Selamat atas terpilihnya presiden baru negeri ini : Jokowi-JK. Seperti kata bapak kemarin, takdir seseorang sudah digariskan termasuk ketika bapak menjadi walikota, gubernur, hingga presiden. Prestasi yang sangat luar biasa, dan amanah yang sungguh berat. Tapi kami percaya, Tuhan tak pernah salah memberi amanah. Ia datang di saat yang tepat dan mengerti apa yang kami butuhkan. Kepada bapak Prabowo-Hatta, terima kasih telah meramaikan pesta demokrasi ini. Terima kasih telah membuat kami semakin mengerti sosok pemimpin yang kami butuhkan saat ini.
Sebagai kandidat yang kalah dalam pemilu yang telah menjunjung tinggi azas jujur dan adil dalam demokrasi ini, agak berlebihan jika bapak mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Bukankah kekalahan itu sudah bisa diprediksi secara massal? Simpan saja uang bapak untuk beramal di bidang lain. Gugatan ke MK hanya akan menjadikan uang bapak semakin berdarah-darah.
Terima saja kekalahan dengan legowo. Tak perlu ngotot dengan rekapitulasi data kemenangan yang sumir. Bapak sebaiknya sadar jika kemenangan kemarin itu semu alias kemenangan ABS, asal bapak senang. Jelas saja lembaga survey yang dipilih memenangkan suara bapak, wong yang disurvey ngambil sampelnya itu di kantong-kantong yang notabene basis suara bapak. Mengapa demikian? Sebab bapak ngotot pilih lembaga survey yang bisa memenangkan suara bapak, apapun itu metode dan sampelnya.
Logikanya, apa iya lembaga survey yang kadung dibayar gede tiba-tiba menghasilkan suara di mana Prabowo-Hatta kalah tipis dengan Jokowi-JK? Yang ada hanya logika sungkanisme. Ya, pokoknya asal bapak senang, gimanapun metodenya, capcus ajalah. Hasilnya, jelas rekapitulasi abal-abal. Bapak lupa jika cara-cara semacam ini adalah cara generasi oldies seperti Orde Baru. Bapak lupa jika era telah berubah. Jika bapak sudi membuka mata, telinga, dan hati, saat ini adalah era di mana arus informasi mengalir demikian deras, era di mana generasi terdidik tak mudah tertipu akal bulus. Saya bisa menjamin jika keterbukaan semacam ini tak akan sanggup dibendung oleh kekuatan bernama uang.
Boleh saja bapak mengancam dan mengumpat akan menutup media massa yang bapak anggap tidak fair. Mengancam menggunakan kekuatan ekonomi di balik bapak. Sumpah saya ngeri menyaksikan tayangan beberapa video wawancara bapak tersebut. Di hadapan publik, bapak telah menunjukkan perangai yang sebenarnya. Perangai sisa-sisa Orde Baru yang menggunakan ancaman sebagai penakluk rakyat. Citra bapak di mata kami adalah sosok yang berpendidikan, pandai berbahasa Inggris, tegas dan keras. Namun, apa benar jika IQ ini merupakan satu-satunya tiket untuk menjadi pemimpin yang sukses? Rasanya, kami juga butuh pemimpin yang mengerti soal EQ. Pemimpin yang tidak terlalu cerdas berbahasa Inggris itu bukan persoalan besar, asalkan ia bisa merangkul orang-orang cerdas dan menggandeng mereka berjalan dalam satu ritme kepentingan yang sama, membangun SDM dan membangun negeri. Salam!
