If you're concerned about poverty and prosperity or doing a thesis/dissertation about that issue, i highly recommend you to read "Why Nations Fail" author by Daron Acemoglu and James A Robinson. Acemoglu, a professor at the Massachusetts Institute of Technology, and Robinson a Harvard professor.
Why a country suffer from poverty such as North Korea, Egypt, Sierra Leon, Mexico, etc while their neighbour (like South Korea, North America) living a prosperous life. Acemoglu and Robinson take three different approaches : geography, cultural, and political. You can buy it in Periplus Book Store only IDR 239K (Rp 239.000) or Amazon $30 (if more than 1 book $20,06 free shipping). Read the summary through the website below http://whynationsfail.com/summary/
Sunday, May 19, 2013
Saturday, May 18, 2013
Followers
Don't even think about having twitter followers from the site which is offering you hundred or million followers a day, free or even paid ($18 for 3000 followers?) You will go crazy because they are potentially garbage. Your followers number increased, but also the following number. They will randomize twitter account around the world who has subscribe into their site. No way! Their update will appear on your twitter timeline every second. The person you didn't want to follow, the person who never gave a quality update, the fake person who will give you nothing but trash. You will end up madly click unfollow.
Me and most people I think, know that twitter should be about quality rather than quantity when it comes to both who you follow and who you engage to follow you. The more people you follow, the faster your twitter stream flow and monitoring the quality of those you follow can be a task you never address. I don't give a shit who will follow / unfollow me, my following is the matter. I just want something important display on my timeline.
Me and most people I think, know that twitter should be about quality rather than quantity when it comes to both who you follow and who you engage to follow you. The more people you follow, the faster your twitter stream flow and monitoring the quality of those you follow can be a task you never address. I don't give a shit who will follow / unfollow me, my following is the matter. I just want something important display on my timeline.
Bali vs Berlin
Percakapan antara redaktur dan wartawan yunior di sebuah kantor surat kabar :
Korlip : Ada undangan ke Berlin minggu depan, tolong tugaskan seorang wartawan (menyodorkan fax)
K : (setengah budeg mantengin PC lalu mengangguk) Ya, berikan saja ke si B dia kemarin bilang belum pernah kesana dan ngiri pengen kesana
Korlip : Ini fax-nya, tolong segera dikonfirmasi ke pihak pengundang ya
B : Siap! Kapan pak? (tanpa membaca detil fax)
Korlip : Minggu depan (lalu ia pun ngeloyor)
K : B, katanya pengen ke Bali. Doamu terkabul itu!
B : Oh Bali ya? Asiiik (melipat kertas fax)
Keesokan paginya dalam percakapan telp :
Pengundang : Siang mas, katanya yg jadi berangkat ke acara kami masnya? Bisa minta copy paspor buat kami urus visanya
B : Loh? Buat apa pake visa mbak?
Pengundang : Ke Berlin kan memang harus pakai visa mas
B : Oalah Berlin to mbak, bukan Bali? Sebentar ya saya telpon kantor dulu soalnya belum punya paspor (*ngok!)
Pengundang : Loh, kok bisa Bali? Yaudah deh, kalau sudah selesai tolong dikabari ya
B : Mas K, saya mau ngurus paspor gimana caranya?
K : Buat apa paspor?
B : Acara fax yg dikasiin ke saya semalam
K : Oh, yg ke Bali? ngapain pake paspor?
B : Ternyata bukan Bali tapi Berlin
K : Hah? ***glodak (salah nyuruh orang yg seharusnya jatah wartawan senior) Tapi apa mau dikata, daripada meralat ke korlip malah dikira redaktur ngga becus maka B pun akhirnya tetap berangkat ke Berlin. Wartawan senior kandidat pun gigit jari.
Korlip : Ada undangan ke Berlin minggu depan, tolong tugaskan seorang wartawan (menyodorkan fax)
K : (setengah budeg mantengin PC lalu mengangguk) Ya, berikan saja ke si B dia kemarin bilang belum pernah kesana dan ngiri pengen kesana
Korlip : Ini fax-nya, tolong segera dikonfirmasi ke pihak pengundang ya
B : Siap! Kapan pak? (tanpa membaca detil fax)
Korlip : Minggu depan (lalu ia pun ngeloyor)
K : B, katanya pengen ke Bali. Doamu terkabul itu!
B : Oh Bali ya? Asiiik (melipat kertas fax)
Keesokan paginya dalam percakapan telp :
Pengundang : Siang mas, katanya yg jadi berangkat ke acara kami masnya? Bisa minta copy paspor buat kami urus visanya
B : Loh? Buat apa pake visa mbak?
Pengundang : Ke Berlin kan memang harus pakai visa mas
B : Oalah Berlin to mbak, bukan Bali? Sebentar ya saya telpon kantor dulu soalnya belum punya paspor (*ngok!)
Pengundang : Loh, kok bisa Bali? Yaudah deh, kalau sudah selesai tolong dikabari ya
B : Mas K, saya mau ngurus paspor gimana caranya?
K : Buat apa paspor?
B : Acara fax yg dikasiin ke saya semalam
K : Oh, yg ke Bali? ngapain pake paspor?
B : Ternyata bukan Bali tapi Berlin
K : Hah? ***glodak (salah nyuruh orang yg seharusnya jatah wartawan senior) Tapi apa mau dikata, daripada meralat ke korlip malah dikira redaktur ngga becus maka B pun akhirnya tetap berangkat ke Berlin. Wartawan senior kandidat pun gigit jari.
