Minggu lalu saya dan kawan2 sengaja melewatkan liburan ke rumah salah seorang kawan di Tulungagung. Kota yang sama sekali tdk pernah terlintas dalam benak saya sebagai kota jujugan liburan. Pagi itu saya berbincang dg ibu kawan saya usai jalan2 habis sholat Shubuh. Ditemani sebungkus nasi pecel khas Tulungagung, dia bercerita tentang anaknya (yaitu kawan saya yang pagi itu masih tertidur).
"Saya sampe sekarang ngga pernah tau berapa IPK si A. Kenapa dia ambil jurusan ini itu juga, dia ngga pernah cerita. Anaknya agak tertutup, beda dengan adiknya yang selalu cerita," kata si ibu.
"Iya sih bu, ngga linier jurusannya. Tapi sama juga kek saya. Ngga masalah kan. Apapun ilmunya yang penting kemauan belajarnya," sahutku.
"Ada sih, tantenya (adik saya) di Jakarta yang kerja di Departemen Kelautan dan Perikanan ambil S2nya Komunikasi juga tapi di UI. Semua bukunya juga sudah diberikan ke si A tapi kok ngga pernah dibaca dan ngga ikut dibawa ke Surabaya. Makanya tantenya pas kesini bilang, kok kamu kuliah S2 nyantei sekali? Apa ngga baca-baca buku gitu ya? Kata tantenya sih, S2 itu berat kalo ngga banyak baca sendiri," ujar si ibu.
Saya tiba2 terdiam. Kata2 itu seperti terrus mendengung.
Ya, emang harus banyak baca siy. Tapi apa qt harus menampilkan diri sbg org yang sibuk membaca agar terlihat wajar dengan tidak nyantai? Begitu? Lalu, menjadi santai di luar waktu liburan adalah gambaran menabung beban akademis seorang mahasiswa S2? Bisa jadi iya, tapi bisa juga engga.
Menurut saya, S2 menjadi tidak santai bagi si tante karena dia juga bekerja. Lagipula usia si tante yg sudah 40-an mungkin membuat dia memahami buku sbg sesuatu yang fisik atau hard cover. Jadi, ketika tau keponakannya ngga baca buku secara fisik ya namanya ngga belajar. Padahal, bisa aja baca lewat eBook atau jurnal-jurnal versi pdf.
Kuliah S2 yg pendek membuatnya tampak lebih serius dan mendebarkan bagi mahasiswa. Baru saja membuka mata dan memahami teori, tiba-tiba sudah harus mengerjakan penelitian buat thesis. Ini siksaan bagi mereka yg ngambil jurusannya ngga linier. Harus ekstra belajarnya. Itu sebabnya, klo ngerjain tugas usahakan referensinya maksimal. Biar skalian nyicil belajarnya. Skalian nyicil ingatan juga. Daripada hrs mengkhususkan hari buat memahami buku babon tentang teori dll apa ngga lebih memusingkan? Ya bisa aja, itu kan pilihan. Tapi klo bisa nyicil alias kredit, knapa harus lunas? Berat.
Tuesday, January 21, 2014
Bye bye Mentari
Pernah merasakan gimana punya nomer cantik? Nomer HP maksudnya. Genap 10 tahun saya pegang nomer prabayar Mentari, saya ditelpon ama pihak Indosat, tepatnya dua tahun silam.
"Selamat, Anda adalah pelanggan setia Mentari Indosat dengan kepemilikkan nomor tepat 10 tahun," ujar operator Indosat.
Saya pikir tipu2 dari mana lagi ini. "Iya, trus kenapa mas klo 10 tahun?" tanyaku.
"Anda berhak mendapatkan hadiah migrasi ke nomor cantik paskabayar Matrix bebas abonemen, plus satu nomor Matrix bebas," kata dia.
"Berarti saya harus nanggung dua nomor lagi donk mas? Nah yang Mentari ini saya kemanakan? Apa saya harus ngopeni 3 nomor Indosat atau ketika ada klien nelpon ke nomor Mentari lama saya, secara otomatis di-direct ke Matrix tanpa saya harus mengumumkan nomor baru tersebut?" tanyaku.
Hmmm... Ini hadiah apa nambah beban pulsa bulanan ya.
