Yes, I totally agree that solo backpacker is rarely found in Indo. They'd prefer to take a trip with travel agencies. Friday morning at the 대한민군 embassy :
"Berdua aja neng? tanya seorang pria berkulit gelap bertubuh kekar sambil menenteng tas ransel besar. "Iya," jawabku.
Sejenak, sejumlah nama pun dipanggil dan paspor berikut visa dibagikan. Pria tsb beranjak menuju loket pengambilan paspor-visa lalu mengambil segebok paspor.
Pengambilan visa hanya dpt dilakukan setiap Senin-Jumat pukul 13.30-16.00, pengajuan visa hanya dilayani setiap Senin-Jumat pukul 09.00-12.00. Informasi lengkap hingga formulir bisa diunduh dari laman resmi embassy South Korea http://idn.mofat.go.kr
"Biro perjalanan atau...?" tanyaku. "Iya," ujarnya menyela seraya mengangguk dan menghitung jumlah paspor di tangannya.
Ia lalu kembali duduk dan tampak akrab bercanda dg pria2 yg sdg menunggu panggilan petugas loket. Sebagian besar pria2 yg menunggu itu juga bertampang kucel dan berkulit legam layaknya calo yg kerap kita jumpai di kantor imigrasi.
"Kenapa ngga nitip lewat travel aja?" tanya seorang pria lainnya yg duduk di sebelahku. "Biar ngerti prosedurnya, jadi lebih enak dilakukan sendiri. Klo lewat calo kira2 berapa ya tarifnya," tanyaku.
"Tergantung sih, mau cepet, standar apa agak lama. Rata-rata Rp 400.000 mpe 1 juta," kata dia. Tarif normal klo kita mengajukan visa sendiri ke embassy south korea cuma $30 atau sekitar Rp 294.000 untuk izin wisata di bawah 90 hari, kalau di atas 90 hari $50. Which one do you choose?
Thursday, May 2, 2013
Sunday, April 28, 2013
Embassy 대한민국
Monday morning at The Plaza Indonesia Office Tower. We were too early 30 minutes so the office didn't open yet.
"Mau ke lantai berapa dik?" tanya seorang pria paruh baya yg datang bersama istri dan seorang anak gadisnya. "Lantai 30. Bapak?" ujarku. "Oh, klo gitu sama. Mau ke embassy South Korea kan? Katanya baru boleh naik pas kantornya buka jam 08.30," ujarnya kujawab dg anggukan.
Tower yg berisi khusus perkantoran setinggi 32 lantai itu terletak di gedung yg sama dg mal Plaza Indonesia, kawasan MH Thamrin (persis di seberang halte busway Bundaran HI). Tamu yg hendak memasuki area hrs melewati pintu security, lalu jika hendak ke area lift akan dihadapkan pd palang barcode layaknya di parkiran kendaraan yg tak berpenjaga.
Agar palang terbuka otomatis, tinggal menempelkan barcode card. Itu sebabnya tamu hrs lapor dulu ke desk information, memberikan salah satu identitas (KTP/SIM) lalu akan diberi barcode card yang sudah disetting lantai berapa yg akan kita tuju.
"Ke lantai berapa?" tanya seorang petugas di desk information setelah saya memberikan KTP. Lantai 30. Lantai ini adalah kantor kedubes korea selatan atau Republic of Korea/daehan minguk (대한민국). "Silahkan agak geser ke kanan utk saya ambil foto," kata dia, pria berpostur tinggi tegap. Busyet, pake foto2 segala ya. Serius nih? Buat koleksi pribadi si masnya sendiri apa emang syarat wajib? Tp ngeliat mukanya serius dan ngga ramah, kayaknya mang syaratnya gitu. Hehe..kidding! Di bagian desk information emang ada kamera kecil spt kamera yg dipake petugas foto paspor/KTP. Yaaa.. mirip juga ama org yang mau mencairkan duit Jamsostek, pake difoto2 dulu.
Klo pekerja kantor di gedung tsb tdk perlu lapor karena mereka sudah dipinjami barcode card yg khusus disetting langsung hanya menuju ke lantai dimana kantor mereka berada. Barcode card, selain utk membuka palang pintu juga utk membuka lift dan mengantarkan kita ke lantai yg dituju. Tanpa menempelkan barcode card pd alat yg terletak di bagian depan lift paling ujung, jgn harap lift akan bergerak. Lift emang bisa kebuka, tapi ngga bergerak. Beda ama hotel, kartunya dimasukkan/digesek di dalam lobang yg ada di dalam dinding lift, lalu tekan lantai tujuan. Di lift yg ada di The Plaza Indonesia Office Tower tdk perlu menekan lantai tujuan krn barcode card sdh secara otomatis mengidentifikasi lantai tujuan.
"Di Korea sekolah ya dik? Saya juga nganter anak study. Kebetulan dia kuliah di Inggris dan program perkuliahannya lagi ada pertukaran selama 6 bulan ke sebuah kampus di Suwon, sekalian dia akan magang di salah satu perusahaan disana. Kita belum pernah ke Korea, anak saya juga. Makanya sekalian pengen liat. Tidurnya ntar di asrama, tapi saya dan ibu akan di hotel, cuma katanya mahal ya," kata si bapak.
"Kita main aja kok pak. Tidur di hotel emang mahal pak, tapi klo hostel backpacker murah. Kita booking seminggu ngga nyampe Rp 1 juta," ujarku.