Merpati, Kau Pernah Ingkar Janji!
On the way back home in an airport lounge. I seem to know the man sitting on the corner who talk with other men's, wearing the same batik. They seem so serious. No doubt, he was the president of an airline that was once reported me and four other journalists to the Police Criminal Investigation (Bareskrim Polri). Merpati Nusantara Airlines. How are you Mr SJT?! Without saying hello I pretending not to know and continue to read the newspaper. Suddenly my memories fly to the moment in the last 2011.
I got three times call from the police as a witness related slant news. But, based on AJI and my editorial consideration it should be ignored. Tuduhannya tentang pencemaran nama baik. Ia tidak terima jika maskapai yang saat itu digawanginya dikatakan kolaps alias bangkrut, merugi miliaran rupiah selama ia menjabat. Tak ada perubahan, baik sebelum dan sesudah ia menjabat. He sued the papers, online media, and my source, his name IT (one of head division of the airline) for slander.
Beberapa lembar copy laporan keuangan tahunan maskapai sdh kami pegang, blm lagi rekaman soal mangkirnya hanggar maskapai itu dari PLN - telat bayar listrik beberapa bulan yang berujung pada protes karyawan di hanggar krn harus tersiksa dalam gelap gulita ketika malam, diperparah dg gaji karyawan yang dicicil selama beberapa bulan (meski akhirnya dibayarkan), apa itu belum cukup menjadi bukti jika maskapai sedang sakit? Regional head maskapai setempat saat dikonfirmasi enggan berkomentar. Keesokannya, pihak corporate secretary maskapai mengirimkan fax yg berisi sanggahan. Tayang, nyaris tanpa edit (di edisi online)
Namun, dirut yg baru menjabat 2 tahun itu tetap tak puas. Ia pun memecat karyawan bernama IT yg untungnya sdh mendekati masa pensiun dalam hitungan bulan. Tak puas dg pemecatan, ia ingin memenjarakan IT bersama media yg menulis cerita ttg maskapai yg diambang sakaratul maut tersebut. Tak berselang lebih dari 6 bulan, dirut berusia 42 tahun itu akhirnya juga dipecat secara halus oleh Menteri BUMN yg kebetulan mantan wartawan. Ia diminta mengundurkan diri. Sebuah arogansi kekuasaan yg berakhir tragis! Kasus pun berhenti. Kami hanya tersenyum kecut. Puluhan media akhirnya mengorek dan melansir ttg kebangkrutan maskapai itu dari hulu sampai hilir. Diperkuat dg statement resmi dari Kementerian BUMN. Jadi, mengapa hrs kebakaran jenggot terhadap kebenaran yg berusaha diungkap? It demeans you sir, to cover rotten meat with honey!
I got three times call from the police as a witness related slant news. But, based on AJI and my editorial consideration it should be ignored. Tuduhannya tentang pencemaran nama baik. Ia tidak terima jika maskapai yang saat itu digawanginya dikatakan kolaps alias bangkrut, merugi miliaran rupiah selama ia menjabat. Tak ada perubahan, baik sebelum dan sesudah ia menjabat. He sued the papers, online media, and my source, his name IT (one of head division of the airline) for slander.
Beberapa lembar copy laporan keuangan tahunan maskapai sdh kami pegang, blm lagi rekaman soal mangkirnya hanggar maskapai itu dari PLN - telat bayar listrik beberapa bulan yang berujung pada protes karyawan di hanggar krn harus tersiksa dalam gelap gulita ketika malam, diperparah dg gaji karyawan yang dicicil selama beberapa bulan (meski akhirnya dibayarkan), apa itu belum cukup menjadi bukti jika maskapai sedang sakit? Regional head maskapai setempat saat dikonfirmasi enggan berkomentar. Keesokannya, pihak corporate secretary maskapai mengirimkan fax yg berisi sanggahan. Tayang, nyaris tanpa edit (di edisi online)
Namun, dirut yg baru menjabat 2 tahun itu tetap tak puas. Ia pun memecat karyawan bernama IT yg untungnya sdh mendekati masa pensiun dalam hitungan bulan. Tak puas dg pemecatan, ia ingin memenjarakan IT bersama media yg menulis cerita ttg maskapai yg diambang sakaratul maut tersebut. Tak berselang lebih dari 6 bulan, dirut berusia 42 tahun itu akhirnya juga dipecat secara halus oleh Menteri BUMN yg kebetulan mantan wartawan. Ia diminta mengundurkan diri. Sebuah arogansi kekuasaan yg berakhir tragis! Kasus pun berhenti. Kami hanya tersenyum kecut. Puluhan media akhirnya mengorek dan melansir ttg kebangkrutan maskapai itu dari hulu sampai hilir. Diperkuat dg statement resmi dari Kementerian BUMN. Jadi, mengapa hrs kebakaran jenggot terhadap kebenaran yg berusaha diungkap? It demeans you sir, to cover rotten meat with honey!
@TrioMacan2000
Membaca berita online ada si bapak menteri yg melaporkan akun twitter anonim (@triomacan2000) ke polda metro jaya semalam gara2 tuduhan istri selingkuh, jadi mengernyitkan dahi. Lapor polda gara2 akun anonim? Menguras waktu dan energi!
