Beberapa tahun silam, seorang teman wanita di kantor lama jaman magang kuliah pernah berujar, "Kamu itu jangan seperti katak dalam tempurung," ujar wanita yang saat itu berusia 35 tahun dan belum menikah. Mungkin, saat itu dia merasa pantas menasehati karyawan baru yg usianya jauh di bawah dia dg sepak terjang yg tak sebanding dgnya.
Saya yg bekerja di lantai 2 dan tdk banyak mengenal org2 yg ada di lantai 1. Jumlah karyawan yg bekerja di lantai 1 dan 2 saat itu mungkin tak sampai 100 org. Tapi entah mengapa saya enggan sksd. Kurang supel mungkin. Jadi setiap kali obrolan ttg si A si B si C ttg karyawan yg di luar lantai 2 ngga pernah "ngeh."
Bertahun2 berlalu, kabar terakhir yg saya terima dia masih bekerja di dalam perusahaan yg sama (cuma pindah anak perusahaan yg lebih kecil). Dia masih menekuni bidang yg sama, berpendidikan yg sama dan tdk ke mana-mana. Persis seperti katak dalam tempurung...
Terima kasih atas kalimat lecutannya si mbak, saya jd termotivasi berpindah2 kerja ke tempat yg lebih baik dan mau meneruskan pendidikan yg lebih tinggi.
Showing posts with label contemplation. Show all posts
Showing posts with label contemplation. Show all posts
Monday, October 2, 2017
Saturday, September 16, 2017
Catatan Syukur
Embun belum beranjak
membalut dendam kemarin
Tepat di antara kepergian itu
yang bisu
entah seharusnya indah
Sebaris kalimat
Catatan syukur
Di langit pagi
Terukir di tengah awan
Haruskah girang?
Atau meratap?
Bisikkan pada Tuhan
Kemarin, kupetik rembulan itu
Kugenggam
lalu kumainkan di tangan kanan
Tepat sebelum "Catatan Syukur"
terlihat di langit pagi
Pertanda baik?
Dendam harus luruh
membalut dendam kemarin
Tepat di antara kepergian itu
yang bisu
entah seharusnya indah
Sebaris kalimat
Catatan syukur
Di langit pagi
Terukir di tengah awan
Haruskah girang?
Atau meratap?
Bisikkan pada Tuhan
Kemarin, kupetik rembulan itu
Kugenggam
lalu kumainkan di tangan kanan
Tepat sebelum "Catatan Syukur"
terlihat di langit pagi
Pertanda baik?
Dendam harus luruh
Saturday, September 2, 2017
I'm Sorry Baby...
Wanita itu meregang nyawa. Sakit menahun dideritanya. Entah diagnosa apa.
Tetiba datang berkabar, ruhnya tak lagi bersatu dg raganya. Mimpi di malam itu.
Bukanlah doa siapa dalam tiupan takdir. Bukan!
Karena aku tak peduli masamu bersamanya.
Aku tak hendak bersorak jika dia tak lagi bersamamu.
Aku tak hendak berlari memelukmu jika dia pergi selamanya.
Aku hendak pergi meninggalkanmu.
Ke tempat di mana tak ada lagi jejak kita.
Di lorong waktu yg berputar seperti deret ukur.
Aku akan berlari kencang seperti kau merampas kemarinku.
Lalu berlagak tak tahu. Berdalih seperti sangkamu.
Aku akan terus pergi. Tanpa ingatan kemarin. Bersamamu.
Ya, kemarin. Ada tawa di awal jumpa. Menderu nafas yg terpagut.
Meluruh dinding yg beku. Memeluk senja berganti fajar.
Tanpa mengetuk tanpa sapa. Semua tiba-tiba. Semua apa-apa.
Semua... semua... dan semua.
Tetiba datang berkabar, ruhnya tak lagi bersatu dg raganya. Mimpi di malam itu.
Bukanlah doa siapa dalam tiupan takdir. Bukan!
Karena aku tak peduli masamu bersamanya.
Aku tak hendak bersorak jika dia tak lagi bersamamu.
Aku tak hendak berlari memelukmu jika dia pergi selamanya.
Aku hendak pergi meninggalkanmu.
Ke tempat di mana tak ada lagi jejak kita.
Di lorong waktu yg berputar seperti deret ukur.
Aku akan berlari kencang seperti kau merampas kemarinku.
Lalu berlagak tak tahu. Berdalih seperti sangkamu.
Aku akan terus pergi. Tanpa ingatan kemarin. Bersamamu.
Ya, kemarin. Ada tawa di awal jumpa. Menderu nafas yg terpagut.
Meluruh dinding yg beku. Memeluk senja berganti fajar.
Tanpa mengetuk tanpa sapa. Semua tiba-tiba. Semua apa-apa.
Semua... semua... dan semua.
Friday, September 1, 2017
Sederet Tentang Dia
Dia yang baru kukenal di pengujung tahun 2016
Dia yang ramah menyapa dan bertanya
Dia yang duduk bersebelahan dgku
Dia yang punya banyak cerita
tentang sejarah perusahaan
di mana kami bekerja
Dia yang punya banyak cerita
tentang org2 di dalam perusahaan
di mana kami bekerja
Dia yang selalu mengabarkan tentang dunia
Dia yang aq dpt cerita tentangnya dari yg lain
Dia yang didepak dari jabatan prestisnya
Dia yang merupakan teman mantan pimpinan saya
Dia yang sabar menerima keputusan
Dia yang menikmati hidup
ketika banyak orang mencibir kinerjanya
Dia yang mengalah dari ego
Dia yang selalu bertanya padaku,
hidup ini apa yang sejatinya kamu cari
hidup ini tinggal menunggu waktu tentang kebenaran
Dia yang telah melintas setengah abad
Dia yang bijak pada usianya
Tiba-tiba pergi tanpa kata
karena heart attack
di Hari Jumat nan mulia,
25 Agustus 2017 pk 06.30 WIB
Selamat jalan bapak..
Semoga engkau tenang di sisi-Nya..
Darimu, saya belajar sebuah hal besar. EGO
Hidup selalu dihadapkan pada pilihan.
Diam pun adalah pilihan. Bergerak mundur juga pilihan.
Seperti ceritamu tentang seorang kawan satu angkatanmu.
Disingkirkan dari jabatan prestis memilih mundur
lalu berwirausaha. Membawa dendam dan sakit hati.
Kamu berpesan padanya, kenapa tidak dijalani saja dulu
Hidup ini sejatinya mau cari apa? Itu katamu pdnya.
Tp kawanmu tetap pergi dan kini sukses dg usahanya.
Menjadi lebih baik memang harus melalui sederet rintangan.
Jgn lupa, konflik dibuat krn Tuhan ingin menguji dan kdg
di dalamnya Tuhan berkehendak mengangkat derajat manusia.
Jangan takut mengambil keputusan.
Hidup ini apa yg sejatinya kamu cari?
Saya ingin mencari damai dg cara saya, pak.
Dia yang ramah menyapa dan bertanya
Dia yang duduk bersebelahan dgku
Dia yang punya banyak cerita
tentang sejarah perusahaan
di mana kami bekerja
Dia yang punya banyak cerita
tentang org2 di dalam perusahaan
di mana kami bekerja
Dia yang selalu mengabarkan tentang dunia
Dia yang aq dpt cerita tentangnya dari yg lain
Dia yang didepak dari jabatan prestisnya
Dia yang merupakan teman mantan pimpinan saya
Dia yang sabar menerima keputusan
Dia yang menikmati hidup
ketika banyak orang mencibir kinerjanya
Dia yang mengalah dari ego
Dia yang selalu bertanya padaku,
hidup ini apa yang sejatinya kamu cari
hidup ini tinggal menunggu waktu tentang kebenaran
Dia yang telah melintas setengah abad
Dia yang bijak pada usianya
Tiba-tiba pergi tanpa kata
karena heart attack
di Hari Jumat nan mulia,
25 Agustus 2017 pk 06.30 WIB
Selamat jalan bapak..
Semoga engkau tenang di sisi-Nya..
Darimu, saya belajar sebuah hal besar. EGO
Hidup selalu dihadapkan pada pilihan.