Wednesday, July 23, 2014
Tuesday, July 22, 2014
Fajar
Seperti malam dan fajar
yang datang beriringan
Seperti lentera dan mentari
menjadi penerang di waktu lain
Malam tak pernah tahu
fajar selalu menjadi penanda
hari baru masih ada
Fajar tak pernah tahu
malam selalu jadi penanda
jiwa yg lelah perlu bersandar
Seperti malam dan fajar
yang melengkapi hari
saling menandai waktu
Bukan kesengajaan
jika malam bertemu fajar
This isn't as simple as words
They are meant cross this path for a reason
to unify the universe
yang datang beriringan
Seperti lentera dan mentari
menjadi penerang di waktu lain
Malam tak pernah tahu
fajar selalu menjadi penanda
hari baru masih ada
Fajar tak pernah tahu
malam selalu jadi penanda
jiwa yg lelah perlu bersandar
Seperti malam dan fajar
yang melengkapi hari
saling menandai waktu
Bukan kesengajaan
jika malam bertemu fajar
This isn't as simple as words
They are meant cross this path for a reason
to unify the universe
Tuesday, July 15, 2014
Merah Putih Kami
Semangatku tak pernah merah putih
di pesta demokrasi dulu dan dulu
Sampai ketika aku menemukan sosokmu
kemarin
Sosok yg membeli kepercayaan ini tanpa uang
Aku percaya kamu bisa
menjadi pemimpin bangsa yang amanah
Aamiin...
#JKW-JK
di pesta demokrasi dulu dan dulu
Sampai ketika aku menemukan sosokmu
kemarin
Sosok yg membeli kepercayaan ini tanpa uang
Aku percaya kamu bisa
menjadi pemimpin bangsa yang amanah
Aamiin...
#JKW-JK
Saturday, June 7, 2014
Tuhan tidak sedang bercanda
Seperti neraka2kecil di dalam surga. Seperti simalakama, dimakan ibu mati, tdk dimakan bapak mati. Entah ini bencana atau sebuah keberuntungan. Mata ini tak lagi bisa melihat dg jernih. Membaca dg hati. Meraba dg halus. Mengamini segala yang baik. Sampai di titik mana kebaikan itu terhenti, seakan sedang tidak berpihak di sini. Semuanya jauh. Ketika nafas terengah-engah berjalan dan berpikir bahwa ujung jalan itu bukanlah tikungan. Ketika peluh hampir di tetes terakhir, tiba2 surga benar2 beranjak pergi. Apakah syukur ini harus tetap terucap?
Hidup ini menjadi aneh ketika kejutan yg datang tidak sempurna. Sempurna tak selalu bahagia, ia datang atas nama kebaikan dari Tuhan. Ia bukan keinginan manusia yg terdalam, bukan pula pencarian yg tiada henti, ia hanya sesuatu yg menamakan diri sebagai kebutuhan. Ah, biasanya Tuhan membisikkan sederet kata menjemput fajar, mengetuk pagi dg keajaiban, lalu menghembuskan badai di kala senja. Menghantarkan gemericik hujan dan sejumput petir. Lalu muncul pelangi. Untuk kebaikan manusia?
Sejenak terkesiap pesan Paulo Coelho, "If u only walk on sunny days, you'll never reach your destination." Hidup mjd sempurna ketika ada siang dan malam. Too much light burns us, while in the darkness we cannot see. But together we have shade. Hidup adalah tentang ketidakpastian. Kebaikan sejati tak pernah berpihak pada siapapun. Sebab ia bertindak atas nama kebaikan itu sendiri. Neraka malam dan surga pagi teach us that life always comes with complete surprise.
Hidup ini menjadi aneh ketika kejutan yg datang tidak sempurna. Sempurna tak selalu bahagia, ia datang atas nama kebaikan dari Tuhan. Ia bukan keinginan manusia yg terdalam, bukan pula pencarian yg tiada henti, ia hanya sesuatu yg menamakan diri sebagai kebutuhan. Ah, biasanya Tuhan membisikkan sederet kata menjemput fajar, mengetuk pagi dg keajaiban, lalu menghembuskan badai di kala senja. Menghantarkan gemericik hujan dan sejumput petir. Lalu muncul pelangi. Untuk kebaikan manusia?