"Tidak bisa mba. Itu bener2 nomer baru dan sistemnya tidak bisa direct seperti itu," lanjutnya.
"Yauda deh mas. Makasi ya infonya. Kalau hadiahnya pulsa, saya mau ambil deh, heheheh..," ujarku.
"Tidak bisa mba. Dapatnya nomor cantik Matrix yang dimigrasi secara cuma-cuma plus satu lagi nomor Matrix tapi bukan nomor cantik. Beneran nih mba ngga diambil hadiahnya? Sayang sekali loh," katanya.
"Bukanya semua operator klo migrasi juga cuma-cuma ya mas? Apa istimewanya?" tanyaku.
"Bebas abonemen ini," balasnya.
"Bebas abonemen tapi kalau tarif pulsanya lebih tinggi dari rata2 ya sama aja donk mas," ujarku.
"Ngga itu mba. Ada skema tarif khusus kok," yakinnya.
"Khusus yang mahal maksudnya mas? Heheheh.. Makasi deh mas hadiahnya saya ngga ambil," pungkasku.
Nyerah juga pake Mentari cantik +628165413444 setelah kepake selama 12 tahun. Emang hari gini msh ada ya, pelanggan yg loyal spt saya? Secaraaa itu nomer prabayar. Di dunia telekomunikasi dg churn rate yg demikian tinggi, definisi pelanggan loyal kartu prabayar menjadi sangat langka (catet ya : PRABAYAR, bukan PASKABAYAR. Kalau pelanggan paskabayar mah banyak yang loyal). Seharusnya, hadiahnya juga gede, ato setidaknya lebih kreatif heheheh... Apa dikira pelanggan ini ngga tau prkembangan dunia telko apa? Mengatakan bebas abonemen diartikan benar2 bebas abonemen? Ya engga lah. Itu kan bahasa marketing aja. Bilangnya emang bebas abonemen, tapi tarifnya mukul belakangan. Baik tarif call, SMS, internet. Pelanggan ya mana tau rinciannya tarif uda fair apa engga?
"Selamat, Anda adalah pelanggan setia Mentari Indosat dengan kepemilikkan nomor tepat 10 tahun," ujar operator Indosat.
Saya pikir tipu2 dari mana lagi ini. "Iya, trus kenapa mas klo 10 tahun?" tanyaku.
"Anda berhak mendapatkan hadiah migrasi ke nomor cantik paskabayar Matrix bebas abonemen, plus satu nomor Matrix bebas," kata dia.
"Berarti saya harus nanggung dua nomor lagi donk mas? Nah yang Mentari ini saya kemanakan? Apa saya harus ngopeni 3 nomor Indosat atau ketika ada klien nelpon ke nomor Mentari lama saya, secara otomatis di-direct ke Matrix tanpa saya harus mengumumkan nomor baru tersebut?" tanyaku.
Hmmm... Ini hadiah apa nambah beban pulsa bulanan ya.
"Tidak bisa mba. Itu bener2 nomer baru dan sistemnya tidak bisa direct seperti itu," lanjutnya.
"Yauda deh mas. Makasi ya infonya. Kalau hadiahnya pulsa, saya mau ambil deh, heheheh..," ujarku.
"Tidak bisa mba. Dapatnya nomor cantik Matrix yang dimigrasi secara cuma-cuma plus satu lagi nomor Matrix tapi bukan nomor cantik. Beneran nih mba ngga diambil hadiahnya? Sayang sekali loh," katanya.
"Bukanya semua operator klo migrasi juga cuma-cuma ya mas? Apa istimewanya?" tanyaku.
"Bebas abonemen ini," balasnya.
"Bebas abonemen tapi kalau tarif pulsanya lebih tinggi dari rata2 ya sama aja donk mas," ujarku.
"Ngga itu mba. Ada skema tarif khusus kok," yakinnya.
"Khusus yang mahal maksudnya mas? Heheheh.. Makasi deh mas hadiahnya saya ngga ambil," pungkasku.
