Showing posts with label school. Show all posts
Showing posts with label school. Show all posts

Friday, September 1, 2017

Status di Medsos Lebih Penting?


Knapa saya jadi geli sndiri...

Pagi itu mendapat banyak invitation melalui email dari sebuah medsos bernama Linked dari bbrp kawan. Saya bukan org yang memiliki tingkat kepercayaan diri yg cukup bagus. Mski kdg rasa pede itu muncul, tp sering diselimuti rasa bersalah.

Saya klik beberapa diantara profil2 mereka, ada yg bangga menampilkan citra diri dengan menulis sederet jabatan dari yg tahun kapan smpe yg kekinian. Ada yg bangga cuma dg menuliskan jabatan manager tapi entah kerja di perusahaan macam apa dan gaji berapa. Ada yg asal2an ato sekedarnya mendeskripsikan diri tapi sejatinya saya tau dia memiliki tugas dan salary yg bisa dibanggakan.

Apakah saya adalah bagian dari manusia lawas yg menilai kepedean seseorg dengan label alay? Kata seorang kawan senior di dunia politik, dalam politik org justru harus bisa "menjual diri" agar org mengenalmu. Asal jangan kelewat batas. Celakanya, batasnya ini berada dalam tolok ukur yg sangat subyektif.

Menjual diri sah-sah saja asal sebanding dg kenyataannya, kata dia. Nek kebangetan iku jenenge dodol abab. Saya jd ingat seorang kawan bernama Yessi yg saya kenal ketika di Seoul. Bagi saya dia wanita hebat. Kala itu, di akun FB nya dia hanya menyebut dirinya lulusan sebuah SMA swasta di Jkt. Wkt saya kenal, dia sdg menempuh beasiswa di Belanda yg sistem beasiswanya bukan full scholarship. Jurusan IT Bisnis. Kebetulan wkt itu dia lagi magang di Seoul 6 bulan. Kini dia bertunangan dg pria Prancis yg rupawan. Yessy tak pernah ubah status apapun di medsos, tp foto2nya cukup bercerita bahwa wanita sederhana itu bukan sembarangan wanita.

Thursday, June 29, 2017

Selamat Jalan Guruku...

Laurentius Dyson. Civitas akademik Universitas Airlangga pasti mengenal beliau. Sosok berwatak keras namun berperawakan lucu. Pembawaannya serius santai ketika menyampaikan materi kuliah. Semalam, Rabu 28 Juni 2017 tepat pukul 21.30 WIB beliau menghembuskan nafas terakhir di Graha Amerta RSU dr Soetomo Surabaya.

Pengujung 2013 saya masih sering bertemu dalam perkuliahan. Sosok yang lucu dan pemurah nilai ini selalu memberikan nilai A pada semua mata kuliah yang aku ambil. Terakhir yang aku ingat pesannya ketika aku berniat mengambil beasiswa ke luar negeri, beliau salah satu dosen yang bersedia memberikan rekomendasi. Lama tak terdengar kabarnya, bahkan ketika profesor dengan cara berpikir out f the box ini sakit selama sebulan di ICU sayapun tak tahu. Teman2 ramai di Facebook, namun krn akun FB sdh lama nonaktif hingga pagi ini tetiba mendapat pesanberantai di grup WA bahwa beliaun telah pergi selamanya.

Selamat jalan bapak.... Selamat jalan guru.... Selamat jalan teladan mahasiswa.... Semoga ilmumu menjadi amal jariyahmu. Aamiin...

Monday, June 20, 2016

Rindu Tanah Air

Musim dingin ini lebih lama
hingga siang terasa singkat
Tubuh setebal berjaket-jaket
Kaki tertutup tinggi
Sepatu-sepatu kulit nan hangat

Tak ada adzan bersaut-saut
Seperti negeriku yang ramah
Semua berjalan cepat, menengadah
Tegak serupa congkak
Tak tengok siapa kiri kanan

Embun menyerta di mulut setiap cakap
Dingin. Beku.
Kulit terasa pecah berdarah
Ah, perapian kayu ini tiba2 menjadi mahal

