Sederet cerita
Tentang seorang kawan
Datang menjawab doa
Sekejab lalu pergi
Melipat pesan
Menitip ilmu
Bukanlah wacana
Apalagi omong kosong
Tuhan mengirim dia
untuk membuka mata ini
tentang perubahan
yg tak berkesudahan
tentang perjuangan
yg tak boleh kenal lelah
Di cakrawala siang dan malam
Dia datang mengisi sisi relung
bernama TEMAN
Irreplaceble.
Real friends aren't measured in time
But in all the moments they've been there
Wednesday, April 18, 2018
Monday, October 2, 2017
Katak dalam Tempurung
Beberapa tahun silam, seorang teman wanita di kantor lama jaman magang kuliah pernah berujar, "Kamu itu jangan seperti katak dalam tempurung," ujar wanita yang saat itu berusia 35 tahun dan belum menikah. Mungkin, saat itu dia merasa pantas menasehati karyawan baru yg usianya jauh di bawah dia dg sepak terjang yg tak sebanding dgnya.
Saya yg bekerja di lantai 2 dan tdk banyak mengenal org2 yg ada di lantai 1. Jumlah karyawan yg bekerja di lantai 1 dan 2 saat itu mungkin tak sampai 100 org. Tapi entah mengapa saya enggan sksd. Kurang supel mungkin. Jadi setiap kali obrolan ttg si A si B si C ttg karyawan yg di luar lantai 2 ngga pernah "ngeh."
Bertahun2 berlalu, kabar terakhir yg saya terima dia masih bekerja di dalam perusahaan yg sama (cuma pindah anak perusahaan yg lebih kecil). Dia masih menekuni bidang yg sama, berpendidikan yg sama dan tdk ke mana-mana. Persis seperti katak dalam tempurung...
Terima kasih atas kalimat lecutannya si mbak, saya jd termotivasi berpindah2 kerja ke tempat yg lebih baik dan mau meneruskan pendidikan yg lebih tinggi.
Saya yg bekerja di lantai 2 dan tdk banyak mengenal org2 yg ada di lantai 1. Jumlah karyawan yg bekerja di lantai 1 dan 2 saat itu mungkin tak sampai 100 org. Tapi entah mengapa saya enggan sksd. Kurang supel mungkin. Jadi setiap kali obrolan ttg si A si B si C ttg karyawan yg di luar lantai 2 ngga pernah "ngeh."
Bertahun2 berlalu, kabar terakhir yg saya terima dia masih bekerja di dalam perusahaan yg sama (cuma pindah anak perusahaan yg lebih kecil). Dia masih menekuni bidang yg sama, berpendidikan yg sama dan tdk ke mana-mana. Persis seperti katak dalam tempurung...
Terima kasih atas kalimat lecutannya si mbak, saya jd termotivasi berpindah2 kerja ke tempat yg lebih baik dan mau meneruskan pendidikan yg lebih tinggi.
Wednesday, September 27, 2017
Office Romance
Siang itu, dalam obrolan ringan dg seorang kawan yg juga head dept di kantor dan kebetulan dia laki-laki. Topiknya adalah perselingkuhan di dunia kerja. Lagi marak. Wabah? Virus? Habit?
Seorang karyawan yg baik, belum tentu seorang suami yg baik, dan sebaliknya.
Seorang anak yg baik di mata orangtuanya, belum tentu seorang pimpinan yg baik dalam perusahaannya, dan sebaliknya.
Mutasi seringkali mjd alasan mengapa salah satu pasangan harus resign dari pekerjaan. Hidup yg semula double income mjd single income sangat tdk mudah di kota besar.
Namun, bagi mrk yg menganggap bahwa keluarga adalah investasi yg tak ternilai maka hidup dg single income adalah pilihan yg terakhir.
Double income dan hidup berjauhan dari keluarga adalah pilihan yg berat. Masih kata dia, kecuali klo tiap bulan ada budget cukup utk bersua anak istri. Itu cerita lain.
"Sekuat2 laki2 klo jauh dari istri bahaya," hot papa itu menegaskan. Banyak teman demikian terbuka bercerita tentang perselingkuhannya. Bukan bangga, hanya gaya bertutur seorang dewasa membuat saya bisa membedakan dari gaya yg sok2an.
Ada banyak pelaku perselingkuhan yg tdk pernah terencana, sedikit mengendap-endap dan berusaha tampil wajar tak kebablasan. Kasak-kusuk sering menguap sbg gosip tanpa klarifikasi. Ada yg kepo. Ada yg cuek. Ada yg arogan klarifikasi.
