Hampir setiap minggu baca email resignation dari teman2. "TERIMA KASIH DAN MOHON PAMIT" -- begitu subjeknya.
Pada banyak alasan pengunduran diri, mutasi sering menjadi penyebabnya. Terutama jika mutasi tersebut tidak disertai kenaikan jenjang karir yang jelas, dan dengan parameter yang jelas pula. Orang2 yg merasa telah mengabdi cukup lama namun tak ada perubahan jenjang karir, sering memilih cara ini.
Perusahaan kami adalah perusahaan multinasional, yg seharusnya sejak awal rekrutmen mereka paham akan kemungkinan mutasi lintas kota di Indonesia. Apalagi sejak tahun lalu perusahaan kami ekspansi ke Filipina. Maka gelombang mutasi ke sana pun terbuka.
Namun, pada orang2 yang telah menemukan zona nyaman maka mutasi selalu dilihat sebagai ancaman. Apalagi bagi mereka yang telah berkeluarga dan istri/suaminya bekerja di kota yg sama selama ini. Bakal hidup berjauhan dg keluarga menjadi sangat tidak enak. Begitu komentar yg sering saya dengar.
Pada banyak kasus, perusahaan sering tidak menyoal pengunduran diri karyawannya kecuali dia adalah karyawan istimewa dan alasan pengunduran dirinya tdk cukup kuat. Dalih perusahaan, di luar sana ada banyak pelamar kerja yang memiliki kualifikasi lebih bagus dan mau digaji lebih rendah serta mau dimutasi ke mana saja, jadi lepaskan saja.
Alasan lain pengunduran diri adalah soal gaji hingga kenyamanan lingkungan kerja. Klo bilang soal gaji bisa jadi sangat relatif. Sebagai karyawan, saya sepakat jika gaji bukan semata2 alasan seseorang mengundurkan diri dari pekerjaan. Sindrom "tired complex" lebih sering mencuat. Lelah karena lingkungan pekerjaan alias org2nya, lelah dg perlakuan manajemen, lelah dg sistem yang diterapkan perusahaan, lelah dg beban pekerjaan, yang ujung2nya beban kerja dianggap tidak sesuai dengan gaji.
Segala macam kompromi tentu pernah dijalani hingga seseorang mencapai satu masa di mana kompromi itu memang harus diakhiri dalam satu kata bernama titik jenuh. It's ok not to be ok... Setiap orang mengalami fase up and down, dan hanya mereka yang berani memutuskan dan terus mencoba yang akan mengalami perubahan nasib yang lebih baik. Seperti kata Mario Teguh, setiap org memiliki jatah gagal. Habiskan jatah gagalmu di masa muda.
*Setidaknya, saya selalu merasa muda utk menimba ilmu dalam sekolah kehidupan ini
Friday, December 11, 2015
Tuesday, December 8, 2015
Nama Panggung
Entah siapa yang mempelopori penyingkatan nama, tapi saya menduga sejak nama Joko Widodo populer sebagai Jokowi maka orang2 latah menyingkat nama. Termasuk Budi Waseso, mantan Kabareskrim yang kini jadi Kepala BNN lebih kece dg nama Buwas. Itu sebabnya, saya sempet mengernyitkan dahi ketika di grup BBM teman kantor hari ini muncul nama Busan.
Sumpah saya kira lagi bahas Busan Korea Selatan. Sebab ngga baca detil reply pic chat yg uda kadung puluhan itu. Males. Ternyata ketika Busan diulang2 akhirnya ketauan. Budi Santoso. Aha, kece juga singkatannya. Klo nama saya disingkat jadinya Depe donk ^_^
Sumpah saya kira lagi bahas Busan Korea Selatan. Sebab ngga baca detil reply pic chat yg uda kadung puluhan itu. Males. Ternyata ketika Busan diulang2 akhirnya ketauan. Budi Santoso. Aha, kece juga singkatannya. Klo nama saya disingkat jadinya Depe donk ^_^
Monday, September 14, 2015
Drama
Meski tak ada data pasti sejak kapan industri hiburan (khususnya drama seri) di Korea Selatan dikemas secara serius, yang jelas jika melihat perkembangannya saat ini, lompatannya luar biasa. Tak hanya teknik penggarapannya, cerita yang disajikan, intrik di dalam alur cerita hingga pemilihan kata dalam kalimat yang dipakai untuk percakapan para pemainnya.
Data dari wikipedia menyebutkan drama televisi di negeri ginseng ini pertama mengudara sekitar 1960-an. Saat itu, serial drama di Indonesia belum lahir. Info wikipedia, baru sekitar pengujung 90-an muncul sinetron TVRI berjudul Jendela Rumah Kita, Losmen Srikandi, dst. Kita "hanya" tertinggal 3 dekade dengan Korsel. Kemunculan beberapa stasiun televisi swasta kemudian ikut menyemarakkan drama di layar kaca.
Saya bukan penikmat dunia akting dalam serial drama secara serius, biasanya judul saya pilih secara random sesuai dg rekomendasi teman. Drama dari negara manapun saya suka, kecuali yang bernuansa Bollywood :D (maaf klo yang ini agak alergi).
Serial drama televisi dari daratan Eropa dan Amerika mungkin sudah biasa. Nuansa baru masuk ketika orang2 di Indonesia mulai ramai membicarakan k-drama sebagai bagian dari Korean Wave, sayapun membabat habis ratusan judul serial dramanya. Pun ketika Thailand Wave dan Turkish Wave mulai merasuk, saya tak kalah kepo buru2 streaming heheh...
Akhirnya, sejak 3 tahun lalu saya jatuh hati pada k-drama. Memang ngga semua k-drama dikemas secara keren, tapi ada puluhan judul yang ceritanya masih membekas. Para pelaku dalam industri k-drama tentu bukan orang2 kemarin sore sehingga mereka mampu menyajikan mutu yang bagus. Bandingkan saja dg drama asal Indonesia atau drama Turki. Jauh.
