Monday, July 20, 2015

Lebaran

Nothing's horrible than thef and robbery involving violence during Lebaran. Over and over again in every year holy month Ramadhan. Welcome to my country. Kejadian ini selalu menakutkan bagi banyak pihak, termasuk saya yg feeling insecure klo bepergian jelang Lebaran. Orang nekat melakukan tindak kriminal demi sejumlah uang untuk Lebaran.

Lalu kenapa Lebaran jadi alasan? Memang ada yang bisa nolak tradisi? Tradisi pulang kampung, beli baju baru, motor baru, mobil baru, gadget baru, perhiasan baru, ngasi THR buat ponakan dan anak-anak kecil di sekitar rumah yang biasanya "unjung-unjung."

Bagi banyak orang muslim, Lebaran selalu extra cost. Cost to celebrate the Ied. Merayakan kemenangan setelah sebulan menahan hawa nafsu. Berangkat dari esensi ini, setiap org bebas memaknainya. Tapi entah kapan tradisi "extra cost" ini bermula, yang pasti smpe detik ini banyak orang masih mengamininya.

Religion and tradition. Tradisi serba baru yang disimbolkan dari apa yang nampak, ngga pernah saya ikutin. Cuma tradisi berbagi THR dan pulang kampung masihlah gw aminin. Sejak dilahirkan dari kedua orangtua yang nonmuslim, tradisi semacam ini saya maknai sendiri.

Lantaran ada extra cost ini, lantas perusahaan memutuskan memberi THR 1x gaji terhadap karyawannya alias gaji ke-13 bagi PNS. Sometimes, Eid is just an annual celebration. Family gathering, eat local food called "ketupat opor ayam," ask for forgiveness, and gift of money for children.

Namun, menolak tradisi semacam ini agak susah terurama bagi mereka yang ngga punya kerjaan tetap ato bahkan pengangguran. Maka extra cost didapat dg cara2 yang menyedihkan. Hitung ada berapa banyak motor hilang di deretan kompleks kos2anku jelang Lebaran kemarin.

Laptop, HP, kamera, duit, raib semua di dalam kamar karena kemasukan maling. Jambret merajalela di jalanan ngga kenal waktu. Perampokan toko emas terus aja bergulir. Di waktu yang sama, polisi dg seenaknya mengumumkan angka kriminalitas dari tahun ke tahun turun. Turun dari Hongkong? Yakeles ngga ada laporan diartiin ngga ada kriminalitas. Lu aja yg kurang patroli bos. Tuh orang teriak2 kejambretan di jalan sering pada ngga lapor. Lapor juga percuma kali ya, buat statistik doank.

Jadi Lebaran ngga cuma extra cost tapi juga ekstra waspada. People sometimes, will do everything to celebrate tradition just because they want to be considered as normal people. Bagi muslim newbie seperti saya, klo ngga salah memaknai esensi perayaan Idul Fitri : Merayakan kemenangan atas kehidupan dan pribadi baru yang lebih baik. Lahir menjadi manusia baru yang lebih suci.

- Happy Eid Mubarak 1436 H -

Sunday, July 19, 2015

Turkish Wave


Satu-satunya sinetron ato drama ato apalah namanya cerita bersambung yg paling suka saat ini cuma K-Drama. Itupun streaming di Youtube. Sejak tv kurang menarik, semua tontonan beralih ke layanan data. Tapi, ngga sengaja kemarin pas pulang liat TransTV di kamar ada cuplikan "Cinta Bersemi di Musim Cherry (CBdMC) " Segera. Begitu tulisan di layar tv. Insert kalimat dubbingnya, itu serial drama asal Turki.

Aha, televisi qt mulai kecanduan drama Turki? (do not confuse with Dramaturgi hehe..) Entah kpn awal masuknya sinema asal negeri kebab ini kali pertama, tiba2 pemilik stasiun tv qt mengadopsinya secara berjamaah. Seperti demam telenovela dulu, lalu drama India, lalu Korea, lalu India lagi, kemudian Turki. Agaknya, budaya Eropa Timur mulai menginvasi layar kaca Tanah Air.