Kualitas hidup seseorang ditentukan dari pertanyaan yang ia pikirkan, bukan dari jawaban yang ia ketahui. Anda tidak perlu menanggapi dan menjawab setiap rumor yg beredar, pilah saja mana yg memang perlu ditanggapi. Itu menentukan bagaimana kualitas Anda!
Saya pikir, tdk ada nama terang siapa yang dimaksud dlm status si anonim tsb meskipun ada salah seorang follower yg menduga-duga lalu memposting foto si bapak dan istrinya. Jd, itu postingan si pemilik akun. Ketahuan deh klo si bapak gaptek. Ketika bapak koar2 malah publik akhirnya tahu bahwa ternyata istri bapak to yg 'dituduh' selingkuh dg anak tiri dari istri pertama. Ngga perlulah pake jumpapers segala dan ngomong itu fitnah. Toh, publik jg tidak sebodoh yg dipikirin bapak. Lagian, ntar klo waktu akhirnya bisa membuktikan selingkuh itu menjadi fakta gmn donk?
I'm not the endorsement of @triomacan2000. Saya sekadar tahu dari apa yang dilansir Tempo dan Kompas. Bagi saya selaku org awam, setiap informasi yg memojokkan siapapun hanya akan tersisa sbg informasi sepihak yg belum bisa dipercaya kebenarannya 100%. Cover both side sangat diperlukan, maka don't rush to judge! Siapapun bisa mengatakan apapun tentang siapapun, mengklaim punya bukti dg mencantumkan pejabat si A, si B, si C adalah saksi bahwa kicauannya bukan isapan jempol, so what?! Saya pun juga bisa menyampaikan informasi sumir yang tidak saya dengar langsung dari sumber A1 tapi saya klaim sebagai A1.
Dalam dunia jurnalistik, sumber anonim bisa mengurangi kredibilitas sebuah surat kabar. Itu sebabnya sering tidak diperkenankan sehingga banyak surat kabar di Indo yg lbh memilih tdk memakai sumber anonim (klo media massa di manca negara saya rasa banyak). Meski demikian, masih ada bbrp surat kabar di Indo yg sering memakai sumber anonim, biasanya majalah dan itu utk keperluan investigasi tertentu yg bisa dipertanggungjawabkan ketika persoalan itu dibawa ke meja hijau.
Bicara soal informasi dari sumber anonim ibarat ngomongin hantu sama org yang ngga pernah lihat hantu. Jadinya ya percaya ngga percaya. Tapi disini, saya percaya bahwa selingkuh itu riil, korupsi juga sgt riil, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan juga riil. Persoalannya, ketika si A mengalamatkan suatu tuduhan thdp si B, si C, dst bahwa mereka melakukan kejahatan2 tersebut, baru bisa riil jika sudah ada bukti di pengadilan. Rumor has no poison antidote.
Saya juga tdk yakin bahwa pemilik akun @triomacan2000 benar2 tdk memiliki kepentingan lain selain seperti yg ia tulis dalam bionya : "akun ini adalah akun komunitas intelejen publik utk pencerahan, memerangi korupsi dan kemunafikan pemimpin negeri, dan ingin mengutamakan kejujuran." Jangan2, ujung2nya mereka ingin memerhitungkan nama di kancah politik kelak. Misalnya, nyaleg ato nyapres di 2014. Hahaha.. dagelan! Seseorang yang berambisi mendapatkan kekuasaan, lebih sering mengawali kiprahnya dg kritikan yang vokal mengatasnamakan kejujuran utk rakyat. Tujuannya, apa lagi klo bukan mendapatkan simpati publik.
Kualitas hidup seseorang ditentukan dari pertanyaan yang ia pikirkan, bukan dari jawaban yang ia ketahui. Anda tidak perlu menanggapi dan menjawab setiap rumor yg beredar, pilah saja mana yg memang perlu ditanggapi. Itu menentukan bagaimana kualitas Anda!
Saya pikir, tdk ada nama terang siapa yang dimaksud dlm status si anonim tsb meskipun ada salah seorang follower yg menduga-duga lalu memposting foto si bapak dan istrinya. Jd, itu postingan si pemilik akun. Ketahuan deh klo si bapak gaptek. Ketika bapak koar2 malah publik akhirnya tahu bahwa ternyata istri bapak to yg 'dituduh' selingkuh dg anak tiri dari istri pertama. Ngga perlulah pake jumpapers segala dan ngomong itu fitnah. Toh, publik jg tidak sebodoh yg dipikirin bapak. Lagian, ntar klo waktu akhirnya bisa membuktikan selingkuh itu menjadi fakta gmn donk?
I'm not the endorsement of @triomacan2000. Saya sekadar tahu dari apa yang dilansir Tempo dan Kompas. Bagi saya selaku org awam, setiap informasi yg memojokkan siapapun hanya akan tersisa sbg informasi sepihak yg belum bisa dipercaya kebenarannya 100%. Cover both side sangat diperlukan, maka don't rush to judge! Siapapun bisa mengatakan apapun tentang siapapun, mengklaim punya bukti dg mencantumkan pejabat si A, si B, si C adalah saksi bahwa kicauannya bukan isapan jempol, so what?! Saya pun juga bisa menyampaikan informasi sumir yang tidak saya dengar langsung dari sumber A1 tapi saya klaim sebagai A1.
