Showing posts with label gado-gado. Show all posts
Showing posts with label gado-gado. Show all posts

Wednesday, September 27, 2017

Office Romance

Siang itu, dalam obrolan ringan dg seorang kawan yg juga head dept di kantor dan kebetulan dia laki-laki. Topiknya adalah perselingkuhan di dunia kerja. Lagi marak. Wabah? Virus? Habit?

Seorang karyawan yg baik, belum tentu seorang suami yg baik, dan sebaliknya.
Seorang anak yg baik di mata orangtuanya, belum tentu seorang pimpinan yg baik dalam perusahaannya, dan sebaliknya.

Mutasi seringkali mjd alasan mengapa salah satu pasangan harus resign dari pekerjaan. Hidup yg semula double income mjd single income sangat tdk mudah di kota besar.

Namun, bagi mrk yg menganggap bahwa keluarga adalah investasi yg tak ternilai maka hidup dg single income adalah pilihan yg terakhir.

Double income dan hidup berjauhan dari keluarga adalah pilihan yg berat. Masih kata dia, kecuali klo tiap bulan ada budget cukup utk bersua anak istri. Itu cerita lain.

"Sekuat2 laki2 klo jauh dari istri bahaya," hot papa itu menegaskan. Banyak teman demikian terbuka bercerita tentang perselingkuhannya. Bukan bangga, hanya gaya bertutur seorang dewasa membuat saya bisa membedakan dari gaya yg sok2an.

Ada banyak pelaku perselingkuhan yg tdk pernah terencana, sedikit mengendap-endap dan berusaha tampil wajar tak kebablasan. Kasak-kusuk sering menguap sbg gosip tanpa klarifikasi. Ada yg kepo. Ada yg cuek. Ada yg arogan klarifikasi.

Masih soal cerita tentang teman di kantor. Entah hubungan keduanya smpe sejauh apa, si manajer wanita yg satu ruangan dg saya dan manajer laki2 jauh di kantor pusat. Hubungan yg sdh lama (ternyata), terendus olehku ketika mrk sering bertelpon mesra di sela jam kantor.

Entah apa yg dilakukan si manajer wanita ini dg selungkuhannya sehingga kemudian Tuhan dg keras menegurnya dg cara mengambil nyawa sang suami dalam sebuah kecelakaan tunggal. Si wanita inipun syok berhari2 spt org linglung.

Saya jd ikut termenung. Apakah Tuhan sdg memberitahukan padanya agar lebih menyayangi apa telah diberikanNya selama ini yg bernama pendamping hidup?

*Saya, yang tak sempurna dan tak hendak menghakimi siapapun.


Saturday, September 16, 2017

Catatan Syukur

Embun belum beranjak
membalut dendam kemarin
Tepat di antara kepergian itu
yang bisu
entah seharusnya indah

Sebaris kalimat
Catatan syukur
Di langit pagi
Terukir di tengah awan

Haruskah girang?
Atau meratap?

Bisikkan pada Tuhan
Kemarin, kupetik rembulan itu
Kugenggam
lalu kumainkan di tangan kanan
Tepat sebelum "Catatan Syukur"
terlihat di langit pagi

Pertanda baik?
Dendam harus luruh



Saturday, September 2, 2017

I'm Sorry Baby...

Wanita itu meregang nyawa. Sakit menahun dideritanya. Entah diagnosa apa. 
Tetiba datang berkabar, ruhnya tak lagi bersatu dg raganya. Mimpi di malam itu.
Bukanlah doa siapa dalam tiupan takdir. Bukan!
Karena aku tak peduli masamu bersamanya.

Aku tak hendak bersorak jika dia tak lagi bersamamu.
Aku tak hendak berlari memelukmu jika dia pergi selamanya.
Aku hendak pergi meninggalkanmu.
Ke tempat di mana tak ada lagi jejak kita.
Di lorong waktu yg berputar seperti deret ukur.

Aku akan berlari kencang seperti kau merampas kemarinku.
Lalu berlagak tak tahu. Berdalih seperti sangkamu.
Aku akan terus pergi. Tanpa ingatan kemarin. Bersamamu.

Ya, kemarin. Ada tawa di awal jumpa. Menderu nafas yg terpagut.
Meluruh dinding yg beku. Memeluk senja berganti fajar.
Tanpa mengetuk tanpa sapa. Semua tiba-tiba. Semua apa-apa.
Semua... semua... dan semua.


Friday, September 1, 2017

Status di Medsos Lebih Penting?


Knapa saya jadi geli sndiri...

Pagi itu mendapat banyak invitation melalui email dari sebuah medsos bernama Linked dari bbrp kawan. Saya bukan org yang memiliki tingkat kepercayaan diri yg cukup bagus. Mski kdg rasa pede itu muncul, tp sering diselimuti rasa bersalah.