Masih soal cerita tentang teman di kantor. Entah hubungan keduanya smpe sejauh apa, si manajer wanita yg satu ruangan dg saya dan manajer laki2 jauh di kantor pusat. Hubungan yg sdh lama (ternyata), terendus olehku ketika mrk sering bertelpon mesra di sela jam kantor.
Entah apa yg dilakukan si manajer wanita ini dg selungkuhannya sehingga kemudian Tuhan dg keras menegurnya dg cara mengambil nyawa sang suami dalam sebuah kecelakaan tunggal. Si wanita inipun syok berhari2 spt org linglung.
Saya jd ikut termenung. Apakah Tuhan sdg memberitahukan padanya agar lebih menyayangi apa telah diberikanNya selama ini yg bernama pendamping hidup?
*Saya, yang tak sempurna dan tak hendak menghakimi siapapun.
Seorang karyawan yg baik, belum tentu seorang suami yg baik, dan sebaliknya.
Seorang anak yg baik di mata orangtuanya, belum tentu seorang pimpinan yg baik dalam perusahaannya, dan sebaliknya.
Mutasi seringkali mjd alasan mengapa salah satu pasangan harus resign dari pekerjaan. Hidup yg semula double income mjd single income sangat tdk mudah di kota besar.
Namun, bagi mrk yg menganggap bahwa keluarga adalah investasi yg tak ternilai maka hidup dg single income adalah pilihan yg terakhir.
Double income dan hidup berjauhan dari keluarga adalah pilihan yg berat. Masih kata dia, kecuali klo tiap bulan ada budget cukup utk bersua anak istri. Itu cerita lain.
"Sekuat2 laki2 klo jauh dari istri bahaya," hot papa itu menegaskan. Banyak teman demikian terbuka bercerita tentang perselingkuhannya. Bukan bangga, hanya gaya bertutur seorang dewasa membuat saya bisa membedakan dari gaya yg sok2an.
Ada banyak pelaku perselingkuhan yg tdk pernah terencana, sedikit mengendap-endap dan berusaha tampil wajar tak kebablasan. Kasak-kusuk sering menguap sbg gosip tanpa klarifikasi. Ada yg kepo. Ada yg cuek. Ada yg arogan klarifikasi.
Masih soal cerita tentang teman di kantor. Entah hubungan keduanya smpe sejauh apa, si manajer wanita yg satu ruangan dg saya dan manajer laki2 jauh di kantor pusat. Hubungan yg sdh lama (ternyata), terendus olehku ketika mrk sering bertelpon mesra di sela jam kantor.
Entah apa yg dilakukan si manajer wanita ini dg selungkuhannya sehingga kemudian Tuhan dg keras menegurnya dg cara mengambil nyawa sang suami dalam sebuah kecelakaan tunggal. Si wanita inipun syok berhari2 spt org linglung.
Saya jd ikut termenung. Apakah Tuhan sdg memberitahukan padanya agar lebih menyayangi apa telah diberikanNya selama ini yg bernama pendamping hidup?
*Saya, yang tak sempurna dan tak hendak menghakimi siapapun.
Saturday, September 16, 2017
Catatan Syukur
Embun belum beranjak
membalut dendam kemarin
Tepat di antara kepergian itu
yang bisu
entah seharusnya indah
Sebaris kalimat
Catatan syukur
Di langit pagi
Terukir di tengah awan
Haruskah girang?
Atau meratap?
Bisikkan pada Tuhan
Kemarin, kupetik rembulan itu
Kugenggam
lalu kumainkan di tangan kanan
Tepat sebelum "Catatan Syukur"
terlihat di langit pagi
Pertanda baik?
Dendam harus luruh
membalut dendam kemarin
Tepat di antara kepergian itu
yang bisu
entah seharusnya indah
Sebaris kalimat
Catatan syukur
Di langit pagi
Terukir di tengah awan
Haruskah girang?
Atau meratap?
Bisikkan pada Tuhan
Kemarin, kupetik rembulan itu
Kugenggam
lalu kumainkan di tangan kanan
Tepat sebelum "Catatan Syukur"
terlihat di langit pagi
Pertanda baik?
Dendam harus luruh
Saturday, September 2, 2017
I'm Sorry Baby...
Wanita itu meregang nyawa. Sakit menahun dideritanya. Entah diagnosa apa.
Tetiba datang berkabar, ruhnya tak lagi bersatu dg raganya. Mimpi di malam itu.
Bukanlah doa siapa dalam tiupan takdir. Bukan!
Karena aku tak peduli masamu bersamanya.