Salah satu k-drama yang menurut saya super (karena ada beberapa kutipan menarik) yakni Yong Pal, dibintangi si ganteng dan cute Joo Won dan si cantik Kim Tae Hee (Yong Ae) yang kini sedang tayang di Korea seri ke-12. Di seri ke-9, seorang pendeta menerima pengakuan dosa dari Yong Ae - pewaris perusahaan yang berusaha dibunuh pelan2 oleh kakak angkatnya dg cara dibuat koma selama 3 tahun.
Ketika ia sadar, ia ingin membalas dendam perlakuan org2 tsb terhadapnya. Simak berikut percakapan menarik ttg pengakuan dosanya terhadap si pendeta :
Yong Ae - Jika saya diberi kekuatan, saya ingin membunuh musuh-musuh saya
Pendeta - Sesungguhnya, cintailah musuh-musuhmu, maka Tuhan akan menyelamatkan jiwamu.
Yong Ae - Saya tahu kali ini Tuhan tidak akan mengabulkan permintaan saya lagi
Pendeta - Tuhan selalu menjawab doa umat-Nya dengan cara yang bahkan tidak diinginkan oleh umat-Nya. Ini karena manusia memintanya dg amarah, dan Tuhan menjawabnya dengan cinta.
*speechless
I def agree with you father! The right words from unforeseen situation :)
Data dari wikipedia menyebutkan drama televisi di negeri ginseng ini pertama mengudara sekitar 1960-an. Saat itu, serial drama di Indonesia belum lahir. Info wikipedia, baru sekitar pengujung 90-an muncul sinetron TVRI berjudul Jendela Rumah Kita, Losmen Srikandi, dst. Kita "hanya" tertinggal 3 dekade dengan Korsel. Kemunculan beberapa stasiun televisi swasta kemudian ikut menyemarakkan drama di layar kaca.
Saya bukan penikmat dunia akting dalam serial drama secara serius, biasanya judul saya pilih secara random sesuai dg rekomendasi teman. Drama dari negara manapun saya suka, kecuali yang bernuansa Bollywood :D (maaf klo yang ini agak alergi).
Serial drama televisi dari daratan Eropa dan Amerika mungkin sudah biasa. Nuansa baru masuk ketika orang2 di Indonesia mulai ramai membicarakan k-drama sebagai bagian dari Korean Wave, sayapun membabat habis ratusan judul serial dramanya. Pun ketika Thailand Wave dan Turkish Wave mulai merasuk, saya tak kalah kepo buru2 streaming heheh...
Akhirnya, sejak 3 tahun lalu saya jatuh hati pada k-drama. Memang ngga semua k-drama dikemas secara keren, tapi ada puluhan judul yang ceritanya masih membekas. Para pelaku dalam industri k-drama tentu bukan orang2 kemarin sore sehingga mereka mampu menyajikan mutu yang bagus. Bandingkan saja dg drama asal Indonesia atau drama Turki. Jauh.
Salah satu k-drama yang menurut saya super (karena ada beberapa kutipan menarik) yakni Yong Pal, dibintangi si ganteng dan cute Joo Won dan si cantik Kim Tae Hee (Yong Ae) yang kini sedang tayang di Korea seri ke-12. Di seri ke-9, seorang pendeta menerima pengakuan dosa dari Yong Ae - pewaris perusahaan yang berusaha dibunuh pelan2 oleh kakak angkatnya dg cara dibuat koma selama 3 tahun.
Ketika ia sadar, ia ingin membalas dendam perlakuan org2 tsb terhadapnya. Simak berikut percakapan menarik ttg pengakuan dosanya terhadap si pendeta :
Yong Ae - Jika saya diberi kekuatan, saya ingin membunuh musuh-musuh saya
Pendeta - Sesungguhnya, cintailah musuh-musuhmu, maka Tuhan akan menyelamatkan jiwamu.
Yong Ae - Saya tahu kali ini Tuhan tidak akan mengabulkan permintaan saya lagi
Pendeta - Tuhan selalu menjawab doa umat-Nya dengan cara yang bahkan tidak diinginkan oleh umat-Nya. Ini karena manusia memintanya dg amarah, dan Tuhan menjawabnya dengan cinta.
*speechless
I def agree with you father! The right words from unforeseen situation :)
Wednesday, August 26, 2015
Proyek Kasur DPR dan 7 Mega Proyek Lainnya
Selalu ada saja cara menggarong duit negara. Setelah pengajuan 7 megaproyek senilai Rp 1,6 triliun terancam ditolak Jokowi, sekarang giliran anggaran spring bed alias kasur yang diajukan (Rp 12,5 miliar). Per anggota dapat jatah Rp 19 juta. Sebetulnya bukan masalah Rp 19 jutanya, tapi kinerjanya tunjukin dulu. Ini mah yang terekspos, yang kagak malah jauh lebih gd nilainya.
Betul kan kata Fadli Zon klo proyek itu nilainya kecil, bukan megaproyek. Sebab, mereka mainnya duit gd selama ini. Sebetulnya, klo qt liat usulan 7 proyek itu uda lama. Banyak keluhan muncul dari anggota DPR dan para tenaga ahlinya. Orang awam melihat kondisi gedung DPR RI di Senayan masih sangat mewah, arsitekturnya oke, tamannya terawat, kemanan terjamin.
Cobalah tengok masuk, ruang seorang Kepala DPR, Ketua Komisi, dan anggota DPR jauh lebih memprihatinkan dibandingkan ruangan seorang manajer cabang bank swasta ternama. Pun lobby gedungnya, terkesan seadanya. Apalagi musholla di tiap gedung benar2 seadanya. Hampir semua benda adalah peninggalan para terdahulunya secara turun-temurun.
