Matahari tak lagi sanggup...
berjanji akan terangnya
Purnama meredup...
tak lagi menyembul bulat penuhnya
Hanya bintang-bintang berserakan
Mengambillangkah sujud
Berharap peluh tetap berdzikir
Air mata menguntai doa
Mengintip surya di langit ke tujuh
Adakah kaki sanggup menjejak
Kala Kau panggil jiwa ini...
kembali ke pangkuanMu
Adakah hati sempat bersuci
Kala Kau tak sabar...
berkumpul dg jiwa kami
Adakah satu nirwana tersisa
Jika jauh aku tak merinduMu
Maka Tuhan...
panggil aku sekali lagi
Thursday, October 4, 2007
Wednesday, September 26, 2007
fear of death
...we convince ourselves that life will be better once we are married, have a baby, then another... to me, life will only be better if we could convince ourselfves about the deal with the death and loss...
... kita pernah meyakinkan diri sendiri tentang hidup yang lebih baik adalah ketika kita menikah, punya momongan dan seterusnya.... namun hidup yang lebih baik justru ketika kita siap menghadapi kematian dan rasa kehilangan... ~ Ame
“the fear of death follows from the fear of life... a man who lives fully is prepared to die any time” ~ Mark Twain
di ujung keranda
di batas penantian
menakar galau
di seruak ketakutan
menapak detik demi detik
atas sayembara duka
satu langkah terhenti
tepat di lonceng Jibril
berjanji untuk maut yang sebenar-benar
berserapah demi pengampunan
sanggupkah kau sua Ramadhan
di satu lagi Masehi esok
jika tak kini
kau segera bersuci
menjemput serambi nirwana-Nya
sanggupkah kau sua Ramadhan
di satu lagi Masehi esok
jika tak kini
kau siapkan diri
melapang jiwa atas kepergiannya...
... kita pernah meyakinkan diri sendiri tentang hidup yang lebih baik adalah ketika kita menikah, punya momongan dan seterusnya.... namun hidup yang lebih baik justru ketika kita siap menghadapi kematian dan rasa kehilangan... ~ Ame
“the fear of death follows from the fear of life... a man who lives fully is prepared to die any time” ~ Mark Twain
di ujung keranda
di batas penantian
menakar galau
di seruak ketakutan
menapak detik demi detik
atas sayembara duka
satu langkah terhenti
tepat di lonceng Jibril
berjanji untuk maut yang sebenar-benar
berserapah demi pengampunan
sanggupkah kau sua Ramadhan
di satu lagi Masehi esok
jika tak kini
kau segera bersuci
menjemput serambi nirwana-Nya
sanggupkah kau sua Ramadhan
di satu lagi Masehi esok
jika tak kini
kau siapkan diri
melapang jiwa atas kepergiannya...
ayat Kursi
satu diantara 1000 kebaikan
terselip di 255 Al Baqarah
tentang kebaikan
yg menyusun perisai diri
tentang kekuatan
menapis misteri
Ayat Kursi...
bilakah kau merindu makna
dalam cibir syair yg terlewatkan
melupa sujud
dalam topeng kearifan
angkuh mereka-reka masa
kau melangkah hidup
memicing mata
atas kewajiban pd Illahi mu
bilakah kau berlapang dada
saat maut menyergap
diantara terang dan sunyi
saat ini...
dalam kekosongan jiwa
engkau suguhkan
dalam kebutaan hati
engkau kembali (akan) menghadap-Nya
di sudut mana
engkau pernah bersorak
di sudut mana
kesempatan pernah terbuka lebar
di genggam jalan setapakmu
namun hanya dulu
ketika engkau masih melangkah hidup...
terselip di 255 Al Baqarah
tentang kebaikan
yg menyusun perisai diri
tentang kekuatan
menapis misteri
Ayat Kursi...
bilakah kau merindu makna
dalam cibir syair yg terlewatkan
melupa sujud
dalam topeng kearifan
angkuh mereka-reka masa
kau melangkah hidup
memicing mata
atas kewajiban pd Illahi mu
bilakah kau berlapang dada
saat maut menyergap
diantara terang dan sunyi
saat ini...
dalam kekosongan jiwa
engkau suguhkan
dalam kebutaan hati
engkau kembali (akan) menghadap-Nya
di sudut mana
engkau pernah bersorak
di sudut mana
kesempatan pernah terbuka lebar
di genggam jalan setapakmu
namun hanya dulu
ketika engkau masih melangkah hidup...
Dua Kehidupan
aku & dua kehidupan
diantara bimbang
yang tersulut kepastian
diantara jiwa
yang berkepatuhan
jauh keterpurukkan
aku memejam
laksana embun
menatap lembayung
bisiknya meredup
nan lelah
langkahnya gontai
terhuyung
saat aku & dua kehidupan
merangkul sebuah pilihan...
diantara bimbang
yang tersulut kepastian
diantara jiwa
yang berkepatuhan
jauh keterpurukkan
aku memejam
laksana embun
menatap lembayung
bisiknya meredup
nan lelah
langkahnya gontai
terhuyung
saat aku & dua kehidupan
merangkul sebuah pilihan...