Aku tak hendak bersorak jika dia tak lagi bersamamu.
Aku tak hendak berlari memelukmu jika dia pergi selamanya.
Aku hendak pergi meninggalkanmu.
Ke tempat di mana tak ada lagi jejak kita.
Di lorong waktu yg berputar seperti deret ukur.
Aku akan berlari kencang seperti kau merampas kemarinku.
Lalu berlagak tak tahu. Berdalih seperti sangkamu.
Aku akan terus pergi. Tanpa ingatan kemarin. Bersamamu.
Ya, kemarin. Ada tawa di awal jumpa. Menderu nafas yg terpagut.
Meluruh dinding yg beku. Memeluk senja berganti fajar.
Tanpa mengetuk tanpa sapa. Semua tiba-tiba. Semua apa-apa.
Semua... semua... dan semua.
Tetiba datang berkabar, ruhnya tak lagi bersatu dg raganya. Mimpi di malam itu.
Bukanlah doa siapa dalam tiupan takdir. Bukan!
Karena aku tak peduli masamu bersamanya.
Aku tak hendak bersorak jika dia tak lagi bersamamu.
Aku tak hendak berlari memelukmu jika dia pergi selamanya.
Aku hendak pergi meninggalkanmu.
Ke tempat di mana tak ada lagi jejak kita.
Di lorong waktu yg berputar seperti deret ukur.
Aku akan berlari kencang seperti kau merampas kemarinku.
Lalu berlagak tak tahu. Berdalih seperti sangkamu.
Aku akan terus pergi. Tanpa ingatan kemarin. Bersamamu.
Ya, kemarin. Ada tawa di awal jumpa. Menderu nafas yg terpagut.
Meluruh dinding yg beku. Memeluk senja berganti fajar.
Tanpa mengetuk tanpa sapa. Semua tiba-tiba. Semua apa-apa.
Semua... semua... dan semua.
Friday, September 1, 2017
Sederet Tentang Dia
Dia yang baru kukenal di pengujung tahun 2016
Dia yang ramah menyapa dan bertanya
Dia yang duduk bersebelahan dgku
Dia yang punya banyak cerita
tentang sejarah perusahaan
di mana kami bekerja
Dia yang punya banyak cerita
tentang org2 di dalam perusahaan
di mana kami bekerja
Dia yang selalu mengabarkan tentang dunia
Dia yang aq dpt cerita tentangnya dari yg lain
Dia yang didepak dari jabatan prestisnya
Dia yang merupakan teman mantan pimpinan saya
Dia yang sabar menerima keputusan
Dia yang menikmati hidup
ketika banyak orang mencibir kinerjanya
Dia yang mengalah dari ego
Dia yang selalu bertanya padaku,
hidup ini apa yang sejatinya kamu cari
hidup ini tinggal menunggu waktu tentang kebenaran
Dia yang telah melintas setengah abad
Dia yang bijak pada usianya
Tiba-tiba pergi tanpa kata
karena heart attack
di Hari Jumat nan mulia,
25 Agustus 2017 pk 06.30 WIB
Selamat jalan bapak..
Semoga engkau tenang di sisi-Nya..
Darimu, saya belajar sebuah hal besar. EGO
Hidup selalu dihadapkan pada pilihan.
Diam pun adalah pilihan. Bergerak mundur juga pilihan.
Seperti ceritamu tentang seorang kawan satu angkatanmu.
Disingkirkan dari jabatan prestis memilih mundur
lalu berwirausaha. Membawa dendam dan sakit hati.
Kamu berpesan padanya, kenapa tidak dijalani saja dulu
Hidup ini sejatinya mau cari apa? Itu katamu pdnya.
Tp kawanmu tetap pergi dan kini sukses dg usahanya.
Menjadi lebih baik memang harus melalui sederet rintangan.
Jgn lupa, konflik dibuat krn Tuhan ingin menguji dan kdg
di dalamnya Tuhan berkehendak mengangkat derajat manusia.
Jangan takut mengambil keputusan.
Hidup ini apa yg sejatinya kamu cari?
Saya ingin mencari damai dg cara saya, pak.