Saya klik beberapa diantara profil2 mereka, ada yg bangga menampilkan citra diri dengan menulis sederet jabatan dari yg tahun kapan smpe yg kekinian. Ada yg bangga cuma dg menuliskan jabatan manager tapi entah kerja di perusahaan macam apa dan gaji berapa. Ada yg asal2an ato sekedarnya mendeskripsikan diri tapi sejatinya saya tau dia memiliki tugas dan salary yg bisa dibanggakan.

Apakah saya adalah bagian dari manusia lawas yg menilai kepedean seseorg dengan label alay? Kata seorang kawan senior di dunia politik, dalam politik org justru harus bisa "menjual diri" agar org mengenalmu. Asal jangan kelewat batas. Celakanya, batasnya ini berada dalam tolok ukur yg sangat subyektif.

Menjual diri sah-sah saja asal sebanding dg kenyataannya, kata dia. Nek kebangetan iku jenenge dodol abab. Saya jd ingat seorang kawan bernama Yessi yg saya kenal ketika di Seoul. Bagi saya dia wanita hebat. Kala itu, di akun FB nya dia hanya menyebut dirinya lulusan sebuah SMA swasta di Jkt. Wkt saya kenal, dia sdg menempuh beasiswa di Belanda yg sistem beasiswanya bukan full scholarship. Jurusan IT Bisnis. Kebetulan wkt itu dia lagi magang di Seoul 6 bulan. Kini dia bertunangan dg pria Prancis yg rupawan. Yessy tak pernah ubah status apapun di medsos, tp foto2nya cukup bercerita bahwa wanita sederhana itu bukan sembarangan wanita.

Thursday, June 29, 2017

Selamat Jalan Guruku...

Laurentius Dyson. Civitas akademik Universitas Airlangga pasti mengenal beliau. Sosok berwatak keras namun berperawakan lucu. Pembawaannya serius santai ketika menyampaikan materi kuliah. Semalam, Rabu 28 Juni 2017 tepat pukul 21.30 WIB beliau menghembuskan nafas terakhir di Graha Amerta RSU dr Soetomo Surabaya.

Pengujung 2013 saya masih sering bertemu dalam perkuliahan. Sosok yang lucu dan pemurah nilai ini selalu memberikan nilai A pada semua mata kuliah yang aku ambil. Terakhir yang aku ingat pesannya ketika aku berniat mengambil beasiswa ke luar negeri, beliau salah satu dosen yang bersedia memberikan rekomendasi. Lama tak terdengar kabarnya, bahkan ketika profesor dengan cara berpikir out f the box ini sakit selama sebulan di ICU sayapun tak tahu. Teman2 ramai di Facebook, namun krn akun FB sdh lama nonaktif hingga pagi ini tetiba mendapat pesanberantai di grup WA bahwa beliaun telah pergi selamanya.

Selamat jalan bapak.... Selamat jalan guru.... Selamat jalan teladan mahasiswa.... Semoga ilmumu menjadi amal jariyahmu. Aamiin...

Tuesday, June 27, 2017

June 18th

Dua kado termanis 18 Juni 2017
Dari dua wanita "malaikat" Tuhan

Kebersamaan di Lauk Pauk
dengan saudara baru
menandai awal perjalananku
di karir yang lain

Pesan singkat dari jauh
yang memberiku tiket gratis
berjumpa kembali dengan baitullah

Terima kasih Yaa Allah...

Mataharimu

Mataharimu tlah terbenam
Ketika cakrawala menatap sepi
Juni tak datang hanya bersukacita
Ada Juli terpanggil menyerta duka

Jika masih tersisa makhluk sepertimu
Katakan pada sisa bulan di pengujung tahun
Segeralah beranjak dari mimpi
Mentarimu hanya elok di cakrawala pertama

Mungkin, malam pun murka
Mengintip cerita jiwa yang sesuka hati
Jika berharap cemara itu sempurna
Penantian harus kau bayar mahal

Tuesday, July 19, 2016

Walikotaku

Tentang walikotaku, TRH. Di sebuah ruang conference yang dipenuhi peserta dalam meja panjang, dia memanggil namaku dan menyuruhku duduk di sampingnya untuk mengerjakan sesuatu. Dia berbisik panjang. Aku mengangguk.

Di hari yang berbeda, dia terbaring di tempat tidur. Melepas baju atasan dan tinggal sehelai tanktop nenek yang longgar. Aku di sampingnya, dia menyuruhku memijat lengannya dan mendengar curhat tentang seharian pekerjaannya. Dia lelah. Dia ingin jeda dari smua aktivitas. Dia merasakan bahwa tubuhnya sakit dan tak akan bertahan lama. Apakah ini firasat jika dia akan pergi ke ibukota? Menuju sebuah ambisi yang lebih besar. Ambisi yang ia kata bukanlah mewakili keinginannya, melainkan atas nama partai.

Sunday, June 19, 2016

American Culture

"American Culture" - a book he gave to me in my dream last night.