Suwon merupakan ibukota provinsi Gyeonggi di negara Korea Selatan, ada byk universitas di Suwon termasuk Sungkyunkwan University yang beken dlm drama Micky Yoo Chun berjudul Sungkyunkwan Scandal yg bersetting jaman 초선 (joseon). Sektor industri di Suwon juga tumbuh luar biasa. "Saya di Suwon University, bakal sekampus ama Kim Woo Bin. Tapi percuma ngga bisa foto2 bareng di kampus, karena bodyguard-nya bakal minta duit. Itu kata teman2ku yg uda duluan kuliah disana," ujar anaknya si bapak itu. Kim Woo Bin dikenal sbg aktor di serial drama School 2013 dan Gentlemen's Dignity.
Si bapak pun kembali bertanya, "Berkas yg dibawa uda lengkap kan? Formulir bisa didownload sendiri lalu diisi di rumah, foto 4x6, paspor, buku tabungan, semua dicopy dan....." belum ia melanjutkan percakapan lalu pembicaraan kupotong "Sudah semua kok pak." Si anak gadisnya merasa malu "Sudah ah, bapak deh! Maaf ya mba, si bapak emang suka gitu," ujarnya tersipu. Bapaknya tersenyum mengangguk, kami pun pamit setelah menyerahkan berkas dan membayar visa di loket pendaftaran.
"Mau ke lantai berapa dik?" tanya seorang pria paruh baya yg datang bersama istri dan seorang anak gadisnya. "Lantai 30. Bapak?" ujarku. "Oh, klo gitu sama. Mau ke embassy South Korea kan? Katanya baru boleh naik pas kantornya buka jam 08.30," ujarnya kujawab dg anggukan.
Tower yg berisi khusus perkantoran setinggi 32 lantai itu terletak di gedung yg sama dg mal Plaza Indonesia, kawasan MH Thamrin (persis di seberang halte busway Bundaran HI). Tamu yg hendak memasuki area hrs melewati pintu security, lalu jika hendak ke area lift akan dihadapkan pd palang barcode layaknya di parkiran kendaraan yg tak berpenjaga.
Agar palang terbuka otomatis, tinggal menempelkan barcode card. Itu sebabnya tamu hrs lapor dulu ke desk information, memberikan salah satu identitas (KTP/SIM) lalu akan diberi barcode card yang sudah disetting lantai berapa yg akan kita tuju.
"Ke lantai berapa?" tanya seorang petugas di desk information setelah saya memberikan KTP. Lantai 30. Lantai ini adalah kantor kedubes korea selatan atau Republic of Korea/daehan minguk (대한민국). "Silahkan agak geser ke kanan utk saya ambil foto," kata dia, pria berpostur tinggi tegap. Busyet, pake foto2 segala ya. Serius nih? Buat koleksi pribadi si masnya sendiri apa emang syarat wajib? Tp ngeliat mukanya serius dan ngga ramah, kayaknya mang syaratnya gitu. Hehe..kidding! Di bagian desk information emang ada kamera kecil spt kamera yg dipake petugas foto paspor/KTP. Yaaa.. mirip juga ama org yang mau mencairkan duit Jamsostek, pake difoto2 dulu.
Klo pekerja kantor di gedung tsb tdk perlu lapor karena mereka sudah dipinjami barcode card yg khusus disetting langsung hanya menuju ke lantai dimana kantor mereka berada. Barcode card, selain utk membuka palang pintu juga utk membuka lift dan mengantarkan kita ke lantai yg dituju. Tanpa menempelkan barcode card pd alat yg terletak di bagian depan lift paling ujung, jgn harap lift akan bergerak. Lift emang bisa kebuka, tapi ngga bergerak. Beda ama hotel, kartunya dimasukkan/digesek di dalam lobang yg ada di dalam dinding lift, lalu tekan lantai tujuan. Di lift yg ada di The Plaza Indonesia Office Tower tdk perlu menekan lantai tujuan krn barcode card sdh secara otomatis mengidentifikasi lantai tujuan.
"Di Korea sekolah ya dik? Saya juga nganter anak study. Kebetulan dia kuliah di Inggris dan program perkuliahannya lagi ada pertukaran selama 6 bulan ke sebuah kampus di Suwon, sekalian dia akan magang di salah satu perusahaan disana. Kita belum pernah ke Korea, anak saya juga. Makanya sekalian pengen liat. Tidurnya ntar di asrama, tapi saya dan ibu akan di hotel, cuma katanya mahal ya," kata si bapak.
"Kita main aja kok pak. Tidur di hotel emang mahal pak, tapi klo hostel backpacker murah. Kita booking seminggu ngga nyampe Rp 1 juta," ujarku.
Suwon merupakan ibukota provinsi Gyeonggi di negara Korea Selatan, ada byk universitas di Suwon termasuk Sungkyunkwan University yang beken dlm drama Micky Yoo Chun berjudul Sungkyunkwan Scandal yg bersetting jaman 초선 (joseon). Sektor industri di Suwon juga tumbuh luar biasa. "Saya di Suwon University, bakal sekampus ama Kim Woo Bin. Tapi percuma ngga bisa foto2 bareng di kampus, karena bodyguard-nya bakal minta duit. Itu kata teman2ku yg uda duluan kuliah disana," ujar anaknya si bapak itu. Kim Woo Bin dikenal sbg aktor di serial drama School 2013 dan Gentlemen's Dignity.
Si bapak pun kembali bertanya, "Berkas yg dibawa uda lengkap kan? Formulir bisa didownload sendiri lalu diisi di rumah, foto 4x6, paspor, buku tabungan, semua dicopy dan....." belum ia melanjutkan percakapan lalu pembicaraan kupotong "Sudah semua kok pak." Si anak gadisnya merasa malu "Sudah ah, bapak deh! Maaf ya mba, si bapak emang suka gitu," ujarnya tersipu. Bapaknya tersenyum mengangguk, kami pun pamit setelah menyerahkan berkas dan membayar visa di loket pendaftaran.