Dia yang ramah menyapa dan bertanya
Dia yang duduk bersebelahan dgku
Dia yang punya banyak cerita
tentang sejarah perusahaan
di mana kami bekerja
Dia yang punya banyak cerita
tentang org2 di dalam perusahaan
di mana kami bekerja
Dia yang selalu mengabarkan tentang dunia
Dia yang aq dpt cerita tentangnya dari yg lain
Dia yang didepak dari jabatan prestisnya
Dia yang merupakan teman mantan pimpinan saya
Dia yang sabar menerima keputusan
Dia yang menikmati hidup
ketika banyak orang mencibir kinerjanya
Dia yang mengalah dari ego
Dia yang selalu bertanya padaku,
hidup ini apa yang sejatinya kamu cari
hidup ini tinggal menunggu waktu tentang kebenaran
Dia yang telah melintas setengah abad
Dia yang bijak pada usianya
Tiba-tiba pergi tanpa kata
karena heart attack
di Hari Jumat nan mulia,
25 Agustus 2017 pk 06.30 WIB
Selamat jalan bapak..
Semoga engkau tenang di sisi-Nya..
Darimu, saya belajar sebuah hal besar. EGO
Hidup selalu dihadapkan pada pilihan.
Diam pun adalah pilihan. Bergerak mundur juga pilihan.
Seperti ceritamu tentang seorang kawan satu angkatanmu.
Disingkirkan dari jabatan prestis memilih mundur
lalu berwirausaha. Membawa dendam dan sakit hati.
Kamu berpesan padanya, kenapa tidak dijalani saja dulu
Hidup ini sejatinya mau cari apa? Itu katamu pdnya.
Tp kawanmu tetap pergi dan kini sukses dg usahanya.
Menjadi lebih baik memang harus melalui sederet rintangan.
Jgn lupa, konflik dibuat krn Tuhan ingin menguji dan kdg
di dalamnya Tuhan berkehendak mengangkat derajat manusia.
Jangan takut mengambil keputusan.
Hidup ini apa yg sejatinya kamu cari?
Saya ingin mencari damai dg cara saya, pak.
Status di Medsos Lebih Penting?
Knapa saya jadi geli sndiri...
Pagi itu mendapat banyak invitation melalui email dari sebuah medsos bernama Linked dari bbrp kawan. Saya bukan org yang memiliki tingkat kepercayaan diri yg cukup bagus. Mski kdg rasa pede itu muncul, tp sering diselimuti rasa bersalah.
Saya klik beberapa diantara profil2 mereka, ada yg bangga menampilkan citra diri dengan menulis sederet jabatan dari yg tahun kapan smpe yg kekinian. Ada yg bangga cuma dg menuliskan jabatan manager tapi entah kerja di perusahaan macam apa dan gaji berapa. Ada yg asal2an ato sekedarnya mendeskripsikan diri tapi sejatinya saya tau dia memiliki tugas dan salary yg bisa dibanggakan.
Apakah saya adalah bagian dari manusia lawas yg menilai kepedean seseorg dengan label alay? Kata seorang kawan senior di dunia politik, dalam politik org justru harus bisa "menjual diri" agar org mengenalmu. Asal jangan kelewat batas. Celakanya, batasnya ini berada dalam tolok ukur yg sangat subyektif.
Menjual diri sah-sah saja asal sebanding dg kenyataannya, kata dia. Nek kebangetan iku jenenge dodol abab. Saya jd ingat seorang kawan bernama Yessi yg saya kenal ketika di Seoul. Bagi saya dia wanita hebat. Kala itu, di akun FB nya dia hanya menyebut dirinya lulusan sebuah SMA swasta di Jkt. Wkt saya kenal, dia sdg menempuh beasiswa di Belanda yg sistem beasiswanya bukan full scholarship. Jurusan IT Bisnis. Kebetulan wkt itu dia lagi magang di Seoul 6 bulan. Kini dia bertunangan dg pria Prancis yg rupawan. Yessy tak pernah ubah status apapun di medsos, tp foto2nya cukup bercerita bahwa wanita sederhana itu bukan sembarangan wanita.
Tuesday, August 22, 2017
Selfnote
Pengalaman dan usia seringkali berbanding lurus. Sebuah kalimat dari bos saya di kantor, sering membuat saya termenung. Betapa beliau bijak pd usianya, pd masanya. Apakah saya bisa menjadi bijak ketika seusianya kelak? Saya msh hrs banyak belajar darinya...
Saya dan beliau tdk berada dlm satu kota, namun komunikasi kami tak pernah putus. Apapun masalah yg saya hadapi dlm pekerjaan, beliau selalu sanggup back-up. Pagi itu dia memforward sms dari seorang wartawan yg isinya bikin emosi. Tapi saran dari beliau bikin saya terdiam.
Ajak dia ketemu. Ngobrol dari hati ke hati. Nambah teman / seduluran itu jauh lebih baik. Jangan cari musuh. Rupanya, si bapak mengajarkan saya utk mengalah thdp ego. Saya uda emosi bkn main mau melaporkan si wrtwn pd pemrednya, hendak saya ladenin perdebatan via WA. Untungnya, terakhir kali WA dia cuma saya READ.
