirnya msti dua kali. Mengernyitkan dahi. Tapi ktika hal itu mjd lelucon massal, konteksnya jd beda. Eniwe, apapun celah dlm "kosakata gaul" tsb patut diapresiasi tokoh yg ada di baliknya. Memberi warna di ranah hiburan. Sebab, pengawuran kadang bisa bikin ketawa kita konsisten.
Ya kan ngga pernah ada kata "dosa" atas sebuah ketidaktahuan. Everything in between lah brow!
Subscribe to:
Posts (Atom)