Nasi Padang (파당 쌀)
"Nasi Padang please," ujar seorang bule cakep yg berdiri di sebelahku dg logat agak terbata-bata setelah ia mengamati daftar menu. Kebetulan, gerai 'Sari Rasa' yang dipilih bule itu bertempat di foodcourt bersebelahan dengan gerai 'Mr Park' - Korean Casual Dining yg sedang kubeli bersama temanku.
Jadi keki, bule aja beli masakan Indo lalu org Indo malah beli masakan Korea. "Ya jelaslah bule beli nasi Padang, kan di negaranya ngga ada. Lagian klo kita di negara orang apa iya beli masakan Indo? Pasti masakan khas di negara itu. Masakan Indo cukuplah dimakan sehari2 sejak kecil smp sekarang," ujar temanku. Santapan siang berupa Sun Du Bu Cige, Bulgogi Bibimbab dan Cutlet Beef pun menemani makan siang kami.
Jadi keki, bule aja beli masakan Indo lalu org Indo malah beli masakan Korea. "Ya jelaslah bule beli nasi Padang, kan di negaranya ngga ada. Lagian klo kita di negara orang apa iya beli masakan Indo? Pasti masakan khas di negara itu. Masakan Indo cukuplah dimakan sehari2 sejak kecil smp sekarang," ujar temanku. Santapan siang berupa Sun Du Bu Cige, Bulgogi Bibimbab dan Cutlet Beef pun menemani makan siang kami.
A Brave Teenager (용감한 십대)
Seorang remaja pria berkulit putih agak kemerahan dg mahir menggerakkan roda kursi rodanya dg tangan. Ia terlihat sangat percaya diri mampir melihat-lihat menu ke setiap gerai yg ada di 'Food Lover'. Pemandangan itu tak biasa krn ia seorang penyandang cacat yg (mgkn) berkeliling sendiri di dlm mal, krn siang itu tak terlihat siapapun menemaninya. Kaki kirinya jauh lebih kecil dibandingkan kaki kanannya. Oh, kemana keluarganya? Orangtua, saudara, teman yang tega betul melepasnya seorg diri.
Setelah diamati seksama, he speaks Indonesian fluently. Mengenakan kaos baseball plus topi diputar ke belakang, celana pendek sport dan sepatu kets, ia memangku tas ransel kecilnya di paha lalu mengeluarkan selembar uang utk membayar. Pelayan pun sedikit membungkuk utk menerima uang krn terhalang meja kasir. Para pembeli yg sedang makan siang agaknya biasa2 saja melihat pemandangan itu.
"Mal ini memang cukup ramah bagi penyandang cacat," ujar seorang teman ketika aku mengamati remaja itu. Ukuran ramah itu apa? Dilengkapi ruang lift yg besar dan mudah dijangkau di tiap lantai plus toilet khusus penyandang cacat? Bukannya, di tiap mal besar selalu ada kriteria tersebut? Whatever it was, he was a brave teenager.
Setelah diamati seksama, he speaks Indonesian fluently. Mengenakan kaos baseball plus topi diputar ke belakang, celana pendek sport dan sepatu kets, ia memangku tas ransel kecilnya di paha lalu mengeluarkan selembar uang utk membayar. Pelayan pun sedikit membungkuk utk menerima uang krn terhalang meja kasir. Para pembeli yg sedang makan siang agaknya biasa2 saja melihat pemandangan itu.
"Mal ini memang cukup ramah bagi penyandang cacat," ujar seorang teman ketika aku mengamati remaja itu. Ukuran ramah itu apa? Dilengkapi ruang lift yg besar dan mudah dijangkau di tiap lantai plus toilet khusus penyandang cacat? Bukannya, di tiap mal besar selalu ada kriteria tersebut? Whatever it was, he was a brave teenager.
Food n food n food
Friday afternoon at Sushi Tei Grand Indonesia
Percaya ngga, demi sesuap makanan Jepang di Sushi Tei orang rela ngantre meski sampe 20 nomor antrian di layar. Persis antrian di sebuah tempat praktik dokter. "Silahkan kak. Atas nama siapa?" seorang pelayan wanita muda bertanya pada setiap pengunjung yg hendak memasuki resto Jepang waralaba asal Sgp yg berdiri sejak 1994 di Indo. Ada yg menunggu di lobby Sushi Tei, ada pula yg meninggalkan sejenak jalan2 lalu kembali lagi. Mereka akan dipanggil berdasarkan nama jika sdh ada seat kosong sejumlah org yg diorder sebelumnya.
Soal harga, I think everybody knows klo Sushi Tei cukup bervariasi. But mostly affordable. Mulai Rp 14.000 untuk 1 plate kecil berisi 6 roll sushi rice, ada pula yg sampai Rp 45.000. Setiap plate isinya beragam. Harga dihitung berdasarkan warna plates yg sdh kosong di atas meja. Utk minuman dibanderol mulai Rp 10.000. Tapi bisa dipastikan setiap mereka yg datang ke resto itu bahkan jika hanya 2 org will spend money not less than IDR 50000. Eniwe, ini masih relatif lebih murah ketimbang Hanamasa buffet all you can eat yg setiap org kini dipatok Rp 114.500 + PB10% (kategori yakiniku/ makanan serba bakar maupun shabu-shabu/ makanan serba rebus) untuk anak Rp 93.500+PB 10%.