Then movie/drama become the right tool for acculturating values? Yes, it's time for Turkish Wave, just like Korean Wave years ago. Sejak King Suleiman, lalu Elif, sekarang CBdMC, drama2 Turki mulai diakrabi pemirsa. Para pemilik stasiun tv menangkap kejenuhan penonton terhadap tayangan2 Hollywood sbg peluang dg menghadirkan sinema2 dari negara yang selama ini tak lazim. Berhasilkah menaikkan rating? Probably. Because there's so many commercials which break every few minutes when the drama aired (wish the drama aired without interruption ;).

Drama and culture. Seni adalah bagian dari budaya.Tengok saja di setiap tayangan drama dari negara berbeda, ada berapa simbol2 baru yang dipertontonkan. Mulai musik, fashion and accessories, dialek dan istilah khas lokal (khusus drama/film yg tdk dialihbahasakan), gadget, hingga arsitektur bangunan yg mjd setting drama.

Agak sulit menelusuri drama CBdMC lewat google. Tertarik karena salah satu pemainnya kece, searching di mesin pencari google malah bikin desperate. Meski akhirnya nemu, kendala bahasa sempet bikin gagal fokus. Ok, Kiraz Mevsimi (Cherry Blossom), dibintangi model macho bernama Serkan Cayoglu, 28 th.

Pria2 Turki emang omaigosh. Inget wkt umroh di Masjidil Haram 4 th lalu, tiap noleh ke kiri kanan papasan ama pria2 Turki selalu bergumam Subhannallah. Mba Lili, temen sekamarku yang qt tawaf selalu barengan cuma bisa senyum2 manggut2. Baru tau ya neng? Si elok bermata biru ngga cuma punya bintang Hollywood, kata dia. Ah, i c.

Dunia google bikin hidup tak lagi berjarak. Asal masukkan keyword yang tepat, semua informasi dalam genggaman. Kendala bahasa, tinggal klik google translate. Meski terjemahannya ngga selalu tepat, minimal org awam bisa belajar dari mesin penerjemah ini.

Saturday, July 18, 2015

Subway. KRL. Commuter

Mimpi punya subway seperti di Korea boleh donk. Ngga perlu yg hrs underground, stasiun ngga kumuh, keretanya bersih, wangi, penumpangnya tertib dan kece2. Mimpi banget tuh. Tapi minimal, di area stasiun dilengkapi subway refund machine alias deposit refund machine gitu. Lebay ngga? Investasinya gd sih, tapi menurutku itu bakal sangat membantu. Kadang suka kesian aja ngliat penumpang KRL antre panjang cuma mau refund tiket. Iya. Demi duit Rp 11.000 rela antre setiap kali pake KRL.

Beli donk ya tiket yg gocap-an itu. No expired date, tinggal top-up berapapun, cuma ninggal saldo Rp 20.000 yg ngga bisa di-refund. Tapi ternyata, masih banyak org qt yg ngga berpikir praktis. Apa ngga pusing tiap kali perjalanan harus antre buat refund doank? Berapa banyak waktu kebuang? Capeknya antre berdiri juga ngga ketulungan. Belum lagi klo pas panas terik. Klo loketnya di dalem stasiun masih oke. Adem. Klo yg nempel doank di pinggiran bagian luar stasiun, itu yg susah.

Pernah juga ngalamin yang beginian. Tapi ngga tahan juga akhirnya beli yg gocap. Praktis. Daripada tiap perjalanan beli tiket (dalam bentuk commuter electronic card berisi saldo tertentu) lalu pulangnya harus refund secara manual. Antre. Capek. Yah, moga2 aja someday pemerintah bisa beli deposit refund machine buat ngurangin antrean. Kesian masyarakat yg ngga punya duit. Mereka cuma bisa ngandelin moda transportasi massal yg pelayanannya belum bisa maxi.

Klo di Korea punya subway, qt punya KRL. Kereta Rel Listrik (Commuter Line). Uda byk kemajuan juga si, sejak KRL berperasi. Sekarang lebih bersih, lebih aman, meski penumpangnya msh pada norak, meski suplai listrik kadang terkendala jadinya macet. Iya, penumpangnya emang norak. Ngawur juga. Suka dorong2an, desek2an kuatir ngga kebagian seat. Mana barang bawaanya segeda gaban ditaro di lantai kereta donk, bukannya di bagasi kabin kereta. Ditegur petugas malah protes bawaan berat ngga bisa naikin. Hiks.. Apalagi klo brenti di St. Tanah Abang. Alamaak kedesek ama emak-emak yg abis borong dagangan di pasar. Siap-siap aja deh hehehe...