Nyerah juga pake Mentari cantik +628165413444 setelah kepake selama 12 tahun. Emang hari gini msh ada ya, pelanggan yg loyal spt saya? Secaraaa itu nomer prabayar. Di dunia telekomunikasi dg churn rate yg demikian tinggi, definisi pelanggan loyal kartu prabayar menjadi sangat langka (catet ya : PRABAYAR, bukan PASKABAYAR. Kalau pelanggan paskabayar mah banyak yang loyal). Seharusnya, hadiahnya juga gede, ato setidaknya lebih kreatif heheheh... Apa dikira pelanggan ini ngga tau prkembangan dunia telko apa? Mengatakan bebas abonemen diartikan benar2 bebas abonemen? Ya engga lah. Itu kan bahasa marketing aja. Bilangnya emang bebas abonemen, tapi tarifnya mukul belakangan. Baik tarif call, SMS, internet. Pelanggan ya mana tau rinciannya tarif uda fair apa engga?
Sunday, December 22, 2013
Manusia Tanpa
Butuh perjuangan berat ketika kita harus bertahan di antara yg serba-tiada, dari yg semula ada (form hero to zero) selama bertahun-tahun. Dari manusia dg gelimang kemudahan, hujan fasilitas, pengakuan status sosial, kecukupan materi, tiba2 menjadi manusia "tanpa". Tanpa semua itu. Tanpa kemudahan, tanpa fasilitas gratis, tanpa pengakuan status sosial, tanpa kecukupan materi. Manusia telanjang dg atribut yang dilucuti dalam sekejab. Manusia tanpa atribut atas dijatuhkannya sebuah pilihan. Manusia yg sedang melakukan bunuh diri kelas.
Selalu ada harga yang harus dibayarkan. Ketika kau mendapatkan banyak hal, kau juga kehilangan banyak kesempatan lain. Tak ada hidup yg tanpa pilihan. Sebaiknya saja tak ada yg perlu disesali. Seorang teman berpesan, janganlah tamak menjadi manusia. Kehidupan pasti mengajarkan kita banyak hal. Apapun pilihanmu. Nikmati saja pelajarannya.
Pilihan yg kita pikir bisa memberikan jaminan, tak selalu benar2 bisa memberikan kepastian. Sebaliknya, pilihan yg kita abaikan pada akhirnya justru bisa memberikan kebaikan lebih banyak dibandingkan pilihan yg pertama. Sebab tak ada jaminan dalam hidup. Jaminan hidup nyaman oleh materi? Hidup tenang tanpa masalah? Bahagia itu kan tak bisa terukur ketika hidup sendiri adalah ketidakpastian. Bahagia ada di kepala kita. Kita sendiri yg menciptakan. Bukan di mana kamu berada atau seberapa banyak materi engkau miliki atau siapa saja org2 penting di sekelilingmu bisa memberimu sesuatu. Kalau itu namanya bahagia semu yg memberikan "kepastian" semu.
Selalu ada harga yang harus dibayarkan. Ketika kau mendapatkan banyak hal, kau juga kehilangan banyak kesempatan lain. Tak ada hidup yg tanpa pilihan. Sebaiknya saja tak ada yg perlu disesali. Seorang teman berpesan, janganlah tamak menjadi manusia. Kehidupan pasti mengajarkan kita banyak hal. Apapun pilihanmu. Nikmati saja pelajarannya.
Pilihan yg kita pikir bisa memberikan jaminan, tak selalu benar2 bisa memberikan kepastian. Sebaliknya, pilihan yg kita abaikan pada akhirnya justru bisa memberikan kebaikan lebih banyak dibandingkan pilihan yg pertama. Sebab tak ada jaminan dalam hidup. Jaminan hidup nyaman oleh materi? Hidup tenang tanpa masalah? Bahagia itu kan tak bisa terukur ketika hidup sendiri adalah ketidakpastian. Bahagia ada di kepala kita. Kita sendiri yg menciptakan. Bukan di mana kamu berada atau seberapa banyak materi engkau miliki atau siapa saja org2 penting di sekelilingmu bisa memberimu sesuatu. Kalau itu namanya bahagia semu yg memberikan "kepastian" semu.