Diam pun adalah pilihan. Bergerak mundur juga pilihan.
Seperti ceritamu tentang seorang kawan satu angkatanmu.
Disingkirkan dari jabatan prestis memilih mundur
lalu berwirausaha. Membawa dendam dan sakit hati.
Kamu berpesan padanya, kenapa tidak dijalani saja dulu
Hidup ini sejatinya mau cari apa? Itu katamu pdnya.
Tp kawanmu tetap pergi dan kini sukses dg usahanya.
Menjadi lebih baik memang harus melalui sederet rintangan.
Jgn lupa, konflik dibuat krn Tuhan ingin menguji dan kdg
di dalamnya Tuhan berkehendak mengangkat derajat manusia.
Jangan takut mengambil keputusan.
Hidup ini apa yg sejatinya kamu cari?
Saya ingin mencari damai dg cara saya, pak.
Status di Medsos Lebih Penting?
Knapa saya jadi geli sndiri...
Pagi itu mendapat banyak invitation melalui email dari sebuah medsos bernama Linked dari bbrp kawan. Saya bukan org yang memiliki tingkat kepercayaan diri yg cukup bagus. Mski kdg rasa pede itu muncul, tp sering diselimuti rasa bersalah.
Saya klik beberapa diantara profil2 mereka, ada yg bangga menampilkan citra diri dengan menulis sederet jabatan dari yg tahun kapan smpe yg kekinian. Ada yg bangga cuma dg menuliskan jabatan manager tapi entah kerja di perusahaan macam apa dan gaji berapa. Ada yg asal2an ato sekedarnya mendeskripsikan diri tapi sejatinya saya tau dia memiliki tugas dan salary yg bisa dibanggakan.
Apakah saya adalah bagian dari manusia lawas yg menilai kepedean seseorg dengan label alay? Kata seorang kawan senior di dunia politik, dalam politik org justru harus bisa "menjual diri" agar org mengenalmu. Asal jangan kelewat batas. Celakanya, batasnya ini berada dalam tolok ukur yg sangat subyektif.
Menjual diri sah-sah saja asal sebanding dg kenyataannya, kata dia. Nek kebangetan iku jenenge dodol abab. Saya jd ingat seorang kawan bernama Yessi yg saya kenal ketika di Seoul. Bagi saya dia wanita hebat. Kala itu, di akun FB nya dia hanya menyebut dirinya lulusan sebuah SMA swasta di Jkt. Wkt saya kenal, dia sdg menempuh beasiswa di Belanda yg sistem beasiswanya bukan full scholarship. Jurusan IT Bisnis. Kebetulan wkt itu dia lagi magang di Seoul 6 bulan. Kini dia bertunangan dg pria Prancis yg rupawan. Yessy tak pernah ubah status apapun di medsos, tp foto2nya cukup bercerita bahwa wanita sederhana itu bukan sembarangan wanita.
Tuesday, June 27, 2017
June 18th
Dua kado termanis 18 Juni 2017
Dari dua wanita "malaikat" Tuhan
Kebersamaan di Lauk Pauk
dengan saudara baru
menandai awal perjalananku
di karir yang lain
Pesan singkat dari jauh
yang memberiku tiket gratis
berjumpa kembali dengan baitullah
Terima kasih Yaa Allah...
Dari dua wanita "malaikat" Tuhan
Kebersamaan di Lauk Pauk
dengan saudara baru
menandai awal perjalananku
di karir yang lain
Pesan singkat dari jauh
yang memberiku tiket gratis
berjumpa kembali dengan baitullah
Terima kasih Yaa Allah...
Mataharimu
Mataharimu tlah terbenam
Ketika cakrawala menatap sepi
Juni tak datang hanya bersukacita
Ada Juli terpanggil menyerta duka
Jika masih tersisa makhluk sepertimu
Katakan pada sisa bulan di pengujung tahun
Segeralah beranjak dari mimpi
Mentarimu hanya elok di cakrawala pertama
Mungkin, malam pun murka
Mengintip cerita jiwa yang sesuka hati
Jika berharap cemara itu sempurna
Penantian harus kau bayar mahal
Ketika cakrawala menatap sepi
Juni tak datang hanya bersukacita
Ada Juli terpanggil menyerta duka
Jika masih tersisa makhluk sepertimu
Katakan pada sisa bulan di pengujung tahun
Segeralah beranjak dari mimpi
Mentarimu hanya elok di cakrawala pertama
Mungkin, malam pun murka
Mengintip cerita jiwa yang sesuka hati
Jika berharap cemara itu sempurna
Penantian harus kau bayar mahal
Tuesday, July 19, 2016
Walikotaku
Tentang walikotaku, TRH. Di sebuah ruang conference yang dipenuhi peserta dalam meja panjang, dia memanggil namaku dan menyuruhku duduk di sampingnya untuk mengerjakan sesuatu. Dia berbisik panjang. Aku mengangguk.
Di hari yang berbeda, dia terbaring di tempat tidur. Melepas baju atasan dan tinggal sehelai tanktop nenek yang longgar. Aku di sampingnya, dia menyuruhku memijat lengannya dan mendengar curhat tentang seharian pekerjaannya. Dia lelah. Dia ingin jeda dari smua aktivitas. Dia merasakan bahwa tubuhnya sakit dan tak akan bertahan lama. Apakah ini firasat jika dia akan pergi ke ibukota? Menuju sebuah ambisi yang lebih besar. Ambisi yang ia kata bukanlah mewakili keinginannya, melainkan atas nama partai.
Di hari yang berbeda, dia terbaring di tempat tidur. Melepas baju atasan dan tinggal sehelai tanktop nenek yang longgar. Aku di sampingnya, dia menyuruhku memijat lengannya dan mendengar curhat tentang seharian pekerjaannya. Dia lelah. Dia ingin jeda dari smua aktivitas. Dia merasakan bahwa tubuhnya sakit dan tak akan bertahan lama. Apakah ini firasat jika dia akan pergi ke ibukota? Menuju sebuah ambisi yang lebih besar. Ambisi yang ia kata bukanlah mewakili keinginannya, melainkan atas nama partai.
Label:
contemplation,
discuss,
dream,
gado-gado,
my thoughts,
occurence,
work
Monday, June 20, 2016
Rindu Tanah Air
Musim dingin ini lebih lama
hingga siang terasa singkat
Tubuh setebal berjaket-jaket
Kaki tertutup tinggi
Sepatu-sepatu kulit nan hangat
Tak ada adzan bersaut-saut
Seperti negeriku yang ramah
Semua berjalan cepat, menengadah
Tegak serupa congkak
Tak tengok siapa kiri kanan
Embun menyerta di mulut setiap cakap
Dingin. Beku.
Kulit terasa pecah berdarah
Ah, perapian kayu ini tiba2 menjadi mahal
Harusnya bertumpuk kayu kubeli
Jauh sebelum dingin tak bersahabat
Harusnya mesin pendingin penuh makanan
Jauh sebelum bongkah es meremukkan tulang
Akankah aku bertahan di sini
hingga siang terasa singkat
Tubuh setebal berjaket-jaket
Kaki tertutup tinggi
Sepatu-sepatu kulit nan hangat
Tak ada adzan bersaut-saut
Seperti negeriku yang ramah
Semua berjalan cepat, menengadah
Tegak serupa congkak
Tak tengok siapa kiri kanan
Embun menyerta di mulut setiap cakap
Dingin. Beku.
Kulit terasa pecah berdarah
Ah, perapian kayu ini tiba2 menjadi mahal
Harusnya bertumpuk kayu kubeli
Jauh sebelum dingin tak bersahabat
Harusnya mesin pendingin penuh makanan
Jauh sebelum bongkah es meremukkan tulang
Akankah aku bertahan di sini
Label:
contemplation,
dream,
lifestyle,
my thoughts,
occurence,
school,
work
Sunday, June 19, 2016
American Culture
"American Culture" - a book he gave to me in my dream last night.
Dia (P.Naya) almarhum dosen pengajar mata kuliah "HASB" pas kuliah. Sumpah bukunya bagus banget, hard cover, colorful.