Harusnya bertumpuk kayu kubeli
Jauh sebelum dingin tak bersahabat
Harusnya mesin pendingin penuh makanan
Jauh sebelum bongkah es meremukkan tulang

Akankah aku bertahan di sini

Tuesday, March 18, 2014

Kelas Reguler

Money can buy many things. Termasuk nilai. Jangankan di PTS, PTN pun iya. But they're smooth sailing. Begini ceritanya... "Nilai UAS kalian itu sudah saya tambah 10 semuanya," kata seorang profesor di tempat saya kuliah. Omaigat, itu pun nilai masih 59, ada lagi yang lebih parah 35. Lalu nilai sebenarnya berapa? Agak aneh model UAS-nya, pas ngerjain soal di kelas setelah 40 menit berlalu tiba-tiba petugas mengatakan bahwa UAS boleh take home. Loh? Boleh dikumpulkan seadanya, lalu selebihnya disempurnakan di rumah lalu jawaban diketik rapi dan dikumpulkan maxi minggu depannya lagi. Tapi ternyata ujung2nya yg dinilai adalah jawaban seadanya tsb. Mengapa? Sebab ancur semua tu nilai sekelas. Kok bisa ancur berjamaah? Ya, untung saja ada tambahan nilai UTS dan tugas jadi bisa mengatrol.

Pada jurusan yang sama, nilai di kelas reguler dg kelas beasiswa kominfo selalu lebih baik yg kelas reguler. Apa mahasiswa kls reguler lebih pintar dibandingkan mhs kelas kominfo? Saya ragu, sebab uanglah yg berbicara. Kami sebagai mahasiswa kelas reguler (yang membayar dg jalur uang pribadi alias nonbeasiswa) cenderung diperlakukan "istimewa". Terbukti nilai per mata kuliah juga lebih tinggi, hasilnya IPK kami pun lebih tinggi dibandingkan kelas sebelah di jurusan dan angkatan yang sama. Jangan2 memang karena kami brsedia bayar lebih? Ah, bapak.. Kata2 Anda menjadikan prestasi kami cacat akademik. Mengapa harus ada kata2 "sudah saya tambah 10" dan kalimat ini tdk dilobtarkan di kelas kominfo.

Saturday, February 1, 2014

Polisi dan Mahasiswa Asing

Polisi Indo emang gila korupnya. Seorang teman dari Madagaskar yg nyasar salah jalan pun kena palak juga. Gara2 pajak STNK nya mati sejak dua tahun lalu, kena deh dia.

"Priiittt! Suddenly he stopped me and asked me to show the KTP motor and driving license," Gio said to us.

Temanku ini emang kocak banget, nyebut STNK selalu aja KTP motor. Bisa siy bahasa Indo tapi masih setengah2 meski dia sudah setahun belajar di Sby.

"Jalanan macet dan saya drive my motorcycle to flyover. I just knew that the flyover only for car," he said.

Yg dia maksud adalah jembatan Mayangkara. Dia berasal dari arah terminal Bungurasih hendak pulang menuju kos di daerah Gubeng Kertajaya. Motor yg ia pakai sebetulnya ia beli second Rp 7 juta dari temannya teman staf pengajar bahasa di Lab Bahasa Unair. Agak rumit, ngga heran Gio lalu hrs menanggung pajaknya yg tdk dibayarkan selama dua tahun. Pemilik yang sesuai dg alamat STNK ternyata sudah meninggal dan Gio bingung harus pakai KTP siapa ketika bayar pajak dan balik nama BPKB. Di situlah polisi memanfaatkan celah.

"Actually I have my driving license from Madagascar but for car, not motorcycle. And I don't think I can use it in Indo because the position of steering wheel on right-hand side, Madagascar on left-hand side," he added.

"The police asked me fifty thousands rupiahs, but I said I don't have money pak. I'm a college student, and here is my identity. Then I show him my wallet there are only fifty thousands left. So he asked me thirty five thousands," he said.

"Seriously? Dia mau kau kasi cuma 35.000 aja?" we asked.

"Ya, he counted my cash on my wallet. After that, he asked me why I didn't have driving license? He offered me to get driving license and gave me his phone number. He said that I can get it instantly only eight hundred thousands rupiahs, just call his number. " Gio said.