Sampe kapan transportasi massal di negeri ini bener2 nyaman? Butuh waktu puluhan tahun, mungkin. Ngga cuma komitmen pejabat elite. Kata mereka, uda bagus qt punya KRL yang melintas di 72 stasiun (8 stasiun transit) meski baru di wilayah Jabodetabek. Uda bagus qt punya busway, meski baru brenti di 29 halte. Jakarta doank. Nasib kota lain? Coba situ tanya ke pemkot/pemkab setempat ^_^

Friday, June 26, 2015

Teknologi

Suka ngiri ama teman-teman yang tinggal di kota2 yang uda bisa dijangkau layanan 4G (LTE) Bolt. Layanan data berkecepatan super. Hari gini siapa yang ngga mupeng ama internet berkecepatan super dg harga "terjangkau." Pernah incip2 layanan Bolt, nebeng punya teman di kantor. Mau beli sayang juga, di kos uda ada wifi yang kenceng. Cuma Rp 180.000 per bulan bisa streaming ampe mampus tiap hari, kecuali ada hujan pasti bakal gangguan 1-2 hari. Ini bikin bete.

Saya penduduk nomaden Jabodetabek. Rumah di Surabaya. Layanan ini belum ada di kota kelahiran saya. Sayang banget. Provider gd seperti TSel, XL, Smartfren emang uda ada layanan 4G tapi tarifnya mahal.

Era masyarakat informasi emang unik, selalu rakus data. TV uda ngga menarik. Jujur, saya tipe orang yang jarang nonton TV. Sebulan mungkin cuma 3-4 kali nyalain TV. Menikmati layanan data jauh lebih seru. Selamat datang di era konvergensi media. Ketika semua paket informasi bisa diakses hanya dengan satu media/gadget.

Mobilitas yang tinggi membuat layanan data menjadi primadona. Bukan, bukan dipake untuk sekadar socmed. Rugilah klo langganan data mahal2 cuma buat login Path, Instagram, Twitter ato Instant Messanger lainnya. Facebook bahkan uda ngga jaman. Streaming Youtube ato file2 video online jauh lebih seru melebihi nonton film di TV kabel atau berita di TV yang datar2 aja.

Menanti weekend yang cuma duduk seharian di kamar ngabisin kuota, rasanya seperti mau dilamar pacar. Persiapannya jauh lebih heboh buat weekend. Senengnya akut.

Dosenku pernah bilang, teknologi itu seperti sampah. Life cycle nya pendek dan soon or later inovasi yang dielu-elukan di suatu masa tiba2 menjadi barang rongsokan yang mengenaskan. Seperti baru kemarin aja beli, lalu tertidur dan pas bangun eh barang itu uda ketinggalan jaman.

Fungsinya menjadi sangat terbatas karena ditemukannya teknologi lain yg mampu memberikan fungsi yg lebih banyak. Karena diproduksi massal, maka harganya pun jauh lebih murah. Teknologi "mahal" yang ada di genggaman kemarin, yang dielu-elukan, tiba2 menjelma jadi penyesalan. That's the way technology goes.

Thursday, June 25, 2015

Life


Sebenarnya, apa yang kamu cari? Apakah dengan menjegal kaki orang lain maka kamu akan lebih dulu sampai di garis finish? Apakah dengan menebar gosip murahan kamu akan terlihat lebih baik sebagai pembanding antara hitam putih yang kamu ciptakan? Apakah dengan melontarkan kalimat2 satir setiap kali obrolan, maka kamu akan terlihat lebih cerdas? Cerdas mencari celah orang lain. Mirip kata pepatah, gajah di pelupuk mata tak nampak, kuman di seberang lautan tampak.

Saya jadi ingat kalimat seorang kawan. Ketika kamu tak bisa membuat orang lain tertawa, minimal jangan membuatnya menangis. Ketika kamu tak bisa menghibur, minimal jangan menyakiti. Ketika kamu tak bisa memberi, minimal jangan mencela.

Dalam kamus saya, perilaku orang2 semacam itu lebih mirip dg orang sakit jiwa terselubung. Gangguan kepribadian, sebuah kondisi yang tak lazim yang lama2 mendorong orang lain utk membentuk kepribadian serupa. Sebuah perilaku berulang yang menjadi kebiasaan. Itulah kepribadian. Kepribadian sakit jiwa yang menjadi jamak.