Coba tengok juga perangkat komputer yang digunakan para sekpri dan tenaga ahli mereka di ruangan. Jujur, waktu saya jadi staf ahli tante sblm akhirnya ditempatkan jd TA Dapil, kondisi gedung DPR RI Senayan dalemnya sedih banget. Klo kerja malah enak pakai laptop pribadi ketimbang PC itu. Komputer Intel jadul, entah Pentium berapa, keyboard keras berbunyi cetak-cetok, layar monitor model tabung, cembung berukuran 10", dan server diletakkan di bawah desktop. Ini membuat saya teringat ke jaman SD. Kali pertama punya komputer di rumah.
Perusahaan swasta pun sudah meninggalkan model yang beginian ini. Yah, minimal layar monitornya pakai yang flat, agak gedean dikit 14" dengan internet berkecepatan tinggi. Di beberapa bagian, malah uda pake PC MAC. Ruangannya (tentu saja) lebih nyaman meskipun hanya staf. Itu kelas perusahaan swasta nasional dan bukan manajer.
Sementara tengoklah PC milik anggota DPR. Merk Dell, warna putih, layar monitor kira-kira 18". Di hadapannya ada TV 32" yang setiap saat menayangkan siaran TV Parlemen yang dinikmati melalui jaringan TV Plasma.
Perangkat meja kursinya berdebu (maaf tidak ada OB khusus). Mejanya dipenuhi tumpukan berkas yang entah harus diletakkan di mana lagi sebab space ruangan tidak cukup. Di depan ruang anggota dewan, ada ruang kecil berisi 1 unit komputer, lemari, dan meja kursi yang hanya cukup utk 1 org sekpri. Sementara, seorang anggota dewan memiliki 2 orang sekpri dan 1 TA. Semuanya berjejal.
Tak heran, usulan renovasi ruang itu kemudian muncul dalam 7 megaproyek tsb. Namun, sekali lagi ketika tuntutan tidak diimbangi dengan capaian kinerja yang memuaskan maka tak berlebihan jika wacana ini menuai banyak protes.
Direnovasi segede apapun, anggota dewan itu jarang nyamperin kantornya di Senayan. Paling2 klo ada hearing atau rapat mini fraksi atau sidang paripurna, setor muka dan tandatangan buat ambil duit.
Apalagi ngajuin kasur, jadi geli sendiri. Emangnya situ ngga mampu beli kasur Rp 19 juta? Okelah jika itu fasilitas, tapi please deh punya empati dikit. Nyadar ngga siy klo kondisi perekonomian kita lagi decline?
A note to my president : please reconsider the 7 mega projects proposed of parliament.
Betul kan kata Fadli Zon klo proyek itu nilainya kecil, bukan megaproyek. Sebab, mereka mainnya duit gd selama ini. Sebetulnya, klo qt liat usulan 7 proyek itu uda lama. Banyak keluhan muncul dari anggota DPR dan para tenaga ahlinya. Orang awam melihat kondisi gedung DPR RI di Senayan masih sangat mewah, arsitekturnya oke, tamannya terawat, kemanan terjamin.
Cobalah tengok masuk, ruang seorang Kepala DPR, Ketua Komisi, dan anggota DPR jauh lebih memprihatinkan dibandingkan ruangan seorang manajer cabang bank swasta ternama. Pun lobby gedungnya, terkesan seadanya. Apalagi musholla di tiap gedung benar2 seadanya. Hampir semua benda adalah peninggalan para terdahulunya secara turun-temurun.
Coba tengok juga perangkat komputer yang digunakan para sekpri dan tenaga ahli mereka di ruangan. Jujur, waktu saya jadi staf ahli tante sblm akhirnya ditempatkan jd TA Dapil, kondisi gedung DPR RI Senayan dalemnya sedih banget. Klo kerja malah enak pakai laptop pribadi ketimbang PC itu. Komputer Intel jadul, entah Pentium berapa, keyboard keras berbunyi cetak-cetok, layar monitor model tabung, cembung berukuran 10", dan server diletakkan di bawah desktop. Ini membuat saya teringat ke jaman SD. Kali pertama punya komputer di rumah.
Perusahaan swasta pun sudah meninggalkan model yang beginian ini. Yah, minimal layar monitornya pakai yang flat, agak gedean dikit 14" dengan internet berkecepatan tinggi. Di beberapa bagian, malah uda pake PC MAC. Ruangannya (tentu saja) lebih nyaman meskipun hanya staf. Itu kelas perusahaan swasta nasional dan bukan manajer.
Sementara tengoklah PC milik anggota DPR. Merk Dell, warna putih, layar monitor kira-kira 18". Di hadapannya ada TV 32" yang setiap saat menayangkan siaran TV Parlemen yang dinikmati melalui jaringan TV Plasma.
Perangkat meja kursinya berdebu (maaf tidak ada OB khusus). Mejanya dipenuhi tumpukan berkas yang entah harus diletakkan di mana lagi sebab space ruangan tidak cukup. Di depan ruang anggota dewan, ada ruang kecil berisi 1 unit komputer, lemari, dan meja kursi yang hanya cukup utk 1 org sekpri. Sementara, seorang anggota dewan memiliki 2 orang sekpri dan 1 TA. Semuanya berjejal.
Tak heran, usulan renovasi ruang itu kemudian muncul dalam 7 megaproyek tsb. Namun, sekali lagi ketika tuntutan tidak diimbangi dengan capaian kinerja yang memuaskan maka tak berlebihan jika wacana ini menuai banyak protes.
Direnovasi segede apapun, anggota dewan itu jarang nyamperin kantornya di Senayan. Paling2 klo ada hearing atau rapat mini fraksi atau sidang paripurna, setor muka dan tandatangan buat ambil duit.
Apalagi ngajuin kasur, jadi geli sendiri. Emangnya situ ngga mampu beli kasur Rp 19 juta? Okelah jika itu fasilitas, tapi please deh punya empati dikit. Nyadar ngga siy klo kondisi perekonomian kita lagi decline?
A note to my president : please reconsider the 7 mega projects proposed of parliament.