Tapi belum sempet buka tiba-tiba satu lagi dosen kuliah saya Sri Moerdijati memanggil dan hendak memberikan buku Komunikasi AntarBangsa lalu mempersilahkan saya memilih koleksi yang lebih lengkap tapi di rumahnya.
America. The country that I've never been visited ever! Semoga ini firasat baik.
Dia (P.Naya) almarhum dosen pengajar mata kuliah "HASB" pas kuliah. Sumpah bukunya bagus banget, hard cover, colorful.
Tapi belum sempet buka tiba-tiba satu lagi dosen kuliah saya Sri Moerdijati memanggil dan hendak memberikan buku Komunikasi AntarBangsa lalu mempersilahkan saya memilih koleksi yang lebih lengkap tapi di rumahnya.
America. The country that I've never been visited ever! Semoga ini firasat baik.
Label:
contemplation,
dream,
gado-gado,
lifestyle,
my thoughts,
occurence,
song,
work
Wednesday, May 11, 2016
Skip Dagangan Model Spam
Adakah cara berjualan yang lebih elegan di era digital ini selain broadcast message di BBM/WA ato invite group? Tak sedikit orang yang menginginkan cara instan agar dagangannya cepet laku. Tapi jangan lupa, tak sedikit pula yang jengah dijejali informasi dg cara seperti itu.
Ada banyak media yang bisa dimanfaatkan. Klo mau gratisan, buatlah akun di jejaring sosial. Hargai kenyamanan org lain. Ketika sebuah model berjualan sudah menjadi jamak, org akan jenuh sehingga ketika mendapat penawaran serupa akan dianggap sebagai spam.
Saya akan lebih menghargai model berjualan dengan mengganti DP BBM pd akun pribadi seseorang, meskipun cara konservatif ini juga menjemukan. Namun, ini lebih menghargai privacy orang lain ketimbang broadcast message (BM) dagangan spam.
Beruntung teknologi BBM saat ini dilengkapi dg fitur "hide all feed /hide display picture feed" - Anda tinggal pilih dan klik, maka Anda tdk lagi mendapatkan update status/DP teman di akun BBM Anda tanpa harus delete contact.
Ada banyak media yang bisa dimanfaatkan. Klo mau gratisan, buatlah akun di jejaring sosial. Hargai kenyamanan org lain. Ketika sebuah model berjualan sudah menjadi jamak, org akan jenuh sehingga ketika mendapat penawaran serupa akan dianggap sebagai spam.
Saya akan lebih menghargai model berjualan dengan mengganti DP BBM pd akun pribadi seseorang, meskipun cara konservatif ini juga menjemukan. Namun, ini lebih menghargai privacy orang lain ketimbang broadcast message (BM) dagangan spam.
Beruntung teknologi BBM saat ini dilengkapi dg fitur "hide all feed /hide display picture feed" - Anda tinggal pilih dan klik, maka Anda tdk lagi mendapatkan update status/DP teman di akun BBM Anda tanpa harus delete contact.
Thursday, December 31, 2015
Separo Perjalanan
Masih separo perjalanan
Ketika ujung jalan belumlah nampak
Daun pun belum mengering
Mungkin, ia baru saja gugur
Aroma tanah samar tercium hujan
Ah, rasanya sudah seribu kali kulalui
perjalanan serupa ini
Bukankah Tuhan pernah berjanji
Jika sayapmu sudah cukup kuat
Engkau bisa terbang
Ke manapun benih gandum
kau tebar di muka bumi
Jika kini, hanya kaki yang kau kuatkan
Engkau hanya bisa berjalan dan berlari
Bersabarlah...
Akan ada masa di mana kaki dan sayapmu
Tegak berdiri, terbang berputar
menjemput mimpi di sana
Ketika ujung jalan belumlah nampak
Daun pun belum mengering
Mungkin, ia baru saja gugur
Aroma tanah samar tercium hujan
Ah, rasanya sudah seribu kali kulalui
perjalanan serupa ini
Bukankah Tuhan pernah berjanji
Jika sayapmu sudah cukup kuat
Engkau bisa terbang
Ke manapun benih gandum
kau tebar di muka bumi
Jika kini, hanya kaki yang kau kuatkan
Engkau hanya bisa berjalan dan berlari
Bersabarlah...
Akan ada masa di mana kaki dan sayapmu
Tegak berdiri, terbang berputar
menjemput mimpi di sana
Monday, December 28, 2015
Kebaikan
Taukah kau dari mana datangnya kebaikan? Dari kebaikan yang lain. Kejutan2 manis dalam hidup saya, sering berasal dari orang2 yg tak terduga tanpa pernah diminta. Mereka memberi inspirasi dalam hidup saya agar selalu memberi.
Terlepas dari apa profesi saya di masa lampau, dan apa tendensi pemberi kebaikan tsb pada saya, bagi saya kebaikan tetap saja kebaikan. Tiba2 saja, di saat perpisahan saya dikado Ballpoint Parker oleh seorang teman sekaligus "guru." Tiba-tiba saja pesta karaoke disiapkan seorang anggota dewan utk perpisahan saya dg teman2, atau tiba2 saja ada traktiran makan di mal yg disiapkan utk perpisahan saya oleh seorang kawan.
Tiba2 yang lain, sebelum saya berangkat umroh diberi seperangkat baju muslim dan jilbab cantik oleh seorang kawan wanita yang baru saya kenal. Seorang pedagang laki2 di Mekkah yang kemudian memberi saya baju gamis Arab cuma2 tanpa menuntut saya jadi istrinya. Padahal saya ngga jadi beli di toko itu. Dia memberikan tas kresek berisi gamis, lengkap dengan peci Arab warna putih, lalu tersenyum dg mengangguk isyarat bahwa saya boleh keluar dari tokonya tanpa membayar. Saya bengong lalu tersenyum berkata sukran Alhamdulillah.
Atau tiba2 lainnya, saya mendapatkan native guide pada saat lost in Seoul. Kawan baru saya itu menemani saya ke setiap titik Seoul dan menolak imbalan sepeserpun. Malah beberapa kali makan, dia yang bayar. Gomawo oppa! Thx God, I wasn't that lost and I was the happiest backpacker. Congmal! ^^
Tuhan telah demikian banyak memberi. Tak perlu menunda kebaikan pada saat hati terketuk. Percayalah, kejutan manis itu akan kembali padamu. Mungkin bukan dari dia yang kau beri kebaikan, tapi dari orang lain. Indeed, God has many invisible hand.
Terlepas dari apa profesi saya di masa lampau, dan apa tendensi pemberi kebaikan tsb pada saya, bagi saya kebaikan tetap saja kebaikan. Tiba2 saja, di saat perpisahan saya dikado Ballpoint Parker oleh seorang teman sekaligus "guru." Tiba-tiba saja pesta karaoke disiapkan seorang anggota dewan utk perpisahan saya dg teman2, atau tiba2 saja ada traktiran makan di mal yg disiapkan utk perpisahan saya oleh seorang kawan.
Tiba2 yang lain, sebelum saya berangkat umroh diberi seperangkat baju muslim dan jilbab cantik oleh seorang kawan wanita yang baru saya kenal. Seorang pedagang laki2 di Mekkah yang kemudian memberi saya baju gamis Arab cuma2 tanpa menuntut saya jadi istrinya. Padahal saya ngga jadi beli di toko itu. Dia memberikan tas kresek berisi gamis, lengkap dengan peci Arab warna putih, lalu tersenyum dg mengangguk isyarat bahwa saya boleh keluar dari tokonya tanpa membayar. Saya bengong lalu tersenyum berkata sukran Alhamdulillah.
Atau tiba2 lainnya, saya mendapatkan native guide pada saat lost in Seoul. Kawan baru saya itu menemani saya ke setiap titik Seoul dan menolak imbalan sepeserpun. Malah beberapa kali makan, dia yang bayar. Gomawo oppa! Thx God, I wasn't that lost and I was the happiest backpacker. Congmal! ^^
Tuhan telah demikian banyak memberi. Tak perlu menunda kebaikan pada saat hati terketuk. Percayalah, kejutan manis itu akan kembali padamu. Mungkin bukan dari dia yang kau beri kebaikan, tapi dari orang lain. Indeed, God has many invisible hand.