"Gosh! And you say yes?"

"No. I only nodded and then discard his number. No way, I don't have that much money from my scholarship. I don't even have my KTP motor yet," he said.

Poor you are.. Polisi Indo emang resek betul. Tau ada orang asing langsung jd sasaran empuk buat dipalak.

"You know the real cost to get driving licence for motorcycle in Indo? Only Rp 100.000, but you have to make it on three days. If we (local people) want to get instantly from calo only Rp 400.000," I said.

"Wow, twice for me? Great pak police!" Gio added.

Tuesday, January 21, 2014

The power of credit

Minggu lalu saya dan kawan2 sengaja melewatkan liburan ke rumah salah seorang kawan di Tulungagung. Kota yang sama sekali tdk pernah terlintas dalam benak saya sebagai kota jujugan liburan. Pagi itu saya berbincang dg ibu kawan saya usai jalan2 habis sholat Shubuh. Ditemani sebungkus nasi pecel khas Tulungagung, dia bercerita tentang anaknya (yaitu kawan saya yang pagi itu masih tertidur).

"Saya sampe sekarang ngga pernah tau berapa IPK si A. Kenapa dia ambil jurusan ini itu juga, dia ngga pernah cerita. Anaknya agak tertutup, beda dengan adiknya yang selalu cerita," kata si ibu.

"Iya sih bu, ngga linier jurusannya. Tapi sama juga kek saya. Ngga masalah kan. Apapun ilmunya yang penting kemauan belajarnya," sahutku.

"Ada sih, tantenya (adik saya) di Jakarta yang kerja di Departemen Kelautan dan Perikanan ambil S2nya Komunikasi juga tapi di UI. Semua bukunya juga sudah diberikan ke si A tapi kok ngga pernah dibaca dan ngga ikut dibawa ke Surabaya. Makanya tantenya pas kesini bilang, kok kamu kuliah S2 nyantei sekali? Apa ngga baca-baca buku gitu ya? Kata tantenya sih, S2 itu berat kalo ngga banyak baca sendiri," ujar si ibu.

Saya tiba2 terdiam. Kata2 itu seperti terrus mendengung.

Ya, emang harus banyak baca siy. Tapi apa qt harus menampilkan diri sbg org yang sibuk membaca agar terlihat wajar dengan tidak nyantai? Begitu? Lalu, menjadi santai di luar waktu liburan adalah gambaran menabung beban akademis seorang mahasiswa S2? Bisa jadi iya, tapi bisa juga engga.

Menurut saya, S2 menjadi tidak santai bagi si tante karena dia juga bekerja. Lagipula usia si tante yg sudah 40-an mungkin membuat dia memahami buku sbg sesuatu yang fisik atau hard cover. Jadi, ketika tau keponakannya ngga baca buku secara fisik ya namanya ngga belajar. Padahal, bisa aja baca lewat eBook atau jurnal-jurnal versi pdf.

Kuliah S2 yg pendek membuatnya tampak lebih serius dan mendebarkan bagi mahasiswa. Baru saja membuka mata dan memahami teori, tiba-tiba sudah harus mengerjakan penelitian buat thesis. Ini siksaan bagi mereka yg ngambil jurusannya ngga linier. Harus ekstra belajarnya. Itu sebabnya, klo ngerjain tugas usahakan referensinya maksimal. Biar skalian nyicil belajarnya. Skalian nyicil ingatan juga. Daripada hrs mengkhususkan hari buat memahami buku babon tentang teori dll apa ngga lebih memusingkan? Ya bisa aja, itu kan pilihan. Tapi klo bisa nyicil alias kredit, knapa harus lunas? Berat.

Friday, November 8, 2013

13 Purnama *아비*

Waktuku tak banyak
Bersamamu
Saat ini
hanya 13 purnama lagi
aku bisa melihatmu
Mungkin...

Masih banyak kata
jika kau mau
Aku luangkan waktu
jika kau minta
Pasti...