Ketika materi candaan tiap hari mengarah pada fisik, harta, dan intelektual seseorang. Ketika celaan sudah menjadi kebiasaan alias hobi. Then, welcome to the jungle.

Lagi2 ingat nasehat teman, hidup ini menjadi begitu banyak masalah kalau kita memasukkan semua permasalahan itu ke dalam kepala dan hati. Yang ada, kita bakal ikutan gila. Sebab tak setiap masalah perlu dipikir. Butuh kebiasaan saja utk bisa membedakan mana masalah sepele dan mana masalah berat.

Kapasitas otak manusia terbatas. Ada hal2 yang tak perlu masuk ke dalam otak, apalagi turun ke hati. Ketika semua hal dijejalkan masuk, maka isi kepala akan tumpah. Sering kita tak sadar bagian mana yang tumpah akibat salah menyusun prioritas.

Manusia punya dua telinga dan satu mulut. Idealnya, mereka lebih banyak mendengar ketimbang bacotnya. Tapi banyak juga yang ngga nyadar.

Semoga hal2 semacam ini mampu menjadi ladang amal untuk membangun kesabaran dan senantiasa memohon ampun pada-Nya.

Friday, June 5, 2015

Dailan Isekak

Saya bukan simpatisan DI, tapi ketika melihatnya dihujat rame2 lewat tulisan "Dahlan Iskan Kesetrum Gardu Listrik" hati saya miris. Era pendzaliman sdg dimulai? Orang2 yg tak paham benar kasusnya mendadak sotoy dan girang.

Apa benar proyek senilai lebih dari Rp 1 triliun itu memperkaya dirinya? Musuh seringkali sukses mencari celah lawan meskipun kasus yg sebenarnya tdk segamblang definisi korupsi itu sendiri.

Pembaca yg cerdas tdk seenaknya latah menghujat. DI mungkin bukan orang bersih, tapi mungkin juga tidak senggarong yang dibayangkan org lewat berita2 di media massa yg kdg ditulis oleh wartawan kemarin sore yg cuma paham sepenggal kasusnya.

Agak susah ketika informasi telah menjadi bagian dari komoditas. Demi rating. Demi iklan. Akibatnya, banyak media yg mendadak ikut2an menyorot hanya karena tak ingin ditinggal permirsa/pembacanya (kecuali Jawa Pos Grup sudah pasti akan mengabaikan isu ini).

DI memang sudah lama menjadi TO untuk dijebloskan dalam jeruji besi, sebab posisinya sangat strategis menangani proyek2 "raksasa" di mana ada banyak orang yang berpotensi tidak kebagian pelicin. Orang2 tersebut (mungkin) berpotensi menjelma sbg malaikat suci yg merasa berhak memutuskan siapa yg salah dan siapa yg benar. Tinggal tunggu waktu.

Saya tak hendak membela DI, tak ada untungnya juga bagi saya. Namun saya lebih miris menghadapi kenyataan bahwa negeri ini sampai kapanpun tak akan siap dipimpin oleh sebaik2 apapun sosok pemimpinnya. Selalu mencari celah, gampang menghujat, enggan belajar dari kesalahan, sulit memberi kesempatan pada sosok pemimpin yang sedang ingin berbenah. Lalu, lebih tepatnya carilah pemimpin dari bangsa malaikat.

*Saya, yang selalu berdoa agar pemimpin2 negeri ini amanah*

Hemat

Budaya hemat itu berawal dari gaji. Suatu siang, mungkin setiap hari siang menghadapi teman-teman yang ketika makan siang harus membawa air mineral sendiri. Menyisir depot-depot murah alias food court pinggir jalan yang setiap kali makan tidak lebih dari Rp 20.000. Pemandangan ini terjadi pula di cabang lain, masih di kantor yg sama.

Pernah saya iseng mengkalkulasi dan membandingkan, sebesar besar nilai penghematan jika membeli minum di depot dg membawa air mineral sendiri. Jika asumsinya es teh Rp 3.000 x 22 = Rp 66.000 maka spend money untuk minuman ketika makan siang dlm sebulan tak sampai Rp 100.000. Bukan angka yang fantastis. Namun sedikit aneh ketika mereka mampu menenteng gadget2 update yang bahkan tak bisa mereka makan.