Dalam dunia jurnalistik, sumber anonim bisa mengurangi kredibilitas sebuah surat kabar. Itu sebabnya sering tidak diperkenankan sehingga banyak surat kabar di Indo yg lbh memilih tdk memakai sumber anonim (klo media massa di manca negara saya rasa banyak). Meski demikian, masih ada bbrp surat kabar di Indo yg sering memakai sumber anonim, biasanya majalah dan itu utk keperluan investigasi tertentu yg bisa dipertanggungjawabkan ketika persoalan itu dibawa ke meja hijau.
Bicara soal informasi dari sumber anonim ibarat ngomongin hantu sama org yang ngga pernah lihat hantu. Jadinya ya percaya ngga percaya. Tapi disini, saya percaya bahwa selingkuh itu riil, korupsi juga sgt riil, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan juga riil. Persoalannya, ketika si A mengalamatkan suatu tuduhan thdp si B, si C, dst bahwa mereka melakukan kejahatan2 tersebut, baru bisa riil jika sudah ada bukti di pengadilan. Rumor has no poison antidote.
Saya juga tdk yakin bahwa pemilik akun @triomacan2000 benar2 tdk memiliki kepentingan lain selain seperti yg ia tulis dalam bionya : "akun ini adalah akun komunitas intelejen publik utk pencerahan, memerangi korupsi dan kemunafikan pemimpin negeri, dan ingin mengutamakan kejujuran." Jangan2, ujung2nya mereka ingin memerhitungkan nama di kancah politik kelak. Misalnya, nyaleg ato nyapres di 2014. Hahaha.. dagelan! Seseorang yang berambisi mendapatkan kekuasaan, lebih sering mengawali kiprahnya dg kritikan yang vokal mengatasnamakan kejujuran utk rakyat. Tujuannya, apa lagi klo bukan mendapatkan simpati publik.
Friday, May 17, 2013
SBY : Obama
Pernahkah membandingkan TL @SBYudhoyono dengan @BarrackObama? Perhatikan soal konten kicauannya. Jauh! Saya menjadi follower keduanya karena ingin lebih dekat mengetahui "pemikiran" kedua pemimpin negara yang sama2 dilahirkan dari asas demokrasi tsb.
Siapapun dibalik akun tsb, entah sang presiden sendiri atau timnya yg jelas kicauan yg terpampang dalam TL baik secara lgsg maupun tidak, telah mendapat persetujuan presiden. Sebab, kicauan yg memperburuk citra presiden pasti akan langsung diDEL. Twit dari presiden langsung akan diberi tanda *SBY* atau *BO*.
Satu hal menyolok yang membedakan kedua akun tersebut adalah model interaksi dg rakyatnya. Kicauan SBY jauh lebih pasif, membatasi diri dari interaksi langsung dengan rakyat, kebanyakan "hanya" berupa himbauan, pesan, penegasan sikap dan foto aktivitas keluarga maupun kenegaraan. Obama lebih banyak membuka diskusi interaktif, baik lewat retweet, mention, dll yang terhubung dg website resmi atas nama www.barrackobama.com.
Obama lebih aktif meretweet pemberitaan yang terkait regulasi, kegiataan kenegaraan, menjaring opini, menggali pemikiran rakyatnya, mencari feedback dg komunikasi dua arah secara langsung. Pemberitaan negatif pun tdk dipermasalahkan jika memang dinilai berbobot, lalu ia akan mengomentari dan mengajak semua untuk sama2 berpikir di balik dampak dari regulasinya atau respons negatif dr regulasinya tsb. Sikap keterbukaan Obama mengesankan bahwa ketika ia terpilih berdasarkan aspirasi rakyat, maka setelah terpilihpun benar2 menampung aspirasi rakyat yang memilihnya.
Apakah presiden saya masih terlalu gaptek sehingga tdk memfungsikan social media dan webnya (www.presidenri.go.id) utk berinteraksi secara optimal? Atau sikap birokrat yg membuatnya menjadi demikian. Apa hrs maklum ketika menyadari bahwa SBY newbie di twitter? tak heran jika followernya baru 2,084 juta dg following 66 (rasionya 0,0032%) tidak sebanding dg Obama yg nangkring di twitter sejak 2008 dengan follower mencapai 31,532 juta dan following 662.624 dg rasio 2,1%.
Saya geli ketika seorang SBY menuliskan status layaknya Mario Teguh maupun motivator handal lainnya "Orang bijak berpesan : Jika tidak bisa membantu, jangan mengganggu" *SBY*. Ada lagi, "Kritik itu laksana obat. Ketika obat itu benar sesuai jenis penyakit dan dosisnya tepat, itu membuat sehat." So sensitive and sentimentil! Saya pikir, masih banyak isu krusial yang bisa didiskusikan lewat 140 karakter ketimbang menuliskan sesuatu yg berpotensi menimbulkan prasangka. Begitu dpt mention dari seorang artis cantik Nadya Hutagalung tentang kampanye penyelamatan orang utan dan hutan Aceh saja langsung diberi label "top tweet" anehnya tanpa membalas dg komentar apapun. Berikutnya malah nulis status soal BBM. Ciyus nih pak?!
Siapapun dibalik akun tsb, entah sang presiden sendiri atau timnya yg jelas kicauan yg terpampang dalam TL baik secara lgsg maupun tidak, telah mendapat persetujuan presiden. Sebab, kicauan yg memperburuk citra presiden pasti akan langsung diDEL. Twit dari presiden langsung akan diberi tanda *SBY* atau *BO*.