Di purnama 14 atau 15
Aku akan pergi
Bersama jejak kaki
Jauh ke utara
negeri orang
Bersama separuh hati
yang kutitipkan di sini
padamu

Terima kasih
telah mewarnai lembaran ini

tertawa berdegup bersama
melintasi 3 senja 
stiap pekan
Menuliskan ribuan syair di hati
yang nyaring menjelang fajar


You'll still live in me

Monday, October 14, 2013

Laugh and Culture

Tertawa emang soal budaya. Ini disebabkan konten lelucon itu sendiri berakar dari budaya sebuah masyarakat. Budaya tentang apa yang mereka anggap lucu dan tidak lucu. Balik lagi intinya ke soal pemilihan bahasa atau istilah yg disepakati bersama sebagai sesuatu yang menghibur atau tidak menghibur. Kok jadi mbulet ya? Heheh...

Ketika saya membaca status LOLitics-nya @umairh (economist berdarah Pakistan yg hidup di London dan jebolan Oxford) followersnya banyak yang berkelakar. Tapi saya masih ngga nyambung. Baru setelah baca beberapa mention ke dia, saya ngeh. Oalah parodi humor politik maksudnya. Laughing Out Loud Politics jadinya LOLitics.

Contoh lain, seorang teman asal Madagaskar yg akhirnya "memaksa" menggunakan bahasa Inggris dlm presentasinya, padahal berbulan2 ia bersusah payah telah mempelajari bahasa Indo. Teman2 dan dosen penasaran dg his speaking ability in bahasa. "No. Saya akan present in English. Boleh ya bu?" Seisi kelas langsung ngakak melihat dan mendengar ia mengucapkan kalimat "Boleh ya bu?" dengan intonasi berat terbata-bata spt saat kita mendengar SinChan lagi belajar ngomong. Coba saja ia tdk menambahkan kalimat "Boleh ya bu" atau kalimat ini diganti dg "Is it ok mam?" saya jamin tidak ada yg tertawa. Eniwe, dia tetep ngga ngerti kenapa seisi kelas menertawakannya. We laugh just because you speak in an unusual way.

Parker - Mont Blanc

Baru ngeh jika ballpoint merk Parker dan Mont Blanc itu mahal. Segitu prestisnya emang? Ngerti sih klo bolpen ini segmentasinya high-end tp masalahnya ngga tau seberapa mahal harganya di toko. Brp puluh ribu? ratus ribu? ato juta rupiah? Tiba2 saya punya banyak di rumah (klo dikumpulin ada 8). "Oh, jadi ini mahal to," gumam saya lamat-lamat mengamati bolpen-bolpen tsb setelah bongkar-bongkar goody bags. Apa sih yg bikin mahal? Paling juga dibikinnya di Pasuruan hahaha. Iya iya tau, mereka beli mereknya impor dan ngga murah, lalu tintanya ada standar khusus. Kek sepatu Rodhe sama Hush Puppies itu, harga Rp 750.000 pabriknya di Pasuruan. Emang bahannya kulit dan alasnya karet elastis yang super, tapi ya usia pemakaiannya sama aja kek sepatu yg harganya cepek Nevada punya Matahari Dept Store itu. Setahun harus ganti karena pasti dah ngga layak pake. 

Crita soal Parker ama Mont Blanc, saya kaga pernah beli. Dikasi cuma-cuma sebagai suvenir pas magang liputan (jangan ngiri ya :p ) Parahnya lagi, tuh bolpen nganggur buat pajangan. Untung ada beberapa yg sudah berpindah tangan, jadi lebih bermanfaat. Nah, ada seorang teman di kelas pas kuliah Advertising and Consumer Culture yg tiba2 ngomongin soal gimana prestisnya dia pake Parker ketika tanda tangan MoU di hadapan klien. Sesuatu lah, kata dia. Kan jadi inget "koleksi" Parker n Mont Blanc di rumah yang 4 diantaranya tintanya uda macet karena jarang kepake. "Oalah, ya maklum wong ndeso ngga nyadar klo yang dikasi itu barang prestis," Bahkan ada juga Parker yg digrafir namaku, *cihuy* masih inget itu kenang2an dari IIDI (Ikatan Istri Dokter Indonesia). Ya klo sosialita macam mereka ngasi satu bolpen Parker ke saya mah keciiilll. Orang duitnya turah-turah. Tp klo saya harus beli sendiri ya ogah. 