Friday, December 11, 2015
Mutasi
Hampir setiap minggu baca email resignation dari teman2. "TERIMA KASIH DAN MOHON PAMIT" -- begitu subjeknya.
Pada banyak alasan pengunduran diri, mutasi sering menjadi penyebabnya. Terutama jika mutasi tersebut tidak disertai kenaikan jenjang karir yang jelas, dan dengan parameter yang jelas pula. Orang2 yg merasa telah mengabdi cukup lama namun tak ada perubahan jenjang karir, sering memilih cara ini.
Perusahaan kami adalah perusahaan multinasional, yg seharusnya sejak awal rekrutmen mereka paham akan kemungkinan mutasi lintas kota di Indonesia. Apalagi sejak tahun lalu perusahaan kami ekspansi ke Filipina. Maka gelombang mutasi ke sana pun terbuka.
Namun, pada orang2 yang telah menemukan zona nyaman maka mutasi selalu dilihat sebagai ancaman. Apalagi bagi mereka yang telah berkeluarga dan istri/suaminya bekerja di kota yg sama selama ini. Bakal hidup berjauhan dg keluarga menjadi sangat tidak enak. Begitu komentar yg sering saya dengar.
Pada banyak kasus, perusahaan sering tidak menyoal pengunduran diri karyawannya kecuali dia adalah karyawan istimewa dan alasan pengunduran dirinya tdk cukup kuat. Dalih perusahaan, di luar sana ada banyak pelamar kerja yang memiliki kualifikasi lebih bagus dan mau digaji lebih rendah serta mau dimutasi ke mana saja, jadi lepaskan saja.
Alasan lain pengunduran diri adalah soal gaji hingga kenyamanan lingkungan kerja. Klo bilang soal gaji bisa jadi sangat relatif. Sebagai karyawan, saya sepakat jika gaji bukan semata2 alasan seseorang mengundurkan diri dari pekerjaan. Sindrom "tired complex" lebih sering mencuat. Lelah karena lingkungan pekerjaan alias org2nya, lelah dg perlakuan manajemen, lelah dg sistem yang diterapkan perusahaan, lelah dg beban pekerjaan, yang ujung2nya beban kerja dianggap tidak sesuai dengan gaji.
Segala macam kompromi tentu pernah dijalani hingga seseorang mencapai satu masa di mana kompromi itu memang harus diakhiri dalam satu kata bernama titik jenuh. It's ok not to be ok... Setiap orang mengalami fase up and down, dan hanya mereka yang berani memutuskan dan terus mencoba yang akan mengalami perubahan nasib yang lebih baik. Seperti kata Mario Teguh, setiap org memiliki jatah gagal. Habiskan jatah gagalmu di masa muda.
*Setidaknya, saya selalu merasa muda utk menimba ilmu dalam sekolah kehidupan ini
Pada banyak alasan pengunduran diri, mutasi sering menjadi penyebabnya. Terutama jika mutasi tersebut tidak disertai kenaikan jenjang karir yang jelas, dan dengan parameter yang jelas pula. Orang2 yg merasa telah mengabdi cukup lama namun tak ada perubahan jenjang karir, sering memilih cara ini.
Perusahaan kami adalah perusahaan multinasional, yg seharusnya sejak awal rekrutmen mereka paham akan kemungkinan mutasi lintas kota di Indonesia. Apalagi sejak tahun lalu perusahaan kami ekspansi ke Filipina. Maka gelombang mutasi ke sana pun terbuka.
Namun, pada orang2 yang telah menemukan zona nyaman maka mutasi selalu dilihat sebagai ancaman. Apalagi bagi mereka yang telah berkeluarga dan istri/suaminya bekerja di kota yg sama selama ini. Bakal hidup berjauhan dg keluarga menjadi sangat tidak enak. Begitu komentar yg sering saya dengar.
Pada banyak kasus, perusahaan sering tidak menyoal pengunduran diri karyawannya kecuali dia adalah karyawan istimewa dan alasan pengunduran dirinya tdk cukup kuat. Dalih perusahaan, di luar sana ada banyak pelamar kerja yang memiliki kualifikasi lebih bagus dan mau digaji lebih rendah serta mau dimutasi ke mana saja, jadi lepaskan saja.
Alasan lain pengunduran diri adalah soal gaji hingga kenyamanan lingkungan kerja. Klo bilang soal gaji bisa jadi sangat relatif. Sebagai karyawan, saya sepakat jika gaji bukan semata2 alasan seseorang mengundurkan diri dari pekerjaan. Sindrom "tired complex" lebih sering mencuat. Lelah karena lingkungan pekerjaan alias org2nya, lelah dg perlakuan manajemen, lelah dg sistem yang diterapkan perusahaan, lelah dg beban pekerjaan, yang ujung2nya beban kerja dianggap tidak sesuai dengan gaji.
Segala macam kompromi tentu pernah dijalani hingga seseorang mencapai satu masa di mana kompromi itu memang harus diakhiri dalam satu kata bernama titik jenuh. It's ok not to be ok... Setiap orang mengalami fase up and down, dan hanya mereka yang berani memutuskan dan terus mencoba yang akan mengalami perubahan nasib yang lebih baik. Seperti kata Mario Teguh, setiap org memiliki jatah gagal. Habiskan jatah gagalmu di masa muda.
*Setidaknya, saya selalu merasa muda utk menimba ilmu dalam sekolah kehidupan ini
Friday, July 31, 2015
Warna
Warna tertentu identik dg partai politik (parpol) tertentu. Meski tak ada paten resmi atas sebuah warna dan afiliasi parpol, namun publik menjadikan hal itu sebagai pengetahuan jamak yang tidak tertulis.
Seperti insiden kecil berikut ini. Perusahaan kami mengajak Pak Gubernur untuk meresmikan acara. Dibuatlah backdrop untuk panggung dan segala macamnya. Tentu saja semua memakai identitas alias logo perusahaan kami. Serba merah.
Setelah semua jadi, pada H-2 tiba-tiba Pak Gub minta revisi warna menjadi biru. Keseluruhan. Jadi kelabakan deh.. Baru nyadar klo warna merah identik dengan Partai PDIP, sementara Pak Gub berasal dari Partai Demokrat yang serba biru. Tapi pak, ini kan bukan acara parpol? Saat ini juga belum masuk musim pilgub di provinsi ini.
Baru nyadar lagi klo warna biru adalah simbol warna kompetitor perusahaan kami selama ini. Hahah.. Tapi pak, perusahaan kita ngga ada rencana ganti warna biru. Rebranding kemaren tetep dominan merah ^^
Seperti insiden kecil berikut ini. Perusahaan kami mengajak Pak Gubernur untuk meresmikan acara. Dibuatlah backdrop untuk panggung dan segala macamnya. Tentu saja semua memakai identitas alias logo perusahaan kami. Serba merah.
Setelah semua jadi, pada H-2 tiba-tiba Pak Gub minta revisi warna menjadi biru. Keseluruhan. Jadi kelabakan deh.. Baru nyadar klo warna merah identik dengan Partai PDIP, sementara Pak Gub berasal dari Partai Demokrat yang serba biru. Tapi pak, ini kan bukan acara parpol? Saat ini juga belum masuk musim pilgub di provinsi ini.
Baru nyadar lagi klo warna biru adalah simbol warna kompetitor perusahaan kami selama ini. Hahah.. Tapi pak, perusahaan kita ngga ada rencana ganti warna biru. Rebranding kemaren tetep dominan merah ^^
Sunday, July 26, 2015
Donasi Konsumen
Menjadi konsumen cerdas emang susah. Ngga cuma teliti sebelum membeli, tapi juga ngga gampang tergiur promo menjebak. Ngga cuma itu, mjd bijak thdp uang kembalian belanja jg penting.
Ke mana larinya uang kembalian belanja konsumen, perlu ditelusuri. Ngga susah kok, kan uda kebantu ama google dan official website ritel yg bersangkutan.
Seperti yang lagi rame sekarang, itu tuh donasi kembalian belanja. Banyak konsumen suka kesel klo ditodong kasir pas uang kembalian belanjanya diminta didonasikan. Yang sering kena celaan biasanya minimarket.