Thursday, August 20, 2015
Iklan di Media Massa
Jadi, media massa harus membanding2kan jejak kompetitor sebuah produk/usaha untuk mendapatkan pemasukkan iklan yang lebih gd? #TrikDoank
"Eh, perusahaan A kemarin berani pasang adv Rp 30 juta sekali tayang utk ukuran 400x600 mmk. Masa perusahaanmu ngga mau?"
"Event gowes kemarin, perusahaan A support Rp 40 juta loh, belum termasuk kaos dan goody bag peserta. Support donk minimal samaan gitu"
(perusahaan A dan B bergerak di bidang yg sama, namun A adalah market leader di pasar domestik, sementara B di urutan ke-2)
Yakeles, dibanding2in. Secara, market share aja uda beda. Revenue beda. Visi beda. Jelas orientasi pemilihan media massanya juga beda. Lagian, oplah koran lu tu berapa? Distribusinya nyampe ke mana aja?
Mmm... Duit segitu sayang klo dipake iklan di satu media untuk satu acara doank, dg level media seperti punya lu. Kita bisa masukin iklan segitu ke media yang lebih gd dari oplah media lu. Lagipula, qt dpt gratisan ke media onlinenya sekalian.
Plus qt bisa anggarin buat media online yg market sharenya #1. Bukan iklan siy yg ini, tapi macem fee doank bwt redakturnya. Yg penting berita positifnya naik. Low cost high impact.
"Eh, perusahaan A kemarin berani pasang adv Rp 30 juta sekali tayang utk ukuran 400x600 mmk. Masa perusahaanmu ngga mau?"
"Event gowes kemarin, perusahaan A support Rp 40 juta loh, belum termasuk kaos dan goody bag peserta. Support donk minimal samaan gitu"
(perusahaan A dan B bergerak di bidang yg sama, namun A adalah market leader di pasar domestik, sementara B di urutan ke-2)
Yakeles, dibanding2in. Secara, market share aja uda beda. Revenue beda. Visi beda. Jelas orientasi pemilihan media massanya juga beda. Lagian, oplah koran lu tu berapa? Distribusinya nyampe ke mana aja?
Mmm... Duit segitu sayang klo dipake iklan di satu media untuk satu acara doank, dg level media seperti punya lu. Kita bisa masukin iklan segitu ke media yang lebih gd dari oplah media lu. Lagipula, qt dpt gratisan ke media onlinenya sekalian.
Plus qt bisa anggarin buat media online yg market sharenya #1. Bukan iklan siy yg ini, tapi macem fee doank bwt redakturnya. Yg penting berita positifnya naik. Low cost high impact.
Sunday, August 9, 2015
Is my president being insecure?
Hal yang paling menggelitik isi kepala, adalah ketika mengikuti pemberitaan tentang penghidupan kembali pasal penghinaan presiden dalam revisi RUU KUHP. Don't tell me that my president is being insecure. Bukankah konsekuensi menjadi seorang pemimpin adalah mendapatkan jutaan pembenci? Sebab tak ada seorang pun pemimpin di dunia ini yang mampu memenuhi keinginan seluruh rakyatnya. Itu sebabnya, selalu ada celah untuk dibenci lantaran selalu ada kepentingan berbicara di balik setiap keputusan.
Upaya JKW tersebut membuat saya khawatir, jangan2 JKW yang selama ini mencitrakan dirinya sebagai pemimpin yang sabar, legowo dan tebar senyum sejatinya ia adalah orang yang represifnya melebihi regime Soeharto. Semoga tidak begitu. Kita memang tidak hidup di US di mana orang bebas mengata-ngatai pemimpin negaranya, namun jangan lupa jika kita hidup di negara yang menjunjung tinggi demokrasi. Orang tetap punya hak untuk mengkritisi kebijakan pejabat negara. Mengkritisi, bukan menghina. Agaknya juga perlu diluruskan perbedaan definisi mengkritisi dan menghina dalam pasal tersebut. Entah dari mana datangnya ide penghidupan pasal tersebut, saya berharap langkah JKW tidak menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
Saya juga berharap, bukan socmed yang melatarbelakangi ide tersebut. Sebab masih banyak hal yg lebih penting yg harus dilakukan ketimbang ngurusi penghinaan di media sosial. Urusan media sosial, cukup diselesaikan di media sosial, tak perlu dimaktubkan dalam undang-undang yang menguras duit negara. Ibarat penghinaan sejarah lewat buku, tak perlu membakar bukunya, tandingi dengan tulisan dalam bentuk buku pula. Masyarakat bisa lebih cerdas, punya banyak pilihan tanpa harus mencederai ilmu.
Upaya JKW tersebut membuat saya khawatir, jangan2 JKW yang selama ini mencitrakan dirinya sebagai pemimpin yang sabar, legowo dan tebar senyum sejatinya ia adalah orang yang represifnya melebihi regime Soeharto. Semoga tidak begitu. Kita memang tidak hidup di US di mana orang bebas mengata-ngatai pemimpin negaranya, namun jangan lupa jika kita hidup di negara yang menjunjung tinggi demokrasi. Orang tetap punya hak untuk mengkritisi kebijakan pejabat negara. Mengkritisi, bukan menghina. Agaknya juga perlu diluruskan perbedaan definisi mengkritisi dan menghina dalam pasal tersebut. Entah dari mana datangnya ide penghidupan pasal tersebut, saya berharap langkah JKW tidak menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
Saya juga berharap, bukan socmed yang melatarbelakangi ide tersebut. Sebab masih banyak hal yg lebih penting yg harus dilakukan ketimbang ngurusi penghinaan di media sosial. Urusan media sosial, cukup diselesaikan di media sosial, tak perlu dimaktubkan dalam undang-undang yang menguras duit negara. Ibarat penghinaan sejarah lewat buku, tak perlu membakar bukunya, tandingi dengan tulisan dalam bentuk buku pula. Masyarakat bisa lebih cerdas, punya banyak pilihan tanpa harus mencederai ilmu.