Prinsip saya, daripada kebanyakan nulis kalimat2 emosi mending diam. Si bapak mengajari saya agar jangan mudah terpancing membaca kritik.
Hadapi lawan dg senyum. Kenali apa maunya. Rangkul lawan dan jadikan dia kawan. Mengalah bisa menambah kawan.
Saya dan beliau tdk berada dlm satu kota, namun komunikasi kami tak pernah putus. Apapun masalah yg saya hadapi dlm pekerjaan, beliau selalu sanggup back-up. Pagi itu dia memforward sms dari seorang wartawan yg isinya bikin emosi. Tapi saran dari beliau bikin saya terdiam.
Ajak dia ketemu. Ngobrol dari hati ke hati. Nambah teman / seduluran itu jauh lebih baik. Jangan cari musuh. Rupanya, si bapak mengajarkan saya utk mengalah thdp ego. Saya uda emosi bkn main mau melaporkan si wrtwn pd pemrednya, hendak saya ladenin perdebatan via WA. Untungnya, terakhir kali WA dia cuma saya READ.
Prinsip saya, daripada kebanyakan nulis kalimat2 emosi mending diam. Si bapak mengajari saya agar jangan mudah terpancing membaca kritik.
Hadapi lawan dg senyum. Kenali apa maunya. Rangkul lawan dan jadikan dia kawan. Mengalah bisa menambah kawan.
Thursday, June 29, 2017
Selamat Jalan Guruku...
Laurentius Dyson. Civitas akademik Universitas Airlangga pasti mengenal beliau. Sosok berwatak keras namun berperawakan lucu. Pembawaannya serius santai ketika menyampaikan materi kuliah. Semalam, Rabu 28 Juni 2017 tepat pukul 21.30 WIB beliau menghembuskan nafas terakhir di Graha Amerta RSU dr Soetomo Surabaya.
Pengujung 2013 saya masih sering bertemu dalam perkuliahan. Sosok yang lucu dan pemurah nilai ini selalu memberikan nilai A pada semua mata kuliah yang aku ambil. Terakhir yang aku ingat pesannya ketika aku berniat mengambil beasiswa ke luar negeri, beliau salah satu dosen yang bersedia memberikan rekomendasi. Lama tak terdengar kabarnya, bahkan ketika profesor dengan cara berpikir out f the box ini sakit selama sebulan di ICU sayapun tak tahu. Teman2 ramai di Facebook, namun krn akun FB sdh lama nonaktif hingga pagi ini tetiba mendapat pesanberantai di grup WA bahwa beliaun telah pergi selamanya.
Selamat jalan bapak.... Selamat jalan guru.... Selamat jalan teladan mahasiswa.... Semoga ilmumu menjadi amal jariyahmu. Aamiin...
Pengujung 2013 saya masih sering bertemu dalam perkuliahan. Sosok yang lucu dan pemurah nilai ini selalu memberikan nilai A pada semua mata kuliah yang aku ambil. Terakhir yang aku ingat pesannya ketika aku berniat mengambil beasiswa ke luar negeri, beliau salah satu dosen yang bersedia memberikan rekomendasi. Lama tak terdengar kabarnya, bahkan ketika profesor dengan cara berpikir out f the box ini sakit selama sebulan di ICU sayapun tak tahu. Teman2 ramai di Facebook, namun krn akun FB sdh lama nonaktif hingga pagi ini tetiba mendapat pesanberantai di grup WA bahwa beliaun telah pergi selamanya.
Selamat jalan bapak.... Selamat jalan guru.... Selamat jalan teladan mahasiswa.... Semoga ilmumu menjadi amal jariyahmu. Aamiin...
Tuesday, June 27, 2017
June 18th
Dua kado termanis 18 Juni 2017
Dari dua wanita "malaikat" Tuhan
Kebersamaan di Lauk Pauk
dengan saudara baru
menandai awal perjalananku
di karir yang lain
Pesan singkat dari jauh
yang memberiku tiket gratis
berjumpa kembali dengan baitullah
Terima kasih Yaa Allah...
Dari dua wanita "malaikat" Tuhan
Kebersamaan di Lauk Pauk
dengan saudara baru
menandai awal perjalananku
di karir yang lain
Pesan singkat dari jauh
yang memberiku tiket gratis
berjumpa kembali dengan baitullah
Terima kasih Yaa Allah...
Subscribe to:
Posts (Atom)