Wednesday, September 5, 2007
Ramadhan Aku Kembali
pelita masa lalu
di nyanyian kudus
hanya aku & tuhanku yg dulu
karam bersama waktu
aku & bilik kini
merangkai sunyi
menjemput 29 Ramadhan
menyusun bait2 kerinduan
bersama pasang mata yg beku
hanya aku tak berdecak…
chasing those candle lights
do i never really be a better man…
cómo lo haga supuse para estar en usted
hanya janji kebaikan
menyeru di 350 Yaa Siin
di sepertiga malam
hingga menyerta fajar
aku kembali
dalam pelita lain
Tuhan Aku Milik-Mu…
Dios Soy el Tuyo…
di nyanyian kudus
hanya aku & tuhanku yg dulu
karam bersama waktu
aku & bilik kini
merangkai sunyi
menjemput 29 Ramadhan
menyusun bait2 kerinduan
bersama pasang mata yg beku
hanya aku tak berdecak…
chasing those candle lights
do i never really be a better man…
cómo lo haga supuse para estar en usted
hanya janji kebaikan
menyeru di 350 Yaa Siin
di sepertiga malam
hingga menyerta fajar
aku kembali
dalam pelita lain
Tuhan Aku Milik-Mu…
Dios Soy el Tuyo…
i’m learning all about my life
when i come 2 thousands of no
i walk on the street…
a fateful street whr only
dreamland can find
in esta fe…
nunca pensé!
it’d bring me of d’wandering
when there’s a time arround
i loose thousands of good
it is when i only believe
the deepest of tears
it is when i only
cry 4 (run)
ain’t god never really so much unfair
just part of me then
had never really dead
when i only know nothin
of his though...mi Dios
i walk on the street…
a fateful street whr only
dreamland can find
in esta fe…
nunca pensé!
it’d bring me of d’wandering
when there’s a time arround
i loose thousands of good
it is when i only believe
the deepest of tears
it is when i only
cry 4 (run)
ain’t god never really so much unfair
just part of me then
had never really dead
when i only know nothin
of his though...mi Dios
Friday, August 24, 2007
1000 Lelembut
di sepertiga malam
engkau serta mengetuk
terhenyak
di genggam ketakutan
mengucur deras
di 1000 amarah
mengoyak keteguhan
menuju jalan Illahi
aku ingin melupakanmu
di sisi mana
engkau ingin aku berpaling
di sisi terburuk
engkau selalu menampak
di ujung ketakutan
engkau menyeringai
aku akan (tetap) sanggup
di keteguhan ini
di perisai yang tersusun
menjulang doa
aku berjalan di 1000 lelembut…
engkau serta mengetuk
terhenyak
di genggam ketakutan
mengucur deras
di 1000 amarah
mengoyak keteguhan
menuju jalan Illahi
aku ingin melupakanmu
di sisi mana
engkau ingin aku berpaling
di sisi terburuk
engkau selalu menampak
di ujung ketakutan
engkau menyeringai
aku akan (tetap) sanggup
di keteguhan ini
di perisai yang tersusun
menjulang doa
aku berjalan di 1000 lelembut…
Menyerta Nirwana
Bocah-bocah tertawa renyah
Saling bercanda
Saling tak tahu makna
Hanya sorot mata lugu
Bersandar menepi
Menggapai sanubari
Melabuh tepat di ujung nafas
Aku terhenti!
Malaikat kecilku
Serupa rona senja
Engkau berdiri di atas duka
Mengais kesendirian
yang belum kau maknai
Aku terhenti!
Kutitip air mata
Bersama hati yang tersayat
Selaras nirwana
engkau kuharap menyerta…
August, Cipayung Orphanage
Saling bercanda
Saling tak tahu makna
Hanya sorot mata lugu
Bersandar menepi
Menggapai sanubari
Melabuh tepat di ujung nafas
Aku terhenti!
Malaikat kecilku
Serupa rona senja
Engkau berdiri di atas duka
Mengais kesendirian
yang belum kau maknai
Aku terhenti!
Kutitip air mata
Bersama hati yang tersayat
Selaras nirwana
engkau kuharap menyerta…
August, Cipayung Orphanage
de Javu de Nueve
Sembilan pilar
Menyangga penjuru kota
Datang atas nama kejutan
Empat tahun silam
Aku merajuk
Bergelut canda
di tiap sudut kota
di lelap itu
yang menancap di ujung pena
Empat tahun ini
Aku menjejak kaki
Di atas tanah sembilan pilar
Bukan di lelap yang lain
Di batas kesadaran
Aku teriak
Lelapku tak hadir
Tepat di pelupuk
Ujung penaku tak menari-nari
Karena aku ada
Karena aku benar datang
di Sembilan pilar itu!
Menyangga penjuru kota
Datang atas nama kejutan
Empat tahun silam
Aku merajuk
Bergelut canda
di tiap sudut kota
di lelap itu
yang menancap di ujung pena
Empat tahun ini
Aku menjejak kaki
Di atas tanah sembilan pilar
Bukan di lelap yang lain
Di batas kesadaran
Aku teriak
Lelapku tak hadir
Tepat di pelupuk
Ujung penaku tak menari-nari
Karena aku ada
Karena aku benar datang
di Sembilan pilar itu!
una memoria en sampang
satu diantara seribu keindahan
terbentang di terik mentari
tepat di dua pasang mata
yang merengkuh hati
yang tak terucap
tergulir hanya berbasi
sesaat…
satu keindahan itu menghilang
diantara lain yang saling menyesal
mencari pasang keindahan
yang pernah saling tertambat
di satu sudut terik & keramaian
dia ada
meninggalkan jejak
di relung hati
nunca me olvidaría de usted…
usted inmóvil en mi corazón…
donde esté usted sabe... querido!
DOMINGO, de AGOSTO el 12 de 2007
terbentang di terik mentari
tepat di dua pasang mata
yang merengkuh hati
yang tak terucap
tergulir hanya berbasi
sesaat…
satu keindahan itu menghilang
diantara lain yang saling menyesal
mencari pasang keindahan
yang pernah saling tertambat
di satu sudut terik & keramaian
dia ada
meninggalkan jejak
di relung hati
nunca me olvidaría de usted…
usted inmóvil en mi corazón…
donde esté usted sabe... querido!
DOMINGO, de AGOSTO el 12 de 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)