Dia (P.Naya) almarhum dosen pengajar mata kuliah "HASB" pas kuliah. Sumpah bukunya bagus banget, hard cover, colorful.

Tapi belum sempet buka tiba-tiba satu lagi dosen kuliah saya Sri Moerdijati memanggil dan hendak memberikan buku Komunikasi AntarBangsa lalu mempersilahkan saya memilih koleksi yang lebih lengkap tapi di rumahnya.

America. The country that I've never been visited ever! Semoga ini firasat baik.

Tuesday, June 14, 2016

Gagal SPG

Percayalah, jangan pernah kecewa ketika kamu ditolak melamar sebuah pekerjaan. Artinya, pekerjaan tersebut memang bukan yang terbaik bagi hidupmu. Pernah suatu ketika, pas saya lulus S1 ngelamar kerja jadi SPG di Matahari Dept Store. Gara2nya, seorang teman SMA sebelum dia lulus kuliah uda banyak job jadi SPG pameran termasuk SPG dadakan di Matahari. Waktu itu mikirnya simple, enaknya pegang duit sendiri bisa beli ini itu tanpa harus beradu argumen ama ortu. 

Tapi sial, pas bawa lamaran masuk ruang tes, si pewawancara cuma nyuruh saya berdiri di balik pintu dan melepas sepatu lalu menyuruh saya pulang. Bengong juga ada apa, diwawancara juga engga. Ternyata, baru tau klo dia waktu itu cuma ngukur tinggi badan di mana minimal 156 cm. Kesel ditolak mentah2. Kegagalan ke-2 jadi SPG XXI. Lagi2 itu info dari temen aku. Uda ngantri sejak jam 7 pagi dan baru diwawancara jam 3.30 sore eh ternyata sesampai di pintu masuk langsung disuruh pulang. Alasannya sama, tinggi badan kurang (saya cuma 150 cm). Lagipula ada kesalahan fatal. Saya terlanjur duduk di benda kayu yang mirip kursi ternyata meja. Di hadapan 2 org manajemen XXI.

Ngga kebayang jika sekarang saya harus bertukar peran, tetap menjadi SPG di Matahari atau XXI. Tuhan mengarahkan saya untuk mendapat pekerjaan lain yang jauh lebih baik.

Wednesday, May 11, 2016

Skip Dagangan Model Spam

Adakah cara berjualan yang lebih elegan di era digital ini selain broadcast message di BBM/WA ato invite group? Tak sedikit orang yang menginginkan cara instan agar dagangannya cepet laku. Tapi jangan lupa, tak sedikit pula yang jengah dijejali informasi dg cara seperti itu.

Ada banyak media yang bisa dimanfaatkan. Klo mau gratisan, buatlah akun di jejaring sosial. Hargai kenyamanan org lain. Ketika sebuah model berjualan sudah menjadi jamak, org akan jenuh sehingga ketika mendapat penawaran serupa akan dianggap sebagai spam.

Saya akan lebih menghargai model berjualan dengan mengganti DP BBM pd akun pribadi seseorang, meskipun cara konservatif ini juga menjemukan. Namun, ini lebih menghargai privacy orang lain ketimbang broadcast message (BM) dagangan spam.

Beruntung teknologi BBM saat ini dilengkapi dg fitur "hide all feed /hide display picture feed" - Anda tinggal pilih dan klik, maka Anda tdk lagi mendapatkan update status/DP teman di akun BBM Anda tanpa harus delete contact.

Monday, May 2, 2016

Usia Produktif vs Nonproduktif Tenaga Kerja

Kadang, perusahaan yang dinamis tak punya tempat bagi tenaga kerja usia tua yang kurang produktif. Atau kalimat ini seharusnya dibalik? Tenaga kerja yang tak lagi muda dan yang kurang produktif sering tak punya tempat dalam perusahaan yang dinamis? Sejauh mana perusahaan bisa dikatakan dinamis?

Kategori tua itu seperti apa? Kategori produktif itu sendiri bagaimana? Jika mengacu pada BPS, usia produktif 15-64 tahun. Namun, berdasarkan pengalaman saya bekerja di beberapa perusahaan, usia tenaga kerja yang benar-benar produktif untuk ukuran perusahaan dinamis sesungguhnya adalah 25-50 tahun.

Kurang dari 25 tahun, kerap susah diajari materi dengan tingkat kesulitan yang agak tinggi. Lebih dari 50 tahun, mulai bermalas-malasan menjalankan pekerjaan. Apalagi dengan masa kerja yang belasan atau puluhan tahun telah bekerja di perusahaan yang sama. Namun, ini pengecualian bagi mereka yang sudah mencapai level manajerial ketika usianya 30-an (dan bekerja di perusahaan yang bukan milik pribadi/keluarga).