Saturday, December 21, 2013
Tabir
Dua tabir dalam satu waktu
Kenyataan nampak sbg sesuatu yang mengerikan
Menyayat hingga darah mengucur deras
Menampar hingga kaku leher tak sanggup memutar
Menghujam ulu hati
Sakit hingga ke ubun-ubun
Tak ada lagi kata
yang sanggup mewakili
Episode dlm drama kehidupan itu
Kutuk dan sumpah serapah
perlahan tapi pasti kembali
Pada mulut-mulut yang sombong
Layaknya boomerang para Aborigin
Jadi simpan saja amarah kata itu
Bukalah maaf seluas samudera
Karma bukan milik kamu
Ia milik jagad ini
Menyatu sbg lingkaran magnet kehidupan
Terus-menerus tak terputus
Maka tak perlu bangga kau manusia
Ketika ia yg kau kira nyaris menyeret ajalmu
Menunduk di hadapanmu
Mengemis seribu maaf
Kau pikir dosa hanya di tangan ia
Terlalu lelah kau sesatkan pikirmu sendiri
Boomerang itu akan kembali
Menyusup ke pintu-pintu ragamu
Yg tak sekalipun pernah kau duga
Siapkan samudera maafmu
Sebab hanya itu
yang lebih mudah memenggal
mata rantai kutukan sesat itu
Kenyataan nampak sbg sesuatu yang mengerikan
Menyayat hingga darah mengucur deras
Menampar hingga kaku leher tak sanggup memutar
Menghujam ulu hati
Sakit hingga ke ubun-ubun
Tak ada lagi kata
yang sanggup mewakili
Episode dlm drama kehidupan itu
Kutuk dan sumpah serapah
perlahan tapi pasti kembali
Pada mulut-mulut yang sombong
Layaknya boomerang para Aborigin
Jadi simpan saja amarah kata itu
Bukalah maaf seluas samudera
Karma bukan milik kamu
Ia milik jagad ini
Menyatu sbg lingkaran magnet kehidupan
Terus-menerus tak terputus
Maka tak perlu bangga kau manusia
Ketika ia yg kau kira nyaris menyeret ajalmu
Menunduk di hadapanmu
Mengemis seribu maaf
Kau pikir dosa hanya di tangan ia
Terlalu lelah kau sesatkan pikirmu sendiri
Boomerang itu akan kembali
Menyusup ke pintu-pintu ragamu
Yg tak sekalipun pernah kau duga
Siapkan samudera maafmu
Sebab hanya itu
yang lebih mudah memenggal
mata rantai kutukan sesat itu
Selamat Jalan Pak Ali..
Kerut di wajahmu belumlah banyak
Hanya uban yg kian tak terhitung
Usiamu jauh melesat menyamai ayahku
Santun dan ramah
Jujur dan berani
dengan bahasa yg tak berjarak
Pada siapapun
Aku tak terlalu dekat mengenalmu
Hanya beberapa kali perbincangan
Saat kita masih menggunakan jubah yg dulu
Aku dg jubahku
Engkau dg jubahmu
sebagai pejabat publik
Tuhan mempertemukan kita kembali
yg ternyata itu kali terakhir
Ketika kita jauh berada di negeri seberang
Madinah-Mekkah
Selamat jalan Pak Alisyahbana...
Doa kami menyertaimu
Innalillah wainnailaihi rojiun
Hanya uban yg kian tak terhitung
Usiamu jauh melesat menyamai ayahku
Santun dan ramah
Jujur dan berani
dengan bahasa yg tak berjarak
Pada siapapun
Aku tak terlalu dekat mengenalmu
Hanya beberapa kali perbincangan
Saat kita masih menggunakan jubah yg dulu
Aku dg jubahku
Engkau dg jubahmu
sebagai pejabat publik
Tuhan mempertemukan kita kembali
yg ternyata itu kali terakhir
Ketika kita jauh berada di negeri seberang
Madinah-Mekkah
Selamat jalan Pak Alisyahbana...
Doa kami menyertaimu
Innalillah wainnailaihi rojiun
Friday, December 20, 2013
Kepada Kawan
1 Senja di 6 Purnama
Kita cukupkan sua kemarin
Bersama raut wajah
dan hati yg saling berdegup
Legit
Bersama waktu
Singkat
Membungkus kesan
Tepat di jantung hati
Jika waktu berputar kembali
Bolehkah kubingkaikan
Cerita kita
Di sudut jiwa yg saling mengisi
di antara detik pergantian senja
-pengujung Desember-
Kita cukupkan sua kemarin
Bersama raut wajah
dan hati yg saling berdegup
Legit
Bersama waktu
Singkat
Membungkus kesan
Tepat di jantung hati
Jika waktu berputar kembali
Bolehkah kubingkaikan
Cerita kita
Di sudut jiwa yg saling mengisi
di antara detik pergantian senja
-pengujung Desember-
Friday, November 22, 2013
Skip
Can I skip over you like a spacebar?