Sejenak terkesiap pesan Paulo Coelho, "If u only walk on sunny days, you'll never reach your destination." Hidup mjd sempurna ketika ada siang dan malam. Too much light burns us, while in the darkness we cannot see. But together we have shade. Hidup adalah tentang ketidakpastian. Kebaikan sejati tak pernah berpihak pada siapapun. Sebab ia bertindak atas nama kebaikan itu sendiri. Neraka malam dan surga pagi teach us that life always comes with complete surprise.
Sunday, May 18, 2014
Manusi A
Mengapa Tuhan menciptakan manusia yg demikian jahat sepertimu
Manusia yg tak mengerti makna kebaikan
Manusia yg mnempatkan diri terlalu tinggi
yang selalu bercermin pada kaca usang yg retak
Melupa sejarah, bersama pikir yg kaku penuh dendam
Ah, apakah agar hidup ini menjadi lebih lengkap?
Jika 1000 manusia sepertimu bertebaran
Hei! Luka masa lalumu silahkan kau kubur sendiri
Getirmu cukuplah kau telan sendiri
Bersama dosa yg hendak kau putihkan
Silahkan kau cari Tuhan sesukamu
Mohonkan ampun di waktu-waktu senggangmu
Lantas tak perlu merasa paling suci hari ini
hanya karena orang tak tahu masa lalumu
Tahukah kau, tak ada sebait kata yg akan menguap
Waktu akan menjadi saksi
di mana kau menelan semua ucapanmu sendiri
Manusia yg tak mengerti makna kebaikan
Manusia yg mnempatkan diri terlalu tinggi
yang selalu bercermin pada kaca usang yg retak
Melupa sejarah, bersama pikir yg kaku penuh dendam
Ah, apakah agar hidup ini menjadi lebih lengkap?
Jika 1000 manusia sepertimu bertebaran
Hei! Luka masa lalumu silahkan kau kubur sendiri
Getirmu cukuplah kau telan sendiri
Bersama dosa yg hendak kau putihkan
Silahkan kau cari Tuhan sesukamu
Mohonkan ampun di waktu-waktu senggangmu
Lantas tak perlu merasa paling suci hari ini
hanya karena orang tak tahu masa lalumu
Tahukah kau, tak ada sebait kata yg akan menguap
Waktu akan menjadi saksi
di mana kau menelan semua ucapanmu sendiri
Saturday, March 22, 2014
Dermaga Baru
Tak ada yg akan berubah
Ketika hati sdh bulat berkata tidak
Sekarang dan selamanya
Kapal telah berganti haluan
Menuju dermaga
yang tak lagi sama
Dermaga lain
yang menanti kapal sandar
selama ini
"If we always see the sky when we walk,
we will never see the beauty of the flower on the grass"
Ketika hati sdh bulat berkata tidak
Sekarang dan selamanya
Kapal telah berganti haluan
Menuju dermaga
yang tak lagi sama
Dermaga lain
yang menanti kapal sandar
selama ini
"If we always see the sky when we walk,
we will never see the beauty of the flower on the grass"
Tuesday, March 18, 2014
Cirebon-Jerman
Percakapan dua orang pria paruh baya berikut membuat saya sungguh trenyuh. Bapak A punya 2 anak, yang satu telah bekerja dan menikah dg orang bule tinggal di Jerman dan satunya tinggal di lain kota. Bapak B punya 2 anak masih SD dan SMA.
A : Jangan bangga punya anak yg tinggal di luar negeri bergaji besar.
B : Kenapa pak? Anak dapat pekerjaan mapan kan harapan orangtua.
A : Kelihatannya begitu. Tapi jangan lupa, orangtua usianya semakin menua dan ia semakin kesepian. Di manapun orangtua berada, mereka ingin ketika sakit dan tutup usia didampingi anak2nya. Itu saja sudah bikin seneng.
B : Iya pak, tapi orangtua kan tidak bisa menentukan di mana dan sejauh mana rejeki anak2nya harus dikejar.
