Showing posts with label discuss. Show all posts
Showing posts with label discuss. Show all posts

Monday, October 2, 2017

Katak dalam Tempurung

Beberapa tahun silam, seorang teman wanita di kantor lama jaman magang kuliah pernah berujar, "Kamu itu jangan seperti katak dalam tempurung," ujar wanita yang saat itu berusia 35 tahun dan belum menikah. Mungkin, saat itu dia merasa pantas menasehati karyawan baru yg usianya jauh di bawah dia dg sepak terjang yg tak sebanding dgnya.

Saya yg bekerja di lantai 2 dan tdk banyak mengenal org2 yg ada di lantai 1. Jumlah karyawan yg bekerja di lantai 1 dan 2 saat itu mungkin tak sampai 100 org. Tapi entah mengapa saya enggan sksd. Kurang supel mungkin. Jadi setiap kali obrolan ttg si A si B si C ttg karyawan yg di luar lantai 2 ngga pernah "ngeh."

Bertahun2 berlalu, kabar terakhir yg saya terima dia masih bekerja di dalam perusahaan yg sama (cuma pindah anak perusahaan yg lebih kecil). Dia masih menekuni bidang yg sama, berpendidikan yg sama dan tdk ke mana-mana. Persis seperti katak dalam tempurung...

Terima kasih atas kalimat lecutannya si mbak, saya jd termotivasi berpindah2 kerja ke tempat yg lebih baik dan mau meneruskan pendidikan yg lebih tinggi.

Saturday, September 16, 2017

Catatan Syukur

Embun belum beranjak
membalut dendam kemarin
Tepat di antara kepergian itu
yang bisu
entah seharusnya indah

Sebaris kalimat
Catatan syukur
Di langit pagi
Terukir di tengah awan

Haruskah girang?
Atau meratap?

Bisikkan pada Tuhan
Kemarin, kupetik rembulan itu
Kugenggam
lalu kumainkan di tangan kanan
Tepat sebelum "Catatan Syukur"
terlihat di langit pagi

Pertanda baik?
Dendam harus luruh



Friday, September 1, 2017

Sederet Tentang Dia

Dia yang baru kukenal di pengujung tahun 2016
Dia yang ramah menyapa dan bertanya
Dia yang duduk bersebelahan dgku
Dia yang punya banyak cerita
tentang sejarah perusahaan
di mana kami bekerja
Dia yang punya banyak cerita
tentang org2 di dalam perusahaan
di mana kami bekerja
Dia yang selalu mengabarkan tentang dunia
Dia yang aq dpt cerita tentangnya dari yg lain
Dia yang didepak dari jabatan prestisnya
Dia yang merupakan teman mantan pimpinan saya
Dia yang sabar menerima keputusan
Dia yang menikmati hidup
ketika banyak orang mencibir kinerjanya
Dia yang mengalah dari ego
Dia yang selalu bertanya padaku,
hidup ini apa yang sejatinya kamu cari
hidup ini tinggal menunggu waktu tentang kebenaran
Dia yang telah melintas setengah abad
Dia yang bijak pada usianya
Tiba-tiba pergi tanpa kata
karena heart attack
di Hari Jumat nan mulia,
25 Agustus 2017 pk 06.30 WIB

Selamat jalan bapak..
Semoga engkau tenang di sisi-Nya..

Darimu, saya belajar sebuah hal besar. EGO
Hidup selalu dihadapkan pada pilihan.
Diam pun adalah pilihan. Bergerak mundur juga pilihan.
Seperti ceritamu tentang seorang kawan satu angkatanmu.
Disingkirkan dari jabatan prestis memilih mundur
lalu berwirausaha. Membawa dendam dan sakit hati.
Kamu berpesan padanya, kenapa tidak dijalani saja dulu
Hidup ini sejatinya mau cari apa? Itu katamu pdnya.
Tp kawanmu tetap pergi dan kini sukses dg usahanya.

Menjadi lebih baik memang harus melalui sederet rintangan.
Jgn lupa, konflik dibuat krn Tuhan ingin menguji dan kdg
di dalamnya Tuhan berkehendak mengangkat derajat manusia.

Jangan takut mengambil keputusan.
Hidup ini apa yg sejatinya kamu cari?
Saya ingin mencari damai dg cara saya, pak.

Status di Medsos Lebih Penting?


Knapa saya jadi geli sndiri...

Pagi itu mendapat banyak invitation melalui email dari sebuah medsos bernama Linked dari bbrp kawan. Saya bukan org yang memiliki tingkat kepercayaan diri yg cukup bagus. Mski kdg rasa pede itu muncul, tp sering diselimuti rasa bersalah.

Saya klik beberapa diantara profil2 mereka, ada yg bangga menampilkan citra diri dengan menulis sederet jabatan dari yg tahun kapan smpe yg kekinian. Ada yg bangga cuma dg menuliskan jabatan manager tapi entah kerja di perusahaan macam apa dan gaji berapa. Ada yg asal2an ato sekedarnya mendeskripsikan diri tapi sejatinya saya tau dia memiliki tugas dan salary yg bisa dibanggakan.

Apakah saya adalah bagian dari manusia lawas yg menilai kepedean seseorg dengan label alay? Kata seorang kawan senior di dunia politik, dalam politik org justru harus bisa "menjual diri" agar org mengenalmu. Asal jangan kelewat batas. Celakanya, batasnya ini berada dalam tolok ukur yg sangat subyektif.

Menjual diri sah-sah saja asal sebanding dg kenyataannya, kata dia. Nek kebangetan iku jenenge dodol abab. Saya jd ingat seorang kawan bernama Yessi yg saya kenal ketika di Seoul. Bagi saya dia wanita hebat. Kala itu, di akun FB nya dia hanya menyebut dirinya lulusan sebuah SMA swasta di Jkt. Wkt saya kenal, dia sdg menempuh beasiswa di Belanda yg sistem beasiswanya bukan full scholarship. Jurusan IT Bisnis. Kebetulan wkt itu dia lagi magang di Seoul 6 bulan. Kini dia bertunangan dg pria Prancis yg rupawan. Yessy tak pernah ubah status apapun di medsos, tp foto2nya cukup bercerita bahwa wanita sederhana itu bukan sembarangan wanita.