Pengamatan saya, mereka yang telah mencapai level manajer (rerata usia 30-50 th) kompetisi akan semakin ketat sehingga mereka lebih sigap membekali diri agar berdaya saing. Sementara yang nonmanajer pd usia tsb jauh lebih santai dan hanya segelintir yang mempersiapkan diri berkompetisi untuk naik ke level manajer.

No wonder, pertumbuhan jumlah manajer di sebuah departemen/divisi dalam sebuah perusahaan tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah staf/nonmanajer. Contoh sederhana, jumlah karyawan di cabang saya saat ini hampir menyentuh angka 5.000 org, dengan level manager cuma 25 org. Rasionya 1:200. Sejauh yang saya tau, belum ada studi yang menyebutkan rasio wajar manajer : nonmanajer dalam perusahaan sehingga bisa dikatakan sebagai perusahaan yang sehat.

Persaingan di level manajer selalu lebih ketat. Persoalan lain, tuntutan pasar yang sangat dinamis kadang tidak disertai dengan percepatan daya saing di lingkungan internal. Akibatnya, regenerasi pun jadi melambat. Pada perusahaan yang dinamis, hal ini tidak akan terjadi. Perubahan pasar terus berlangsung, selera konsumen bisa berubah setiap detik. Pada akhirnya, perusahaan yang bisa bertahan hanyalah mereka yang sigap menjawab perubahan melalui segudang inovasi.

Di level tenaga kerja, yang akan terus dipertahankan adalah mereka yang memberi konstribusi secara riil terhadap kemajuan perusahaan. Baik itu kontribusi tenaga/pemikiran yang ujung-ujungnya membawa pada pertumbuhan laba perusahaan. Merekalah tenaga kerja produktif.

Mereka yang low performance acapkali akan tersingkir. Namun, karena alasan manusiawi (misal, penghargaan terhadap masa kerja) kadang sebuah perusahaan masih memberi toleransi pd tenaga kerja golongan ini. Maka dicarikanlah posisi/jabatan yang lalu bikin orang mengernyitkan dahi. Artinya, tanpa ada jabatan tsb pun, sebetulnya perusahaan bisa jalan. Namun karena alasan tertentu, perusahaan mau bertindak tidak efisien.

Dalam buku "How Starbuck Save My Life" -- kasus yang dialami Michael Gates Gill mencerminkan permasalahan yang saya ulas ini. Saya pun yakin kasus yang dialaminya juga dialami ribuan orang di dunia termasuk dalam perusahaan tempat saya bekerja.

Gates Gill dianggap sebagai tenaga kerja yang low perfomance, ia telah mengabdi puluhan tahun dan telah mempromosikan ratusan karyawan ke jenjang manajer. Namun, pada akhirnya ia pun disingkirkan oleh mereka yang pernah dipromosikan ke level manajerial dengan diberikan golden shake yang tak terlalu besar. Pemilik perusahaan tempat dia bekerja, menjual perusahaan tsb sehingga terjadilah perombakan total di level manajerial di bawah pemilik saham yang baru.

Pemilik perusahaan yang baru, merekrut banyak tenaga kerja muda yang siap dididik dan dibayar murah, ketimbang harus mempertahankan para senior bergaji fantastis yang dianggap sudah tidak lagi memberi kontribusi riil terhadap perusahaan. Kasus ini pun seolah menyuguhkan kenyataan bahwa menjadi tua itu mencekam. Berpuluh tahun mengabdi pada sebuah perusahaan untuk membangun zona aman, pada akhirnya menjadi zona ancaman.


But Gill membuat pembaca "you don't have to be worry, because it's only the beginning." Karir Gill yang hancur berdarah-darah dengan kehidupan pribadi yang terseret berantakan, justru membawanya pada sebuah fase kehidupan baru. Sebab ia yakin, meski usianya memasuki 60 tahun namun dirinya masih sanggup belajar dan merasa masih punya potensi untuk membawa kemajuan sebuah perusahaan.

Berbulan-bulan dia hidup hanya dari golden shake dan menikmati fase post power syndrome. Stress yang menggila, ia harus mau bekerja apa saja. Dari semula dilayani, kini menjadi melayani. Bahkan ia harus rela menyikat WC sebuah restoran. That's life! Dengan kerja keras dan kesabaran, Gill pada akhirnya diterima bekerja di Starbuck yang baginya pekerjaan itu ia temui tanpa sengaja. Karir Gill pun mulai membaik, dan ia kembali meraih level manajerial dalam sekejap.

Buku ini menarik, membuat kita sadar bahwa usia boleh tua namun produktivitas tak boleh luntur. Loyalitas itu penting, namun jangan lalai untuk terus membekali diri agar terus siap bersaing. Kita tak pernah tahu bagaimana nasib perusahaan tempat kita bekerja esok. Banyak cara membekali diri agar menjadi tenaga kerja yang berdaya saing. Teruslah belajar dan jangan lupa melebarkan jaringan di lingkungan eksternal agar tak seperti katak dalam tempurung. Percaya diri dalam zona zaman itu boleh saja, namun jangan terlena. Sebab zona ini bisa membunuhmu sewaktu-waktu.