Saya termasuk penyuka makanan Asia, spicy foods is okay asal tdk bersantan, no pork or lard. Masakan India and Arab adalah pilihan terakhir jika hrs memilih diantara semuanya. Indonesian, Korean, Japanese, and Chinese foods are the most fave cuisine I think. Korean cuisine is largerly based upon rice and vegetables, (sometimes) meats, rasanya juga lebih spicy. Japanese food juga based upon rice but always meats or fishes dg varian rasa yg ngga macem2, penyajiannya juga lebih ringkes.
Bikin resto apapun di mal rasanya bakal laris apalagi klo weekend. People need to eat everyday, everytime. So, open a restaurant has always have a god chance :)
Percaya ngga, demi sesuap makanan Jepang di Sushi Tei orang rela ngantre meski sampe 20 nomor antrian di layar. Persis antrian di sebuah tempat praktik dokter. "Silahkan kak. Atas nama siapa?" seorang pelayan wanita muda bertanya pada setiap pengunjung yg hendak memasuki resto Jepang waralaba asal Sgp yg berdiri sejak 1994 di Indo. Ada yg menunggu di lobby Sushi Tei, ada pula yg meninggalkan sejenak jalan2 lalu kembali lagi. Mereka akan dipanggil berdasarkan nama jika sdh ada seat kosong sejumlah org yg diorder sebelumnya.
Soal harga, I think everybody knows klo Sushi Tei cukup bervariasi. But mostly affordable. Mulai Rp 14.000 untuk 1 plate kecil berisi 6 roll sushi rice, ada pula yg sampai Rp 45.000. Setiap plate isinya beragam. Harga dihitung berdasarkan warna plates yg sdh kosong di atas meja. Utk minuman dibanderol mulai Rp 10.000. Tapi bisa dipastikan setiap mereka yg datang ke resto itu bahkan jika hanya 2 org will spend money not less than IDR 50000. Eniwe, ini masih relatif lebih murah ketimbang Hanamasa buffet all you can eat yg setiap org kini dipatok Rp 114.500 + PB10% (kategori yakiniku/ makanan serba bakar maupun shabu-shabu/ makanan serba rebus) untuk anak Rp 93.500+PB 10%.
Saya termasuk penyuka makanan Asia, spicy foods is okay asal tdk bersantan, no pork or lard. Masakan India and Arab adalah pilihan terakhir jika hrs memilih diantara semuanya. Indonesian, Korean, Japanese, and Chinese foods are the most fave cuisine I think. Korean cuisine is largerly based upon rice and vegetables, (sometimes) meats, rasanya juga lebih spicy. Japanese food juga based upon rice but always meats or fishes dg varian rasa yg ngga macem2, penyajiannya juga lebih ringkes.
Bikin resto apapun di mal rasanya bakal laris apalagi klo weekend. People need to eat everyday, everytime. So, open a restaurant has always have a god chance :)
Saturday, April 20, 2013
Foreign Alphabet : 외국 알파벳
Why are Russian really proud of their country just like French?! A Russian friend once told me that I should learn their language, first their alphabet. Why? We can talk in English don't you? I don't even finished my hangul yet (korean alphabet). That's make me crazy. Learning alphabet from different country really take so much time. "Нет, нет,я сделаю вас узнать." (No no, I will make you learn) Plz. Then, he always write in cyrillic.
I remembered an apprentice student from France in my office years ago, she always refused to speak English. She learned a lot Indonesian language (she called bahasa) and told me that better speak French or just bahasa. "No English please."
"Kami tidak pernah mau menggunakan bahasa Inggris, bahkan di sekolah, tempat kerja dan tempat umum kami selalu berkampanye tentang bahasa nasional kami paling baik di negeri sendiri. Sanksi terberat bagi org Prancis yg tdk menggunakan bahasa nasional mereka adalah sanksi sosial. Sebab setiap org Prancis sudah sgt paham dan sadar akan nasionalisme mereka," a French Ambassador told me while we're in cultural event at CCCL.
Setahuku Prancis tidak pernah dijajah Inggris melainkan Jerman, klo Rusia memang tidak pernah dijajah siapapun itu sebabnya mrk merasa negaranya adidaya. Meskipun dikenal dg negara komunis tapi jumlah penduduk muslim di Rusia terbesar kedua, like he said to me. I think that Russian is supercilious and arrogant. "Нет, вы просто не понять нас!" (No, you just don't understand us!)
Masih ingat tragedi jatuhnya pesawat Sukoi di Gunung Salak Bogor, rombongan Rusia dtg dg perlengkapan yg luar biasa gila. Tak cuma pesawat yg super canggih dan super komplit tapi perlengkapan di dalamnya dan juga barang yg mrk bawa membuat mata terbelalak. Utk tidurpun mereka ibarat mengangkut hotel ke Indonesia. Tendanya canggih. Fasilitasnya mewah. Mereka juga bawa genset berkekuatan lbh dari 10.000 KVA yg bahkan tak boleh disentuh atau dipakai siapapun kecuali tim mereka. Mereka bekerja sangat cepat, tdk byk bicara apalagi bercanda. Intonasi bicaranya lantang seperti nada perintah. Beda sekali dg kultur Indo.
Back to my Russian friend. "Вы должны приехать в Москву, так что вы будете знать, почему мы так гордимся" (You should come to Moscow so you will know why are we so proud). All cyrillic is capital, they have 33 letters (in roman alphabet seperti yg qt pake cuma ada 26 huruf). abcdefghijklmnopqrstuvwxyz diterjemahkan dalam cyrillic menjadi : а б ц д е ф г х и й к л м н о п п́ р с т у в щ х ы з (masih ada lagi sisanya 7 huruf yg tdk ada dalam roman alphabet).