Thursday, June 29, 2017

Selamat Jalan Guruku...

Laurentius Dyson. Civitas akademik Universitas Airlangga pasti mengenal beliau. Sosok berwatak keras namun berperawakan lucu. Pembawaannya serius santai ketika menyampaikan materi kuliah. Semalam, Rabu 28 Juni 2017 tepat pukul 21.30 WIB beliau menghembuskan nafas terakhir di Graha Amerta RSU dr Soetomo Surabaya.

Pengujung 2013 saya masih sering bertemu dalam perkuliahan. Sosok yang lucu dan pemurah nilai ini selalu memberikan nilai A pada semua mata kuliah yang aku ambil. Terakhir yang aku ingat pesannya ketika aku berniat mengambil beasiswa ke luar negeri, beliau salah satu dosen yang bersedia memberikan rekomendasi. Lama tak terdengar kabarnya, bahkan ketika profesor dengan cara berpikir out f the box ini sakit selama sebulan di ICU sayapun tak tahu. Teman2 ramai di Facebook, namun krn akun FB sdh lama nonaktif hingga pagi ini tetiba mendapat pesanberantai di grup WA bahwa beliaun telah pergi selamanya.

Selamat jalan bapak.... Selamat jalan guru.... Selamat jalan teladan mahasiswa.... Semoga ilmumu menjadi amal jariyahmu. Aamiin...

Tuesday, June 27, 2017

June 18th

Dua kado termanis 18 Juni 2017
Dari dua wanita "malaikat" Tuhan

Kebersamaan di Lauk Pauk
dengan saudara baru
menandai awal perjalananku
di karir yang lain

Pesan singkat dari jauh
yang memberiku tiket gratis
berjumpa kembali dengan baitullah

Terima kasih Yaa Allah...

Tuesday, July 19, 2016

Walikotaku

Tentang walikotaku, TRH. Di sebuah ruang conference yang dipenuhi peserta dalam meja panjang, dia memanggil namaku dan menyuruhku duduk di sampingnya untuk mengerjakan sesuatu. Dia berbisik panjang. Aku mengangguk.

Di hari yang berbeda, dia terbaring di tempat tidur. Melepas baju atasan dan tinggal sehelai tanktop nenek yang longgar. Aku di sampingnya, dia menyuruhku memijat lengannya dan mendengar curhat tentang seharian pekerjaannya. Dia lelah. Dia ingin jeda dari smua aktivitas. Dia merasakan bahwa tubuhnya sakit dan tak akan bertahan lama. Apakah ini firasat jika dia akan pergi ke ibukota? Menuju sebuah ambisi yang lebih besar. Ambisi yang ia kata bukanlah mewakili keinginannya, melainkan atas nama partai.

Tuesday, June 14, 2016

Gagal SPG

Percayalah, jangan pernah kecewa ketika kamu ditolak melamar sebuah pekerjaan. Artinya, pekerjaan tersebut memang bukan yang terbaik bagi hidupmu. Pernah suatu ketika, pas saya lulus S1 ngelamar kerja jadi SPG di Matahari Dept Store. Gara2nya, seorang teman SMA sebelum dia lulus kuliah uda banyak job jadi SPG pameran termasuk SPG dadakan di Matahari. Waktu itu mikirnya simple, enaknya pegang duit sendiri bisa beli ini itu tanpa harus beradu argumen ama ortu. 

Tapi sial, pas bawa lamaran masuk ruang tes, si pewawancara cuma nyuruh saya berdiri di balik pintu dan melepas sepatu lalu menyuruh saya pulang. Bengong juga ada apa, diwawancara juga engga. Ternyata, baru tau klo dia waktu itu cuma ngukur tinggi badan di mana minimal 156 cm. Kesel ditolak mentah2. Kegagalan ke-2 jadi SPG XXI. Lagi2 itu info dari temen aku. Uda ngantri sejak jam 7 pagi dan baru diwawancara jam 3.30 sore eh ternyata sesampai di pintu masuk langsung disuruh pulang. Alasannya sama, tinggi badan kurang (saya cuma 150 cm). Lagipula ada kesalahan fatal. Saya terlanjur duduk di benda kayu yang mirip kursi ternyata meja. Di hadapan 2 org manajemen XXI.

Ngga kebayang jika sekarang saya harus bertukar peran, tetap menjadi SPG di Matahari atau XXI. Tuhan mengarahkan saya untuk mendapat pekerjaan lain yang jauh lebih baik.

Monday, May 2, 2016

Usia Produktif vs Nonproduktif Tenaga Kerja

Kadang, perusahaan yang dinamis tak punya tempat bagi tenaga kerja usia tua yang kurang produktif. Atau kalimat ini seharusnya dibalik? Tenaga kerja yang tak lagi muda dan yang kurang produktif sering tak punya tempat dalam perusahaan yang dinamis? Sejauh mana perusahaan bisa dikatakan dinamis?

Kategori tua itu seperti apa? Kategori produktif itu sendiri bagaimana? Jika mengacu pada BPS, usia produktif 15-64 tahun. Namun, berdasarkan pengalaman saya bekerja di beberapa perusahaan, usia tenaga kerja yang benar-benar produktif untuk ukuran perusahaan dinamis sesungguhnya adalah 25-50 tahun.

Kurang dari 25 tahun, kerap susah diajari materi dengan tingkat kesulitan yang agak tinggi. Lebih dari 50 tahun, mulai bermalas-malasan menjalankan pekerjaan. Apalagi dengan masa kerja yang belasan atau puluhan tahun telah bekerja di perusahaan yang sama. Namun, ini pengecualian bagi mereka yang sudah mencapai level manajerial ketika usianya 30-an (dan bekerja di perusahaan yang bukan milik pribadi/keluarga).