A : Contohnya saya pak, kemarin sakit sebulan di rumah sakit. Anak saya di Jerman hanya bisa nengok 4 hari. Dia libur seminggu buat perjalanan PP Jerman-Cirebon. Namanya kerja ikut orang di sana tidak bisa cuti lama. Memang gajinya lumayan, tapi saya malah sedih. Semakin jauh saya sama anak saya dan saya tdk bisa berbuat apa2.
B : Agak susah memang pak, di satu sisi orangtua jarang yg bisa ngasi pekerjaan layak buat anaknya kalau dia harus tinggal berdekatan. Kalau mau cari rejeki yang bagus tapi jauh, memang dilema.
A : Saya sudah sering sakit2an. Tapi hanya kemarin pas sakit parah baru ngabari. Kalo saya kangen bisanya juga cuma telpon. Ya memang ada kiriman uang setiap bulan, tapi ternyata rasanya beda kalo anak itu tinggalnya gampang dijangkau. Anak saya satunya, tinggal di Jakarta. Lumayan dekat daripada Jerman. Itu pun kalo ngabari sakit ngga bisa sewaktu-waktu. Saya sama istri kemana-mana. Untung ada tetangga dan teman buat ngusir sepi.
Cirebon, 27 Februari 2014
A : Jangan bangga punya anak yg tinggal di luar negeri bergaji besar.
B : Kenapa pak? Anak dapat pekerjaan mapan kan harapan orangtua.
A : Kelihatannya begitu. Tapi jangan lupa, orangtua usianya semakin menua dan ia semakin kesepian. Di manapun orangtua berada, mereka ingin ketika sakit dan tutup usia didampingi anak2nya. Itu saja sudah bikin seneng.
B : Iya pak, tapi orangtua kan tidak bisa menentukan di mana dan sejauh mana rejeki anak2nya harus dikejar.
A : Contohnya saya pak, kemarin sakit sebulan di rumah sakit. Anak saya di Jerman hanya bisa nengok 4 hari. Dia libur seminggu buat perjalanan PP Jerman-Cirebon. Namanya kerja ikut orang di sana tidak bisa cuti lama. Memang gajinya lumayan, tapi saya malah sedih. Semakin jauh saya sama anak saya dan saya tdk bisa berbuat apa2.
B : Agak susah memang pak, di satu sisi orangtua jarang yg bisa ngasi pekerjaan layak buat anaknya kalau dia harus tinggal berdekatan. Kalau mau cari rejeki yang bagus tapi jauh, memang dilema.
A : Saya sudah sering sakit2an. Tapi hanya kemarin pas sakit parah baru ngabari. Kalo saya kangen bisanya juga cuma telpon. Ya memang ada kiriman uang setiap bulan, tapi ternyata rasanya beda kalo anak itu tinggalnya gampang dijangkau. Anak saya satunya, tinggal di Jakarta. Lumayan dekat daripada Jerman. Itu pun kalo ngabari sakit ngga bisa sewaktu-waktu. Saya sama istri kemana-mana. Untung ada tetangga dan teman buat ngusir sepi.
Cirebon, 27 Februari 2014
Kelas Reguler
Money can buy many things. Termasuk nilai. Jangankan di PTS, PTN pun iya. But they're smooth sailing. Begini ceritanya... "Nilai UAS kalian itu sudah saya tambah 10 semuanya," kata seorang profesor di tempat saya kuliah. Omaigat, itu pun nilai masih 59, ada lagi yang lebih parah 35. Lalu nilai sebenarnya berapa? Agak aneh model UAS-nya, pas ngerjain soal di kelas setelah 40 menit berlalu tiba-tiba petugas mengatakan bahwa UAS boleh take home. Loh? Boleh dikumpulkan seadanya, lalu selebihnya disempurnakan di rumah lalu jawaban diketik rapi dan dikumpulkan maxi minggu depannya lagi. Tapi ternyata ujung2nya yg dinilai adalah jawaban seadanya tsb. Mengapa? Sebab ancur semua tu nilai sekelas. Kok bisa ancur berjamaah? Ya, untung saja ada tambahan nilai UTS dan tugas jadi bisa mengatrol.