Friday, July 31, 2015
Guru
Tentang kesabaran. Saya belajar banyak dari salah seorang pimpinan saya di kantor. Orang bilang, get older get wiser. Idealnya memang begitu meski kenyataannya tak setiap orang yang beranjak usia bisa bersikap wise.
Namun, pimpinan saya ini mengajari saya banyak hal secara tidak langsung. Dia merupakan golongan get older get wiser. Saya ingin senantiasa berusaha menjadi seperti dia dalam menghadapi persoalan. Tak pernah marah dg arogan, berusaha berpikir positif, sabar, dan memiliki loyalitas yg tinggi.
Meski kadang saya menemukan dia beropini tentang orang lain dan sulit menyimpan rahasia, namun ujung-ujungnya dia mengajak saya berpikir positif dan berupaya menyelesaikan persoalan dg damai.
Sejauh yang saya kenal selama bertahun-tahun, ketika berkonflik dg siapapun dia tak pernah menunjukkan kemarahan dg cara yang mengerikan. Bagi saya, karakter seseorang yg sebenarnya akan terlihat dari bagaimana ia meluapkan amarah.
Pernah suatu ketika dia nekat melakukan teror terhadap seorang pejabat resek yang menjadikan perusahaan kami sebagai "ATM berjalan." Perusahaan kami dibully mati2an di media massa, sehingga publik mjd teropini bahwa perusahaan kami melakukan sesuatu yang ilegal. Sungguh ini sebuah kesalahpahaman yg banyak orang tidak mengetahuinya secara detil. Tapi penghakiman jauh lebih mudah hanya karena org mengetahui segelintir permasalahan.
Lalu pimpinan saya itu, di hadapan saya dia menggunakan nomor lain untuk menelpon si pejabat tsb. Jujur saya kaget. Meskipun dia pernah bercerita bahwa dia dulu adalah aktivis GMNI di kampus, tapi tdk pernah menyangka dia sanggup "melucu" di hadapan saya. Kami pun tertawa bersama usai dia menelpon si pejabat itu. Bagi saya, itu bentuk loyalitas lain terhadap perusahaan.
Dia selalu bilang, hadapi persoalan dg kepala dan tangan yang dingin. Meskipun beradu argumen, tak perlu meningkatkan intonasi apalagi main fisik. Hidup ini, kata dia, sudah cukup pait. Jangan terlena, apalagi selalu menoleh ke belakang. Lakukan saja dg baik apa yg sudah menjadi tugas dan tanggungjawabmu.
Siapapun bisa menjadi guru dalam sekolah kehidupan ini. Sebaik dan seburuk apapun yg dia lakukan, selalu ada pelajaran yang bisa kita petik. Manusia tak punya hak melakukan penghakiman.
Warna
Warna tertentu identik dg partai politik (parpol) tertentu. Meski tak ada paten resmi atas sebuah warna dan afiliasi parpol, namun publik menjadikan hal itu sebagai pengetahuan jamak yang tidak tertulis.
Seperti insiden kecil berikut ini. Perusahaan kami mengajak Pak Gubernur untuk meresmikan acara. Dibuatlah backdrop untuk panggung dan segala macamnya. Tentu saja semua memakai identitas alias logo perusahaan kami. Serba merah.
Setelah semua jadi, pada H-2 tiba-tiba Pak Gub minta revisi warna menjadi biru. Keseluruhan. Jadi kelabakan deh.. Baru nyadar klo warna merah identik dengan Partai PDIP, sementara Pak Gub berasal dari Partai Demokrat yang serba biru. Tapi pak, ini kan bukan acara parpol? Saat ini juga belum masuk musim pilgub di provinsi ini.
Baru nyadar lagi klo warna biru adalah simbol warna kompetitor perusahaan kami selama ini. Hahah.. Tapi pak, perusahaan kita ngga ada rencana ganti warna biru. Rebranding kemaren tetep dominan merah ^^
Seperti insiden kecil berikut ini. Perusahaan kami mengajak Pak Gubernur untuk meresmikan acara. Dibuatlah backdrop untuk panggung dan segala macamnya. Tentu saja semua memakai identitas alias logo perusahaan kami. Serba merah.
Setelah semua jadi, pada H-2 tiba-tiba Pak Gub minta revisi warna menjadi biru. Keseluruhan. Jadi kelabakan deh.. Baru nyadar klo warna merah identik dengan Partai PDIP, sementara Pak Gub berasal dari Partai Demokrat yang serba biru. Tapi pak, ini kan bukan acara parpol? Saat ini juga belum masuk musim pilgub di provinsi ini.
Baru nyadar lagi klo warna biru adalah simbol warna kompetitor perusahaan kami selama ini. Hahah.. Tapi pak, perusahaan kita ngga ada rencana ganti warna biru. Rebranding kemaren tetep dominan merah ^^
Sunday, July 26, 2015
Donasi Konsumen
Menjadi konsumen cerdas emang susah. Ngga cuma teliti sebelum membeli, tapi juga ngga gampang tergiur promo menjebak. Ngga cuma itu, mjd bijak thdp uang kembalian belanja jg penting.
Ke mana larinya uang kembalian belanja konsumen, perlu ditelusuri. Ngga susah kok, kan uda kebantu ama google dan official website ritel yg bersangkutan.
Seperti yang lagi rame sekarang, itu tuh donasi kembalian belanja. Banyak konsumen suka kesel klo ditodong kasir pas uang kembalian belanjanya diminta didonasikan. Yang sering kena celaan biasanya minimarket.
Ngga seberapa emang nilainya, tp konsumen tiba2 kebayang jumlah jaringan minimarket yg mencapai puluhan ribu maka mereka kebakaran jenggot ketika ngga tau persis bentuk pertanggungjawabannya.
Lah, harusnya kan bisa ditelusuri? Cek official websitenya, cek berita2 dari google. Tinggal searching semuanya ada kok. Ngga perlu teriak² di socmed kek orang tolol, lagian tu duit yg namanya uda dipake amal ya tgjwb qt ama Tuhan. Pahala buat qt.