I have something
to say...
to give...
But only yesterday
and maybe that something
has turn into nothing now
I wish I keep thinking
it's not goodbye
It is a time to fly
But.....
*your June*
I have something
to say...
to give...
But only yesterday
and maybe that something
has turn into nothing now
I wish I keep thinking
it's not goodbye
It is a time to fly
But.....
*your June*
Friday, November 8, 2013
13 Purnama *아비*
Waktuku tak banyak
Bersamamu
Saat ini
hanya 13 purnama lagi
aku bisa melihatmu
Mungkin...
Masih banyak kata
jika kau mau
Aku luangkan waktu
jika kau minta
Pasti...
Di purnama 14 atau 15
Aku akan pergi
Bersama jejak kaki
Jauh ke utara
negeri orang
Bersama separuh hati
yang kutitipkan di sini
padamu
Terima kasih
telah mewarnai lembaran ini
yang nyaring menjelang fajar
You'll still live in me
Bersamamu
Saat ini
hanya 13 purnama lagi
aku bisa melihatmu
Mungkin...
Masih banyak kata
jika kau mau
Aku luangkan waktu
jika kau minta
Pasti...
Di purnama 14 atau 15
Aku akan pergi
Bersama jejak kaki
Jauh ke utara
negeri orang
Bersama separuh hati
yang kutitipkan di sini
padamu
Terima kasih
telah mewarnai lembaran ini
tertawa berdegup bersama
melintasi 3 senja
stiap pekan
Menuliskan ribuan syair di hatiyang nyaring menjelang fajar
You'll still live in me
Negeri 4 musim
Sebuah cerita tentang negeri 4 musim
dan tubuh yg membeku di antara salju
bersama oak yg tak lagi ramah
rindangnya tertutup es
Aku berdiri di sana
Sebuah negeri yg sejengkal kutub
Menggigil mengoyak rusuk
Setiap menit setiap detik
Mentari malu-malu menyengat
Sebuah negeri yg jauh dari angan
Asing
Menerobos mimpi
Tapi adzan masih di sana
Sayup terdengar
dari sudut flat mungil
aku merenda hari
Wanita berkerudung yg lalu lalang
Congkak menengadah berjalan
Tegap gegap sigap
Potret yg sungguh berbeda
dari orang2 negeriku
Ah, aku pasti rindu
dan tubuh yg membeku di antara salju
bersama oak yg tak lagi ramah
rindangnya tertutup es
Aku berdiri di sana
Sebuah negeri yg sejengkal kutub
Menggigil mengoyak rusuk
Setiap menit setiap detik
Mentari malu-malu menyengat
Sebuah negeri yg jauh dari angan
Asing
Menerobos mimpi
Tapi adzan masih di sana
Sayup terdengar
dari sudut flat mungil
aku merenda hari
Wanita berkerudung yg lalu lalang
Congkak menengadah berjalan
Tegap gegap sigap
Potret yg sungguh berbeda
dari orang2 negeriku
Ah, aku pasti rindu
Thursday, November 7, 2013
Dialek Kedaerahan ala JTV dan TransTV
Dubbing film menggunakan bahasa atau dialek kedaerahan memang sesuatu yg unik. Meski kadang kedengeran aneh tapi boleh dibilang itu bagian dari kreativitas. Ketika stasiun TV lokal Sby yakni JTV kali pertama meluncurkan film bule dengan alih bahasa atau dubbing bahasa Suroboyoan bbrp tahun silam, respons pemirsa sangat beragam. Awalnya banyak yg suka karena sangat menghibur. Pilihan kata yg tdk biasa membuat perut pemirsa terpingkal-pingkal. Contoh salah satu dialog dalam adegan Knight Rider : Michael Knight "Aku sakjane wes suwi perhatian karo peno, tapi wedi mbek bapakmu" // "Lha lapo wedi, nek perkoro ngono gak usah sungkan cak. Langsung ae!" ujar teman wanita Knight saat mereka berkencan di tepi danau. Membayangkan bagaimana pasangan bule berdialog dg bahasa Jawa saja tak sanggup menahan tawa. Ini benar2 menghibur. Tapi ketika JTV semakin tidak serius dalam mengemasnya maka pemirsa pun juga kian tidak serius menanggapinya. Film-film yg diangkat kelewat jadul sehingga kurang menarik, jam tayang juga tidak konsisten. Contohnya Knight Rider itu, film tsb tayang di awal tahun 90-an dan diputar oleh JTV di pengujung tahun 2010. Maka jangan harap ada iklan nongol saat tayangan tsb. Kesan yg tersirat, stasiun televisi ini memang low budget.