I remembered an apprentice student from France in my office years ago, she always refused to speak English. She learned a lot Indonesian language (she called bahasa) and told me that better speak French or just bahasa. "No English please."
"Kami tidak pernah mau menggunakan bahasa Inggris, bahkan di sekolah, tempat kerja dan tempat umum kami selalu berkampanye tentang bahasa nasional kami paling baik di negeri sendiri. Sanksi terberat bagi org Prancis yg tdk menggunakan bahasa nasional mereka adalah sanksi sosial. Sebab setiap org Prancis sudah sgt paham dan sadar akan nasionalisme mereka," a French Ambassador told me while we're in cultural event at CCCL.
Setahuku Prancis tidak pernah dijajah Inggris melainkan Jerman, klo Rusia memang tidak pernah dijajah siapapun itu sebabnya mrk merasa negaranya adidaya. Meskipun dikenal dg negara komunis tapi jumlah penduduk muslim di Rusia terbesar kedua, like he said to me. I think that Russian is supercilious and arrogant. "Нет, вы просто не понять нас!" (No, you just don't understand us!)
Masih ingat tragedi jatuhnya pesawat Sukoi di Gunung Salak Bogor, rombongan Rusia dtg dg perlengkapan yg luar biasa gila. Tak cuma pesawat yg super canggih dan super komplit tapi perlengkapan di dalamnya dan juga barang yg mrk bawa membuat mata terbelalak. Utk tidurpun mereka ibarat mengangkut hotel ke Indonesia. Tendanya canggih. Fasilitasnya mewah. Mereka juga bawa genset berkekuatan lbh dari 10.000 KVA yg bahkan tak boleh disentuh atau dipakai siapapun kecuali tim mereka. Mereka bekerja sangat cepat, tdk byk bicara apalagi bercanda. Intonasi bicaranya lantang seperti nada perintah. Beda sekali dg kultur Indo.
Back to my Russian friend. "Вы должны приехать в Москву, так что вы будете знать, почему мы так гордимся" (You should come to Moscow so you will know why are we so proud). All cyrillic is capital, they have 33 letters (in roman alphabet seperti yg qt pake cuma ada 26 huruf). abcdefghijklmnopqrstuvwxyz diterjemahkan dalam cyrillic menjadi : а б ц д е ф г х и й к л м н о п п́ р с т у в щ х ы з (masih ada lagi sisanya 7 huruf yg tdk ada dalam roman alphabet).
Friday, April 19, 2013
Prison and Sex Toys
"Setiap 2-3 bulan sekali beberapa penjara di kawasan Jakarta dan sekitarnya baik rutan maupun lapas memesan alat bantu seks ke pabrikku dalam jumlah besar," kata seorang teman yang bekerja di salah satu sex toys company di Cikarang.
"Berapa banyak?" "Bisa 4-6 kardus medium sekali kirim, isinya macam-macam."
"Oya? Pemesannya pihak lembaga rutan atau lapasnya langsung atau lewat perorangan?"
"Sudah langganan sih, yang tahu persis bosku. Kayaknya lembaganya langsung yang pesen."
"Itu barang diantar oleh karyawan perusahaanmu atau kurir lepas? Lalu dijual lagi ke penghuni penjara apa dibagikan gratis?"
"Pengantarnya kurir lepas. Katanya sih tidak gratis tapi emang dijual di dalam penjara berdasarkan pesanan penghuninya."
"Isinya apa aja dalam kardus itu? Ada boneka manusianya juga?"
"Semua ada, mulai aneka vibrator, dildo, tiruan miss v. Kalau boneka sih jarang karena mahal, biasanya klo itu yang beli perorangan langsung karena itu impor. Pabrikku tidak bikin, tapi kalau mau pesen bisa."
Sex toys kini sudah tdk tabu dibicarakan. Jadi ingat sekitar 6 tahun silam mendapat tugas dari bos untuk wwcr pedagang sex toys. Wawancara user saat itu? Jangan harap! Tabu. Masyarakat kita masih belum demikian terbuka tentang hal ini. Di sudut kota kawasan Gentengkali, ada sebuah toko kecil yang menjual sex toys komplit dan bisa taster kalo mau ("Kalo nggak puas bisa balikin barangnya," kata pedagangnya).
Kami berdua saat itu agak malu2 dan takut masuk ke dalam toko. Takut juga kalau ketahuan bahwa kedatangan kami tdk utk benar2 membeli. Apalagi klo kepergok motret dagangannya. Mampus.
"Cari apa mbak?"
"Lihat-lihat dulu mas, yang direkom apa ya? Yg lagi booming gitu. Tapi ngga mahal2," ujarku.
"Booming? Sex toys sih ngga ada kata mana yang booming, ya kapan aja bisa pake," kata dia.
Ternyata, aku dan temanku itu baru pertama kali lihat dan menyentuh langsung alat bantu dan aksesori seks. Tak heran, pas penjualnya memeragakan pake baterei dan ada juga yang dicolokin listrik maka tawa kami pun langsung meledak. Penjualnya bengong. "Kenapa ketawa mbak?" "Oh, nggak apa2 mas."
"Ini cincin bergerigi rasa cokelat, ada yang jeruk dan mint. Rp 75.000 saja per biji." Ada varian rasa? Mirip kondom ya.
"Kalau ini boneka cewek, tinggal ditiup pake alat kayak balon dia akan mengembang."
Bonekanya cantik, naked, tingginya sekitar 160cm, bahannya kenyal. Bagian payudara dan miss v terbuat dari silikon kenyal. "Berapaan ini?" Rp 750.000 "Busyet. Mahal amat mas," ujarku.