Salam.

Monday, December 28, 2015

Kebaikan

Taukah kau dari mana datangnya kebaikan? Dari kebaikan yang lain. Kejutan2 manis dalam hidup saya, sering berasal dari orang2 yg tak terduga tanpa pernah diminta. Mereka memberi inspirasi dalam hidup saya agar selalu memberi.

Terlepas dari apa profesi saya di masa lampau, dan apa tendensi pemberi kebaikan tsb pada saya, bagi saya kebaikan tetap saja kebaikan. Tiba2 saja, di saat perpisahan saya dikado Ballpoint Parker oleh seorang teman sekaligus "guru." Tiba-tiba saja pesta karaoke disiapkan seorang anggota dewan utk perpisahan saya dg teman2, atau tiba2 saja ada traktiran makan di mal yg disiapkan utk perpisahan saya oleh seorang kawan.

Tiba2 yang lain, sebelum saya berangkat umroh diberi seperangkat baju muslim dan jilbab cantik oleh seorang kawan wanita yang baru saya kenal. Seorang pedagang laki2 di Mekkah yang kemudian memberi saya baju gamis Arab cuma2 tanpa menuntut saya jadi istrinya. Padahal saya ngga jadi beli di toko itu. Dia memberikan tas kresek berisi gamis, lengkap dengan peci Arab warna putih, lalu tersenyum dg mengangguk isyarat bahwa saya boleh keluar dari tokonya tanpa membayar. Saya bengong lalu tersenyum berkata sukran Alhamdulillah.

Atau tiba2 lainnya, saya mendapatkan native guide pada saat lost in Seoul. Kawan baru saya itu menemani saya ke setiap titik Seoul dan menolak imbalan sepeserpun. Malah beberapa kali makan, dia yang bayar. Gomawo oppa! Thx God, I wasn't that lost and I was the happiest backpacker. Congmal! ^^

Tuhan telah demikian banyak memberi. Tak perlu menunda kebaikan pada saat hati terketuk. Percayalah, kejutan manis itu akan kembali padamu. Mungkin bukan dari dia yang kau beri kebaikan, tapi dari orang lain. Indeed, God has many invisible hand.

Friday, December 11, 2015

Mutasi

Hampir setiap minggu baca email resignation dari teman2. "TERIMA KASIH DAN MOHON PAMIT" -- begitu subjeknya.

Pada banyak alasan pengunduran diri, mutasi sering menjadi penyebabnya. Terutama jika mutasi tersebut tidak disertai kenaikan jenjang karir yang jelas, dan dengan parameter yang jelas pula. Orang2 yg merasa telah mengabdi cukup lama namun tak ada perubahan jenjang karir, sering memilih cara ini.

Perusahaan kami adalah perusahaan multinasional, yg seharusnya sejak awal rekrutmen mereka paham akan kemungkinan mutasi lintas kota di Indonesia. Apalagi sejak tahun lalu perusahaan kami ekspansi ke Filipina. Maka gelombang mutasi ke sana pun terbuka.

Namun, pada orang2 yang telah menemukan zona nyaman maka mutasi selalu dilihat sebagai ancaman. Apalagi bagi mereka yang telah berkeluarga dan istri/suaminya bekerja di kota yg sama selama ini. Bakal hidup berjauhan dg keluarga menjadi sangat tidak enak. Begitu komentar yg sering saya dengar.

Pada banyak kasus, perusahaan sering tidak menyoal pengunduran diri karyawannya kecuali dia adalah karyawan istimewa dan alasan pengunduran dirinya tdk cukup kuat. Dalih perusahaan, di luar sana ada banyak pelamar kerja yang memiliki kualifikasi lebih bagus dan mau digaji lebih rendah serta mau dimutasi ke mana saja, jadi lepaskan saja.

Alasan lain pengunduran diri adalah soal gaji hingga kenyamanan lingkungan kerja. Klo bilang soal gaji bisa jadi sangat relatif. Sebagai karyawan, saya sepakat jika gaji bukan semata2 alasan seseorang mengundurkan diri dari pekerjaan. Sindrom "tired complex" lebih sering mencuat. Lelah karena lingkungan pekerjaan alias org2nya, lelah dg perlakuan manajemen, lelah dg sistem yang diterapkan perusahaan, lelah dg beban pekerjaan, yang ujung2nya beban kerja dianggap tidak sesuai dengan gaji.

Segala macam kompromi tentu pernah dijalani hingga seseorang mencapai satu masa di mana kompromi itu memang harus diakhiri dalam satu kata bernama titik jenuh. It's ok not to be ok... Setiap orang mengalami fase up and down, dan hanya mereka yang berani memutuskan dan terus mencoba yang akan mengalami perubahan nasib yang lebih baik. Seperti kata Mario Teguh, setiap org memiliki jatah gagal. Habiskan jatah gagalmu di masa muda.