Ketika budaya tulis menulis di blocknote saat wawancara lalu berpindah ke gadget, bolpen menjadi kurang perhatian, demikian halnya blocknote yg juga mulai jadi pajangan. Kompetisi media yg begitu ketat, membuat wrtwn cetak mau tidak mau harus beralih menjadi wrtwn online. Artinya, bagi wrtwn cetak yang dulu nyatet wawancaranya di buku lalu ngetik beritanya di PC kantor pas di atas jam 5 sore, sekarang polanya berubah mirip wrtwn online atau portal. Ngetik beritanya di tempat wawancara ato on the spot (bahkan sambil berdiri) dan beritanya langsung ditayangkan di portal berita masing2 secara realtime. Ngetiknya pake BlackBerry atau gadget apa aja yg bisa langsung ngirim berita via email ke redaktur masing2. Ini uda jadi tren 3-4 tahun belakangan. Efeknya, jempol tangan dibuat kemeng gara2 keseringan nekan tombol qwerty.

Pernah suatu ketika seorang narsum (staf kementerian) yg kolot ngga ngerti perubahan budaya ini, lalu menuding si wrtwn mengabaikan dia saat berbicara karena dikira asik BBM-an. "Makanya perhatiin kalau saya lagi statement!" Loh, daritadi emang saya ngapain pak? Lha ini kan ngetik naskah di BB? *sambil memperlihatkan layar MemoPad BB* Eh diapun tengsin sambil membenahi kacamatanya.

Sunday, October 13, 2013

Cigarette

Meski saya bukan perokok, tapi seneng klo merhatiin iklan rokok. Apalagi yg slogannya kemudian menjadi tren. Emang ada slogan iklan rokok yg ngga ngetren? Tim kreatif iklan rokok kini rata2 luar biasa. Ngga heran klo slogannya lalu menjadi bagian dari kosakata gaul. Sejak iklan produk rokok dilarang menampilkan produknya, tim kreatif perusahaan rokok berjuang mati2an bersaing kreativitas menghadirkan spirit merokok secara elegan dlm tayangan iklan mereka.

Slogan dibikin sekreatif mungkin sesuai dengan segmentasi pasar yang dibidik. U Mild, misalnya, sebagai salah satu leader di kelas SKM (sigaret kretek mesin) besutan PT HM Sampoerna Tbk dijaga betul pencitraannya dalam tayangan iklan. Ini mengingat, U Mild menyumbang penjualan terbesar dari total penjualan perseroan, disusul kemudian Sampoerna A lalu beberapa merk di kelas sigaret kretek tangan (SKT). Segmentasi U Mild adalah pria berusia 20-30an, eksekutif muda, aktif tapi woles, kreatif, hidupnya ngga monoton lantaran suka ngumpul dan bersosialisasi dg kawan. Tapi, sosialisasinya menghasilkan duit (unsur kreatif itu tadi). Spirit ini juga yang saya lihat tersirat dalam tayangan iklan U Mild versi Ngantor :

Senang itu pas lagi ngantor
Karena ngantor ngga harus di depan monitor
Ngantor asikan cuma berkolor
Lebih spesial lagi kalau pake telor
Ngantor ngga harus indoor
Ini baru ngantor
Ini baru cowok U Mild

Terlepas dari bener nggaknya penikmat U Mild adalah seperti yang dicitrakan dalam iklan, namun tayangan itu bisa juga diartikan sebagai upaya perseroan meng-create market seperti yang diharapkan. Perseroan berupaya menciptakan sense of belonging bahwa jika pria mengonsumsi U Mild maka Anda memang kategori pria dg nilai-nilai seperti yang U Mild citrakan dalam iklan.