Kembali soal topik dialek kedaerahan dalam dubbing film, TransTV baru-baru saja menayangkan drama korea (k-drama) That Winter The Wind Blows di jam prime time 18.00-19.00 setiap Senin-Jumat sejak 4 November. Saya tergelitik ketika hari ini kali pertama melihat dan mendengar banyak kata "lo" "gue" "gile aje" sepanjang tayangan tsb. Maksudnya apa berupaya mengemas dialog itu seperti dialog dalam sebuah sinetron ala Jakarta? Dibikin agar lebih membumi sehingga dubbingnya di-Betawi-kan? Lucu sih. Kreatif juga. Apalagi ketika TransTV berusaha tampil beda dg menggandeng para artis ibukota sebagai dubber dalam tayangan tsb. Ini sebuah inovasi. Sebab, kita tau salah satu stasiun televisi yang paling konsisten terhadap tayangan K-drama sejak dulu adalah Indosiar (plus dulu ANTV). Model dubbingannya Indosiar sudah akrab di telinga. Menggunakan pilihan kata EYD. Pengaturan jedanya pas dan penyambungan dialog juga terlatih. Namun ketika model dubbing k-drama TransTV berusaha tampil beda dari drama beralih bahasa lainnya dg menyertakan "lo" "gue" agaknya TransTV gagal menghibur para pecinta drama korea. Drama yg dipilih memang relatif baru, tayangan SBS awal 2013 dg para pemain yg tdk asing di layar kaca k-drama macam Song Hye Kyo, Kim Bum, Zo In Sung. Namun ketika kreativitas dalam penyajian drama tsb kurang dikemas dg matang, akhirnya hanya akan menjadi tayangan yang latah. Dipaksakan. Ikut2an tren k-drama stasiun tv sebelah. Kesannya TransTV ogah dibilang ketinggalan tren korean culture. Ini patut disayangkan.
Kembali soal topik dialek kedaerahan dalam dubbing film, TransTV baru-baru saja menayangkan drama korea (k-drama) That Winter The Wind Blows di jam prime time 18.00-19.00 setiap Senin-Jumat sejak 4 November. Saya tergelitik ketika hari ini kali pertama melihat dan mendengar banyak kata "lo" "gue" "gile aje" sepanjang tayangan tsb. Maksudnya apa berupaya mengemas dialog itu seperti dialog dalam sebuah sinetron ala Jakarta? Dibikin agar lebih membumi sehingga dubbingnya di-Betawi-kan? Lucu sih. Kreatif juga. Apalagi ketika TransTV berusaha tampil beda dg menggandeng para artis ibukota sebagai dubber dalam tayangan tsb. Ini sebuah inovasi. Sebab, kita tau salah satu stasiun televisi yang paling konsisten terhadap tayangan K-drama sejak dulu adalah Indosiar (plus dulu ANTV). Model dubbingannya Indosiar sudah akrab di telinga. Menggunakan pilihan kata EYD. Pengaturan jedanya pas dan penyambungan dialog juga terlatih. Namun ketika model dubbing k-drama TransTV berusaha tampil beda dari drama beralih bahasa lainnya dg menyertakan "lo" "gue" agaknya TransTV gagal menghibur para pecinta drama korea. Drama yg dipilih memang relatif baru, tayangan SBS awal 2013 dg para pemain yg tdk asing di layar kaca k-drama macam Song Hye Kyo, Kim Bum, Zo In Sung. Namun ketika kreativitas dalam penyajian drama tsb kurang dikemas dg matang, akhirnya hanya akan menjadi tayangan yang latah. Dipaksakan. Ikut2an tren k-drama stasiun tv sebelah. Kesannya TransTV ogah dibilang ketinggalan tren korean culture. Ini patut disayangkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)