Satu hal menyolok yang membedakan kedua akun tersebut adalah model interaksi dg rakyatnya. Kicauan SBY jauh lebih pasif, membatasi diri dari interaksi langsung dengan rakyat, kebanyakan "hanya" berupa himbauan, pesan, penegasan sikap dan foto aktivitas keluarga maupun kenegaraan. Obama lebih banyak membuka diskusi interaktif, baik lewat retweet, mention, dll yang terhubung dg website resmi atas nama www.barrackobama.com.
Obama lebih aktif meretweet pemberitaan yang terkait regulasi, kegiataan kenegaraan, menjaring opini, menggali pemikiran rakyatnya, mencari feedback dg komunikasi dua arah secara langsung. Pemberitaan negatif pun tdk dipermasalahkan jika memang dinilai berbobot, lalu ia akan mengomentari dan mengajak semua untuk sama2 berpikir di balik dampak dari regulasinya atau respons negatif dr regulasinya tsb. Sikap keterbukaan Obama mengesankan bahwa ketika ia terpilih berdasarkan aspirasi rakyat, maka setelah terpilihpun benar2 menampung aspirasi rakyat yang memilihnya.
Apakah presiden saya masih terlalu gaptek sehingga tdk memfungsikan social media dan webnya (www.presidenri.go.id) utk berinteraksi secara optimal? Atau sikap birokrat yg membuatnya menjadi demikian. Apa hrs maklum ketika menyadari bahwa SBY newbie di twitter? tak heran jika followernya baru 2,084 juta dg following 66 (rasionya 0,0032%) tidak sebanding dg Obama yg nangkring di twitter sejak 2008 dengan follower mencapai 31,532 juta dan following 662.624 dg rasio 2,1%.
Saya geli ketika seorang SBY menuliskan status layaknya Mario Teguh maupun motivator handal lainnya "Orang bijak berpesan : Jika tidak bisa membantu, jangan mengganggu" *SBY*. Ada lagi, "Kritik itu laksana obat. Ketika obat itu benar sesuai jenis penyakit dan dosisnya tepat, itu membuat sehat." So sensitive and sentimentil! Saya pikir, masih banyak isu krusial yang bisa didiskusikan lewat 140 karakter ketimbang menuliskan sesuatu yg berpotensi menimbulkan prasangka. Begitu dpt mention dari seorang artis cantik Nadya Hutagalung tentang kampanye penyelamatan orang utan dan hutan Aceh saja langsung diberi label "top tweet" anehnya tanpa membalas dg komentar apapun. Berikutnya malah nulis status soal BBM. Ciyus nih pak?!
PT Sepur!
Ketika mesin-mesin raksasa itu dg rakusnya menggilas bangunan yg dulu kokoh. Ketika malam mulai berisik dg gemuruh ekskavator, backhoe hingga tower crane. Siang hanya akan menyisakan debu bangunan.
Dan, semuanya tercatat tinggal sejarah. Tak ada lagi kicauan tetangga menjemput fajar, yang genit menawar barang diantara pedagang sayur keliling.
Potret di kompleks perumahan kami. Tepat di tepi jalan raya (lokal sekunder). Lebar jalan yg tak lebih dari 5 meter. Satu atau dua tahun lagi akan menatap berderet-deret bangunan baru sebagai pusat transaksi jual beli, menggantikan deretan rumah yang lima dekade ini dihuni para pensiunan pt sepur dan keturunannya.
Apakah suatu hal yang kelewat picik jika "puluhan" penghuni rumah menolak hengkang, lalu pt sepur menarik biaya sewa yg mencekik termasuk beban sewa sejumlah tahun terhitung sejak masa awal pensiun. Alih-alih bumn (dalam regulasinya) melakukan optimalisasi aset, pengusiran menjadi manusiawi tanpa kompensasi layak.
Lahan itu memang milik pt sepur, diklaim akan dialihfungsikan sebagai relokasi pasar tradisional lantaran lokasi pasar yg sebelumnya dikepras guna pelebaran jalan. Deretan rumah yang hendak diluluhlantakkan itu dipilih karena membelakangi lapangan kosong. Lapangan inilah yang sejatinya diincar. Lapangan yang selama ini 'hanya' dipakai aktivitas olahraga murid2 sekolah dasar setempat dan latihan club-club futsal.
Aneh rasanya jika bangun pagi, membuka jendela kamar langsung disambut riuhnya pedagang pasar. Bau amis, sayur busuk, kotoran ikan dan lantangnya suara para penghuni "blok m" akan segera mengakrabi.
Kekumuhan dan kriminalitas, besar kemungkinan segera menghampiri kawasan yang dulu nyaman sebagai hunian melewatkan hari tua. Aktivitas kerja tak lazim dengan jam tidur biasa pasti juga menyergap sejak pukul 03.00 dan mungkin berakhir pukul 07.00.
Apakah ini yang namanya pembangunan? Lalu, adakah yang pernah berhasil melawan dampak negatifnya? Sepanjang sejarah, perlawanan terhadap pembangunan pada akhirnya harus tunduk dan mengalah pada sebuah kata bernama kepentingan. Siapa lawan siapa demi siapa. Maka demikian, regulasi diciptakan untuk mencari korban baru atau memang harus ada tumbal di setiap regulasi.
Dan, semuanya tercatat tinggal sejarah. Tak ada lagi kicauan tetangga menjemput fajar, yang genit menawar barang diantara pedagang sayur keliling.