*Setidaknya, saya selalu merasa muda utk menimba ilmu dalam sekolah kehidupan ini

Tuesday, December 8, 2015

Nama Panggung

Entah siapa yang mempelopori penyingkatan nama, tapi saya menduga sejak nama Joko Widodo populer sebagai Jokowi maka orang2 latah menyingkat nama. Termasuk Budi Waseso, mantan Kabareskrim yang kini jadi Kepala BNN lebih kece dg nama Buwas. Itu sebabnya, saya sempet mengernyitkan dahi ketika di grup BBM teman kantor hari ini muncul nama Busan.

Sumpah saya kira lagi bahas Busan Korea Selatan. Sebab ngga baca detil reply pic chat yg uda kadung puluhan itu. Males. Ternyata ketika Busan diulang2 akhirnya ketauan. Budi Santoso. Aha, kece juga singkatannya. Klo nama saya disingkat jadinya Depe donk ^_^

Monday, September 14, 2015

Drama

Meski tak ada data pasti sejak kapan industri hiburan (khususnya drama seri) di Korea Selatan dikemas secara serius, yang jelas jika melihat perkembangannya saat ini, lompatannya luar biasa. Tak hanya teknik penggarapannya, cerita yang disajikan, intrik di dalam alur cerita hingga pemilihan kata dalam kalimat yang dipakai untuk percakapan para pemainnya.

Data dari wikipedia menyebutkan drama televisi di negeri ginseng ini pertama mengudara sekitar 1960-an. Saat itu, serial drama di Indonesia belum lahir. Info wikipedia, baru sekitar pengujung 90-an muncul sinetron TVRI berjudul Jendela Rumah Kita, Losmen Srikandi, dst. Kita "hanya" tertinggal 3 dekade dengan Korsel. Kemunculan beberapa stasiun televisi swasta kemudian ikut menyemarakkan drama di layar kaca.

Saya bukan penikmat dunia akting dalam serial drama secara serius, biasanya judul saya pilih secara random sesuai dg rekomendasi teman. Drama dari negara manapun saya suka, kecuali yang bernuansa Bollywood :D (maaf klo yang ini agak alergi).

Serial drama televisi dari daratan Eropa dan Amerika mungkin sudah biasa. Nuansa baru masuk ketika orang2 di Indonesia mulai ramai membicarakan k-drama sebagai bagian dari Korean Wave, sayapun membabat habis ratusan judul serial dramanya. Pun ketika Thailand Wave dan Turkish Wave mulai merasuk, saya tak kalah kepo buru2 streaming heheh...

Akhirnya, sejak 3 tahun lalu saya jatuh hati pada k-drama. Memang ngga semua k-drama dikemas secara keren, tapi ada puluhan judul yang ceritanya masih membekas. Para pelaku dalam industri k-drama tentu bukan orang2 kemarin sore sehingga mereka mampu menyajikan mutu yang bagus. Bandingkan saja dg drama asal Indonesia atau drama Turki. Jauh.

Salah satu k-drama yang menurut saya super (karena ada beberapa kutipan menarik) yakni Yong Pal, dibintangi si ganteng dan cute Joo Won dan si cantik Kim Tae Hee (Yong Ae) yang kini sedang tayang di Korea seri ke-12. Di seri ke-9, seorang pendeta menerima pengakuan dosa dari Yong Ae - pewaris perusahaan yang berusaha dibunuh pelan2 oleh kakak angkatnya dg cara dibuat koma selama 3 tahun.

Ketika ia sadar, ia ingin membalas dendam perlakuan org2 tsb terhadapnya. Simak berikut percakapan menarik ttg pengakuan dosanya terhadap si pendeta :

Yong Ae - Jika saya diberi kekuatan, saya ingin membunuh musuh-musuh saya
Pendeta  - Sesungguhnya, cintailah musuh-musuhmu, maka Tuhan akan menyelamatkan jiwamu.
Yong Ae - Saya tahu kali ini Tuhan tidak akan mengabulkan permintaan saya lagi
Pendeta  - Tuhan selalu menjawab doa umat-Nya dengan cara yang bahkan tidak diinginkan oleh umat-Nya. Ini karena manusia memintanya dg amarah, dan Tuhan menjawabnya dengan cinta.
*speechless

I def agree with you father! The right words from unforeseen situation :)

Wednesday, August 26, 2015

Proyek Kasur DPR dan 7 Mega Proyek Lainnya

Selalu ada saja cara menggarong duit negara. Setelah pengajuan 7 megaproyek senilai Rp 1,6 triliun terancam ditolak Jokowi, sekarang giliran anggaran spring bed alias kasur yang diajukan (Rp 12,5 miliar). Per anggota dapat jatah Rp 19 juta. Sebetulnya bukan masalah Rp 19 jutanya, tapi kinerjanya tunjukin dulu. Ini mah yang terekspos, yang kagak malah jauh lebih gd nilainya.