Ngga seberapa emang nilainya, tp konsumen tiba2 kebayang jumlah jaringan minimarket yg mencapai puluhan ribu maka mereka kebakaran jenggot ketika ngga tau persis bentuk pertanggungjawabannya.
Lah, harusnya kan bisa ditelusuri? Cek official websitenya, cek berita2 dari google. Tinggal searching semuanya ada kok. Ngga perlu teriak² di socmed kek orang tolol, lagian tu duit yg namanya uda dipake amal ya tgjwb qt ama Tuhan. Pahala buat qt.
Coba deh iseng2 googling soal pertanggungjawaban donasi konsumen, uda banyak kok media yang melansir beritanya. Yayasan yang ditunjuk buat mengelola donasi tsb juga jelas.
Kadang, orang hanya fokus ama ritel2 gd yang berjaringan seperti Giant, Carrefour, Hypermart, Alfamart, Alfamidi serta Indomaret. Coba donk gw aja sering ngalamin raibnya uang kembalian belanja klo pas bayar di restoran ato toko2 baju dan toko2 aksesori di mal2.
Ngga besar emang, cuma 100-300 perak tapi kasirnya diem aja pura² bego ngga ngasi kembalian. Awalnya kesel, tapi yaudalaya buat tips elu. Toh gw ngasi segitu juga ngga bakal bikin gw miskin.
Gw yakin bkn cuma gw yg ngalamin kek beginian. Tapi apa dibikin rame? Konsumen pura² bego klo gini. Padahal jelas2 itu bukan donasi resmi tp masuk ke kantong pribadi.
Giliran ritel berjaringan aja langsung koar2, padahal pertanggungjawabannya jelas. Disaksiin notaris, dinsos, media, dan satu hal lagi, duit itu ngga pernah masuk ke kantong pribadi pengusaha ritel tsb.
Klo mau fair, jadilah yayasan yg siap mengelola donasi tsb. Bikin program yg feasible dan ajuin proposal, lalu presentasiin di depan manajemen ritel yang dipilih. Klo program lu bagus pasti bakal dipilih kok. Jangan salah, yayasan yg mengelola donasi konsumen itu fee-nya bisa nyampe 40% loh. Buat biaya operasional. Pertanggungjawabannya juga harus jelas. Ada rinciannya detil. Pernah baca? Terlibat juga.
Bukan maksud gw sotoy, tp sebelum koar2 sebaiknya dicek dulu. Sebelum ngritik yang ngga jelas juntrungannya, sebaiknya investigasi dulu. Jangan cuma ngasi laporan kejadian tapi tanpa ngasi solusi. Geli aja bacanya.
Klo ada kasir nakal, misalnya bilang donasi tapi masuk kantong pribadi, itu jelas perusahannya kaga taulah! Ya mana mgkn perusahaan gd melegalkan penipuan konsumen? Yg bener aja masbro! Klo ketahuan pasti bakal disanksi. Jadi ngga usa lebay deh!
Krywn perusahaan ritel aja sering byk ketipu kasir. Fasilitas diskon karyawan dipake belanja ama org lain sesama karyawan. Kok bisa? Bisa banget. Kasir tinggal input NIK (Nomor Induk Karyawan) doank.
Coba aja ketik NIK internal secara random. Bisa. Tp jgn salah, pemilik NIK yg sebenarnya bakal diinfo via email. Klo ngga ngerasa belanja tapi diskonnya kepake, bisa komplain. Tinggal diliat aja kode struknya, di maka lokasi tokonya bakal kelacak, kapan, jam berapa, siapa kasirnya, dan apa produk yg dibelinya. Kan juga ada CCTV di deket kasir.
Klo mau usaha buat memperkarakan yg begituan ya bisa banget. Cuma, kadang the power or ikhlas lebih sering bicara. Berapa sih gaji anak2 toko? Apa ya tega gara2 duit ngga seberapa tp ngliat mereka kena SP atau pecat?
Ini kejadian juga pas naik taksi BlueBird dari Bandara Soetta ke kos di daerah BMR Cikokol. Jam 23.15 turun dari pesawat, antre Blue Bird. Pas masuk taksi bilang ke sopir "Bang, BMR Cikokol tau ya? Belakang Transmart" "Iya neng" Pas uda keluar bandara, eh dia minta dipandu rutenya.
Alhasil krn sama2 ngga tau jalan, gw dibawa puter2 smpe argo bengkak jadi Rp 200.000. Mana di tengah jalan ujan deres dan sopir pura2 kencing di deket pohon pula. Tau sendiri alas di daerah Cengkareng sepinya kek apa. Sempet mikir buruk dikuntit komplotannya, ternyata itu trik buat bengkakin argo.
Kata sopir Blue Bird laennya pas gw naik bbrp hari kemudian, gw cerita dan dia saranin komplain aja ke call center Blue Bird. Sopir tsb bisa kena sanksi skors 1 th ngga boleh narik krn bikin konsumen kecewa dg argo yg bengkak. Tinggal sebut tgl dan waktu kejadian serta nomor lambung dan ama sopirnya. Waduh, kesian amat donk 1 th ngga gajian? Yaudala pak, gw ikhlas. Biar Tuhan aja yang bekerja terhadap niat buruknya ^^
Ke mana larinya uang kembalian belanja konsumen, perlu ditelusuri. Ngga susah kok, kan uda kebantu ama google dan official website ritel yg bersangkutan.
Seperti yang lagi rame sekarang, itu tuh donasi kembalian belanja. Banyak konsumen suka kesel klo ditodong kasir pas uang kembalian belanjanya diminta didonasikan. Yang sering kena celaan biasanya minimarket.
Ngga seberapa emang nilainya, tp konsumen tiba2 kebayang jumlah jaringan minimarket yg mencapai puluhan ribu maka mereka kebakaran jenggot ketika ngga tau persis bentuk pertanggungjawabannya.
Lah, harusnya kan bisa ditelusuri? Cek official websitenya, cek berita2 dari google. Tinggal searching semuanya ada kok. Ngga perlu teriak² di socmed kek orang tolol, lagian tu duit yg namanya uda dipake amal ya tgjwb qt ama Tuhan. Pahala buat qt.
Coba deh iseng2 googling soal pertanggungjawaban donasi konsumen, uda banyak kok media yang melansir beritanya. Yayasan yang ditunjuk buat mengelola donasi tsb juga jelas.
Kadang, orang hanya fokus ama ritel2 gd yang berjaringan seperti Giant, Carrefour, Hypermart, Alfamart, Alfamidi serta Indomaret. Coba donk gw aja sering ngalamin raibnya uang kembalian belanja klo pas bayar di restoran ato toko2 baju dan toko2 aksesori di mal2.
Ngga besar emang, cuma 100-300 perak tapi kasirnya diem aja pura² bego ngga ngasi kembalian. Awalnya kesel, tapi yaudalaya buat tips elu. Toh gw ngasi segitu juga ngga bakal bikin gw miskin.
Gw yakin bkn cuma gw yg ngalamin kek beginian. Tapi apa dibikin rame? Konsumen pura² bego klo gini. Padahal jelas2 itu bukan donasi resmi tp masuk ke kantong pribadi.
Giliran ritel berjaringan aja langsung koar2, padahal pertanggungjawabannya jelas. Disaksiin notaris, dinsos, media, dan satu hal lagi, duit itu ngga pernah masuk ke kantong pribadi pengusaha ritel tsb.
Klo mau fair, jadilah yayasan yg siap mengelola donasi tsb. Bikin program yg feasible dan ajuin proposal, lalu presentasiin di depan manajemen ritel yang dipilih. Klo program lu bagus pasti bakal dipilih kok. Jangan salah, yayasan yg mengelola donasi konsumen itu fee-nya bisa nyampe 40% loh. Buat biaya operasional. Pertanggungjawabannya juga harus jelas. Ada rinciannya detil. Pernah baca? Terlibat juga.