Pengamatan saya, mereka yang telah mencapai level manajer (rerata usia 30-50 th) kompetisi akan semakin ketat sehingga mereka lebih sigap membekali diri agar berdaya saing. Sementara yang nonmanajer pd usia tsb jauh lebih santai dan hanya segelintir yang mempersiapkan diri berkompetisi untuk naik ke level manajer.

No wonder, pertumbuhan jumlah manajer di sebuah departemen/divisi dalam sebuah perusahaan tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah staf/nonmanajer. Contoh sederhana, jumlah karyawan di cabang saya saat ini hampir menyentuh angka 5.000 org, dengan level manager cuma 25 org. Rasionya 1:200. Sejauh yang saya tau, belum ada studi yang menyebutkan rasio wajar manajer : nonmanajer dalam perusahaan sehingga bisa dikatakan sebagai perusahaan yang sehat.

Persaingan di level manajer selalu lebih ketat. Persoalan lain, tuntutan pasar yang sangat dinamis kadang tidak disertai dengan percepatan daya saing di lingkungan internal. Akibatnya, regenerasi pun jadi melambat. Pada perusahaan yang dinamis, hal ini tidak akan terjadi. Perubahan pasar terus berlangsung, selera konsumen bisa berubah setiap detik. Pada akhirnya, perusahaan yang bisa bertahan hanyalah mereka yang sigap menjawab perubahan melalui segudang inovasi.

Di level tenaga kerja, yang akan terus dipertahankan adalah mereka yang memberi konstribusi secara riil terhadap kemajuan perusahaan. Baik itu kontribusi tenaga/pemikiran yang ujung-ujungnya membawa pada pertumbuhan laba perusahaan. Merekalah tenaga kerja produktif.

Mereka yang low performance acapkali akan tersingkir. Namun, karena alasan manusiawi (misal, penghargaan terhadap masa kerja) kadang sebuah perusahaan masih memberi toleransi pd tenaga kerja golongan ini. Maka dicarikanlah posisi/jabatan yang lalu bikin orang mengernyitkan dahi. Artinya, tanpa ada jabatan tsb pun, sebetulnya perusahaan bisa jalan. Namun karena alasan tertentu, perusahaan mau bertindak tidak efisien.

Dalam buku "How Starbuck Save My Life" -- kasus yang dialami Michael Gates Gill mencerminkan permasalahan yang saya ulas ini. Saya pun yakin kasus yang dialaminya juga dialami ribuan orang di dunia termasuk dalam perusahaan tempat saya bekerja.

Gates Gill dianggap sebagai tenaga kerja yang low perfomance, ia telah mengabdi puluhan tahun dan telah mempromosikan ratusan karyawan ke jenjang manajer. Namun, pada akhirnya ia pun disingkirkan oleh mereka yang pernah dipromosikan ke level manajerial dengan diberikan golden shake yang tak terlalu besar. Pemilik perusahaan tempat dia bekerja, menjual perusahaan tsb sehingga terjadilah perombakan total di level manajerial di bawah pemilik saham yang baru.

Pemilik perusahaan yang baru, merekrut banyak tenaga kerja muda yang siap dididik dan dibayar murah, ketimbang harus mempertahankan para senior bergaji fantastis yang dianggap sudah tidak lagi memberi kontribusi riil terhadap perusahaan. Kasus ini pun seolah menyuguhkan kenyataan bahwa menjadi tua itu mencekam. Berpuluh tahun mengabdi pada sebuah perusahaan untuk membangun zona aman, pada akhirnya menjadi zona ancaman.


But Gill membuat pembaca "you don't have to be worry, because it's only the beginning." Karir Gill yang hancur berdarah-darah dengan kehidupan pribadi yang terseret berantakan, justru membawanya pada sebuah fase kehidupan baru. Sebab ia yakin, meski usianya memasuki 60 tahun namun dirinya masih sanggup belajar dan merasa masih punya potensi untuk membawa kemajuan sebuah perusahaan.

Berbulan-bulan dia hidup hanya dari golden shake dan menikmati fase post power syndrome. Stress yang menggila, ia harus mau bekerja apa saja. Dari semula dilayani, kini menjadi melayani. Bahkan ia harus rela menyikat WC sebuah restoran. That's life! Dengan kerja keras dan kesabaran, Gill pada akhirnya diterima bekerja di Starbuck yang baginya pekerjaan itu ia temui tanpa sengaja. Karir Gill pun mulai membaik, dan ia kembali meraih level manajerial dalam sekejap.

Buku ini menarik, membuat kita sadar bahwa usia boleh tua namun produktivitas tak boleh luntur. Loyalitas itu penting, namun jangan lalai untuk terus membekali diri agar terus siap bersaing. Kita tak pernah tahu bagaimana nasib perusahaan tempat kita bekerja esok. Banyak cara membekali diri agar menjadi tenaga kerja yang berdaya saing. Teruslah belajar dan jangan lupa melebarkan jaringan di lingkungan eksternal agar tak seperti katak dalam tempurung. Percaya diri dalam zona zaman itu boleh saja, namun jangan terlena. Sebab zona ini bisa membunuhmu sewaktu-waktu.

Salam.

Friday, March 18, 2016

Kantong Plastik (harus) Berbayar

Perilaku konsumen emang unik. Belanjanya di mana, kantong plastiknya merk apa. Ini gegara regulasi baru dari KLH dan Aprindo soal kantong plastik berbayar. Jangan dikira meski "cuma" Rp 200 masyarakat bakal mau keluar duit utk itu setiap kali belanja. Banyak kok yang enggan, termasuk saya. Itu sebabnya saya percaya, regulasi ini bakal berimbas menekan peredaran sampah plastik meski cuma 3 bulan.

Keluhan dari teman2 di toko, banyak konsumen asal bawa kantong plastik dari rumah. Ini membuat mereka risih melihatnya. Belanja ke Alfamart, tas kreseknya pake Indomaret. Belanja ke Indomaret, bawa tas kresek Giant. Belanja ke Matahari bawa tas kreseknya Alfamart. Ya, suka-suka konsumen layaw...