Wednesday, September 18, 2013

Shifting Role

Entah mengapa, saya selalu mengernyitkan dahi jika mendengar pengakuan seseorang bahwa ia bisa membaca karakter orang lain tanpa didahului komunikasi yg intens. Dukun? Paranormal? Cenayang? Bukan. Ini org akademis betulan yg mengupasnya secara ilmiah, jadi jauh dari bayangan dunia metafisika. Saya jadi terlintas menulis ttg pria paruh baya ini setelah tanpa sadar mengamati contact list di instant messanger WhatsApp. Saya lupa jika telah menyimpan nomornya, jadi ketika muncul fotonya yg berkumis dg blangkon sakeranya, saya langsung tersenyum teringat gayanya yg khas ketika menjelaskan. Spontan dan kocak. Semua anggota tubuhnya ikut bergerak ketika bercerita.

"Saya bisa mengkategorikan Anda2 semua ini ke dalam empat tipe karakter atau kepribadian manusia secara umum. Coba nanti ilmu saya kita uji," ujarnya pede. Saya cuma manggut2 dan bergumam, silahkan bicara semaunya. Soal percaya atau tidak, benar atau salah itu kembali pada penilaian masing-masing. Ia pun bangga mengaku sebagai konsultan di departemen HRD sebuah perusahaan AS di Indo, selain itu dia juga mengaku sbg konsultan partai2 politik. Ia bertugas menganalisis karakter org lain hanya dari gurat wajahnya. Sakti ya? Sebetulnya, kata dia, ilmu yg sdg ia jelaskan ini adalah disertasinya beberapa tahun silam.

Entah bgmn ceritanya, saya tiba-tiba masuk dalam kategori tipe III - formal, easy going, tdk suka tampil, kaku ke dalam dan berunsur tanah. Ada tmn2 lainnya yang masuk kategori tipe I, tipe II dan tipe IV. "Penilaian saya terhadap Anda2 ini sifatnya hanya sekilas atau tampilan luar berdasarkan teori2 yg saya pakai. Pada dasarnya manusia meskipun ia unik tapi selalu memiliki kecenderungan. Ia akan memiliki pola yang sama dalam waktu yg lama. Karakternya lama2 akan berpola," jelas dia.

Satu hal yg akhirnya bikin saya sepakat dengan teorinya, di ujung cerita ia menambahkan bahwa tipe2 tersebut bukan harga mati. Artinya, setiap org bisa shifting role/type. Kadang ia menjadi tipe I, kadang tipe II, III, dan IV. Tapi pd intinya, setiap org punya kecenderungan kuat mengarah pada satu tipe saja. Allright sir, agree!

Friday, September 13, 2013

Malagasy (마라가시)

Saya kembali terkesan dg sebuah negara bernama Madagaskar. Dari dua teman Madagaskar yg saya kenal, mereka memahami Indonesia lebih baik dibandingkan saya memahami negara mereka. "I'm from Madagascar, and you?" tanya teman wanita sekamar saya waktu di Seoul. "Indonesia." "Oh really? I've been two times to Indonesia for research, and now in Seoul I'm doing a research too," she said.

She knows a lot about my country, and I told her that I only knew Madagascar from cartoon movie "Lost in Madagascar." "Hahaha.. U're not gonna lost!"  "Well, is it Africa or somewhere?"  "Yes, about two hours from Africa by plane." Unfortunately, we didn't talk much because she already left by early the next morning.

Kali kedua, seorang Malagasy yg saya kenal yakni di bangku perkuliahan. Dia pria berperawakan kecil, kepala plontos, berkulit gelap, bahasa Indonya sdh fasih (sebab dia 8 bln ia tinggal di Indo). Beda dg Malagasy yg saya kenal di Seoul. Tapi perawakan secara fisik keduanya hampir sama, kecil dan berkulit gelap (tapi tdk segelap kulit orang Afrika), dan rambut teman wanita saya itu juga tdk sekeriting org Afrika. Untuk memudahkan gambarannya, spt Anda membandingkan org pribumi Ambon dg pribumi Jayapura. Pigmen melanin org Jayapura jauh lebih banyak atau menonjol dibandingkan org Ambon.

Teman Malagasy saya di bangku kuliah ini sengaja memilih Indo sbg tempat studinya karena berdasarkan referensi dari teman2nya, perguruan tinggi di Indo lebih baik ketimbang negara asalnya. Kebetulan, banyak perguruan tinggi negeri di Indo (termasuk Sby) yg bekerjasama dg pemerintahan Madagaskar. Ada semacam beasiswa pertukaran pelajar gitu. Juga, kata dia, banyak kuliner lezat yg bisa dicoba di Indo.