Betul kan kata Fadli Zon klo proyek itu nilainya kecil, bukan megaproyek. Sebab, mereka mainnya duit gd selama ini. Sebetulnya, klo qt liat usulan 7 proyek itu uda lama. Banyak keluhan muncul dari anggota DPR dan para tenaga ahlinya. Orang awam melihat kondisi gedung DPR RI di Senayan masih sangat mewah, arsitekturnya oke, tamannya terawat, kemanan terjamin.

Cobalah tengok masuk, ruang seorang Kepala DPR, Ketua Komisi, dan anggota DPR jauh lebih memprihatinkan dibandingkan ruangan seorang manajer cabang bank swasta ternama. Pun lobby gedungnya, terkesan seadanya. Apalagi musholla di tiap gedung benar2 seadanya. Hampir semua benda adalah peninggalan para terdahulunya secara turun-temurun.

Coba tengok juga perangkat komputer yang digunakan para sekpri dan tenaga ahli mereka di ruangan. Jujur, waktu saya jadi staf ahli tante sblm akhirnya ditempatkan jd TA Dapil, kondisi gedung DPR RI Senayan dalemnya sedih banget. Klo kerja malah enak pakai laptop pribadi ketimbang PC itu. Komputer Intel jadul, entah Pentium berapa, keyboard keras berbunyi cetak-cetok, layar monitor model tabung, cembung berukuran 10", dan server diletakkan di bawah desktop. Ini membuat saya teringat ke jaman SD. Kali pertama punya komputer di rumah.

Perusahaan swasta pun sudah meninggalkan model yang beginian ini. Yah, minimal layar monitornya pakai yang flat, agak gedean dikit 14" dengan internet berkecepatan tinggi. Di beberapa bagian, malah uda pake PC MAC. Ruangannya (tentu saja) lebih nyaman meskipun hanya staf. Itu kelas perusahaan swasta nasional dan bukan manajer.

Sementara tengoklah PC milik anggota DPR. Merk Dell, warna putih, layar monitor kira-kira 18". Di hadapannya ada TV 32" yang setiap saat menayangkan siaran TV Parlemen yang dinikmati melalui jaringan TV Plasma.  

Perangkat meja kursinya berdebu (maaf tidak ada OB khusus). Mejanya dipenuhi tumpukan berkas yang entah harus diletakkan di mana lagi sebab space ruangan tidak cukup. Di depan ruang anggota dewan, ada ruang kecil berisi 1 unit komputer, lemari, dan meja kursi yang hanya cukup utk 1 org sekpri. Sementara, seorang anggota dewan memiliki 2 orang sekpri dan 1 TA. Semuanya berjejal.

Tak heran, usulan renovasi ruang itu kemudian muncul dalam 7 megaproyek tsb. Namun, sekali lagi ketika tuntutan tidak diimbangi dengan capaian kinerja yang memuaskan maka tak berlebihan jika wacana ini menuai banyak protes.

Direnovasi segede apapun, anggota dewan itu jarang nyamperin kantornya di Senayan. Paling2 klo ada hearing atau rapat mini fraksi atau sidang paripurna, setor muka dan tandatangan buat ambil duit.

Apalagi ngajuin kasur, jadi geli sendiri. Emangnya situ ngga mampu beli kasur Rp 19 juta? Okelah jika itu fasilitas, tapi please deh punya empati dikit. Nyadar ngga siy klo kondisi perekonomian kita lagi decline?

A note to my president : please reconsider the 7 mega projects proposed of parliament.



Thursday, August 20, 2015

Iklan di Media Massa

Jadi, media massa harus membanding2kan jejak kompetitor sebuah produk/usaha untuk mendapatkan pemasukkan iklan yang lebih gd? #TrikDoank

"Eh, perusahaan A kemarin berani pasang adv Rp 30 juta sekali tayang utk ukuran 400x600 mmk. Masa perusahaanmu ngga mau?"

"Event gowes kemarin, perusahaan A support Rp 40 juta loh, belum termasuk kaos dan goody bag peserta. Support donk minimal samaan gitu"

(perusahaan A dan B bergerak di bidang yg sama, namun A adalah market leader di pasar domestik, sementara B di urutan ke-2)

Yakeles, dibanding2in. Secara, market share aja uda beda. Revenue beda. Visi beda. Jelas orientasi pemilihan media massanya juga beda. Lagian, oplah koran lu tu berapa? Distribusinya nyampe ke mana aja?

Mmm... Duit segitu sayang klo dipake iklan di satu media untuk satu acara doank, dg level media seperti punya lu. Kita bisa masukin iklan segitu ke media yang lebih gd dari oplah media lu. Lagipula, qt dpt gratisan ke media onlinenya sekalian.