Sebelum regulasi ini diberlakukan, ritel besar spt Matahari melarang konsumen keluar toko jika tak pakai tak kresek Matahari pasca berbelanja. Kini, bebas. Ini pengalaman pribadi, kebetulan saya termasuk konsumen yg ogah beli tas kresek klo belanja. Jadi uda siap 3 lembar di dalam tas. Dilipat rapi, segitiga. Belanja di Matahari, kantong plastiknya Alfamart

Banyak konsumen mencibir regulasi ini. Kenapa ritel ngga bikin kantong belanja dari kertas aja? Ato perbanyak menjual kantong kain dari bahan yg reusable? Ato menutup pabrik pembuat kantong plastik sekalian? Ato meniadakan kemasan plastik yg dipakai para produsen consumer goods? Ato menyisir pemakaian kantong plastik di pasar tradisional? Beragam opini bermunculan.

Namun kebijakan ini tak seharusnya disikapi skeptis. Semangatnya kan mengurangi limbah plastik, implementasinya bisa beragam. Mulailah dari hal yg terkecil. Mengubah habit diri sendiri, setidaknya ketika belanja bawalah kantong belanja sendiri. Daripada berteriak ada kasus besar di seberang lautan, hal2 kecil di depan mata selesaikan dulu.

Jika program kantong berbayar di dunia ritel ini dianggap berhasil, jangka panjangnya tentu akan berimbas pada dunia usaha lainnya. Namun tolok ukur keberhasilannya memang belum ada kepastian. Yang pasti, untuk mengurangi limbah plastik memang tidak bisa secara simultan menutup pabrik pembuat kantong plastik. Itu bukan solusi yang efektif.

Mengapa ritel modern, bukan ritel tradisional? Konsumen ritel sangat banyak. Penggunaan kantong plastik di ritel modern juga luar biasa, namun sangat terukur dan bisa dievaluasi ke depannya sejauh mana dampak implementasi kantong plastik berbayar. Apa benar regulasi itu berdampak terhadap menurunnya peredaran kantong plastik? Klo di ritel tradisional gimana coba? Contohnya pedagang sayur beli kantong plastik tiap hari aja ngga tentu jumlah lembarnya. Konsumen mereka siapa? Kalau dibebani Rp 200 pasti langsung teriak. Beda dg ritel modern.

Lalu, kalau di pasar tradisional mau bawa belanjaan basah spt ikan, udang, tahu gimana ngebawanya? Kebayang ngga klo plastik benar2 ditiadakan, kemasan pengganti jenis apa yg tahan air?

Apapun kebijakan pemerintah, pasti punya tujuan jangka panjang yang positif. Hanya saja, banyak org ngga pagam tapi comment seenaknya. "Itu kebijakan keblinger, tuh lihat kemasan minyak goreng yg plastiknya tebel, kemasan mi instan, sabun cuci, knapa ngga dilarang?"
"Tutup aja pabrik plastiknya sekalian, bukan malah membebani konsumen"
"Tuh bungkus sayuran di pasar tradisional semuanya plastik dan gratis, kenapa dibiarkan?"

Kebijakan ini trial 3 bulan evaluasi. Jadi tuntutannya ngga usa muluk-muluk dulu. Dilihat saja sejauh mana setelah 3 bulan nanti. Yuk, dukung program kantong plastik berbayar di ritel modern ^^

Monday, December 28, 2015

Kebaikan

Taukah kau dari mana datangnya kebaikan? Dari kebaikan yang lain. Kejutan2 manis dalam hidup saya, sering berasal dari orang2 yg tak terduga tanpa pernah diminta. Mereka memberi inspirasi dalam hidup saya agar selalu memberi.

Terlepas dari apa profesi saya di masa lampau, dan apa tendensi pemberi kebaikan tsb pada saya, bagi saya kebaikan tetap saja kebaikan. Tiba2 saja, di saat perpisahan saya dikado Ballpoint Parker oleh seorang teman sekaligus "guru." Tiba-tiba saja pesta karaoke disiapkan seorang anggota dewan utk perpisahan saya dg teman2, atau tiba2 saja ada traktiran makan di mal yg disiapkan utk perpisahan saya oleh seorang kawan.

Tiba2 yang lain, sebelum saya berangkat umroh diberi seperangkat baju muslim dan jilbab cantik oleh seorang kawan wanita yang baru saya kenal. Seorang pedagang laki2 di Mekkah yang kemudian memberi saya baju gamis Arab cuma2 tanpa menuntut saya jadi istrinya. Padahal saya ngga jadi beli di toko itu. Dia memberikan tas kresek berisi gamis, lengkap dengan peci Arab warna putih, lalu tersenyum dg mengangguk isyarat bahwa saya boleh keluar dari tokonya tanpa membayar. Saya bengong lalu tersenyum berkata sukran Alhamdulillah.

Atau tiba2 lainnya, saya mendapatkan native guide pada saat lost in Seoul. Kawan baru saya itu menemani saya ke setiap titik Seoul dan menolak imbalan sepeserpun. Malah beberapa kali makan, dia yang bayar. Gomawo oppa! Thx God, I wasn't that lost and I was the happiest backpacker. Congmal! ^^

Tuhan telah demikian banyak memberi. Tak perlu menunda kebaikan pada saat hati terketuk. Percayalah, kejutan manis itu akan kembali padamu. Mungkin bukan dari dia yang kau beri kebaikan, tapi dari orang lain. Indeed, God has many invisible hand.

Friday, December 11, 2015

Mutasi

Hampir setiap minggu baca email resignation dari teman2. "TERIMA KASIH DAN MOHON PAMIT" -- begitu subjeknya.

Pada banyak alasan pengunduran diri, mutasi sering menjadi penyebabnya. Terutama jika mutasi tersebut tidak disertai kenaikan jenjang karir yang jelas, dan dengan parameter yang jelas pula. Orang2 yg merasa telah mengabdi cukup lama namun tak ada perubahan jenjang karir, sering memilih cara ini.