Bukan maksud gw sotoy, tp sebelum koar2 sebaiknya dicek dulu. Sebelum ngritik yang ngga jelas juntrungannya, sebaiknya investigasi dulu. Jangan cuma ngasi laporan kejadian tapi tanpa ngasi solusi. Geli aja bacanya.
Klo ada kasir nakal, misalnya bilang donasi tapi masuk kantong pribadi, itu jelas perusahannya kaga taulah! Ya mana mgkn perusahaan gd melegalkan penipuan konsumen? Yg bener aja masbro! Klo ketahuan pasti bakal disanksi. Jadi ngga usa lebay deh!
Krywn perusahaan ritel aja sering byk ketipu kasir. Fasilitas diskon karyawan dipake belanja ama org lain sesama karyawan. Kok bisa? Bisa banget. Kasir tinggal input NIK (Nomor Induk Karyawan) doank.
Coba aja ketik NIK internal secara random. Bisa. Tp jgn salah, pemilik NIK yg sebenarnya bakal diinfo via email. Klo ngga ngerasa belanja tapi diskonnya kepake, bisa komplain. Tinggal diliat aja kode struknya, di maka lokasi tokonya bakal kelacak, kapan, jam berapa, siapa kasirnya, dan apa produk yg dibelinya. Kan juga ada CCTV di deket kasir.
Klo mau usaha buat memperkarakan yg begituan ya bisa banget. Cuma, kadang the power or ikhlas lebih sering bicara. Berapa sih gaji anak2 toko? Apa ya tega gara2 duit ngga seberapa tp ngliat mereka kena SP atau pecat?
Ini kejadian juga pas naik taksi BlueBird dari Bandara Soetta ke kos di daerah BMR Cikokol. Jam 23.15 turun dari pesawat, antre Blue Bird. Pas masuk taksi bilang ke sopir "Bang, BMR Cikokol tau ya? Belakang Transmart" "Iya neng" Pas uda keluar bandara, eh dia minta dipandu rutenya.
Alhasil krn sama2 ngga tau jalan, gw dibawa puter2 smpe argo bengkak jadi Rp 200.000. Mana di tengah jalan ujan deres dan sopir pura2 kencing di deket pohon pula. Tau sendiri alas di daerah Cengkareng sepinya kek apa. Sempet mikir buruk dikuntit komplotannya, ternyata itu trik buat bengkakin argo.
Kata sopir Blue Bird laennya pas gw naik bbrp hari kemudian, gw cerita dan dia saranin komplain aja ke call center Blue Bird. Sopir tsb bisa kena sanksi skors 1 th ngga boleh narik krn bikin konsumen kecewa dg argo yg bengkak. Tinggal sebut tgl dan waktu kejadian serta nomor lambung dan ama sopirnya. Waduh, kesian amat donk 1 th ngga gajian? Yaudala pak, gw ikhlas. Biar Tuhan aja yang bekerja terhadap niat buruknya ^^
Thursday, July 23, 2015
Haters Gonna Hate
W : "Gw follow akun hatersnya BS ama MJ donk, seru aja nyela mereka di IG. Salah sendiri heboh banget. Lagian comment2 haters itu juga pada bikin ngakak," ujar seorang teman yg jujur bikin gw kaget. Dulu gw kenal dia sebagai anak baik, pendiam, ringan tangan, ngga banyak tingkah, royal ama temen. But suddenly she became a hater? Hmm... I think that it's not all of a sudden.
Gw : "Emang lu kenal BS ama MJ?"
W : "Kenal lewat media doank"
Gw : "Pernah ikut comment?"
W : "Mayan sering"
Gw : "Trus, lu segitu bencinya meski ngga kenal deket?"
W : "Ngga siy, buat seru2an doank. Habis mereka norak"
Jadi geli sndiri. Sori, gw juga ngga ngefans ko ama mereka bedua. Tapi ngga benci juga. Haters seharusnya terjadi pada para ababil, ABG labil alias ABG alay yang tekunnya cuma belajar socmed. ABG sinting yang memuja sekolah Facebook, Twitter, Path, Instagram, etc. Jujur, fenomena haters emang unik. Mencuat seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi. Pionirnya mungkin saja generasi Z ato anak2 yg addicted to gadget. Tapi diamini oleh generasi terdahulunya, termasuk generasi X dan Y ato bahkan generasi baby boomers, hahah.. (tentu dg sasaran yg beda).
Bagi gw, haters itu luar biasa. Mereka rela buang2 waktu dan pikiran untuk hal yang ngga penting : Ngurusin masalah orang lain. Well, became a negative people sometimes really pathetic for someone else. Yakeles klo otaknya diisi hal2 penting doank, pasti ngga bakal ada waktu ngepoin dan comment jahat soal aktivitas orang dari akun media sosialnya. Sebab ngasi comment pasti perlu mikir. Jujur, gw juga banyak follow akun public figure baik di IG maupun Twitter. Tapi klo postingannya ngga banyak ngasi inspirasi ya tinggal unfollow doank.
Hidup ini uda terlalu capek mikirin masalah sendiri, apalagi masalah orang lain. Ngga sanggup. Klo ngga bisa bantu, minimal jangan mencela. Klo ngga bisa bikin orang senyum, minimal jangan bikin dia bete. Bolehlah comment klo kegiatan si public figure itu pake duit rakyat tapi impact nya ngga ada. Bisanya omdo tapi otak kosong. Silahkan mengkritisi dan kasi solusi. Sebab cuma org bego yg bisa ngritik tanpa solusi. Bisanya nyampah doank di socmed. Sayang banget kan.
Suka-suka dia, hidup dia, duit dia, makan juga ngga minta ama lu. See? Toh ketika lu jd haters, lu ngga bakal lebih baik dari orang yang lu benci. Percaya deh. Sebab orang yang hidupnya uda lebih baik, dia ngliatnya juga posthink ke depan. Kata orang Buddha/Hindu, awas karma. Kata ajaran Islam, istilah karma ngga ada tapi makna yang seperti karma ada. Sebab Tuhan dan semesta menghitung setiap inci perbuatan kita dimulai dari hati.
Wait, I'm not going to preach yo anyway. Tapi percayalah, bikin orang sakit hati dan sedih itu karmanya juga luar biasa. Seperti yg gw kasi contoh soal temen gw itu, dia pernah ngalamin diteror mati2an lewat SMS dan telp ama mantan istri pacarnya dan org2 suruhannya. Sedih banget donk, secara bertahun2 sampe2 temen gw itu hrs resign dari pekerjaannya. Gw yang denger malah ikutan sedih. Lama ngga ketemu, tapi sekalinya denger kabar kek gitu.
Sometimes, we're hard to remember what we have been doing. We're hard to understand how pain people feel because of our acts until we feel the same pain. Kata Tuhan, sebaik2 manusia adalah ia yang selalu melakukan introspeksi diri dari setiap kejadian yang menimpanya. Not to blame others.
Gw : "Emang lu kenal BS ama MJ?"
W : "Kenal lewat media doank"
Gw : "Pernah ikut comment?"
W : "Mayan sering"
Gw : "Trus, lu segitu bencinya meski ngga kenal deket?"
W : "Ngga siy, buat seru2an doank. Habis mereka norak"
Jadi geli sndiri. Sori, gw juga ngga ngefans ko ama mereka bedua. Tapi ngga benci juga. Haters seharusnya terjadi pada para ababil, ABG labil alias ABG alay yang tekunnya cuma belajar socmed. ABG sinting yang memuja sekolah Facebook, Twitter, Path, Instagram, etc. Jujur, fenomena haters emang unik. Mencuat seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi. Pionirnya mungkin saja generasi Z ato anak2 yg addicted to gadget. Tapi diamini oleh generasi terdahulunya, termasuk generasi X dan Y ato bahkan generasi baby boomers, hahah.. (tentu dg sasaran yg beda).
Bagi gw, haters itu luar biasa. Mereka rela buang2 waktu dan pikiran untuk hal yang ngga penting : Ngurusin masalah orang lain. Well, became a negative people sometimes really pathetic for someone else. Yakeles klo otaknya diisi hal2 penting doank, pasti ngga bakal ada waktu ngepoin dan comment jahat soal aktivitas orang dari akun media sosialnya. Sebab ngasi comment pasti perlu mikir. Jujur, gw juga banyak follow akun public figure baik di IG maupun Twitter. Tapi klo postingannya ngga banyak ngasi inspirasi ya tinggal unfollow doank.