"Impor Cina mbak, emang mahal karena bukan plastik biasa. Beli buat siapa to mbak?"
Aku cuma tersenyum dan menunggu si mas itu masuk ambil barang lalu kami sigap memotret sejumlah dagangannya.
"Tolong ambilkan ring bergerigi yang tadi, tapi bentuk lain ya. Agak besar dan agak panjang," kataku. Lalu ia pun masuk mengambil barang sehingga kami bebas memotret.
Kami pun sigap mencatat harga, warna, bentuk hingga catatan deskriptif lain hingga komentar si penjual.
Toko itu sudah 4 tahun buka (ntah saat ini masih ada atau tidak). Mas yg jualan itu dari Kediri dan baru gabung jadi salesnya 6 bulan, sebelumnya ia jualan DVD di kawasan Tunjungan Center.
"Ngga boleh kurang ni harga cincinnya jadi Rp 25.000?" "Belum boleh mbak, Rp 70.000 deh."
"Yaudah deh mas, kita cari rempat lain dulu ya. Ntar kalo cocok kita balik lagi."
"Berapa banyak?" "Bisa 4-6 kardus medium sekali kirim, isinya macam-macam."
"Oya? Pemesannya pihak lembaga rutan atau lapasnya langsung atau lewat perorangan?"
"Sudah langganan sih, yang tahu persis bosku. Kayaknya lembaganya langsung yang pesen."
"Itu barang diantar oleh karyawan perusahaanmu atau kurir lepas? Lalu dijual lagi ke penghuni penjara apa dibagikan gratis?"
"Pengantarnya kurir lepas. Katanya sih tidak gratis tapi emang dijual di dalam penjara berdasarkan pesanan penghuninya."
"Isinya apa aja dalam kardus itu? Ada boneka manusianya juga?"
"Semua ada, mulai aneka vibrator, dildo, tiruan miss v. Kalau boneka sih jarang karena mahal, biasanya klo itu yang beli perorangan langsung karena itu impor. Pabrikku tidak bikin, tapi kalau mau pesen bisa."
Sex toys kini sudah tdk tabu dibicarakan. Jadi ingat sekitar 6 tahun silam mendapat tugas dari bos untuk wwcr pedagang sex toys. Wawancara user saat itu? Jangan harap! Tabu. Masyarakat kita masih belum demikian terbuka tentang hal ini. Di sudut kota kawasan Gentengkali, ada sebuah toko kecil yang menjual sex toys komplit dan bisa taster kalo mau ("Kalo nggak puas bisa balikin barangnya," kata pedagangnya).
Kami berdua saat itu agak malu2 dan takut masuk ke dalam toko. Takut juga kalau ketahuan bahwa kedatangan kami tdk utk benar2 membeli. Apalagi klo kepergok motret dagangannya. Mampus.
"Cari apa mbak?"
"Lihat-lihat dulu mas, yang direkom apa ya? Yg lagi booming gitu. Tapi ngga mahal2," ujarku.
"Booming? Sex toys sih ngga ada kata mana yang booming, ya kapan aja bisa pake," kata dia.
Ternyata, aku dan temanku itu baru pertama kali lihat dan menyentuh langsung alat bantu dan aksesori seks. Tak heran, pas penjualnya memeragakan pake baterei dan ada juga yang dicolokin listrik maka tawa kami pun langsung meledak. Penjualnya bengong. "Kenapa ketawa mbak?" "Oh, nggak apa2 mas."
"Ini cincin bergerigi rasa cokelat, ada yang jeruk dan mint. Rp 75.000 saja per biji." Ada varian rasa? Mirip kondom ya.
"Kalau ini boneka cewek, tinggal ditiup pake alat kayak balon dia akan mengembang."
Bonekanya cantik, naked, tingginya sekitar 160cm, bahannya kenyal. Bagian payudara dan miss v terbuat dari silikon kenyal. "Berapaan ini?" Rp 750.000 "Busyet. Mahal amat mas," ujarku.
"Impor Cina mbak, emang mahal karena bukan plastik biasa. Beli buat siapa to mbak?"
Aku cuma tersenyum dan menunggu si mas itu masuk ambil barang lalu kami sigap memotret sejumlah dagangannya.
"Tolong ambilkan ring bergerigi yang tadi, tapi bentuk lain ya. Agak besar dan agak panjang," kataku. Lalu ia pun masuk mengambil barang sehingga kami bebas memotret.
Kami pun sigap mencatat harga, warna, bentuk hingga catatan deskriptif lain hingga komentar si penjual.
Toko itu sudah 4 tahun buka (ntah saat ini masih ada atau tidak). Mas yg jualan itu dari Kediri dan baru gabung jadi salesnya 6 bulan, sebelumnya ia jualan DVD di kawasan Tunjungan Center.
"Ngga boleh kurang ni harga cincinnya jadi Rp 25.000?" "Belum boleh mbak, Rp 70.000 deh."
"Yaudah deh mas, kita cari rempat lain dulu ya. Ntar kalo cocok kita balik lagi."
Thursday, April 18, 2013
Boston yesterday
April 16th, 2013 08.30 WIB. Suddenly Instagram full the pictures about "Pray for Boston." So I checked my twitter, on CNN, Washington Post, LATimes, etc all about Boston. At our morning coffee as always, I said to my dad Boston just attacked by bombs at the marathon line right at their Patriots Day. My dad was only said that the tragedy reminded him about 9/11.
"Terrorist is still everywhere and everytime, but mostly happened in country or city where muslim is minority. Is that suicide bomb or what?" he asked. "No. The bombs exploded in trash cans before the fisnish line. Twice," I said.