Potret di kompleks perumahan kami. Tepat di tepi jalan raya (lokal sekunder). Lebar jalan yg tak lebih dari 5 meter. Satu atau dua tahun lagi akan menatap berderet-deret bangunan baru sebagai pusat transaksi jual beli, menggantikan deretan rumah yang lima dekade ini dihuni para pensiunan pt sepur dan keturunannya.
Apakah suatu hal yang kelewat picik jika "puluhan" penghuni rumah menolak hengkang, lalu pt sepur menarik biaya sewa yg mencekik termasuk beban sewa sejumlah tahun terhitung sejak masa awal pensiun. Alih-alih bumn (dalam regulasinya) melakukan optimalisasi aset, pengusiran menjadi manusiawi tanpa kompensasi layak.
Lahan itu memang milik pt sepur, diklaim akan dialihfungsikan sebagai relokasi pasar tradisional lantaran lokasi pasar yg sebelumnya dikepras guna pelebaran jalan. Deretan rumah yang hendak diluluhlantakkan itu dipilih karena membelakangi lapangan kosong. Lapangan inilah yang sejatinya diincar. Lapangan yang selama ini 'hanya' dipakai aktivitas olahraga murid2 sekolah dasar setempat dan latihan club-club futsal.
Aneh rasanya jika bangun pagi, membuka jendela kamar langsung disambut riuhnya pedagang pasar. Bau amis, sayur busuk, kotoran ikan dan lantangnya suara para penghuni "blok m" akan segera mengakrabi.
Kekumuhan dan kriminalitas, besar kemungkinan segera menghampiri kawasan yang dulu nyaman sebagai hunian melewatkan hari tua. Aktivitas kerja tak lazim dengan jam tidur biasa pasti juga menyergap sejak pukul 03.00 dan mungkin berakhir pukul 07.00.
Apakah ini yang namanya pembangunan? Lalu, adakah yang pernah berhasil melawan dampak negatifnya? Sepanjang sejarah, perlawanan terhadap pembangunan pada akhirnya harus tunduk dan mengalah pada sebuah kata bernama kepentingan. Siapa lawan siapa demi siapa. Maka demikian, regulasi diciptakan untuk mencari korban baru atau memang harus ada tumbal di setiap regulasi.
Wednesday, May 15, 2013
Wartawan vs Penjual Aspal
Tau apa perbedaan dan persamaan wartawan dan penjual aspal pertamina/shell? Sama-sama jualan. Bedanya, yg satu jualan berita, satunya lagi jualan komoditas. Keduanya sama2 seru dan punya tantangan yg luar biasa, cuma beda aliran. Jualan berita ngga kenal musim, jualan aspal hanya di musim proyek dimana APBD/APBN bakal cair (*tengah tahun mpe mendekati akhir tahun). Semakin besar samudera yang diarungi, semakin besar tantangan tapi semakin terbuka peluang mendapatkan ikan-ikan besar. Jika takut thdp tantangan, harus puas dg ikan-ikan kecil. Berminat? Klo pemula yg tak bisa berenang dan hanya memiliki sampan sebaiknya jgn dulu ke tengah samudera. Nantilah, pasti akan ada saat dimana skill benar2 terbentuk, modal sudah cukup utk membeli peralatan dan perlengkapan yang lebih canggih dan bisa menyewa para tenaga yg handal. Majulah ke tengah samudera.
Belakangan, baru saya sadar jika ujung tombak sebuah produk memang sales/marketing. Sebagus apapun produk kalau tidak ada yang beli percuma, klo pemasarannya ngga bagus ya percuma. Sama halnya dg media cetak, sebagus apapun berita, sekaya apapun pemilik modal bisa mencetak koran sendiri, persoalannya siapa yang mau beli/baca? Kunci dari surat kabar (media cetak) adalah jangkauan informasi alias pemasaran, seberapa jauh ia bisa menjangkau pembaca yg terjauh dan secara kontinyu dibaca. Sebuah media cetak yg bisa eksis berpuluh2 tahun, konsepnya tdk sesederhana yg dipikirkan org. Ada semacam sinergi atau racikan yg pas dan kontinyu antara pemilik modal, pemasang iklan, materi pemberitaan dan tim antardivisi yang terlibat di dalamnya.
Saya pikir, hanya segelintir orang yang saat ini hidup sesuai dengan apa yang mereka cita2kan sejak lama. I would've also never pictured my life the way it is now. Kita mungkin sering ngga sadar bahwa sebagian yg kita jalani saat ini merupakan jawaban dari doa yang tertunda. Apapun itu profesinya, jalanilah sungguh2 dan jgn semata-mata berorientasi pd capaian berupa uang. I found that if I focused on making my life interesting, money came. But if I focused on money, I got stuck.
Belakangan, baru saya sadar jika ujung tombak sebuah produk memang sales/marketing. Sebagus apapun produk kalau tidak ada yang beli percuma, klo pemasarannya ngga bagus ya percuma. Sama halnya dg media cetak, sebagus apapun berita, sekaya apapun pemilik modal bisa mencetak koran sendiri, persoalannya siapa yang mau beli/baca? Kunci dari surat kabar (media cetak) adalah jangkauan informasi alias pemasaran, seberapa jauh ia bisa menjangkau pembaca yg terjauh dan secara kontinyu dibaca. Sebuah media cetak yg bisa eksis berpuluh2 tahun, konsepnya tdk sesederhana yg dipikirkan org. Ada semacam sinergi atau racikan yg pas dan kontinyu antara pemilik modal, pemasang iklan, materi pemberitaan dan tim antardivisi yang terlibat di dalamnya.