Jujur, budaya seperti ini baru bagi saya. Di perusahaan sebelumnya, makan siangpun bahkan hampir setiap hari di mal. Mau nongkrong di cafe manapun tak jadi soal. Karaoke kapanpun tak pernah mengeluh. Semua tinggal bilang. Tak tau berapa besar gaji sebulan, ATM juga nyaris tak pernah digunakan. Biaya operasional utk hidup sehari2 selama bertahun2 sdh "terjamin." Jangan kaget, itulah bedanya profesi dulu dengan sekarang.

Bagi teman2 yg "terperangkap" dlm zona nyaman, meninggalkan profesi yg lama adalah hal yg sangat bodoh. Namun bagi saya, bekerja itu juga soal nurani. Saya tak ingin menjadi katak dlm tempurung yang hanya memahami hidup melalui teropong kacamata kuda. Saya melompat. Kenyataan yg saya dapati tidak sesuai ekspektasi. Lupakan salary 2 digit. Apakah saya kecewa? Kadang. Namun, sampai detik ini saya percaya jika saya sebetulnya layak digaji 3x lipat dr saat ini dan itu tidak terjadi, maka selebihnya Tuhan akan memberikan yang 2x itu dalam bentuk lain. Biarlah Tuhan yang menilai kerja keras saya.

Saya masuk ke dalam sebuan perusahaan yg menerapkan efisiensi gila2an. Termasuk gerakan mematikan lampu 1 jam ketika jam makan siang (padahal tdk sebanding dg ongkos mengganti peralatan listrik yg cepat rusak ketika sering2 ON-OFF). Efisiensi ini dilihat dari sisi yg mana?

Sebuah perusahaan yang bahkan entah sengaja atau tidak, mempekerjakan lebih banyak lulusan SMA dg harapan boleh menggaji mrk sebatas UMR. Banyak karyawan yang berusia muda sekitar 23-26 tahun tapi sudah punya anak 2-3. Awalnya saya bengong, ke mana masa mudanya? Pada usia tsb (usia di mana saya ribut bekerja dan membiaya kuliah) mereka sudah ribut perkara susu bayi dan menyekolahkan anak. Mereka mengawali karirnya sejak lulus SMA, lalu menikah. Lalu, apakah gelar setinggi apapun punya kecenderungan tdk berlaku karena keengganan membayar gaji yang lebih tinggi? Bisa jadi. Apakah dg bekal S2 lantas gampang menjadi GM dalam tempo 1-2 tahun? Agaknya terlalu bermimpi.

Gaji boleh pas2an, asal jangan terlalu menekan gaya hidup. Hiduplah sewajarnya, itu lebih baik. Kebiasaan lama yang cenderung foya2 boleh ditinggalkan, sebab ritme dan beban pekerjaan dulu dan sekarangpun sudah beda. Banyak hal yg sebetulnya bisa diadaptasi pelan2.

But eniwe, the miracles come to those who believe in them. Tuhan memberikan kejutan2 kecil yang menjawab doa saya tsb. Tanpa harus melompat lagi, ada banyak hal yang menghampiri saya dan itu pula mendatangkan banyak hal. Saya semakin yakin, jika hidup bukanlah soal menemukan di mana ujung jalan, sebab jalan yang kita sangka ujung ternyata hanyalah sebuah tikungan, maka sepeda harus tetap dikayuh. Prosesnya harus benar2 dinikmati. Kadang kita jatuh, lalu ditertawakan, diremehkan, dan dilupakan. Tapi kita tetap punya kesempatan untuk bangkit asal kita mau. Tak perlu cemas dg ketidakjelasan hari esok. Gus Solah bilang, esok itu gaib. Bekerjalah bersungguh2 tanpa semata2 menuntut materi. Yakinlah, sebuah jalan yang luas membentang akan ditemui oleh mereka yang bekerja keras dan memiliki niat untuk memuliakan banyak orang.

Salam.

Thursday, May 21, 2015

Hidup

Hidup ini seperti berlari-lari. Sering kita dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang memaksa kita berkeputusan dalam sekejap. Dengarlah kata hati. Kadang, di satu masa tak ada yang lebih jujur darinya.