Pada jurusan yang sama, nilai di kelas reguler dg kelas beasiswa kominfo selalu lebih baik yg kelas reguler. Apa mahasiswa kls reguler lebih pintar dibandingkan mhs kelas kominfo? Saya ragu, sebab uanglah yg berbicara. Kami sebagai mahasiswa kelas reguler (yang membayar dg jalur uang pribadi alias nonbeasiswa) cenderung diperlakukan "istimewa". Terbukti nilai per mata kuliah juga lebih tinggi, hasilnya IPK kami pun lebih tinggi dibandingkan kelas sebelah di jurusan dan angkatan yang sama. Jangan2 memang karena kami brsedia bayar lebih? Ah, bapak.. Kata2 Anda menjadikan prestasi kami cacat akademik. Mengapa harus ada kata2 "sudah saya tambah 10" dan kalimat ini tdk dilobtarkan di kelas kominfo.
Pada jurusan yang sama, nilai di kelas reguler dg kelas beasiswa kominfo selalu lebih baik yg kelas reguler. Apa mahasiswa kls reguler lebih pintar dibandingkan mhs kelas kominfo? Saya ragu, sebab uanglah yg berbicara. Kami sebagai mahasiswa kelas reguler (yang membayar dg jalur uang pribadi alias nonbeasiswa) cenderung diperlakukan "istimewa". Terbukti nilai per mata kuliah juga lebih tinggi, hasilnya IPK kami pun lebih tinggi dibandingkan kelas sebelah di jurusan dan angkatan yang sama. Jangan2 memang karena kami brsedia bayar lebih? Ah, bapak.. Kata2 Anda menjadikan prestasi kami cacat akademik. Mengapa harus ada kata2 "sudah saya tambah 10" dan kalimat ini tdk dilobtarkan di kelas kominfo.
Tuesday, February 11, 2014
Sertifikasi Profesi
"Buat apa ada uji sertifikasi wartawan jika toh sertifikat itu tak bernilai secara materi? Kalo guru bolehlah ngotot memperjuangkan sertifikasi karena dampaknya signifikan terhadap kesejahteraan. Kalo wartawan dipaksa ikut uji sertifikasi atau uji kompetensi, urgensinya apa?" keluh seorang teman wartawan yang baru saja menjalani uji kompetensi wartawan Jawa Tengah dalam obrolan kami, Senin (10/2/2014).
Saya dulu belum sempat menjalani uji sertifikasi karena ide tentang pelaksanaan uji sertifikasi ini baru muncul 1-2 tahun belakangan dan saya keburu resign. Setiap media hanya bisa mengirimkan 3 org setiap gelombang ujian yang saat itu digelar oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Jadi ya, pastilah yang senior duluan yang bisa ikut. Ujian ini dijadwalkan berlangsung setiap tahun. Tdk ada penunjukkan langsung. Sifatnya volunteer.
Entah siapa penyandang dana di balik penyelenggaraan uji sertifikasi ini. Tapi saya percaya, ini adalah sebuah proyek yang nilainya tidak kecil. Sebab skalanya nasional. Tujuan awal sertifikasi ini mgkn positif, ini mengingat wartawan adalah sebuah profesi dan untuk meningkatkan daya saing maka uji kompetensi ini diharapkan menjadi salah satu mekanismenya.
Lalu, apakah wartawan yang belum menjalani uji kompetensi maka kemampuannya di lapangan akan diragukan? Sistem uji kompetensi ini baru muncul, maka ia justru belum bisa diakui sebagai instrumen yang bisa menguji kemampuan wartawan di lapangan secara valid.
Saya sempat berincang dg teman2 yg telah melakukan uji kompetensi ini. Soal ujiannya cukup banyak, termasuk pertanyaan mengenai kode etik dan bagaimana melobi narasumber2 top di hadapan para asesor. Semakin banyak narasumber top yang bisa dihubungi dg tingkat kedekatan komunikasi yang semakin lancar di hadapan para asesor, maka nilai ujian semakin bagus.