"Maybe America has forgotten about September 9," he said.
"Happened in country or city where muslim is minority? You mean muslim is behind the tragedy?" I asked.
"I think so, but there probably an organized of extreme muslim like Osama or Taliban," father added.
Since we have different faiths, we're always had hard discussion. Dad always blame Islam just because his lack of knowledge. Our discussion always end up forced into a corner. But that morning was unusual.
"We cann't blame Islam for the action of one man, people have their different interpretation about the teachings of a religion. Maybe that was just an extreme Islam organization. Whoever exploded the bombs will be punished," he explained.
Great improvement thought, he wasn't making a generalization about bombs action or terrorist action as muslim voices. "But don't forget that North Korea has threatened their homeland too. Who knows?!" I said. "I don't think so. North Korea is nothing," father denied.
"Terrorist is still everywhere and everytime, but mostly happened in country or city where muslim is minority. Is that suicide bomb or what?" he asked. "No. The bombs exploded in trash cans before the fisnish line. Twice," I said.
"Maybe America has forgotten about September 9," he said.
"Happened in country or city where muslim is minority? You mean muslim is behind the tragedy?" I asked.
"I think so, but there probably an organized of extreme muslim like Osama or Taliban," father added.
Since we have different faiths, we're always had hard discussion. Dad always blame Islam just because his lack of knowledge. Our discussion always end up forced into a corner. But that morning was unusual.
"We cann't blame Islam for the action of one man, people have their different interpretation about the teachings of a religion. Maybe that was just an extreme Islam organization. Whoever exploded the bombs will be punished," he explained.
Great improvement thought, he wasn't making a generalization about bombs action or terrorist action as muslim voices. "But don't forget that North Korea has threatened their homeland too. Who knows?!" I said. "I don't think so. North Korea is nothing," father denied.
a community : 커뮤니티
Menjadi tua dan berorganisasi itu penting. A community that accommodate the special needs. That's my parents doing. Once I was thinking after my dad retirements years ago there will be no interesting activities for him every morning, afternoon till night. He told me that retirement took him under the stressful. So I bought him some books, television on his bedroom, subscribed him newspaper and data package monthly for notebook. But that wasn't work enough. "My old eyes tired easily when reading small font too long. Yes I wear my glasses but that doesn't relieve eyestrain," he said.
It wasn't something that suddenly came up, but after retirement my dad and mom became a churchgoing person. They've found their community on church. Their age is about 55-80 and almost all of them is retirement of BUMN/PNS/military and none entrepreneur. Now I understand why someone become religious only when he/she gets older. Now they're so happy with their church community (Gregorius VI) and my dad succeeded become their new leader for the past 3 months replacing their prior leader. They share thoughts, laugh, and so regular prayer meeting at each member's house weekly. Make some quality time together...
It wasn't something that suddenly came up, but after retirement my dad and mom became a churchgoing person. They've found their community on church. Their age is about 55-80 and almost all of them is retirement of BUMN/PNS/military and none entrepreneur. Now I understand why someone become religious only when he/she gets older. Now they're so happy with their church community (Gregorius VI) and my dad succeeded become their new leader for the past 3 months replacing their prior leader. They share thoughts, laugh, and so regular prayer meeting at each member's house weekly. Make some quality time together...
Monday, April 15, 2013
Donasi : 기부 : Gibu
Jika sebelumnya door to door, modus meminta sumbangan kini mulai merangsek ke mal-mal. Entah yayasan betulan atau abal-abal, sore itu seorang pria berkulit putih bermata sipit kira2 berusia 20-an menghampiri meja kami. Bicaranya sedikit kurang pe-de karena intonasinya sangat lirih dan wajahnya agak menunduk.
"Execuse me, let me introduce my self...bla bla bla" *gak kedengaran (dia lalu memberikan leaflet dan kartu identitas). Setelah kami baca seksama, dia pun menyodorkan kertas berisi daftar donatur dan ballpoint sambil berbicara cepat dlm bahasa Inggris yg super pelan. Entah apa yg dia katakan.
Kartu identitas (lupa mengingat siapa namanya) terbuat dr dari bahan kertas print dilaminating dan tertulis volunteer.
Panti Anak / Pusat Pelatihan : Wisma Tanah Merah Indah (Jl. Perjuangan, Tugu Selatan, Jakarta Utara 14260. Tel 021 90536932
Contact Person: Drs Samuel Wiweko - Email: info@ysaindonesia.org)
Daftar donatur baru berisi 4 orang dimana mereka rata2 menyumbang Rp 50.000 dan Rp 100.000. Entah benar atau tipu2, yang pasti tulisan tangan dalam kertas tersebut hampir sama jeleknya. Tanda tangannya mirip semua. "Darimana mas?" tanyaku. Dia tidak menjawab hanya tersenyum dan mengangguk. Apa dia bkn org Indonesia? Sejurus kemudian dia terus mengoceh dlm bahasa Inggris yg terdengar samar. I think he's not Indonesian. "No thanks. Maybe next time," ujarku tersenyum setelah mengamati leaflet dan kartu identitas lalu mengembalikannya lagi. Wajahnya langsung masam dan berlalu tanpa senyum.
Giving to charity or donation is not about how much money we've donated but trust to reliable foundations. Apakah ckp efektif jika di era digital saat ini menarik sumbangan person to person tanpa disertai pertanggungjawaban yg meyakinkan? Saya rasa, org akan lebih memilih transfer antarbank atau dtg langsung. Pengambilan sumbangan secara manual memang masih ada tapi biasanya dilakukan oleh yayasan2 dan org2 yg relatif sudah dipercaya oleh donatur.