Tak banyak yg saya ketahui ttg Republik Madagaskar ini. Kepulauan tenggara Afrika yang baru merdeka dari jajahan Prancis pada 1960 ini tercatat sebagai salah satu negara miskin di dunia. Berdasarkan data IMF 2012, total GDP negara ini saat itu hanya sebesar 10,117 juta dolar AS (berada di peringkat 130). Sedangkan total GDP Indo 878,196 juta dolar AS (berada di peringkat 16).

Monday, June 3, 2013

What is Normal

Normal. Sebuah kata yang memiliki banyak definisi dari berbagai disiplin ilmu. Namun, banyak masyarakat yang hanya mendefinisikannya sebagai kebalikan dari abnormal. Is that? "Normal ya spt itu, yang wajar, spt org kebanyakan." Kalau ini adalah definisi normal berdasarkan perilaku.

Pembahasan definisi ini menyita 3 SKS. Saya sepakat dan menyimpulkan sendiri tiga pendekatan utk mendefinisikan normal, berdasarkan lingkungan operasional, lingkungan perilaku dan lingkungan perseptual. Behaviour can be normal for an individual (intrapersonal normality) when it is consistent with the most common behaviour for that person. Normal is also used to describe when someone's behaviour conforms to the most common behaviour in society (known as conforming to the norm).

Berdasarkan lingkungan operasional, sesuatu dikatakan normal karena terbentuk dari lingkungan geografi alias semesta. Normal berdasarkan perilaku adalah seperti contoh di atas (berdasarkan jumlah atau the most common behaviour) yang normal ya yang dilakukan banyak org, klo berperilaku spt segelintir org akan dikatakan nyeleneh, aneh, bahkan "gila." Jadi, mungkin beda tipis antara yang aneh dan yang gila. Normal secara perseptual melibatkan hal-hal yg bersifat persepsi rasional.

Kondisi normal di satu kelompok masyarakat tidak bisa digeneralisasi sebagai kenormalan pada kelompok masyarakat yang lain. Terkadang, kelompok2 kecil dlm masyarakat dengan mudahnya mengkonstruksi definisi normal dan tidak normal sekehendak mereka sendiri dan aturan itu seolah-olah wajib berlaku bagi anggota kelompok kecilnya tsb. Sesuatu yang oleh kelompok masyarakat lain atau di belahan dunia lain dipandang normal, besar kemungkinan menjadi hal yang abnormal bagi sekelompok masyarakat lain.

Jika Anda kebetulan mengalami hal tersebut, terjepit dalam kondisi yang dipandang abnormal sementara Anda merasa baik2 saja, apa yang akan Anda lakukan? Berpikir utk tinggal di kelompok masyarakat lain yang menerima perilaku Anda sebagai sesuatu yang normal? Tetap tinggal dan mengubah perillaku Anda 180° seperti kebanyakan org dlm kelompok dimana Anda tinggal? Atau membuktikan pada mereka bahwa perilaku Anda sejatinya bukanlah sesuatu yang abnormal, hanya saja mereka yang butuh waktu lama memahami dan mereka belum menemukan definisi yg tepat? Tidak, saya tidak sedang membicarakan tentang orientasi seksual melainkan sebuah keadaan normal atau abnormal bilamana seseorang dipandang stres (tertekan) atau tidak stres.

Dalam konteks ini, stres cenderung membuat org membabibuta dalam kurun waktu tertentu sehingga membuat keadaan di sekitarnya semakin kacau. Tidak stres didefinisikan sbg kondisi yg stabil dan tdk membuat kekacauan keadaan di sekitarnya, mampu menjalani peran2 yg jamak dijalani org kebanyakan. Sekelompok kecil dlm masyarakat bisa saja salah mengkonstruksikan  kondisi abnormal atau stres pada seseorang yg di kelompok lain dipandang normal.