Ada benarnya keluhan teman saya itu. Di tingkat wartawan, sertifikat itu hanya akan menjadi piagam pajangan. Beda dengan uji sertifikasi guru atau tenaga asuransi atau bankir. Sertifikasi profesi tersebut benar2 bisa bernilai uang. Entah mengapa profesi wartawan sedikit unik. Setinggi dan sebanyak apapun gelar, tidak bisa menjadi uang. Sebanyak apapun sertifikat, juga tidak akan mendatangkan uang. Sebanyak apapun narasumber top bisa kepegang tangan, malah menjadi ancaman mutasi. Sebanyak apapun tulisan menjuarai kompetisi, dibilang wajar, siapapun bisa, maka perusahaan tak perlu memberi reward. Gemar ikut teriak naikkan UMK buruh, tapi UMK diri mereka sendiri malah jalan di tempat dan tak berani bersuara. Di kelas media cetak, posisi wartawan justru paling diincar ketimbang posisi redaktur. Idealnya, statusnya naik kelas. Tapi ironisnya, pangkat jendral gaji kopral. Sebaliknya di posisi wartawan, pangkat kopral gaji jendral. Lucu memang. Tapi ini fakta.
Saya dulu tak berambisi ikut uji sertifikasi duluan, karena saya menduga bahwa sertifikat itu tidak akan berdampak apa2 terhadap tunjangan. Lha, orang kerja apa yang dicari kalo bukan uang? Cuma dapat pengalaman dan malah mengorbankan waktu kerja yang seharusnya bisa dipakai cari uang. Saya memilih bersikap rasional. Biar saja itu bagian dari proyek PWI, seperti halnya AJI (Aliansi Jurnalis Independen) ketika menggelar survey besar2an tentang kesejahteraan wartawan. Nilai proyek ini saya yakin juga tidak kecil, karena skalanya nasional. Pertanyaan dalam lembaran setebal itu buat apa? Ditanya berjam-jam, hasilnya juga tidak signifikan. Tidak sebanding dg waktu yang disita. Kalau saja survey AJI itu bisa mendorong perubahan kesejahteraan wartawan, ya saya mau jadi respondennya. Tapi saat itu saya tolak ketika tahu bahwa survey itu terlalu banyak tanya tapi tidak memberikan umpan balik apa-apa kecuali pemberitaan. That's it.
Jadi, saya tidak merasa rugi apapun tidak pernah mengikuti uji kompetensi wartawan. Kompetensi tidak bisa dinilai dari selembar sertifikat. Kemampuan seorang wartawan dalam menggali isu, memantau dan mengembangkan isu, memilih dan melobi narasumber yang kompeten, menuangkannya dalam tulisan yang terstruktur dan logis, ditentukan dari bagaimana ia berproses selama di lapangan. Publiklah yang akan menilai kemampuannya.
Saya dulu belum sempat menjalani uji sertifikasi karena ide tentang pelaksanaan uji sertifikasi ini baru muncul 1-2 tahun belakangan dan saya keburu resign. Setiap media hanya bisa mengirimkan 3 org setiap gelombang ujian yang saat itu digelar oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Jadi ya, pastilah yang senior duluan yang bisa ikut. Ujian ini dijadwalkan berlangsung setiap tahun. Tdk ada penunjukkan langsung. Sifatnya volunteer.
Entah siapa penyandang dana di balik penyelenggaraan uji sertifikasi ini. Tapi saya percaya, ini adalah sebuah proyek yang nilainya tidak kecil. Sebab skalanya nasional. Tujuan awal sertifikasi ini mgkn positif, ini mengingat wartawan adalah sebuah profesi dan untuk meningkatkan daya saing maka uji kompetensi ini diharapkan menjadi salah satu mekanismenya.