Di sebuah mal lain. Cafe n coffee. Last year. Uma and I.
"Siang kak, pernah nonton Kick Andi kan?" tanya seorg wanita muda berparas ayu.
"Iya. Kenapa?" (dia pun tdk meminta izin kesediaan meluangkan waktu)
"Berarti pernah tau yayasan...(lupa). Kami beberapa kali tampil di Kick Andi," kata dia lalu menyodorkan buku profil yayasan dan kertas donasi. Ada banyak donatur di dalam kertas tsb dan semuanya menyumbangkan Rp 100.000 (Wow!)
"Saya kebetulan mahasiswi Unpad Bandung (tp berlogat Jawa kental)."
"Asli mana?" "Bandung"
"Oya? Disini nginep dimana?"
"Hotel, tapi lupa hotel mana. Sama2 dg tim saya dari yayasan yg sama"
"Bisa lihat KTM-nya?" "Wah lupa kak soalnya kemarin buru2."
"Bisa lihat KTP atau identitas lain?" "Iya, kebetulan ketinggalan di hotel."
"Mahasiswi Unpad ya? Siapa skrg rektor barunya?" "Lupa juga kak, saya maba (*mahasiswa baru). Kakak Unpad juga ya?"
"Iya." (padahal bukan) "Ow."
"Biasanya kita ada live show di mal-mal kok." "Oh gitu. Kapan? Yaudah, kita nunggu pas kalian live show aja."
"Loh, kenapa ngga sekarang aja kak. Kan sama aja."
"Apa bedanya sama nanti? Bisa sekalian kita liput acaranya karena kebetulan kita wartawan."
"Oh kakak wartawan? Maaf maaf.." lalu wanita itu buru-buru ngacir dan terlihat langsung menelpon seseorang.
Loh? Kamipun saling berpandangan dan mengernyitkan dahi..
"Execuse me, let me introduce my self...bla bla bla" *gak kedengaran (dia lalu memberikan leaflet dan kartu identitas). Setelah kami baca seksama, dia pun menyodorkan kertas berisi daftar donatur dan ballpoint sambil berbicara cepat dlm bahasa Inggris yg super pelan. Entah apa yg dia katakan.
Kartu identitas (lupa mengingat siapa namanya) terbuat dr dari bahan kertas print dilaminating dan tertulis volunteer.
Panti Anak / Pusat Pelatihan : Wisma Tanah Merah Indah (Jl. Perjuangan, Tugu Selatan, Jakarta Utara 14260. Tel 021 90536932
Contact Person: Drs Samuel Wiweko - Email: info@ysaindonesia.org)
Daftar donatur baru berisi 4 orang dimana mereka rata2 menyumbang Rp 50.000 dan Rp 100.000. Entah benar atau tipu2, yang pasti tulisan tangan dalam kertas tersebut hampir sama jeleknya. Tanda tangannya mirip semua. "Darimana mas?" tanyaku. Dia tidak menjawab hanya tersenyum dan mengangguk. Apa dia bkn org Indonesia? Sejurus kemudian dia terus mengoceh dlm bahasa Inggris yg terdengar samar. I think he's not Indonesian. "No thanks. Maybe next time," ujarku tersenyum setelah mengamati leaflet dan kartu identitas lalu mengembalikannya lagi. Wajahnya langsung masam dan berlalu tanpa senyum.
Giving to charity or donation is not about how much money we've donated but trust to reliable foundations. Apakah ckp efektif jika di era digital saat ini menarik sumbangan person to person tanpa disertai pertanggungjawaban yg meyakinkan? Saya rasa, org akan lebih memilih transfer antarbank atau dtg langsung. Pengambilan sumbangan secara manual memang masih ada tapi biasanya dilakukan oleh yayasan2 dan org2 yg relatif sudah dipercaya oleh donatur.
Di sebuah mal lain. Cafe n coffee. Last year. Uma and I.
"Siang kak, pernah nonton Kick Andi kan?" tanya seorg wanita muda berparas ayu.
"Iya. Kenapa?" (dia pun tdk meminta izin kesediaan meluangkan waktu)
"Berarti pernah tau yayasan...(lupa). Kami beberapa kali tampil di Kick Andi," kata dia lalu menyodorkan buku profil yayasan dan kertas donasi. Ada banyak donatur di dalam kertas tsb dan semuanya menyumbangkan Rp 100.000 (Wow!)
"Saya kebetulan mahasiswi Unpad Bandung (tp berlogat Jawa kental)."
"Asli mana?" "Bandung"
"Oya? Disini nginep dimana?"
"Hotel, tapi lupa hotel mana. Sama2 dg tim saya dari yayasan yg sama"
"Bisa lihat KTM-nya?" "Wah lupa kak soalnya kemarin buru2."
"Bisa lihat KTP atau identitas lain?" "Iya, kebetulan ketinggalan di hotel."
"Mahasiswi Unpad ya? Siapa skrg rektor barunya?" "Lupa juga kak, saya maba (*mahasiswa baru). Kakak Unpad juga ya?"
"Iya." (padahal bukan) "Ow."
"Biasanya kita ada live show di mal-mal kok." "Oh gitu. Kapan? Yaudah, kita nunggu pas kalian live show aja."
"Loh, kenapa ngga sekarang aja kak. Kan sama aja."
"Apa bedanya sama nanti? Bisa sekalian kita liput acaranya karena kebetulan kita wartawan."
"Oh kakak wartawan? Maaf maaf.." lalu wanita itu buru-buru ngacir dan terlihat langsung menelpon seseorang.
Loh? Kamipun saling berpandangan dan mengernyitkan dahi..
Subscribe to:
Posts (Atom)