Hidup ini uda terlalu capek mikirin masalah sendiri, apalagi masalah orang lain. Ngga sanggup. Klo ngga bisa bantu, minimal jangan mencela. Klo ngga bisa bikin orang senyum, minimal jangan bikin dia bete. Bolehlah comment klo kegiatan si public figure itu pake duit rakyat tapi impact nya ngga ada. Bisanya omdo tapi otak kosong. Silahkan mengkritisi dan kasi solusi. Sebab cuma org bego yg bisa ngritik tanpa solusi. Bisanya nyampah doank di socmed. Sayang banget kan.
Suka-suka dia, hidup dia, duit dia, makan juga ngga minta ama lu. See? Toh ketika lu jd haters, lu ngga bakal lebih baik dari orang yang lu benci. Percaya deh. Sebab orang yang hidupnya uda lebih baik, dia ngliatnya juga posthink ke depan. Kata orang Buddha/Hindu, awas karma. Kata ajaran Islam, istilah karma ngga ada tapi makna yang seperti karma ada. Sebab Tuhan dan semesta menghitung setiap inci perbuatan kita dimulai dari hati.
Wait, I'm not going to preach yo anyway. Tapi percayalah, bikin orang sakit hati dan sedih itu karmanya juga luar biasa. Seperti yg gw kasi contoh soal temen gw itu, dia pernah ngalamin diteror mati2an lewat SMS dan telp ama mantan istri pacarnya dan org2 suruhannya. Sedih banget donk, secara bertahun2 sampe2 temen gw itu hrs resign dari pekerjaannya. Gw yang denger malah ikutan sedih. Lama ngga ketemu, tapi sekalinya denger kabar kek gitu.
Sometimes, we're hard to remember what we have been doing. We're hard to understand how pain people feel because of our acts until we feel the same pain. Kata Tuhan, sebaik2 manusia adalah ia yang selalu melakukan introspeksi diri dari setiap kejadian yang menimpanya. Not to blame others.
Monday, July 20, 2015
Lebaran
Nothing's horrible than thef and robbery involving violence during Lebaran. Over and over again in every year holy month Ramadhan. Welcome to my country. Kejadian ini selalu menakutkan bagi banyak pihak, termasuk saya yg feeling insecure klo bepergian jelang Lebaran. Orang nekat melakukan tindak kriminal demi sejumlah uang untuk Lebaran.
Lalu kenapa Lebaran jadi alasan? Memang ada yang bisa nolak tradisi? Tradisi pulang kampung, beli baju baru, motor baru, mobil baru, gadget baru, perhiasan baru, ngasi THR buat ponakan dan anak-anak kecil di sekitar rumah yang biasanya "unjung-unjung."
Bagi banyak orang muslim, Lebaran selalu extra cost. Cost to celebrate the Ied. Merayakan kemenangan setelah sebulan menahan hawa nafsu. Berangkat dari esensi ini, setiap org bebas memaknainya. Tapi entah kapan tradisi "extra cost" ini bermula, yang pasti smpe detik ini banyak orang masih mengamininya.
Religion and tradition. Tradisi serba baru yang disimbolkan dari apa yang nampak, ngga pernah saya ikutin. Cuma tradisi berbagi THR dan pulang kampung masihlah gw aminin. Sejak dilahirkan dari kedua orangtua yang nonmuslim, tradisi semacam ini saya maknai sendiri.
Lantaran ada extra cost ini, lantas perusahaan memutuskan memberi THR 1x gaji terhadap karyawannya alias gaji ke-13 bagi PNS. Sometimes, Eid is just an annual celebration. Family gathering, eat local food called "ketupat opor ayam," ask for forgiveness, and gift of money for children.
Namun, menolak tradisi semacam ini agak susah terurama bagi mereka yang ngga punya kerjaan tetap ato bahkan pengangguran. Maka extra cost didapat dg cara2 yang menyedihkan. Hitung ada berapa banyak motor hilang di deretan kompleks kos2anku jelang Lebaran kemarin.
Laptop, HP, kamera, duit, raib semua di dalam kamar karena kemasukan maling. Jambret merajalela di jalanan ngga kenal waktu. Perampokan toko emas terus aja bergulir. Di waktu yang sama, polisi dg seenaknya mengumumkan angka kriminalitas dari tahun ke tahun turun. Turun dari Hongkong? Yakeles ngga ada laporan diartiin ngga ada kriminalitas. Lu aja yg kurang patroli bos. Tuh orang teriak2 kejambretan di jalan sering pada ngga lapor. Lapor juga percuma kali ya, buat statistik doank.
Jadi Lebaran ngga cuma extra cost tapi juga ekstra waspada. People sometimes, will do everything to celebrate tradition just because they want to be considered as normal people. Bagi muslim newbie seperti saya, klo ngga salah memaknai esensi perayaan Idul Fitri : Merayakan kemenangan atas kehidupan dan pribadi baru yang lebih baik. Lahir menjadi manusia baru yang lebih suci.
- Happy Eid Mubarak 1436 H -
Lalu kenapa Lebaran jadi alasan? Memang ada yang bisa nolak tradisi? Tradisi pulang kampung, beli baju baru, motor baru, mobil baru, gadget baru, perhiasan baru, ngasi THR buat ponakan dan anak-anak kecil di sekitar rumah yang biasanya "unjung-unjung."
Bagi banyak orang muslim, Lebaran selalu extra cost. Cost to celebrate the Ied. Merayakan kemenangan setelah sebulan menahan hawa nafsu. Berangkat dari esensi ini, setiap org bebas memaknainya. Tapi entah kapan tradisi "extra cost" ini bermula, yang pasti smpe detik ini banyak orang masih mengamininya.
Religion and tradition. Tradisi serba baru yang disimbolkan dari apa yang nampak, ngga pernah saya ikutin. Cuma tradisi berbagi THR dan pulang kampung masihlah gw aminin. Sejak dilahirkan dari kedua orangtua yang nonmuslim, tradisi semacam ini saya maknai sendiri.
Lantaran ada extra cost ini, lantas perusahaan memutuskan memberi THR 1x gaji terhadap karyawannya alias gaji ke-13 bagi PNS. Sometimes, Eid is just an annual celebration. Family gathering, eat local food called "ketupat opor ayam," ask for forgiveness, and gift of money for children.
Namun, menolak tradisi semacam ini agak susah terurama bagi mereka yang ngga punya kerjaan tetap ato bahkan pengangguran. Maka extra cost didapat dg cara2 yang menyedihkan. Hitung ada berapa banyak motor hilang di deretan kompleks kos2anku jelang Lebaran kemarin.
Laptop, HP, kamera, duit, raib semua di dalam kamar karena kemasukan maling. Jambret merajalela di jalanan ngga kenal waktu. Perampokan toko emas terus aja bergulir. Di waktu yang sama, polisi dg seenaknya mengumumkan angka kriminalitas dari tahun ke tahun turun. Turun dari Hongkong? Yakeles ngga ada laporan diartiin ngga ada kriminalitas. Lu aja yg kurang patroli bos. Tuh orang teriak2 kejambretan di jalan sering pada ngga lapor. Lapor juga percuma kali ya, buat statistik doank.
Jadi Lebaran ngga cuma extra cost tapi juga ekstra waspada. People sometimes, will do everything to celebrate tradition just because they want to be considered as normal people. Bagi muslim newbie seperti saya, klo ngga salah memaknai esensi perayaan Idul Fitri : Merayakan kemenangan atas kehidupan dan pribadi baru yang lebih baik. Lahir menjadi manusia baru yang lebih suci.
- Happy Eid Mubarak 1436 H -
Sunday, July 19, 2015
Turkish Wave
Satu-satunya sinetron ato drama ato apalah namanya cerita bersambung yg paling suka saat ini cuma K-Drama. Itupun streaming di Youtube. Sejak tv kurang menarik, semua tontonan beralih ke layanan data. Tapi, ngga sengaja kemarin pas pulang liat TransTV di kamar ada cuplikan "Cinta Bersemi di Musim Cherry (CBdMC) " Segera. Begitu tulisan di layar tv. Insert kalimat dubbingnya, itu serial drama asal Turki.