Saya pikir, hanya segelintir orang yang saat ini hidup sesuai dengan apa yang mereka cita2kan sejak lama. I would've also never pictured my life the way it is now. Kita mungkin sering ngga sadar bahwa sebagian yg kita jalani saat ini merupakan jawaban dari doa yang tertunda. Apapun itu profesinya, jalanilah sungguh2 dan jgn semata-mata berorientasi pd capaian berupa uang. I found that if I focused on making my life interesting, money came. But if I focused on money, I got stuck.
Gestun (겟툰)
Fenomena gesek tunai (gestun) ternyata tidak hanya melanda kartu kredit, kartu debit pun bisa. Coba aja di sejumlah gerai minimarket (terutama yang tdk dilengkapi ATM). Bedanya, gestun dengan kartu kredit jelas merugikan bank. Kalau gestun dengan kartu debit? Aman. Alasannya, bank tdk mengambil keuntungan apapun dari pembelanjaan menggunakan kartu debit.
Kalau gestun kartu kredit, jelas mengganggu indikator peta perdagangan barang (ritel) dan lalu lintas uang secara nasional. Praktik itu berpotensi merugikan bank karena berkurangnya fee atas pengalihan transaksi dan juga berpotensi menciptakan kredit macet yang berada di luar persetujuan bank. Ini karena fee gestun yang dibebankan ke pemilik kartu kredit biasanya lebih rendah dari fee bank. Jelas aja org pilih ke jasa gestun. Penyedia jasa gestun kartu kredit kini menjamur, tak hanya di minimarket.
"Disini bisa gestun kartu debit ngga mba?" tanyaku pd seorang kasir di 7-Eleven Senayan City. "Ngga bisa kak. Disini ngga pernah bisa emang. Coba di tempat lain aja." Oh, baiklah. Beda dg yg terjadi di gerai minimarket Afamart maupun Indomaret di kawasan Slipi. Bisa gestun debit tapi dibatasi tidak lebih dari Rp 300.000, hehehe sama aja donk! Namanya juga minimarket, ngga pernah ready rupiah dalam jumlah besar di kasir krn tiap 2-3 jam sekali kasir harus setor (ada petugas yg ambil). Klo butuh cash mpe Rp 5 Juta (spt halnya gestun credit card) ya ngajuin aja utang ke bank. Transaksi di minimarket emang kecil-kecil. Kedapatan pembeli yang belanja pake voucher Rp 2 Juta aja bengong. Busyet! Ada ya voucher minimarket mpe jutaan dan ngumpul di satu orang yg sama.
"Kemaren ada org belanja pake voucher sampe Rp 2 Juta. Belanjanya lama, saya pikir mau ngerampok apa gimana ngga jelas juga," keluh kasir di Alfamart. "Lah, emang vouchernya asli pa kagak? Kan di tiap lembarnya bisa divalidasi?" komentarku. "Iya sih. Asli. Cuma kan ngga pernah kejadian kek gitu," lanjut si mba. Dia menang lotre ato jgn2 emang orang Alfamart sendiri. Klo voucher belanja mpe jutaan di hypermarket ato supermarket sih wajar. Pernah dapat, lgsg belanjain TV Samsung 32". Cakep dah! eits ngga boleh ngiri! hehehe..
Kalau gestun kartu kredit, jelas mengganggu indikator peta perdagangan barang (ritel) dan lalu lintas uang secara nasional. Praktik itu berpotensi merugikan bank karena berkurangnya fee atas pengalihan transaksi dan juga berpotensi menciptakan kredit macet yang berada di luar persetujuan bank. Ini karena fee gestun yang dibebankan ke pemilik kartu kredit biasanya lebih rendah dari fee bank. Jelas aja org pilih ke jasa gestun. Penyedia jasa gestun kartu kredit kini menjamur, tak hanya di minimarket.
"Disini bisa gestun kartu debit ngga mba?" tanyaku pd seorang kasir di 7-Eleven Senayan City. "Ngga bisa kak. Disini ngga pernah bisa emang. Coba di tempat lain aja." Oh, baiklah. Beda dg yg terjadi di gerai minimarket Afamart maupun Indomaret di kawasan Slipi. Bisa gestun debit tapi dibatasi tidak lebih dari Rp 300.000, hehehe sama aja donk! Namanya juga minimarket, ngga pernah ready rupiah dalam jumlah besar di kasir krn tiap 2-3 jam sekali kasir harus setor (ada petugas yg ambil). Klo butuh cash mpe Rp 5 Juta (spt halnya gestun credit card) ya ngajuin aja utang ke bank. Transaksi di minimarket emang kecil-kecil. Kedapatan pembeli yang belanja pake voucher Rp 2 Juta aja bengong. Busyet! Ada ya voucher minimarket mpe jutaan dan ngumpul di satu orang yg sama.