Dirimulah yang paling tau ke mana kakimu harus melangkah, ke mana tanganmu harus diulurkan, ke mana jiwamu harus mengabdi, dan ke mana hatimu harus berlabuh.

Tuhan kadang enggan campur tangan pada manusia yang menilai dirinya terlalu tinggi. Namun, ketika kamu tak lagi peduli tentang nilai diri, hanya terus berlari hingga di ujung nafas, berserah segenap jiwa, DIA akan memberimu segalanya.

Monday, May 4, 2015

Dendam Kesumat Polri KPK


Tak ada yang lebih menyeramkan selain menyaksikan perseteruan dua lembaga penegak hukum di negeri ini. Polri vs KPK. Sebuah konsekuensi negeri yang tengah merangkak membangun sistem pemerintahan yang bersih di atas pilar demokrasi. Di sini, analogi cicak vs buaya sepertinya bakal terus berulang ketika kepemimpinan sebuah lembaga dibangun di atas semangat arogansi.

Semangat arogansi untuk memberangus mental "sok bersih," sebab yang ada hanyalah para pendosa yang tak layak tampil memimpin negeri. Mereka yang coba2 tampil akan menjadi pahlawan kesiangan yang ujung2nya akan terpuruk di balik terali besi. Polri sedang menunjukkan tajinya. Hanya penguasa Polri yang boleh bebas macam2.

Perseteruan itu bak ironi ketika para penegak hukum dalam tubuh KPK tak lain adalah para anggota Polri sendiri yang notebene sudah dianggap "insaf." Kalau demikian, Polri sedang melakukan pembusukan dari dalam. Seluruh negeri ini dibuat terperangah. Apa benar, ketika kelemahan seseorang dijadikan senjata pamungkas untuk membumihanguskan nama baiknya itu sah secara hukum? Benar-benar dendam kesumat tak akan pernah tamat.

Lantas buat apa dibentuk KPK? Semangat memberantas korupsi memang patut diacungi jempol. Namun, kerja lembaga pemberantas korupsi di sebuah negeri yang korup tentu tidak mudah. Batu sandungannya cukup besar. Taruhannya pun nyawa. Hanya mereka yang bermental baja yang siap merapatkan barisan ke dalam tubuh lembaga tersebut. Seharusnya, mereka juga telah mempersiapkan "peralatan perang" terlebih dulu ketika tau siapa yang bakal jadi musuhnya. Yang mereka hadapi bukanlah maling ayam atau maling sandal.

Itu sebabnya, bekal agama saja tidak cukup. Beberapa petinggi KPK yang "pada akhirnya" dijerat oleh hukum tampak sangat percaya diri menyertakan simbol2 keagamaan ketika nama mereka mendadak beken di media massa. Berlindung di balik simbol agama, bahwa apa yang mereka lakukan tidak berdosa. Semata2 semua karena dirinya sedang diuji oleh Allah. Ok, they're trying to prove that they are innocent.

Saya sangat berempati terhadap KPK, tapi jujur saya geli melihat ulah mereka. Yg satu berbicara hukum negara, satunya berbicara hukum agama. Publik sekarang semakin cerdas. Apakah hanya dengan mengusung simbol2 agama akan terlihat lebih alim dan "bersih?" Bapak perlu membeberkan bukti bahwa apa yg dilakukan Polri memang tidak cukup beralasan alias mengada2.

Meski kita semua tahu bahwa apa yang dilakukan Polri besar kemungkinan adalah upaya "balas dendam," namun bangunlah pencitraan yang lebih cerdas melalui media massa. Pahami tentang model opini publik di negeri ini dan siapa saja yg berpotensi kuat menjadi sumber pembangun opini tersebut. Tak perlu mencampuradukkan urusan agama dengan urusan sekuler atau yang sifatnya kenegaraan, sebab negara ini sudah terlalu banyak mengintervensi urusan agama.

Sunday, December 28, 2014

dungu

kamu tak ubahnya dia dan dia
pengkhianat sepi
yang menjanjikan riuh
tak sederhana
lalu tertawa berlalu
sambil mengemis maaf

entah bagaimana 
Tuhan sanggup menciptakan manusia keji
sepertimu
hanya kini tersisa
seribu tanya mengapa saya
yang tak secuil punya hati
menikam karib tanpa jerit

dungu menengadah