Perusahaan kami adalah perusahaan multinasional, yg seharusnya sejak awal rekrutmen mereka paham akan kemungkinan mutasi lintas kota di Indonesia. Apalagi sejak tahun lalu perusahaan kami ekspansi ke Filipina. Maka gelombang mutasi ke sana pun terbuka.

Namun, pada orang2 yang telah menemukan zona nyaman maka mutasi selalu dilihat sebagai ancaman. Apalagi bagi mereka yang telah berkeluarga dan istri/suaminya bekerja di kota yg sama selama ini. Bakal hidup berjauhan dg keluarga menjadi sangat tidak enak. Begitu komentar yg sering saya dengar.

Pada banyak kasus, perusahaan sering tidak menyoal pengunduran diri karyawannya kecuali dia adalah karyawan istimewa dan alasan pengunduran dirinya tdk cukup kuat. Dalih perusahaan, di luar sana ada banyak pelamar kerja yang memiliki kualifikasi lebih bagus dan mau digaji lebih rendah serta mau dimutasi ke mana saja, jadi lepaskan saja.

Alasan lain pengunduran diri adalah soal gaji hingga kenyamanan lingkungan kerja. Klo bilang soal gaji bisa jadi sangat relatif. Sebagai karyawan, saya sepakat jika gaji bukan semata2 alasan seseorang mengundurkan diri dari pekerjaan. Sindrom "tired complex" lebih sering mencuat. Lelah karena lingkungan pekerjaan alias org2nya, lelah dg perlakuan manajemen, lelah dg sistem yang diterapkan perusahaan, lelah dg beban pekerjaan, yang ujung2nya beban kerja dianggap tidak sesuai dengan gaji.

Segala macam kompromi tentu pernah dijalani hingga seseorang mencapai satu masa di mana kompromi itu memang harus diakhiri dalam satu kata bernama titik jenuh. It's ok not to be ok... Setiap orang mengalami fase up and down, dan hanya mereka yang berani memutuskan dan terus mencoba yang akan mengalami perubahan nasib yang lebih baik. Seperti kata Mario Teguh, setiap org memiliki jatah gagal. Habiskan jatah gagalmu di masa muda.

*Setidaknya, saya selalu merasa muda utk menimba ilmu dalam sekolah kehidupan ini

Tuesday, December 8, 2015

Nama Panggung

Entah siapa yang mempelopori penyingkatan nama, tapi saya menduga sejak nama Joko Widodo populer sebagai Jokowi maka orang2 latah menyingkat nama. Termasuk Budi Waseso, mantan Kabareskrim yang kini jadi Kepala BNN lebih kece dg nama Buwas. Itu sebabnya, saya sempet mengernyitkan dahi ketika di grup BBM teman kantor hari ini muncul nama Busan.

Sumpah saya kira lagi bahas Busan Korea Selatan. Sebab ngga baca detil reply pic chat yg uda kadung puluhan itu. Males. Ternyata ketika Busan diulang2 akhirnya ketauan. Budi Santoso. Aha, kece juga singkatannya. Klo nama saya disingkat jadinya Depe donk ^_^

Monday, September 14, 2015

Drama

Meski tak ada data pasti sejak kapan industri hiburan (khususnya drama seri) di Korea Selatan dikemas secara serius, yang jelas jika melihat perkembangannya saat ini, lompatannya luar biasa. Tak hanya teknik penggarapannya, cerita yang disajikan, intrik di dalam alur cerita hingga pemilihan kata dalam kalimat yang dipakai untuk percakapan para pemainnya.

Data dari wikipedia menyebutkan drama televisi di negeri ginseng ini pertama mengudara sekitar 1960-an. Saat itu, serial drama di Indonesia belum lahir. Info wikipedia, baru sekitar pengujung 90-an muncul sinetron TVRI berjudul Jendela Rumah Kita, Losmen Srikandi, dst. Kita "hanya" tertinggal 3 dekade dengan Korsel. Kemunculan beberapa stasiun televisi swasta kemudian ikut menyemarakkan drama di layar kaca.

Saya bukan penikmat dunia akting dalam serial drama secara serius, biasanya judul saya pilih secara random sesuai dg rekomendasi teman. Drama dari negara manapun saya suka, kecuali yang bernuansa Bollywood :D (maaf klo yang ini agak alergi).

Serial drama televisi dari daratan Eropa dan Amerika mungkin sudah biasa. Nuansa baru masuk ketika orang2 di Indonesia mulai ramai membicarakan k-drama sebagai bagian dari Korean Wave, sayapun membabat habis ratusan judul serial dramanya. Pun ketika Thailand Wave dan Turkish Wave mulai merasuk, saya tak kalah kepo buru2 streaming heheh...

Akhirnya, sejak 3 tahun lalu saya jatuh hati pada k-drama. Memang ngga semua k-drama dikemas secara keren, tapi ada puluhan judul yang ceritanya masih membekas. Para pelaku dalam industri k-drama tentu bukan orang2 kemarin sore sehingga mereka mampu menyajikan mutu yang bagus. Bandingkan saja dg drama asal Indonesia atau drama Turki. Jauh.

Salah satu k-drama yang menurut saya super (karena ada beberapa kutipan menarik) yakni Yong Pal, dibintangi si ganteng dan cute Joo Won dan si cantik Kim Tae Hee (Yong Ae) yang kini sedang tayang di Korea seri ke-12. Di seri ke-9, seorang pendeta menerima pengakuan dosa dari Yong Ae - pewaris perusahaan yang berusaha dibunuh pelan2 oleh kakak angkatnya dg cara dibuat koma selama 3 tahun.