Aha, televisi qt mulai kecanduan drama Turki? (do not confuse with Dramaturgi hehe..) Entah kpn awal masuknya sinema asal negeri kebab ini kali pertama, tiba2 pemilik stasiun tv qt mengadopsinya secara berjamaah. Seperti demam telenovela dulu, lalu drama India, lalu Korea, lalu India lagi, kemudian Turki. Agaknya, budaya Eropa Timur mulai menginvasi layar kaca Tanah Air.
Then movie/drama become the right tool for acculturating values? Yes, it's time for Turkish Wave, just like Korean Wave years ago. Sejak King Suleiman, lalu Elif, sekarang CBdMC, drama2 Turki mulai diakrabi pemirsa. Para pemilik stasiun tv menangkap kejenuhan penonton terhadap tayangan2 Hollywood sbg peluang dg menghadirkan sinema2 dari negara yang selama ini tak lazim. Berhasilkah menaikkan rating? Probably. Because there's so many commercials which break every few minutes when the drama aired (wish the drama aired without interruption ;).
Drama and culture. Seni adalah bagian dari budaya.Tengok saja di setiap tayangan drama dari negara berbeda, ada berapa simbol2 baru yang dipertontonkan. Mulai musik, fashion and accessories, dialek dan istilah khas lokal (khusus drama/film yg tdk dialihbahasakan), gadget, hingga arsitektur bangunan yg mjd setting drama.
Agak sulit menelusuri drama CBdMC lewat google. Tertarik karena salah satu pemainnya kece, searching di mesin pencari google malah bikin desperate. Meski akhirnya nemu, kendala bahasa sempet bikin gagal fokus. Ok, Kiraz Mevsimi (Cherry Blossom), dibintangi model macho bernama Serkan Cayoglu, 28 th.
Pria2 Turki emang omaigosh. Inget wkt umroh di Masjidil Haram 4 th lalu, tiap noleh ke kiri kanan papasan ama pria2 Turki selalu bergumam Subhannallah. Mba Lili, temen sekamarku yang qt tawaf selalu barengan cuma bisa senyum2 manggut2. Baru tau ya neng? Si elok bermata biru ngga cuma punya bintang Hollywood, kata dia. Ah, i c.
Dunia google bikin hidup tak lagi berjarak. Asal masukkan keyword yang tepat, semua informasi dalam genggaman. Kendala bahasa, tinggal klik google translate. Meski terjemahannya ngga selalu tepat, minimal org awam bisa belajar dari mesin penerjemah ini.
Saturday, July 18, 2015
Subway. KRL. Commuter
Mimpi punya subway seperti di Korea boleh donk. Ngga perlu yg hrs underground, stasiun ngga kumuh, keretanya bersih, wangi, penumpangnya tertib dan kece2. Mimpi banget tuh. Tapi minimal, di area stasiun dilengkapi subway refund machine alias deposit refund machine gitu. Lebay ngga? Investasinya gd sih, tapi menurutku itu bakal sangat membantu. Kadang suka kesian aja ngliat penumpang KRL antre panjang cuma mau refund tiket. Iya. Demi duit Rp 11.000 rela antre setiap kali pake KRL.
Beli donk ya tiket yg gocap-an itu. No expired date, tinggal top-up berapapun, cuma ninggal saldo Rp 20.000 yg ngga bisa di-refund. Tapi ternyata, masih banyak org qt yg ngga berpikir praktis. Apa ngga pusing tiap kali perjalanan harus antre buat refund doank? Berapa banyak waktu kebuang? Capeknya antre berdiri juga ngga ketulungan. Belum lagi klo pas panas terik. Klo loketnya di dalem stasiun masih oke. Adem. Klo yg nempel doank di pinggiran bagian luar stasiun, itu yg susah.
Pernah juga ngalamin yang beginian. Tapi ngga tahan juga akhirnya beli yg gocap. Praktis. Daripada tiap perjalanan beli tiket (dalam bentuk commuter electronic card berisi saldo tertentu) lalu pulangnya harus refund secara manual. Antre. Capek. Yah, moga2 aja someday pemerintah bisa beli deposit refund machine buat ngurangin antrean. Kesian masyarakat yg ngga punya duit. Mereka cuma bisa ngandelin moda transportasi massal yg pelayanannya belum bisa maxi.
Klo di Korea punya subway, qt punya KRL. Kereta Rel Listrik (Commuter Line). Uda byk kemajuan juga si, sejak KRL berperasi. Sekarang lebih bersih, lebih aman, meski penumpangnya msh pada norak, meski suplai listrik kadang terkendala jadinya macet. Iya, penumpangnya emang norak. Ngawur juga. Suka dorong2an, desek2an kuatir ngga kebagian seat. Mana barang bawaanya segeda gaban ditaro di lantai kereta donk, bukannya di bagasi kabin kereta. Ditegur petugas malah protes bawaan berat ngga bisa naikin. Hiks.. Apalagi klo brenti di St. Tanah Abang. Alamaak kedesek ama emak-emak yg abis borong dagangan di pasar. Siap-siap aja deh hehehe...
Sampe kapan transportasi massal di negeri ini bener2 nyaman? Butuh waktu puluhan tahun, mungkin. Ngga cuma komitmen pejabat elite. Kata mereka, uda bagus qt punya KRL yang melintas di 72 stasiun (8 stasiun transit) meski baru di wilayah Jabodetabek. Uda bagus qt punya busway, meski baru brenti di 29 halte. Jakarta doank. Nasib kota lain? Coba situ tanya ke pemkot/pemkab setempat ^_^
Beli donk ya tiket yg gocap-an itu. No expired date, tinggal top-up berapapun, cuma ninggal saldo Rp 20.000 yg ngga bisa di-refund. Tapi ternyata, masih banyak org qt yg ngga berpikir praktis. Apa ngga pusing tiap kali perjalanan harus antre buat refund doank? Berapa banyak waktu kebuang? Capeknya antre berdiri juga ngga ketulungan. Belum lagi klo pas panas terik. Klo loketnya di dalem stasiun masih oke. Adem. Klo yg nempel doank di pinggiran bagian luar stasiun, itu yg susah.
Pernah juga ngalamin yang beginian. Tapi ngga tahan juga akhirnya beli yg gocap. Praktis. Daripada tiap perjalanan beli tiket (dalam bentuk commuter electronic card berisi saldo tertentu) lalu pulangnya harus refund secara manual. Antre. Capek. Yah, moga2 aja someday pemerintah bisa beli deposit refund machine buat ngurangin antrean. Kesian masyarakat yg ngga punya duit. Mereka cuma bisa ngandelin moda transportasi massal yg pelayanannya belum bisa maxi.
Klo di Korea punya subway, qt punya KRL. Kereta Rel Listrik (Commuter Line). Uda byk kemajuan juga si, sejak KRL berperasi. Sekarang lebih bersih, lebih aman, meski penumpangnya msh pada norak, meski suplai listrik kadang terkendala jadinya macet. Iya, penumpangnya emang norak. Ngawur juga. Suka dorong2an, desek2an kuatir ngga kebagian seat. Mana barang bawaanya segeda gaban ditaro di lantai kereta donk, bukannya di bagasi kabin kereta. Ditegur petugas malah protes bawaan berat ngga bisa naikin. Hiks.. Apalagi klo brenti di St. Tanah Abang. Alamaak kedesek ama emak-emak yg abis borong dagangan di pasar. Siap-siap aja deh hehehe...
Sampe kapan transportasi massal di negeri ini bener2 nyaman? Butuh waktu puluhan tahun, mungkin. Ngga cuma komitmen pejabat elite. Kata mereka, uda bagus qt punya KRL yang melintas di 72 stasiun (8 stasiun transit) meski baru di wilayah Jabodetabek. Uda bagus qt punya busway, meski baru brenti di 29 halte. Jakarta doank. Nasib kota lain? Coba situ tanya ke pemkot/pemkab setempat ^_^
Subscribe to:
Posts (Atom)