Coba deh iseng2 googling soal pertanggungjawaban donasi konsumen, uda banyak kok media yang melansir beritanya. Yayasan yang ditunjuk buat mengelola donasi tsb juga jelas.
Kadang, orang hanya fokus ama ritel2 gd yang berjaringan seperti Giant, Carrefour, Hypermart, Alfamart, Alfamidi serta Indomaret. Coba donk gw aja sering ngalamin raibnya uang kembalian belanja klo pas bayar di restoran ato toko2 baju dan toko2 aksesori di mal2.
Ngga besar emang, cuma 100-300 perak tapi kasirnya diem aja pura² bego ngga ngasi kembalian. Awalnya kesel, tapi yaudalaya buat tips elu. Toh gw ngasi segitu juga ngga bakal bikin gw miskin.
Gw yakin bkn cuma gw yg ngalamin kek beginian. Tapi apa dibikin rame? Konsumen pura² bego klo gini. Padahal jelas2 itu bukan donasi resmi tp masuk ke kantong pribadi.
Giliran ritel berjaringan aja langsung koar2, padahal pertanggungjawabannya jelas. Disaksiin notaris, dinsos, media, dan satu hal lagi, duit itu ngga pernah masuk ke kantong pribadi pengusaha ritel tsb.
Klo mau fair, jadilah yayasan yg siap mengelola donasi tsb. Bikin program yg feasible dan ajuin proposal, lalu presentasiin di depan manajemen ritel yang dipilih. Klo program lu bagus pasti bakal dipilih kok. Jangan salah, yayasan yg mengelola donasi konsumen itu fee-nya bisa nyampe 40% loh. Buat biaya operasional. Pertanggungjawabannya juga harus jelas. Ada rinciannya detil. Pernah baca? Terlibat juga.
Bukan maksud gw sotoy, tp sebelum koar2 sebaiknya dicek dulu. Sebelum ngritik yang ngga jelas juntrungannya, sebaiknya investigasi dulu. Jangan cuma ngasi laporan kejadian tapi tanpa ngasi solusi. Geli aja bacanya.
Klo ada kasir nakal, misalnya bilang donasi tapi masuk kantong pribadi, itu jelas perusahannya kaga taulah! Ya mana mgkn perusahaan gd melegalkan penipuan konsumen? Yg bener aja masbro! Klo ketahuan pasti bakal disanksi. Jadi ngga usa lebay deh!
Krywn perusahaan ritel aja sering byk ketipu kasir. Fasilitas diskon karyawan dipake belanja ama org lain sesama karyawan. Kok bisa? Bisa banget. Kasir tinggal input NIK (Nomor Induk Karyawan) doank.
Coba aja ketik NIK internal secara random. Bisa. Tp jgn salah, pemilik NIK yg sebenarnya bakal diinfo via email. Klo ngga ngerasa belanja tapi diskonnya kepake, bisa komplain. Tinggal diliat aja kode struknya, di maka lokasi tokonya bakal kelacak, kapan, jam berapa, siapa kasirnya, dan apa produk yg dibelinya. Kan juga ada CCTV di deket kasir.
Klo mau usaha buat memperkarakan yg begituan ya bisa banget. Cuma, kadang the power or ikhlas lebih sering bicara. Berapa sih gaji anak2 toko? Apa ya tega gara2 duit ngga seberapa tp ngliat mereka kena SP atau pecat?
Ini kejadian juga pas naik taksi BlueBird dari Bandara Soetta ke kos di daerah BMR Cikokol. Jam 23.15 turun dari pesawat, antre Blue Bird. Pas masuk taksi bilang ke sopir "Bang, BMR Cikokol tau ya? Belakang Transmart" "Iya neng" Pas uda keluar bandara, eh dia minta dipandu rutenya.
Alhasil krn sama2 ngga tau jalan, gw dibawa puter2 smpe argo bengkak jadi Rp 200.000. Mana di tengah jalan ujan deres dan sopir pura2 kencing di deket pohon pula. Tau sendiri alas di daerah Cengkareng sepinya kek apa. Sempet mikir buruk dikuntit komplotannya, ternyata itu trik buat bengkakin argo.
Kata sopir Blue Bird laennya pas gw naik bbrp hari kemudian, gw cerita dan dia saranin komplain aja ke call center Blue Bird. Sopir tsb bisa kena sanksi skors 1 th ngga boleh narik krn bikin konsumen kecewa dg argo yg bengkak. Tinggal sebut tgl dan waktu kejadian serta nomor lambung dan ama sopirnya. Waduh, kesian amat donk 1 th ngga gajian? Yaudala pak, gw ikhlas. Biar Tuhan aja yang bekerja terhadap niat buruknya ^^
Ke mana larinya uang kembalian belanja konsumen, perlu ditelusuri. Ngga susah kok, kan uda kebantu ama google dan official website ritel yg bersangkutan.
Seperti yang lagi rame sekarang, itu tuh donasi kembalian belanja. Banyak konsumen suka kesel klo ditodong kasir pas uang kembalian belanjanya diminta didonasikan. Yang sering kena celaan biasanya minimarket.
Ngga seberapa emang nilainya, tp konsumen tiba2 kebayang jumlah jaringan minimarket yg mencapai puluhan ribu maka mereka kebakaran jenggot ketika ngga tau persis bentuk pertanggungjawabannya.
Lah, harusnya kan bisa ditelusuri? Cek official websitenya, cek berita2 dari google. Tinggal searching semuanya ada kok. Ngga perlu teriak² di socmed kek orang tolol, lagian tu duit yg namanya uda dipake amal ya tgjwb qt ama Tuhan. Pahala buat qt.
Coba deh iseng2 googling soal pertanggungjawaban donasi konsumen, uda banyak kok media yang melansir beritanya. Yayasan yang ditunjuk buat mengelola donasi tsb juga jelas.