Lalu, apakah wartawan yang belum menjalani uji kompetensi maka kemampuannya di lapangan akan diragukan? Sistem uji kompetensi ini baru muncul, maka ia justru belum bisa diakui sebagai instrumen yang bisa menguji kemampuan wartawan di lapangan secara valid.
Saya sempat berincang dg teman2 yg telah melakukan uji kompetensi ini. Soal ujiannya cukup banyak, termasuk pertanyaan mengenai kode etik dan bagaimana melobi narasumber2 top di hadapan para asesor. Semakin banyak narasumber top yang bisa dihubungi dg tingkat kedekatan komunikasi yang semakin lancar di hadapan para asesor, maka nilai ujian semakin bagus.
Ada benarnya keluhan teman saya itu. Di tingkat wartawan, sertifikat itu hanya akan menjadi piagam pajangan. Beda dengan uji sertifikasi guru atau tenaga asuransi atau bankir. Sertifikasi profesi tersebut benar2 bisa bernilai uang. Entah mengapa profesi wartawan sedikit unik. Setinggi dan sebanyak apapun gelar, tidak bisa menjadi uang. Sebanyak apapun sertifikat, juga tidak akan mendatangkan uang. Sebanyak apapun narasumber top bisa kepegang tangan, malah menjadi ancaman mutasi. Sebanyak apapun tulisan menjuarai kompetisi, dibilang wajar, siapapun bisa, maka perusahaan tak perlu memberi reward. Gemar ikut teriak naikkan UMK buruh, tapi UMK diri mereka sendiri malah jalan di tempat dan tak berani bersuara. Di kelas media cetak, posisi wartawan justru paling diincar ketimbang posisi redaktur. Idealnya, statusnya naik kelas. Tapi ironisnya, pangkat jendral gaji kopral. Sebaliknya di posisi wartawan, pangkat kopral gaji jendral. Lucu memang. Tapi ini fakta.
Saya dulu tak berambisi ikut uji sertifikasi duluan, karena saya menduga bahwa sertifikat itu tidak akan berdampak apa2 terhadap tunjangan. Lha, orang kerja apa yang dicari kalo bukan uang? Cuma dapat pengalaman dan malah mengorbankan waktu kerja yang seharusnya bisa dipakai cari uang. Saya memilih bersikap rasional. Biar saja itu bagian dari proyek PWI, seperti halnya AJI (Aliansi Jurnalis Independen) ketika menggelar survey besar2an tentang kesejahteraan wartawan. Nilai proyek ini saya yakin juga tidak kecil, karena skalanya nasional. Pertanyaan dalam lembaran setebal itu buat apa? Ditanya berjam-jam, hasilnya juga tidak signifikan. Tidak sebanding dg waktu yang disita. Kalau saja survey AJI itu bisa mendorong perubahan kesejahteraan wartawan, ya saya mau jadi respondennya. Tapi saat itu saya tolak ketika tahu bahwa survey itu terlalu banyak tanya tapi tidak memberikan umpan balik apa-apa kecuali pemberitaan. That's it.
Jadi, saya tidak merasa rugi apapun tidak pernah mengikuti uji kompetensi wartawan. Kompetensi tidak bisa dinilai dari selembar sertifikat. Kemampuan seorang wartawan dalam menggali isu, memantau dan mengembangkan isu, memilih dan melobi narasumber yang kompeten, menuangkannya dalam tulisan yang terstruktur dan logis, ditentukan dari bagaimana ia berproses selama di lapangan. Publiklah yang akan menilai kemampuannya.
Monday, February 10, 2014
You
I like you
Doesn't mean I want to marry you
for now..
You conquered my heart
Doesn't mean I will surrender my life for you
It's just a feeling
I try to understand
It's just a feeling
That I take to make me happy
It came and then go
as soon as they sometimes will
Doesn't mean I want to marry you
for now..
You conquered my heart
Doesn't mean I will surrender my life for you
It's just a feeling
I try to understand
It's just a feeling
That I take to make me happy
It came and then go
as soon as they sometimes will
Subscribe to:
Posts (Atom)