All we need to know is, the diversity is good. Manusia terlahir dg keunikan masing-masing. Mereka punya cara tersendiri menemukan jalan keluar permasalahannya, mereka butuh waktu yang tidak sama utk menuju kesana. Once again, don't rush to judge. This is how we're understanding human behaviour.

Thx to my lecturer Mr 윳숩  굴니아완

Saturday, May 12, 2007

YEARS AGO

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat is a deeply mystery, mystique and not just a myth. Sisa2 kemegahan masa silam mungkin hanya akan teraba oleh mereka yg memiliki kesempatan. I went on research for couple months during the preparation of Jogja annual tradition. Called Garebeg Mulud. Few days ago, Carlos Bayen Fernandez – researcher from Barcelona Espanol whom I met along the research years ago asking toward my research by electronic mail.

Jajaran pendopo agung dengan pilar2 kuno kokoh berdiri. Berlapis coklat dan kuning keemasan. Tepat tak jauh dari Gedong Kuning. Bangsal Kencono, begitu tulisan berukir dalam papan kecil itu terbaca. Sejurus aku melenggang, terperangkap dalam bangsal2 tak berarah. Langkahku terpatri di salah satu pintu banggsal yang agak paling ujung. Pintu yg menjuntai dan terbuka dg sendirinya.

Teronggok sebuah peti cantik berukir emas dengan dua tombak di dua sisinya. “Ambillah alas dua tombak itu maka kamu akan bisa!” entah darimana dtgnya suara itu. Dua buku itu kusam tapi bersinar. I was trying so hard 2pick up the book. I made it and I was fell. Buku itu bertulis huruf2 Hijaiyah. Tiba2 penutup peti pun terbuka. Tulang belulang manusia masih tersusun rapi. Sepertinya tulang belulang tubuh seorang pria. Sejurus kudapati riuh suara di luar bangsal. Puluhan abdi dalem wanita mondar-mandir menyunggi wakul dan bercanda riang. Kebaya putih plus jarit motif tulis. Aku mengintip dari balik pintu bangsal dan kudapati wajah mereka yang serupa. Tak berbentuk. Rata.

God sake, I woke up that night. Where did I stand? Did I still alive? Esoknya, aku berlari penasaran mencari bangsal dalam mimpi yang akhirnya tak kutemukan. Jawaban seorang abdi dalem pria tak cukup memuaskanku. Ada beberapa bangsal yg memang sengaja tidak dibuka utk umum. Bahkan aku jg tdk diperkenankan, alasannya tak cukup jelas.

Sore itu kami sengaja ke alun2 utk mengabadikan suasana pasar malam dg kameraku. Pasar Malam- dikenal dg istilah sekaten, digelar mengelilingi dua pohon beringin tua. Hal yg mengejutkan kudapati ketika aku mencetak bbrp lembar foto jepretanku. Di salah satu lembar foto tsb, tercetak selayang bayangan putih yg terangkai sbg gambar tengkorak kepala manusia. Bayen mengernyitkan dahi dan menudingku merekayasa foto tsb. Huh! How come!!! Aku, apalagi dia dan org lain, mgkn tak paham maksud kejadian2 itu. Adakah sebuah kehidupan masa lalu? Di tempat yang sama dan di gelaran tahunan yg sama? es un miystery!

Filsuf Jerman abad 17, Arthur Schopenhauer mengatakan, bukankah hidup dan mimpi berasal dari lembaran2 yg sama (…das Leben und der Traum kommt vom gleichen blatt…)
“Kebenaran yg datang padamu, kamu yakini, adalah kebenaran hakiki hidupmu, bukan hidup org lain. Kamu tak perlu berteriak lantang dan mengatakan pd dunia bahwa kamu sedang memegang apa yg kamu sebut kebenaran. Setiap org memegang kebenaran dg caranya sendiri, yg hakiki bagi dirinya sendiri. Mengoyak kebenaran org lain, sama halnya mengikis kebenaran diri sendiri. Bertahanlah pd apa yg kamu anggap benar tanpa perlu menyakiti org lain. Buat apa kamu terbang jika tempatmu bukan di awan. Buat apa kamu berlari jika kamu salah jalan…..” Gracias Bayen, lo tendré presente en mi mente!