"Kemaren ada org belanja pake voucher sampe Rp 2 Juta. Belanjanya lama, saya pikir mau ngerampok apa gimana ngga jelas juga," keluh kasir di Alfamart. "Lah, emang vouchernya asli pa kagak? Kan di tiap lembarnya bisa divalidasi?" komentarku. "Iya sih. Asli. Cuma kan ngga pernah kejadian kek gitu," lanjut si mba. Dia menang lotre ato jgn2 emang orang Alfamart sendiri. Klo voucher belanja mpe jutaan di hypermarket ato supermarket sih wajar. Pernah dapat, lgsg belanjain TV Samsung 32". Cakep dah! eits ngga boleh ngiri! hehehe..
LTV
Kaget juga baca selebaran iklan salah satu dealer Suzuki, jual motor baru dg DP cuma Rp 1,5 juta. Di seberangnya lagi, dealer Honda juga menyebarkan selebaran iklan yg kurang lebihnya sama. Saingan deh! Tapi, kali ini dealer Honda lebih tertib (*sorry ane bukan salesnya Honda dan ngga pernah dapet titipan apa2 dr Honda). Masih ada ya DP Rp 1,5 Juta? Jika harga motor cash Rp 14,5 Juta, berarti DP-nya cuma sekitar 10% donk?
Bukannya aturan loan to value (LTV) itu sudah diberlakukan sejak setahun lalu ya? Wah, kacau bener nih Suzuki klo saingan (tp blm bandingin juga sih ama Yamaha, TVS, dll). Seperti kita ketahui, aturan buat leasing itu diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 43/PMK.010/2012 tentang Uang Muka Pembiayaan Konsumen Untuk Kendaraan Bermotor Pada Perusahaan Pembiayaan. Aturan ini menyusul setelah Bank Indonesia (BI) mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 14/10/DPNP per 15 Maret 2012 tentang penerapan manajemen risiko pada bank yang melakukan pemberian kredit kepemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB). BI membatasi uang muka (down payment/DP) kredit motor minimal 25% dan kredit mobil 30% di perbankan, kementerian keuangan membatasi DP kredit kendaraan di perusahaan multifinance atau leasing minimal 20% untuk motor dan 25% untuk mobil.
Bandingkan dengan selebaran iklannya Honda, Vario Techno 125 cash Rp 15,97 Juta, DP minimal Rp 3,5 Juta, cicilan mulai 11-59 bulan. Berarti DP-nya 20% kan ya? Tertib. Ada sebagian konsumen yg merasa diuntungkan dg DP semakin rendah, tp ada yg justru enggan memilih DP rendah karena beban bunga cicilan jelas semakin gd. Pernah ngobrol dg seorang ojek yg mengaku berasal dari Sampang, dia ambil motor Vega tiga tahun lalu DP-nya cuma Rp 500.000 dan belinya pas mau Lebaran. Cicilan per bulan ambil yg paling rendah Rp 400.000. Setelah tiga bulan pakai buat dipamerin di kampung lalu dijual kembali. Lho, emangnya sengaja beli tidak untuk dipakai? "Ya niat dipakai, tapi kalo Vega rasanya banyak maling yg ngincer karena kuncinya tdk ada pengaman jadi mudah dimodifikasi pake raja kunci. Honda lebih aman karena di bagian kuncinya dilengkapi pengaman, jadi malingnya agak susah," jelasnya. Wah, si markacong ni... kalo emang uda ada modus lain jelaslah ambil DP yang paling ringan.
Bukannya aturan loan to value (LTV) itu sudah diberlakukan sejak setahun lalu ya? Wah, kacau bener nih Suzuki klo saingan (tp blm bandingin juga sih ama Yamaha, TVS, dll). Seperti kita ketahui, aturan buat leasing itu diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 43/PMK.010/2012 tentang Uang Muka Pembiayaan Konsumen Untuk Kendaraan Bermotor Pada Perusahaan Pembiayaan. Aturan ini menyusul setelah Bank Indonesia (BI) mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 14/10/DPNP per 15 Maret 2012 tentang penerapan manajemen risiko pada bank yang melakukan pemberian kredit kepemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB). BI membatasi uang muka (down payment/DP) kredit motor minimal 25% dan kredit mobil 30% di perbankan, kementerian keuangan membatasi DP kredit kendaraan di perusahaan multifinance atau leasing minimal 20% untuk motor dan 25% untuk mobil.
Bandingkan dengan selebaran iklannya Honda, Vario Techno 125 cash Rp 15,97 Juta, DP minimal Rp 3,5 Juta, cicilan mulai 11-59 bulan. Berarti DP-nya 20% kan ya? Tertib. Ada sebagian konsumen yg merasa diuntungkan dg DP semakin rendah, tp ada yg justru enggan memilih DP rendah karena beban bunga cicilan jelas semakin gd. Pernah ngobrol dg seorang ojek yg mengaku berasal dari Sampang, dia ambil motor Vega tiga tahun lalu DP-nya cuma Rp 500.000 dan belinya pas mau Lebaran. Cicilan per bulan ambil yg paling rendah Rp 400.000. Setelah tiga bulan pakai buat dipamerin di kampung lalu dijual kembali. Lho, emangnya sengaja beli tidak untuk dipakai? "Ya niat dipakai, tapi kalo Vega rasanya banyak maling yg ngincer karena kuncinya tdk ada pengaman jadi mudah dimodifikasi pake raja kunci. Honda lebih aman karena di bagian kuncinya dilengkapi pengaman, jadi malingnya agak susah," jelasnya. Wah, si markacong ni... kalo emang uda ada modus lain jelaslah ambil DP yang paling ringan.
Subscribe to:
Posts (Atom)