Ketika ia sadar, ia ingin membalas dendam perlakuan org2 tsb terhadapnya. Simak berikut percakapan menarik ttg pengakuan dosanya terhadap si pendeta :

Yong Ae - Jika saya diberi kekuatan, saya ingin membunuh musuh-musuh saya
Pendeta  - Sesungguhnya, cintailah musuh-musuhmu, maka Tuhan akan menyelamatkan jiwamu.
Yong Ae - Saya tahu kali ini Tuhan tidak akan mengabulkan permintaan saya lagi
Pendeta  - Tuhan selalu menjawab doa umat-Nya dengan cara yang bahkan tidak diinginkan oleh umat-Nya. Ini karena manusia memintanya dg amarah, dan Tuhan menjawabnya dengan cinta.
*speechless

I def agree with you father! The right words from unforeseen situation :)

Wednesday, August 26, 2015

Proyek Kasur DPR dan 7 Mega Proyek Lainnya

Selalu ada saja cara menggarong duit negara. Setelah pengajuan 7 megaproyek senilai Rp 1,6 triliun terancam ditolak Jokowi, sekarang giliran anggaran spring bed alias kasur yang diajukan (Rp 12,5 miliar). Per anggota dapat jatah Rp 19 juta. Sebetulnya bukan masalah Rp 19 jutanya, tapi kinerjanya tunjukin dulu. Ini mah yang terekspos, yang kagak malah jauh lebih gd nilainya.

Betul kan kata Fadli Zon klo proyek itu nilainya kecil, bukan megaproyek. Sebab, mereka mainnya duit gd selama ini. Sebetulnya, klo qt liat usulan 7 proyek itu uda lama. Banyak keluhan muncul dari anggota DPR dan para tenaga ahlinya. Orang awam melihat kondisi gedung DPR RI di Senayan masih sangat mewah, arsitekturnya oke, tamannya terawat, kemanan terjamin.

Cobalah tengok masuk, ruang seorang Kepala DPR, Ketua Komisi, dan anggota DPR jauh lebih memprihatinkan dibandingkan ruangan seorang manajer cabang bank swasta ternama. Pun lobby gedungnya, terkesan seadanya. Apalagi musholla di tiap gedung benar2 seadanya. Hampir semua benda adalah peninggalan para terdahulunya secara turun-temurun.

Coba tengok juga perangkat komputer yang digunakan para sekpri dan tenaga ahli mereka di ruangan. Jujur, waktu saya jadi staf ahli tante sblm akhirnya ditempatkan jd TA Dapil, kondisi gedung DPR RI Senayan dalemnya sedih banget. Klo kerja malah enak pakai laptop pribadi ketimbang PC itu. Komputer Intel jadul, entah Pentium berapa, keyboard keras berbunyi cetak-cetok, layar monitor model tabung, cembung berukuran 10", dan server diletakkan di bawah desktop. Ini membuat saya teringat ke jaman SD. Kali pertama punya komputer di rumah.

Perusahaan swasta pun sudah meninggalkan model yang beginian ini. Yah, minimal layar monitornya pakai yang flat, agak gedean dikit 14" dengan internet berkecepatan tinggi. Di beberapa bagian, malah uda pake PC MAC. Ruangannya (tentu saja) lebih nyaman meskipun hanya staf. Itu kelas perusahaan swasta nasional dan bukan manajer.

Sementara tengoklah PC milik anggota DPR. Merk Dell, warna putih, layar monitor kira-kira 18". Di hadapannya ada TV 32" yang setiap saat menayangkan siaran TV Parlemen yang dinikmati melalui jaringan TV Plasma.  

Perangkat meja kursinya berdebu (maaf tidak ada OB khusus). Mejanya dipenuhi tumpukan berkas yang entah harus diletakkan di mana lagi sebab space ruangan tidak cukup. Di depan ruang anggota dewan, ada ruang kecil berisi 1 unit komputer, lemari, dan meja kursi yang hanya cukup utk 1 org sekpri. Sementara, seorang anggota dewan memiliki 2 orang sekpri dan 1 TA. Semuanya berjejal.

Tak heran, usulan renovasi ruang itu kemudian muncul dalam 7 megaproyek tsb. Namun, sekali lagi ketika tuntutan tidak diimbangi dengan capaian kinerja yang memuaskan maka tak berlebihan jika wacana ini menuai banyak protes.

Direnovasi segede apapun, anggota dewan itu jarang nyamperin kantornya di Senayan. Paling2 klo ada hearing atau rapat mini fraksi atau sidang paripurna, setor muka dan tandatangan buat ambil duit.

Apalagi ngajuin kasur, jadi geli sendiri. Emangnya situ ngga mampu beli kasur Rp 19 juta? Okelah jika itu fasilitas, tapi please deh punya empati dikit. Nyadar ngga siy klo kondisi perekonomian kita lagi decline?

A note to my president : please reconsider the 7 mega projects proposed of parliament.



Thursday, August 20, 2015

Iklan di Media Massa

Jadi, media massa harus membanding2kan jejak kompetitor sebuah produk/usaha untuk mendapatkan pemasukkan iklan yang lebih gd? #TrikDoank

"Eh, perusahaan A kemarin berani pasang adv Rp 30 juta sekali tayang utk ukuran 400x600 mmk. Masa perusahaanmu ngga mau?"

"Event gowes kemarin, perusahaan A support Rp 40 juta loh, belum termasuk kaos dan goody bag peserta. Support donk minimal samaan gitu"

(perusahaan A dan B bergerak di bidang yg sama, namun A adalah market leader di pasar domestik, sementara B di urutan ke-2)

Yakeles, dibanding2in. Secara, market share aja uda beda. Revenue beda. Visi beda. Jelas orientasi pemilihan media massanya juga beda. Lagian, oplah koran lu tu berapa? Distribusinya nyampe ke mana aja?

Mmm... Duit segitu sayang klo dipake iklan di satu media untuk satu acara doank, dg level media seperti punya lu. Kita bisa masukin iklan segitu ke media yang lebih gd dari oplah media lu. Lagipula, qt dpt gratisan ke media onlinenya sekalian.