Plus qt bisa anggarin buat media online yg market sharenya #1. Bukan iklan siy yg ini, tapi macem fee doank bwt redakturnya. Yg penting berita positifnya naik. Low cost high impact.

Sunday, August 9, 2015

Is my president being insecure?

Hal yang paling menggelitik isi kepala, adalah ketika mengikuti pemberitaan tentang penghidupan kembali pasal penghinaan presiden dalam revisi RUU KUHP. Don't tell me that my president is being insecure. Bukankah konsekuensi menjadi seorang pemimpin adalah mendapatkan jutaan pembenci? Sebab tak ada seorang pun pemimpin di dunia ini yang mampu memenuhi keinginan seluruh rakyatnya. Itu sebabnya, selalu ada celah untuk dibenci lantaran selalu ada kepentingan berbicara di balik setiap keputusan.

Upaya JKW tersebut membuat saya khawatir, jangan2 JKW yang selama ini mencitrakan dirinya sebagai pemimpin yang sabar, legowo dan tebar senyum sejatinya ia adalah orang yang represifnya melebihi regime Soeharto. Semoga tidak begitu. Kita memang tidak hidup di US di mana orang bebas mengata-ngatai pemimpin negaranya, namun jangan lupa jika kita hidup di negara yang menjunjung tinggi demokrasi. Orang tetap punya hak untuk mengkritisi kebijakan pejabat negara. Mengkritisi, bukan menghina. Agaknya juga perlu diluruskan perbedaan definisi mengkritisi dan menghina dalam pasal tersebut. Entah dari mana datangnya ide penghidupan pasal tersebut, saya berharap langkah JKW tidak menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.

Saya juga berharap, bukan socmed yang melatarbelakangi ide tersebut. Sebab masih banyak hal yg lebih penting yg harus dilakukan ketimbang ngurusi penghinaan di media sosial. Urusan media sosial, cukup diselesaikan di media sosial, tak perlu dimaktubkan dalam undang-undang yang menguras duit negara. Ibarat penghinaan sejarah lewat buku, tak perlu membakar bukunya, tandingi dengan tulisan dalam bentuk buku pula. Masyarakat bisa lebih cerdas, punya banyak pilihan tanpa harus mencederai ilmu.

Friday, July 31, 2015

Guru

Tentang kesabaran. Saya belajar banyak dari salah seorang pimpinan saya di kantor. Orang bilang, get older get wiser. Idealnya memang begitu meski kenyataannya tak setiap orang yang beranjak usia bisa bersikap wise.

Namun, pimpinan saya ini mengajari saya banyak hal secara tidak langsung. Dia merupakan golongan get older get wiser. Saya ingin senantiasa berusaha menjadi seperti dia dalam menghadapi persoalan. Tak pernah marah dg arogan, berusaha berpikir positif, sabar, dan memiliki loyalitas yg tinggi.

Meski kadang saya menemukan dia beropini tentang orang lain dan sulit menyimpan rahasia, namun ujung-ujungnya dia mengajak saya berpikir positif dan berupaya menyelesaikan persoalan dg damai.

Sejauh yang saya kenal selama bertahun-tahun, ketika berkonflik dg siapapun dia tak pernah menunjukkan kemarahan dg cara yang mengerikan. Bagi saya, karakter seseorang yg sebenarnya akan terlihat dari bagaimana ia meluapkan amarah.

Pernah suatu ketika dia nekat melakukan teror terhadap seorang pejabat resek yang menjadikan perusahaan kami sebagai "ATM berjalan." Perusahaan kami dibully mati2an di media massa, sehingga publik mjd teropini bahwa perusahaan kami melakukan sesuatu yang ilegal. Sungguh ini sebuah kesalahpahaman yg banyak orang tidak mengetahuinya secara detil. Tapi penghakiman jauh lebih mudah hanya karena org mengetahui segelintir permasalahan.

Lalu pimpinan saya itu, di hadapan saya dia menggunakan nomor lain untuk menelpon si pejabat tsb. Jujur saya kaget. Meskipun dia pernah bercerita bahwa dia dulu adalah aktivis GMNI di kampus, tapi tdk pernah menyangka dia sanggup "melucu" di hadapan saya. Kami pun tertawa bersama usai dia menelpon si pejabat itu. Bagi saya, itu bentuk loyalitas lain terhadap perusahaan.

Dia selalu bilang, hadapi persoalan dg kepala dan tangan yang dingin. Meskipun beradu argumen, tak perlu meningkatkan intonasi apalagi main fisik. Hidup ini, kata dia, sudah cukup pait. Jangan terlena, apalagi selalu menoleh ke belakang. Lakukan saja dg baik apa yg sudah menjadi tugas dan tanggungjawabmu.

Siapapun bisa menjadi guru dalam sekolah kehidupan ini. Sebaik dan seburuk apapun yg dia lakukan, selalu ada pelajaran yang bisa kita petik. Manusia tak punya hak melakukan penghakiman.