Kadang, orang hanya fokus ama ritel2 gd yang berjaringan seperti Giant, Carrefour, Hypermart, Alfamart, Alfamidi serta Indomaret. Coba donk gw aja sering ngalamin raibnya uang kembalian belanja klo pas bayar di restoran ato toko2 baju dan toko2 aksesori di mal2.
Ngga besar emang, cuma 100-300 perak tapi kasirnya diem aja pura² bego ngga ngasi kembalian. Awalnya kesel, tapi yaudalaya buat tips elu. Toh gw ngasi segitu juga ngga bakal bikin gw miskin.
Gw yakin bkn cuma gw yg ngalamin kek beginian. Tapi apa dibikin rame? Konsumen pura² bego klo gini. Padahal jelas2 itu bukan donasi resmi tp masuk ke kantong pribadi.
Giliran ritel berjaringan aja langsung koar2, padahal pertanggungjawabannya jelas. Disaksiin notaris, dinsos, media, dan satu hal lagi, duit itu ngga pernah masuk ke kantong pribadi pengusaha ritel tsb.
Klo mau fair, jadilah yayasan yg siap mengelola donasi tsb. Bikin program yg feasible dan ajuin proposal, lalu presentasiin di depan manajemen ritel yang dipilih. Klo program lu bagus pasti bakal dipilih kok. Jangan salah, yayasan yg mengelola donasi konsumen itu fee-nya bisa nyampe 40% loh. Buat biaya operasional. Pertanggungjawabannya juga harus jelas. Ada rinciannya detil. Pernah baca? Terlibat juga.
Bukan maksud gw sotoy, tp sebelum koar2 sebaiknya dicek dulu. Sebelum ngritik yang ngga jelas juntrungannya, sebaiknya investigasi dulu. Jangan cuma ngasi laporan kejadian tapi tanpa ngasi solusi. Geli aja bacanya.
Klo ada kasir nakal, misalnya bilang donasi tapi masuk kantong pribadi, itu jelas perusahannya kaga taulah! Ya mana mgkn perusahaan gd melegalkan penipuan konsumen? Yg bener aja masbro! Klo ketahuan pasti bakal disanksi. Jadi ngga usa lebay deh!
Krywn perusahaan ritel aja sering byk ketipu kasir. Fasilitas diskon karyawan dipake belanja ama org lain sesama karyawan. Kok bisa? Bisa banget. Kasir tinggal input NIK (Nomor Induk Karyawan) doank.
Coba aja ketik NIK internal secara random. Bisa. Tp jgn salah, pemilik NIK yg sebenarnya bakal diinfo via email. Klo ngga ngerasa belanja tapi diskonnya kepake, bisa komplain. Tinggal diliat aja kode struknya, di maka lokasi tokonya bakal kelacak, kapan, jam berapa, siapa kasirnya, dan apa produk yg dibelinya. Kan juga ada CCTV di deket kasir.
Klo mau usaha buat memperkarakan yg begituan ya bisa banget. Cuma, kadang the power or ikhlas lebih sering bicara. Berapa sih gaji anak2 toko? Apa ya tega gara2 duit ngga seberapa tp ngliat mereka kena SP atau pecat?
Ini kejadian juga pas naik taksi BlueBird dari Bandara Soetta ke kos di daerah BMR Cikokol. Jam 23.15 turun dari pesawat, antre Blue Bird. Pas masuk taksi bilang ke sopir "Bang, BMR Cikokol tau ya? Belakang Transmart" "Iya neng" Pas uda keluar bandara, eh dia minta dipandu rutenya.
Alhasil krn sama2 ngga tau jalan, gw dibawa puter2 smpe argo bengkak jadi Rp 200.000. Mana di tengah jalan ujan deres dan sopir pura2 kencing di deket pohon pula. Tau sendiri alas di daerah Cengkareng sepinya kek apa. Sempet mikir buruk dikuntit komplotannya, ternyata itu trik buat bengkakin argo.
Kata sopir Blue Bird laennya pas gw naik bbrp hari kemudian, gw cerita dan dia saranin komplain aja ke call center Blue Bird. Sopir tsb bisa kena sanksi skors 1 th ngga boleh narik krn bikin konsumen kecewa dg argo yg bengkak. Tinggal sebut tgl dan waktu kejadian serta nomor lambung dan ama sopirnya. Waduh, kesian amat donk 1 th ngga gajian? Yaudala pak, gw ikhlas. Biar Tuhan aja yang bekerja terhadap niat buruknya ^^
Thursday, July 23, 2015
Haters Gonna Hate
W : "Gw follow akun hatersnya BS ama MJ donk, seru aja nyela mereka di IG. Salah sendiri heboh banget. Lagian comment2 haters itu juga pada bikin ngakak," ujar seorang teman yg jujur bikin gw kaget. Dulu gw kenal dia sebagai anak baik, pendiam, ringan tangan, ngga banyak tingkah, royal ama temen. But suddenly she became a hater? Hmm... I think that it's not all of a sudden.
Gw : "Emang lu kenal BS ama MJ?"
W : "Kenal lewat media doank"
Gw : "Pernah ikut comment?"
W : "Mayan sering"
Gw : "Trus, lu segitu bencinya meski ngga kenal deket?"
W : "Ngga siy, buat seru2an doank. Habis mereka norak"
Jadi geli sndiri. Sori, gw juga ngga ngefans ko ama mereka bedua. Tapi ngga benci juga. Haters seharusnya terjadi pada para ababil, ABG labil alias ABG alay yang tekunnya cuma belajar socmed. ABG sinting yang memuja sekolah Facebook, Twitter, Path, Instagram, etc. Jujur, fenomena haters emang unik. Mencuat seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi. Pionirnya mungkin saja generasi Z ato anak2 yg addicted to gadget. Tapi diamini oleh generasi terdahulunya, termasuk generasi X dan Y ato bahkan generasi baby boomers, hahah.. (tentu dg sasaran yg beda).