Plus qt bisa anggarin buat media online yg market sharenya #1. Bukan iklan siy yg ini, tapi macem fee doank bwt redakturnya. Yg penting berita positifnya naik. Low cost high impact.

Sunday, August 9, 2015

Is my president being insecure?

Hal yang paling menggelitik isi kepala, adalah ketika mengikuti pemberitaan tentang penghidupan kembali pasal penghinaan presiden dalam revisi RUU KUHP. Don't tell me that my president is being insecure. Bukankah konsekuensi menjadi seorang pemimpin adalah mendapatkan jutaan pembenci? Sebab tak ada seorang pun pemimpin di dunia ini yang mampu memenuhi keinginan seluruh rakyatnya. Itu sebabnya, selalu ada celah untuk dibenci lantaran selalu ada kepentingan berbicara di balik setiap keputusan.

Upaya JKW tersebut membuat saya khawatir, jangan2 JKW yang selama ini mencitrakan dirinya sebagai pemimpin yang sabar, legowo dan tebar senyum sejatinya ia adalah orang yang represifnya melebihi regime Soeharto. Semoga tidak begitu. Kita memang tidak hidup di US di mana orang bebas mengata-ngatai pemimpin negaranya, namun jangan lupa jika kita hidup di negara yang menjunjung tinggi demokrasi. Orang tetap punya hak untuk mengkritisi kebijakan pejabat negara. Mengkritisi, bukan menghina. Agaknya juga perlu diluruskan perbedaan definisi mengkritisi dan menghina dalam pasal tersebut. Entah dari mana datangnya ide penghidupan pasal tersebut, saya berharap langkah JKW tidak menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.

Saya juga berharap, bukan socmed yang melatarbelakangi ide tersebut. Sebab masih banyak hal yg lebih penting yg harus dilakukan ketimbang ngurusi penghinaan di media sosial. Urusan media sosial, cukup diselesaikan di media sosial, tak perlu dimaktubkan dalam undang-undang yang menguras duit negara. Ibarat penghinaan sejarah lewat buku, tak perlu membakar bukunya, tandingi dengan tulisan dalam bentuk buku pula. Masyarakat bisa lebih cerdas, punya banyak pilihan tanpa harus mencederai ilmu.

Friday, July 31, 2015

Guru

Tentang kesabaran. Saya belajar banyak dari salah seorang pimpinan saya di kantor. Orang bilang, get older get wiser. Idealnya memang begitu meski kenyataannya tak setiap orang yang beranjak usia bisa bersikap wise.

Namun, pimpinan saya ini mengajari saya banyak hal secara tidak langsung. Dia merupakan golongan get older get wiser. Saya ingin senantiasa berusaha menjadi seperti dia dalam menghadapi persoalan. Tak pernah marah dg arogan, berusaha berpikir positif, sabar, dan memiliki loyalitas yg tinggi.

Meski kadang saya menemukan dia beropini tentang orang lain dan sulit menyimpan rahasia, namun ujung-ujungnya dia mengajak saya berpikir positif dan berupaya menyelesaikan persoalan dg damai.

Sejauh yang saya kenal selama bertahun-tahun, ketika berkonflik dg siapapun dia tak pernah menunjukkan kemarahan dg cara yang mengerikan. Bagi saya, karakter seseorang yg sebenarnya akan terlihat dari bagaimana ia meluapkan amarah.

Pernah suatu ketika dia nekat melakukan teror terhadap seorang pejabat resek yang menjadikan perusahaan kami sebagai "ATM berjalan." Perusahaan kami dibully mati2an di media massa, sehingga publik mjd teropini bahwa perusahaan kami melakukan sesuatu yang ilegal. Sungguh ini sebuah kesalahpahaman yg banyak orang tidak mengetahuinya secara detil. Tapi penghakiman jauh lebih mudah hanya karena org mengetahui segelintir permasalahan.

Lalu pimpinan saya itu, di hadapan saya dia menggunakan nomor lain untuk menelpon si pejabat tsb. Jujur saya kaget. Meskipun dia pernah bercerita bahwa dia dulu adalah aktivis GMNI di kampus, tapi tdk pernah menyangka dia sanggup "melucu" di hadapan saya. Kami pun tertawa bersama usai dia menelpon si pejabat itu. Bagi saya, itu bentuk loyalitas lain terhadap perusahaan.

Dia selalu bilang, hadapi persoalan dg kepala dan tangan yang dingin. Meskipun beradu argumen, tak perlu meningkatkan intonasi apalagi main fisik. Hidup ini, kata dia, sudah cukup pait. Jangan terlena, apalagi selalu menoleh ke belakang. Lakukan saja dg baik apa yg sudah menjadi tugas dan tanggungjawabmu.

Siapapun bisa menjadi guru dalam sekolah kehidupan ini. Sebaik dan seburuk apapun yg dia lakukan, selalu ada pelajaran yang bisa kita petik. Manusia tak punya hak melakukan penghakiman.

Warna

Warna tertentu identik dg partai politik (parpol) tertentu. Meski tak ada paten resmi atas sebuah warna dan afiliasi parpol, namun publik menjadikan hal itu sebagai pengetahuan jamak yang tidak tertulis.

Seperti insiden kecil berikut ini. Perusahaan kami mengajak Pak Gubernur untuk meresmikan acara. Dibuatlah backdrop untuk panggung dan segala macamnya. Tentu saja semua memakai identitas alias logo perusahaan kami. Serba merah.

Setelah semua jadi, pada H-2 tiba-tiba Pak Gub minta revisi warna menjadi biru. Keseluruhan. Jadi kelabakan deh.. Baru nyadar klo warna merah identik dengan Partai PDIP, sementara Pak Gub berasal dari Partai Demokrat yang serba biru. Tapi pak, ini kan bukan acara parpol? Saat ini juga belum masuk musim pilgub di provinsi ini.