Bagi gw, haters itu luar biasa. Mereka rela buang2 waktu dan pikiran untuk hal yang ngga penting : Ngurusin masalah orang lain. Well, became a negative people sometimes really pathetic for someone else. Yakeles klo otaknya diisi hal2 penting doank, pasti ngga bakal ada waktu ngepoin dan comment jahat soal aktivitas orang dari akun media sosialnya. Sebab ngasi comment pasti perlu mikir. Jujur, gw juga banyak follow akun public figure baik di IG maupun Twitter. Tapi klo postingannya ngga banyak ngasi inspirasi ya tinggal unfollow doank.
Hidup ini uda terlalu capek mikirin masalah sendiri, apalagi masalah orang lain. Ngga sanggup. Klo ngga bisa bantu, minimal jangan mencela. Klo ngga bisa bikin orang senyum, minimal jangan bikin dia bete. Bolehlah comment klo kegiatan si public figure itu pake duit rakyat tapi impact nya ngga ada. Bisanya omdo tapi otak kosong. Silahkan mengkritisi dan kasi solusi. Sebab cuma org bego yg bisa ngritik tanpa solusi. Bisanya nyampah doank di socmed. Sayang banget kan.
Suka-suka dia, hidup dia, duit dia, makan juga ngga minta ama lu. See? Toh ketika lu jd haters, lu ngga bakal lebih baik dari orang yang lu benci. Percaya deh. Sebab orang yang hidupnya uda lebih baik, dia ngliatnya juga posthink ke depan. Kata orang Buddha/Hindu, awas karma. Kata ajaran Islam, istilah karma ngga ada tapi makna yang seperti karma ada. Sebab Tuhan dan semesta menghitung setiap inci perbuatan kita dimulai dari hati.
Wait, I'm not going to preach yo anyway. Tapi percayalah, bikin orang sakit hati dan sedih itu karmanya juga luar biasa. Seperti yg gw kasi contoh soal temen gw itu, dia pernah ngalamin diteror mati2an lewat SMS dan telp ama mantan istri pacarnya dan org2 suruhannya. Sedih banget donk, secara bertahun2 sampe2 temen gw itu hrs resign dari pekerjaannya. Gw yang denger malah ikutan sedih. Lama ngga ketemu, tapi sekalinya denger kabar kek gitu.
Sometimes, we're hard to remember what we have been doing. We're hard to understand how pain people feel because of our acts until we feel the same pain. Kata Tuhan, sebaik2 manusia adalah ia yang selalu melakukan introspeksi diri dari setiap kejadian yang menimpanya. Not to blame others.
Gw : "Emang lu kenal BS ama MJ?"
W : "Kenal lewat media doank"
Gw : "Pernah ikut comment?"
W : "Mayan sering"
Gw : "Trus, lu segitu bencinya meski ngga kenal deket?"
W : "Ngga siy, buat seru2an doank. Habis mereka norak"
Jadi geli sndiri. Sori, gw juga ngga ngefans ko ama mereka bedua. Tapi ngga benci juga. Haters seharusnya terjadi pada para ababil, ABG labil alias ABG alay yang tekunnya cuma belajar socmed. ABG sinting yang memuja sekolah Facebook, Twitter, Path, Instagram, etc. Jujur, fenomena haters emang unik. Mencuat seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi. Pionirnya mungkin saja generasi Z ato anak2 yg addicted to gadget. Tapi diamini oleh generasi terdahulunya, termasuk generasi X dan Y ato bahkan generasi baby boomers, hahah.. (tentu dg sasaran yg beda).
Bagi gw, haters itu luar biasa. Mereka rela buang2 waktu dan pikiran untuk hal yang ngga penting : Ngurusin masalah orang lain. Well, became a negative people sometimes really pathetic for someone else. Yakeles klo otaknya diisi hal2 penting doank, pasti ngga bakal ada waktu ngepoin dan comment jahat soal aktivitas orang dari akun media sosialnya. Sebab ngasi comment pasti perlu mikir. Jujur, gw juga banyak follow akun public figure baik di IG maupun Twitter. Tapi klo postingannya ngga banyak ngasi inspirasi ya tinggal unfollow doank.
Hidup ini uda terlalu capek mikirin masalah sendiri, apalagi masalah orang lain. Ngga sanggup. Klo ngga bisa bantu, minimal jangan mencela. Klo ngga bisa bikin orang senyum, minimal jangan bikin dia bete. Bolehlah comment klo kegiatan si public figure itu pake duit rakyat tapi impact nya ngga ada. Bisanya omdo tapi otak kosong. Silahkan mengkritisi dan kasi solusi. Sebab cuma org bego yg bisa ngritik tanpa solusi. Bisanya nyampah doank di socmed. Sayang banget kan.
Suka-suka dia, hidup dia, duit dia, makan juga ngga minta ama lu. See? Toh ketika lu jd haters, lu ngga bakal lebih baik dari orang yang lu benci. Percaya deh. Sebab orang yang hidupnya uda lebih baik, dia ngliatnya juga posthink ke depan. Kata orang Buddha/Hindu, awas karma. Kata ajaran Islam, istilah karma ngga ada tapi makna yang seperti karma ada. Sebab Tuhan dan semesta menghitung setiap inci perbuatan kita dimulai dari hati.
Wait, I'm not going to preach yo anyway. Tapi percayalah, bikin orang sakit hati dan sedih itu karmanya juga luar biasa. Seperti yg gw kasi contoh soal temen gw itu, dia pernah ngalamin diteror mati2an lewat SMS dan telp ama mantan istri pacarnya dan org2 suruhannya. Sedih banget donk, secara bertahun2 sampe2 temen gw itu hrs resign dari pekerjaannya. Gw yang denger malah ikutan sedih. Lama ngga ketemu, tapi sekalinya denger kabar kek gitu.
Sometimes, we're hard to remember what we have been doing. We're hard to understand how pain people feel because of our acts until we feel the same pain. Kata Tuhan, sebaik2 manusia adalah ia yang selalu melakukan introspeksi diri dari setiap kejadian yang menimpanya. Not to blame others.
Subscribe to:
Posts (Atom)