Baru nyadar lagi klo warna biru adalah simbol warna kompetitor perusahaan kami selama ini. Hahah.. Tapi pak, perusahaan kita ngga ada rencana ganti warna biru. Rebranding kemaren tetep dominan merah ^^

Sunday, July 26, 2015

Donasi Konsumen

Menjadi konsumen cerdas emang susah. Ngga cuma teliti sebelum membeli, tapi juga ngga gampang tergiur promo menjebak. Ngga cuma itu, mjd bijak thdp uang kembalian belanja jg penting.

Ke mana larinya uang kembalian belanja konsumen, perlu ditelusuri. Ngga susah kok, kan uda kebantu ama google dan official website ritel yg bersangkutan.

Seperti yang lagi rame sekarang, itu tuh donasi kembalian belanja. Banyak konsumen suka kesel klo ditodong kasir pas uang kembalian belanjanya diminta didonasikan. Yang sering kena celaan biasanya minimarket.

Ngga seberapa emang nilainya, tp konsumen tiba2 kebayang jumlah jaringan minimarket yg mencapai puluhan ribu maka mereka kebakaran jenggot ketika ngga tau persis bentuk pertanggungjawabannya.

Lah, harusnya kan bisa ditelusuri? Cek official websitenya, cek berita2 dari google. Tinggal searching semuanya ada kok. Ngga perlu teriak²  di socmed kek orang tolol, lagian tu duit yg namanya uda dipake amal ya tgjwb qt ama Tuhan. Pahala buat qt.

Coba deh iseng2 googling soal  pertanggungjawaban donasi konsumen, uda banyak kok media yang melansir beritanya. Yayasan yang ditunjuk buat mengelola donasi tsb juga jelas.

Kadang, orang hanya fokus ama ritel2 gd yang berjaringan seperti  Giant, Carrefour, Hypermart, Alfamart, Alfamidi serta Indomaret. Coba donk gw aja sering ngalamin raibnya uang kembalian belanja klo pas bayar di restoran ato toko2 baju dan toko2 aksesori di mal2.

Ngga besar emang, cuma 100-300 perak tapi kasirnya diem aja pura² bego ngga ngasi kembalian. Awalnya kesel, tapi yaudalaya buat tips elu. Toh gw ngasi segitu juga ngga bakal bikin gw miskin.

Gw yakin bkn cuma gw yg ngalamin kek beginian. Tapi apa dibikin rame? Konsumen pura² bego klo gini. Padahal jelas2 itu bukan donasi resmi tp masuk ke kantong pribadi.

Giliran ritel berjaringan aja langsung koar2, padahal pertanggungjawabannya jelas. Disaksiin notaris, dinsos, media, dan satu hal lagi, duit itu ngga pernah masuk ke kantong pribadi pengusaha ritel tsb.

Klo mau fair, jadilah yayasan yg siap mengelola donasi tsb. Bikin program yg feasible dan ajuin proposal, lalu presentasiin di depan manajemen ritel yang dipilih. Klo program lu bagus pasti bakal dipilih kok. Jangan salah, yayasan yg mengelola donasi konsumen itu fee-nya bisa nyampe 40% loh. Buat biaya operasional. Pertanggungjawabannya juga harus jelas. Ada rinciannya detil. Pernah baca? Terlibat juga.

Bukan maksud gw sotoy, tp sebelum koar2 sebaiknya dicek dulu. Sebelum ngritik yang ngga jelas juntrungannya, sebaiknya investigasi dulu. Jangan cuma ngasi laporan kejadian tapi tanpa ngasi solusi. Geli aja bacanya.

Klo ada kasir nakal, misalnya bilang donasi tapi masuk kantong pribadi, itu jelas perusahannya kaga taulah! Ya mana mgkn perusahaan gd melegalkan penipuan konsumen? Yg bener aja masbro! Klo ketahuan pasti bakal disanksi. Jadi ngga usa lebay deh!

Krywn perusahaan ritel aja sering byk ketipu kasir. Fasilitas diskon karyawan dipake belanja ama org lain sesama karyawan. Kok bisa? Bisa banget. Kasir tinggal input NIK (Nomor Induk Karyawan) doank.

Coba aja ketik NIK internal secara random. Bisa. Tp jgn salah, pemilik NIK yg sebenarnya bakal diinfo via email. Klo ngga ngerasa belanja tapi diskonnya kepake, bisa komplain. Tinggal diliat aja kode struknya, di maka lokasi tokonya bakal kelacak, kapan, jam berapa, siapa kasirnya, dan apa produk yg dibelinya. Kan juga ada CCTV di deket kasir.

Klo mau usaha buat memperkarakan yg begituan ya bisa banget. Cuma, kadang the power or ikhlas lebih sering bicara. Berapa sih gaji anak2 toko? Apa ya tega gara2 duit ngga seberapa tp ngliat mereka kena SP atau pecat?

Ini kejadian juga pas naik taksi BlueBird dari Bandara Soetta ke kos di daerah BMR Cikokol. Jam 23.15 turun dari pesawat, antre Blue Bird. Pas masuk taksi bilang ke sopir "Bang, BMR Cikokol tau ya? Belakang Transmart" "Iya neng" Pas uda keluar bandara, eh dia minta dipandu rutenya.

Alhasil krn sama2 ngga tau jalan, gw dibawa puter2 smpe argo bengkak jadi Rp 200.000. Mana di tengah jalan ujan deres dan sopir pura2 kencing di deket pohon pula. Tau sendiri alas di daerah Cengkareng sepinya kek apa. Sempet mikir buruk dikuntit komplotannya, ternyata itu trik buat bengkakin argo.

Kata sopir Blue Bird laennya pas gw naik bbrp hari kemudian, gw cerita dan dia saranin komplain aja ke call center Blue Bird. Sopir tsb bisa kena sanksi skors 1 th ngga boleh narik krn bikin konsumen kecewa dg argo yg bengkak. Tinggal sebut tgl dan waktu kejadian serta nomor lambung dan ama sopirnya. Waduh, kesian amat donk 1 th ngga gajian? Yaudala pak, gw ikhlas. Biar Tuhan aja yang bekerja terhadap niat buruknya ^^